18. Unexpected Friend

1015 Words
Jeslin kembali menatap cermin. Ia memastikan riasannya tampak sempurna dan pakaian yang dikenakan saat ini itu terlihat rapi. Hari ini ia akan bertemu banyak orang di agency. Tentu ia tidak ingin terlihat kurang baik di depan rekan kerjanya yang baru pertama kali akan ditemui. Setelah selesai memastikan tampilan dirinya, Jeslin langsung mengambil tasnya lalu berjalan keluar rumah. Fadlan telah mengirimkan pesan kalau sudah berada di depan rumahnya. Jeslin bergegas membuka pagar rumahnya. Ia terkejut ketika sebuah mobil sudah terparkir di sana. "Lo bawa mobil?" tanya Jeslin terkejut. "Kenape? Muka gue kaga keliatan punya mobil yak? Hahaha," ucap Fadlan. "Bukan gitu. Kalo lo bawa mobil, terus kenapa lo ke rumah gue? Gue pikir lo mau nebeng mobil gue," ujar Jeslin bingung. "Justru gue sengaja bawa mobil bokap gue supaya bisa nebengin lo. Hahaha. Lo mau ngikut gak? Yah walau mobil lo lebih bagus dari mobil ini sih." Jeslin menatap mobil yang dibawa Fadlan. Mobil jenis sedan itu memang tampak sudah tua. Mungkin termasuk seri mobil antik. Namun Jeslin bisa melihat mobil itu cukup nyaman untuk dinaiki. Kursinya tampak nyaman dan AC nya terlihat berfungsi dengan baik. Tidak ada alasan untuk menolak menaiki mobil itu. Apalagi Fadlan sudah berbaik hati mengajaknya untuk beranngkat bersama. "Gak papa kok. Mobil lo oke dan keliatan nyaman buat dinaiki. Yaudah, gue masuk ya?" tanya Jeslin. "Silahkan Nona." Fadlan membukakan pintu mobilnya untuk Jeslin. "Lebay banget lo. Hahaha. Cuma ya... Thanks," ucap Jeslin sambil tersenyum. Setelah Jeslin masuk ke dalam mobiL, Fadlan langung ikut masuk ke dalam mobil juga. Pria itu tiba-tiba memberikan satu kotak yang berisi makanan dan satu cup kopi s**u hangat. "Ini apa?" tanya Jeslin bingung. Ia cukup terkejut melihat Fadlan menyiapkan banyak hal pagi ini untuknya. "Gue bawain sandwich dan kopi. Siapa tau lo belum sarapan kan? Kita berangkatnya pagi banget soalnya," jawab Fadlan sambil membuka kotak makanan. "Wah... sebenernya lo gak perlu repot-repot sih, Fad. Ya ampun sampe nyiapin begini. Gue tuh udah cukup terima kasih lo mau bantuin gue hari ini. Temenin gue bawa barang dan meeting bareng. Harusnya tuh gue yang nyiapin makanan buat lo. Ini malah kebalik," ucap Jeslin sambil menepuk keningnya. Fadlan tertawa. "Yah gak papa. Anggap aja gue emang pangeran yang baik hati." "Hah? Pangeran? Baik hatinya sih gue setuju ya." "Hahaha. Yaudah sih. Nih buruan makan. Pegel tangan gue meganginnya." Fadlan langsung menyodorkan kotak makanan dan kopi ke Jeslin. Jeslin menerimanya dan langsung mengambil sepotong sandwich. "Thank you, Fad. Lo udah sarapan? Kalo belum, nih ambil aja satu buat lo." "Gue udah sarapan nasi uduk tadi di rumah. Hahaha. Lo aja yang makan. Biar gue fokus nyetir." "Oke. Ini lo beli dimana? Enak nih." "Beli? Gue bikin sendiri sandwichnya. Kalo kopinya emang gue beli tadi. Ada coffee shop di deket perumahan lo yang udah buka. Jadi gue sekalian beli aja buat lo." Jeslin terkejut. "Lo bikin khusus buat gue ini? Wah... kok gue jadi ngerasa spesial banget ya. Hahaha. Makasih lho! Sandwich-nya enak!" "Gue tuh emang orang baik. Lo nya aja yang baru sadar. Hahaha," ucap Fadlan. Jeslin tertawa, lalu kembali melanjutkan menyantap sandwich miliknya, Sesekali ia menyeruput kopi hangat yang tadi diberikan oleh Fadlan. Pria itu tampak fokus menyetir, sementara Jeslin masih terus menikmati sarapan paginya. *** "Huaaa! Gila capek banget!" keluh Jeslin sambil meregangkan tubuhnya. Fadlan pun juga ikut meregangkan tubuhnya, lalu meneguk air mineral dari botol yang ada di saku tasnya. "Padet banget tadi meetingnya. Kita juga banyak banget ambil konten." "Kayaknya lo harus jadi staff marketing deh, Fad. Kerjaan lo tuh bagus banget! Helpful gue banget!" ucap Jeslin sambil menepuk pundak Fadlan. "Kalau dipuji begini sih... harusnya ada imbalan buat gue ya," ujar Fadlan dengan senyum. "Oke... lo minta imbalan berapa?" Jeslin langsung mengeluarkan dompetnya. "Satu milyar rupiah! Hahaha." ucap Fadlan asal. "Yah kalo itu sih harus transfer. Gak bisa pake dompet ya bayarnya. Hahaha," canda Jeslin. "Tenang... harga gue gak semahal itu. Lo cukup bayar gue pake makan malam hari ini. Gue laper bangeeettt soalnya!" "Ehmmm.... baiklah. Gue bakalan traktir lo malam ini! Mau makan apa kita?" tanya Jeslin. "Kita ke restoran masakan China aja gimana? Gue tau resto yang enak deket-deket sini," usul Fadlan. Jeslin mengangguk setuju. "Oke. Gue setuju kita makan di situ." "Let's gooo!" seru Fadlan. Jeslin langsung masuk ke dalam mobil Fadlan, lalu pria itu lekas memacu laju mobilnya. Karena ini waktu dimana kebanyakan orang baru pulang kerja, perjalanan terasa lebih macet dari biasanya. Fadlan langsung memasang musik supaya suasana tak terasa membosankan. "Ah... Finally, kita nyampe juga," ucap Jeslin sambil melepaskan seatbelt-nya. Mereka langsung keluar dari mobil, lalu berjalan memasuki restoran. Mungkin karena ini akhir pekan, restoran dipenuhi banyak orang. Jeslin dan Fadlan sampai kesulitan menemukan tempat yang kosong. Namun setelah beberapa menit menunggu, mereka akhirnya menemukan sepasang kursi yang kosong. "Ah, akhirnya bisa duduk juga!" seru Fadlan. "Kayaknya nih resto beneran enak deh. Makanya sampe rame begini. Kok gue baru tau ya ada resto ini," ucap Jeslin. "Mungkin karna lo mainnya restoran mewah mulu. Hahaha. Mau makan apa?" tanya Fadlan sambil menyodorkan buku menu. Jeslin langsung melihat-lihat daftar menu yang ada di buku itu. "Gue bingung. Lo aja deh yang pilihin. Kan lo yang sering makan di sini." "Oke. Gue pesen makanan yang menurut gue enak di sini ya," ucap Fadlan. Jeslin langsung mengangguk setuju. Ia pasrah saja menyerahkan menu makan malamnya pada Fadlan. Tak berapa lama, pelayan mengantarkan menu yang Fadlan pesan. Jeslin cukup takjub melihat banyaknya hidangan yang kini ada di atas meja. "Ini kita cuma makan berdua kan? Udah kayak kebo aja yang makan. Ini banyak banget Fadlan!" protes Jeslin. Fadlan tertawa. "Tenang... kalo kemahalan, biar gue aja yang bayar." "Bukan gitu maksudnya. Bukan soal uang. Cuma ini gimana ngabisinnya? Ini banyak banget. Gue gak makan sebanyak ini ya." Jeslin masih terus menatap hidangan yang ada di hadapannya. "Kalo gak habis ya tinggal dibungkus aja. Cuma gue rasa sih bakalan abis ya." Jeslin memicingkan matanya dengan raut wajah ragu. "Lambung gue sih kayaknya gak bakalan sanggup. Jadi mungkin lo yang bakalan ngabisin kalo gitu. Itu juga kalo perut lo kayak raksasa." "Let's see," ucap Fadlan sambil tersenyum percaya diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD