"Jes, kamu besok bisa meeting bareng agency gak? Kebetulan besok saya ada dinas luar bareng Pak Bimo. Jadi gak bisa ketemu mereka. Sekalian besok bisa ambil beberapa konten pake model dari mereka?" tanya Clarina.
"Konten yang kemarin kita meetingin ya, Bu?" tanya Jeslin lagi.
"Iya betul. Konten video dan foto buat produk baru kita. Lotion anti nyamuk. Saya udah call agency nya buat nyiapin beberapa model dan script-nya. Kamu pastiin aja hasil materi foto dan video-nya itu yang kita butuhin untuk keperluan promosi produk. Kalu hasilnya gak bagus, kamu bisa arahin mereka buat revisi," jawab Clarina.
"Baik, Bu. Yah... walaupun sebenarnya besok itu weekend, tapi gak papa. Saya akan bekerja keras besok," ucap Jeslin.
Jeslin sebenarnya keberatan untuk bekerja di hari libur. Namun karena besok Bimo juga ternyata ada agenda bekerja, maka lebih baik ia juga ikut bekerja. Ia menghindari malam minggu kelabu. Jadi lebih baik ia mengisinya dengan bekerja.
"Nanti kita kasih uang lembur buat kamu. Karna ini kan hitungannya kerja," kata Clarina.
"Baik, Bu. Enggak masalah kok buat weekend ini. Saya emang lagi free," ujar Jeslin.
"Kamu mau ditemenin Ica atau Fiona buat meeting? Dan buat bawa peralatan. Siapa tau perlengkapan tuh agency kurang kualitasnya. Saya belum check kamera yang mereka pakai itu apa. Kita pilih mereka karna termurah aja. Karena memang kita lagi gencar efisiensi budget juga," ucap Clarina.
"Setau saya mereka ada agenda pribadi buat weekend ini, Bu. Kayaknya gak enak deh kalo mereka harus cancel acara mereka cuma untuk bantuin saya."
"Kan ini pekerjaan. Mereka juga akan dapet uang lembur sebagai kompensasi buat bekerja di waktu weekend."
"Setau saya... besok Ica mau nonton konser idol Korea besok. Fiona mau liburan bareng keluarga. Mereka udah booking tiket dan gak mungkin dibatalin. Kalaupun dipaksa buat kerja besok... itu artinya mereka rugi tiket dan akomodasi yang udah terlanjur dipesan, Bu."
Clarina menghela nafas. "Baiklah. Ucapan kamu itu benar. Pekerjaan ini juga dadakan. Jadi gak fair juga kalo saya maksa. Oke, kalo kamu ditemani si Fadlan gimana? Nanti saya ijin ke atasannya buat bantuin kamu besok. Saya dengar dia punya skill fotografi dan videografi juga. Jadi saya rasa dia berguna. Sekalian bantuin kamu bawa peralatan juga."
"Boleh juga itu, Bu. Saya gak ada masalah ditemani Fadlan," ujar Jeslin.
Clarina tersenyum senang. "Oke. Masalah sudah selesai kalau gitu. Thanks ya, Jes."
"Sama-sama, Bu."
Jeslin kembali ke tempat duduknya, sementara Clarina berjalan menuju ruang meeting. Jeslin menghela nafas. Ia meratapi nasib akhir pekannya yang malah diisi dengan bekerja. Jeslin lalu mengambil ponselnya. Ia sengaja iseng untuk mengirim pesan kepada kekasihnya, Bimo.
Jeslin
Besok bisa jalan kita? Kan malam minggu.
Ternyata pesannya itu dibalas dengan cepat oleh kekasihnya itu. Padahal tadi ia sekilas melihat dari jendela kaca bahwa Bimo sedang sibuk bekerja. Jeslin sedikit terkejut pesannya bisa di balas dengan cepat. Ini hal yang tak biasa.
Bimo
Besok aku ada dinas luar bareng Clarina. Enggak tau kelarnya jam berapa. Jadi gak bisa janji.
Jeslin
Yah... Dinas keluar kemana sih emangnya?
Bimo
Ada meeting di Bogor. Harusnya sih bisa kalo balik sore hari. Cuma aku gak tau kalo ada macet. Besok bukannya kamu juga ada kerjaan?
Jeslin
Kok kamu tau? Aku kan belum cerita, Kok bisa tau?
Bimo
Iya. Clarina yang tadi cerita. Baguslah. Biar besok kamu ada kesibukan juga. Jadi gak gerah juga nungguin aku.
Jeslin
Oh jadi ini rencana kamu ya. Sengaja bikin aku kerja besok. Wah...
Bimo
Kaga ada begitu ya. Aku juga baru tau tadi. Si Clarina cerita pas lagi report kerjaan. Jadi bukan aku yang bikin rencananya.
Jeslin
Baiklah~ aku percaya. Jadi kita gak bisa malam mingguan ya? Huhuhu :')
Bimo
Kalo gak bisa malam mingguan, yaudah kita malam senin an. Wkwkwkwk
Jeslin
Lah bisa ngelawak kamu. Ku kira cuma bisa kerja doang >.
Bimo
Yaudah kalo gitu. Aku balik fokus kerja dulu ya. Jadi gak megang HP.
Jeslin
Yaaaahhhh! Yaudah deh!
Jeslin langsung kembali meletakan ponselnya. Ia tau bahwa ketika kekasihnya itiu kembali sibuk bekerja, maka pesannya tidak akan dibalas lagi. Karena Bimo tidak pernah memegang ponsel ketika sedang fokus bekerja.
Namun tiba-tiba ada panggilan telepon masuk. Jeslin melihat nama Fadlan di layar ponselnya. Ia langsung mengangkat panggilan telepon itu.
"Kenapa, Fad?" tanya Jeslin.
"Jadi besok jalan kita? Hahahaha," tanya balik Fadlan dengan nada bercanda.
"Kerja! Bukan jalan doang," protes Jeslin.
"Yah bisa kali sambil jalan. Hahahaha."
"Kaga bisa! Besok fokus kerja." tegas Jeslin.
"Canda doang elah. Serius amat kau. Jadi besok gue bantuin bawa apa aja?" tanya Fadlan.
Jeslin langsung membuka catatan list peralatan yang sudah ia buat sebelumnya. "Kita harus bawa kamera yang pasti. Terus harus bawa tripod juga. Nanti gue kirimin list nya via chat deh."
"Oke siap. Gue bakalan jadi bodyguard lo seharian. Sekalian jadi tukang angkat barang."
"Hahaha. Terima kasih lho. Sorry juga ganggu waktu weekend-nya."
"Yah gak papa. Kan weekend-nya bareng lo. Hahahaha."
"Bercanda mulu lo ah!"
"Yaudah. Gue balik kerja ya. Ditunggu list peralatannya. Nanti pas pulang kerja, gue sempetin angkut peralatannya. Jadi besok tinggal berangkat aja."
"Thanks, Fad."
"Iya. Sama-sama."
Jeslin menutup panggilan telepon itu, lalu meletakan ponselnya ke atas meja. Ia sedang sendirian di ruangan itu. Clarina dan Rena sedang di ruang meeting. Sementara Fiona dan Ica belum kembali dari tempat makan siangnya. Jeslin memang memilih untuk menyantap bekal makan siang yang terlanjur sudah dibawa, dibandingkan ikut Fiona dan Ica untuk makan siang di luar.
Karena masih ada sisa sedikit waktu istirahat, Jeslin memilih untuk beristirahat sejenak di kursinya. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai, lalu memejamkan matanya. Ia tidak tidur. Namun hanya sekedar mengistirahatkan mata dan tubuhnya sejenak. Akan tetapi belum sempat ia lebih lama menikmati sisa jeda istirahatnya, tiba-tiba ada orang yang membuatnya terkejut.
"BAAAA!"
Jeslin refleks langsung membuka matanya dengan raut wajah terkejut. Ia langsung melempar tissue ke arah Fiona dan Ica yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak. Dua gadis itu tampak tertawa senang melihat Jeslin sangat terkejut.
"KALIAN INI YA! BENER-BENER DEH AH! BIKIN GUE KAGET AJA!" protes Jeslin.
"Hahaha. Sorry, Jes. Posisi lo lagi enak banget buat gue isengin soalnya," balas Fiona sambil tertawa.
"Salahin Fiona, Jes. Dia yang ngagetin lo tadi. Hahhaha," timpal Ica.
"Bisa-bisanya pada ketawa ya! Liat aja nanti... gue bales kalian!" ancam Jeslin.
"Ampun Nyai Jeslin," ucap Fiona dan Ica secara bersamaan.
Jeslin tertawa sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah ke dua temannya. Kehidupan di kantornya terasa lebih menyenangkan dengan kehadiran mereka berdua.