Seperti Pulang, Tapi Tidak Sepenuhnya

534 Words
Malam itu, langit tidak hanya gelap — ia kelabu, menahan badai yang enggan pecah. Darren berdiri di depan cermin kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya lama, seolah berusaha mengenali sosok yang selama ini ia hindari. Ia mengingat sorot mata Aruna tadi siang. Penuh ketenangan. Tapi juga... sebuah pertanyaan yang belum sempat dijawab. Kalau suatu hari Aruna tidak datang lagi... apakah ia akan tetap baik-baik saja? Darren tidak tahu. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, ia ingin mencoba sesuatu yang selama ini terasa asing: ia ingin bercerita. --- Aruna terkejut ketika pintunya diketuk pukul delapan malam. Ia tak sedang menunggu siapa pun. Saat membuka pintu, Darren berdiri di sana. Tanpa payung. Tanpa pesan lebih dulu. Hanya diam dan basah oleh gerimis. “Darren?” “Aku... cuma mau ke sini.” Aruna buru-buru mempersilakan masuk, mengambilkan handuk, membuatkan teh. Tapi Darren hanya duduk di sofa, membisu. Akhirnya, saat Aruna duduk di seberangnya, Darren bicara. “Aku belum pernah cerita ini ke siapa pun.” Aruna tidak memotong. Ia hanya menunggu, seperti selalu. “Saat aku dikurung dulu... ada hari-hari di mana aku berpikir lebih baik mati.” Kalimat itu jatuh seperti pecahan kaca. Pelan... tapi melukai. “Aku pernah nekat melukai diriku sendiri. Tapi mereka pikir itu hanya ‘drama’. Jadi aku dikurung lebih lama.” Darren tertawa pendek — getir dan sarkastik. “Yang paling sakit bukan rasa sakitnya. Tapi ketika semua orang menganggap kau hanya ‘bermasalah’, bukan sedang terluka.” Aruna menunduk, dan hatinya mencubit dirinya sendiri. Ia tahu rasa itu. Ia tahu bagaimana rasanya dikurung oleh persepsi orang lain. “Waktu keluar dari sana, aku kira aku bebas. Tapi ternyata... aku cuma pindah dari satu penjara ke penjara yang lain.” Ia menoleh. “Sampai kamu datang. Kamu... aneh. Kamu nggak nanya hal-hal sok paham. Kamu cuma duduk. Dan entah kenapa... itu cukup.” Aruna tersenyum kecil. “Kadang... yang paling dibutuhkan bukan jawaban. Tapi seseorang yang cukup diam, cukup hadir, cukup sabar.” Hening sejenak. Kemudian Darren bertanya, pelan, nyaris takut. “Kalau aku bilang... aku takut kehilangan kamu, kamu bakal apa?” Aruna terdiam. Di antara mereka, waktu seolah berhenti. Ia tidak buru-buru menjawab. Karena ini bukan pertanyaan biasa. Ini... pengakuan. “Aku juga takut kehilangan kamu,” bisiknya akhirnya. “Tapi lebih dari itu, aku takut kamu merasa tidak bisa hidup tanpaku.” Darren mengernyit. “Aku nggak mau kamu bergantung padaku. Karena kamu berhak hidup untuk dirimu sendiri. Sembuh untuk dirimu sendiri.” Ia melanjutkan, “Tapi kalau kamu bertanya, apakah aku akan pergi... jawabannya: tidak. Selama kamu masih butuh aku, aku akan ada.” Mata Darren mulai basah. Bukan karena lemah. Tapi karena untuk pertama kalinya, seseorang bicara padanya... dengan cinta yang tidak bersyarat. --- Malam itu mereka duduk di lantai ruang tamu, seperti biasa. Tak banyak kata, hanya kehangatan yang menggantikan segala dingin di luar sana. Aruna menggenggam tangan Darren sebentar, lalu melepaskannya perlahan. “Setiap orang butuh tempat untuk pulang. Tapi kadang... tempat itu bukan rumah. Bukan bangunan. Tapi seseorang.” Darren menatapnya. “Kalau begitu... kamu sudah jadi tempatku pulang.” Aruna terdiam. Lalu menjawab dengan suara serak yang nyaris tak terdengar, “Maka pastikan... kamu juga bisa jadi rumah untuk dirimu sendiri.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD