Hari itu hujan turun sejak pagi.
Bukan hujan deras yang membasahi sampai ke tulang. Tapi gerimis panjang yang lambat, nyaris seperti seseorang yang menangis diam-diam.
Aruna berdiri di halte tua, menunggu Darren.
Ini pertama kalinya mereka akan pergi ke luar bersama.
Sesuatu yang sederhana — kafe kecil yang baru buka di sudut kota. Tapi untuk Darren, itu lebih dari sekadar kopi dan tempat duduk. Itu adalah langkah. Keluar dari batas aman yang selama ini ia jaga mati-matian.
Ia datang tepat waktu.
Payung hitam di tangannya, dan tatapan ragu di matanya.
“Kamu yakin masih mau pergi?” tanyanya saat melihat Aruna sudah menunggunya.
Aruna mengangguk. “Kalau kamu siap.”
Darren menarik napas panjang.
“Mungkin nggak pernah benar-benar siap. Tapi... kita jalan aja dulu.”
---
Kafe itu sepi. Hanya ada beberapa pelanggan yang tenggelam dalam dunia mereka masing-masing. Aroma kopi dan kayu manis memenuhi udara — hangat dan menenangkan.
Mereka duduk di sudut, menghadap jendela yang berkabut.
Darren menatap luar, tapi ia tahu betul: yang membuatnya gugup bukanlah dunia di luar. Tapi semua yang sedang tumbuh di dalam dirinya.
“Aku mimpi semalam,” gumamnya tiba-tiba.
Aruna meletakkan cangkirnya. “Tentang apa?”
“Dulu. Ruang putih itu. Tapi kali ini... pintunya terbuka.”
Ia tertawa miris. “Tapi aku nggak berani keluar.”
Aruna tidak menjawab cepat. Ia menunggu, memberi waktu.
“Aku tahu rasanya,” katanya akhirnya.
“Pintu terbuka bukan berarti kita langsung bisa melangkah. Kadang... kita perlu waktu untuk percaya bahwa di balik pintu itu, tidak ada yang menunggu untuk melukai kita lagi.”
Darren menatap wajahnya. Wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang juga menyimpan begitu banyak luka.
“Kamu pernah ngerasa gitu?”
Aruna diam sesaat.
“Aku... pernah mimpi aku pulang ke rumah, dan semua orang nggak kenal aku lagi.”
Suara Aruna nyaris tak terdengar. “Seperti... aku bukan siapa-siapa.”
Darren menggenggam sendok kecil di tangannya. “Itu mimpi yang menyakitkan.”
“Bukan cuma mimpi. Itu pernah jadi kenyataan.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Tidak dramatis. Tidak menangis. Hanya sebuah pengakuan... yang selama ini disimpan rapi.
Darren tidak bertanya lebih. Tapi Aruna tahu, kali ini... Darren mendengar.
---
Di perjalanan pulang, mereka berjalan kaki.
Gerimis belum berhenti. Tapi payung kecil cukup untuk menampung mereka berdua.
Darren membawa payung. Aruna berjalan di sampingnya, jaraknya nyaris tak ada.
“Terima kasih sudah mau ikut,” kata Aruna.
“Harusnya aku yang bilang gitu. Kamu nggak pernah maksa... tapi kamu juga nggak pernah pergi.”
Aruna meliriknya.
“Kamu juga nggak pernah benar-benar menolak.”
Darren tersenyum tipis. “Mungkin... karena bagian dari aku nggak mau sendirian lagi.”
Hening.
Kemudian Aruna bertanya pelan, “Kalau suatu hari nanti... aku nggak bisa datang, kamu akan tetap baik-baik saja?”
Darren menoleh cepat. “Kenapa kamu tanya begitu?”
“Bukan karena aku akan pergi. Tapi karena aku tahu, aku juga manusia. Bisa gagal. Bisa lelah.”
Darren mengangguk, perlahan.
“Aku... mungkin akan takut. Tapi sekarang aku tahu, aku bisa tetap ada.”
“Kamu yakin?”
Darren menarik napas, dan kali ini — ia tidak ragu menjawab.
“Aku belajar dari kamu. Tapi aku mau sembuh... buat aku sendiri.”
Aruna mengangguk. Tak berkata apa-apa lagi.
Tapi senyum di wajahnya... menahan air mata yang hampir jatuh.
---
Sore itu, ketika Aruna sampai di rumah, ia membuka ponselnya.
Ada satu pesan masuk dari Darren.
> “Terima kasih sudah jadi orang pertama yang tetap duduk, bahkan saat semua bagian dari aku ingin berdiri dan pergi.”
Dan untuk pertama kalinya... Aruna menangis.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ia tahu: luka mereka mungkin belum sembuh, tapi mereka tidak lagi berdarah sendirian.