Cerita yang Tak Pernah Selesai

703 Words
Pagi itu, Darren terbangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena mimpi buruk. Bukan juga karena teriakan bayangan masa lalu. Tapi karena sebuah perasaan asing... seperti menunggu sesuatu yang belum tentu datang. Ia duduk di meja makan. Dua cangkir sudah disiapkan. Kebiasaan baru — Aruna suka teh hangat, tanpa gula. Dia sendiri lebih suka pahitnya kopi. Sejak kapan ruangan ini terasa kurang jika tidak ada satu orang yang diam-diam sudah mengisi kekosongan di dalamnya? Tak lama, bunyi pintu diketuk lembut. Darren bangkit — kali ini tanpa ragu. Aruna berdiri dengan buku di tangannya. Tidak membawa senyum selebar biasanya, tapi matanya tetap tenang. “Hari ini kamu mau mendengar cerita?” tanyanya. Darren mengangguk. Ia memberi jalan, lalu kembali ke meja makan. Mereka duduk berseberangan. Aruna membuka bukunya perlahan. “Ini bukan cerita anak-anak. Tapi bukan juga cerita yang bahagia.” Darren memiringkan kepala. “Kenapa kamu pilih itu?” “Karena kadang... yang paling kita butuh dengar adalah cerita yang tidak selesai dengan sempurna.” Ia memulai membaca. Tentang seorang anak lelaki yang kehilangan suara sejak kecil. Setiap kali ia ingin bicara, dunia memalingkan wajah. Ia mencoba menulis, tapi tulisannya dirobek. Ia mencoba menggambar, tapi kertasnya dibakar. Sampai suatu hari, ia bertemu seorang perempuan yang tidak bisa mendengar. Ia tidak bertanya kenapa anak itu diam. Ia hanya duduk di sampingnya. Hari demi hari, perempuan itu mengajarinya cara menyampaikan tanpa suara — dengan sentuhan, dengan tatapan, dengan kehadiran. Anak lelaki itu pun perlahan... menemukan bahasanya sendiri. Aruna menutup bukunya. “Habis di situ. Ceritanya memang nggak selesai. Tapi kadang, cerita yang tidak selesai itu justru... terasa nyata.” Darren termenung. “Itu kamu dan aku, ya?” Aruna tersenyum, tapi tidak menjawab langsung. “Cerita kita... juga belum selesai. Dan mungkin, memang tidak akan pernah benar-benar ‘selesai’. Tapi itu bukan hal yang buruk.” Darren menyandarkan punggung ke kursi. Tatapannya jauh. “Kamu tahu... kadang aku takut bangun tidur.” “Kenapa?” “Karena aku nggak tahu apa yang akan aku rasakan hari itu. Kadang baik-baik saja. Kadang... ingin menghilang.” Aruna menatapnya lekat-lekat. “Kamu boleh bilang ke aku... kalau hari itu kamu ingin menghilang.” Darren menoleh cepat. “Kenapa? Supaya kamu bisa ‘menolong’?” Aruna menggeleng. “Supaya kamu tahu, kamu tidak perlu menghadapi hari itu sendirian.” Kata-kata itu terlalu tenang untuk tidak menusuk. Darren menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat. “Kadang aku takut aku hanya membebani kamu.” “Kalau kamu beban, aku tidak akan datang lagi sejak hari kedua.” Darren mendongak. Aruna menatapnya, serius tapi hangat. “Aku bukan di sini karena merasa kasihan, Darren. Aku di sini... karena aku percaya kamu masih bisa diselamatkan — oleh dirimu sendiri. Aku cuma mau menemani sampai kamu percaya itu juga.” Hening sejenak. Lalu Darren tertawa kecil, samar. “Kamu tuh... terlalu percaya sama orang.” “Bisa jadi. Tapi untuk kali ini, aku nggak salah.” --- Mereka pindah ke ruang tengah. Jeda kembali berada di tengah-tengah mereka, kini sudah diperbaiki. Aruna merapikannya tanpa diminta. “Dia satu-satunya yang dengar semuanya waktu aku kecil,” ujar Darren, sambil menatap boneka itu. “Lalu sekarang?” Darren melirik Aruna. “Mungkin sekarang dia bisa pensiun. Ada orang baru yang siap dengerin,” gumamnya pelan. Aruna pura-pura tidak mendengar. Tapi senyumnya sulit disembunyikan. --- Matahari mulai condong ke barat. Waktu berjalan pelan, tapi tidak pernah berhenti. Aruna berdiri, bersiap pamit. Darren mengikutinya sampai pintu. Tapi sebelum Aruna pergi, ia menahan lengan bajunya sedikit. “Aruna.” “Hm?” “Kamu tahu nggak... kalau kamu pergi, aku merasa rumah ini terlalu sunyi?” Aruna menoleh, pelan. “Sunyi bukan berarti sepi, Darren. Kadang, itu cuma tanda... bahwa hati kita sedang belajar mendengar dirinya sendiri.” Darren mengangguk pelan. Tapi sebelum ia sempat menjawab, Aruna membungkuk sedikit — menatap matanya dalam-dalam. “Kalau suatu hari kamu ingin bercerita tentang suara-suara yang nggak pernah keluar... aku di sini.” Dan untuk pertama kalinya, Darren tak hanya mengangguk. Ia berkata, meski pelan: “Aku percaya.” Pintu tertutup. Tapi rasa yang tertinggal tak ikut pergi. Malam itu, Darren membuka buku catatan kosong. Dan ia mulai menulis satu kalimat. Bukan tentang rasa sakit. Tapi tentang harapan yang mulai bisa ia kenali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD