Hari itu, langit mendung menggantung rendah di atas kota.
Udara terasa berat, seolah bumi sendiri sedang menahan napas.
Aruna berjalan cepat ke rumah Darren, menggenggam jaketnya erat-erat di tengah tiupan angin dingin.
Ada sesuatu di hatinya yang mendesak — rasa cemas yang tak biasa.
Begitu tiba di depan pintu, Aruna mengetuk pelan, menunggu.
Tak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
Masih sunyi.
Perasaan tidak enak semakin menekan dadanya.
Akhirnya, dengan hati-hati, ia memutar kenop pintu.
Terkunci.
Tapi dari sela tirai, ia bisa melihat: lampu di ruang tengah menyala.
Dengan jantung berdegup kencang, Aruna mengetuk lebih keras.
"Darren... ini aku. Aruna. Kamu baik-baik saja?"
Masih tak ada jawaban.
Beberapa menit yang terasa seperti seumur hidup berlalu sebelum akhirnya, pintu terbuka sedikit — cukup untuk memperlihatkan mata Darren yang merah, wajahnya pucat, napasnya memburu.
Aruna segera tahu: ini bukan sekadar kelelahan biasa.
Ini serangan panik.
Tanpa ragu, ia mendorong pintu lebih lebar dan melangkah masuk.
Darren membiarkan dia masuk, tubuhnya bergoyang tidak stabil, seolah semua kekuatan telah meninggalkannya.
"Aku... aku nggak bisa napas," gumam Darren, suara seraknya dipenuhi ketakutan.
Aruna mendekat perlahan, mengangkat kedua tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak mengancam.
"Darren, dengar aku," katanya lembut.
"Kamu aman. Aku di sini."
Tangan Darren mencengkeram kerah kaosnya, menarik-nariknya seolah mencoba mendapatkan lebih banyak udara.
Aruna menahan keinginannya untuk langsung menyentuh.
Sebaliknya, ia berjongkok hingga sejajar dengan Darren, memandang ke matanya.
"Ikuti aku, ya? Tarik napas perlahan... satu, dua... lalu hembuskan perlahan."
Darren mencoba, tapi tubuhnya gemetar hebat.
Aruna mengambil sebuah benda kecil dari dalam tasnya — sebuah kantong kertas.
Ia tahu Darren tidak boleh tahu kalau dia sudah mempersiapkan ini... seperti dokter.
Tapi sekarang bukan saatnya mempertahankan kebohongan kecil itu.
"Ini akan membantu," katanya cepat, menyodorkan kantong itu.
Darren menatapnya ragu, tapi ketakutan lebih besar daripada kecurigaannya.
Dengan tangan gemetar, ia mengambilnya, mulai bernapas ke dalam kantong.
Satu tarikan.
Satu hembusan.
Pelan-pelan, warna mulai kembali ke pipinya.
Napasnya tidak lagi secepat tadi.
Aruna tetap di sana, duduk diam, hanya menawarkan kehadirannya.
Memberikan ruang, tanpa paksaan.
Beberapa menit berlalu sebelum Darren akhirnya menurunkan kantong kertas itu dan menatap Aruna, bingung, marah, dan malu bercampur jadi satu.
"Kamu... siapa, sebenarnya?" gumamnya, nadanya penuh kecurigaan.
Aruna menahan napas.
Dalam sepersekian detik, ia sadar betapa rapuhnya tali kepercayaan yang sudah mereka bangun.
Salah kata sedikit saja, dan semuanya bisa runtuh.
"Aku... hanya seseorang yang ingin kamu tetap bertahan," jawabnya perlahan, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
Darren mengerutkan kening, tapi tidak berkata apa-apa lagi.
Mungkin, di dalam hatinya yang masih berkeping-keping, ia ingin mempercayai itu.
Aruna menghela napas lega dalam diam.
Mereka berdua duduk di lantai, diam, membiarkan kelelahan mengambil alih.
Di luar, hujan mulai turun perlahan, menepuk-nepuk jendela dengan ritme yang menenangkan.
Aruna menatap Darren — pria yang hancur, tapi masih berusaha bernapas.
Dan ia tahu, hatinya sendiri mulai retak, membiarkan cahaya kecil masuk.
Untuk pertama kalinya, ia tak hanya ingin menyembuhkan Darren.
Ia ingin menyembuhkan dirinya sendiri, bersama lelaki ini.