Hari ketiga, Aruna kembali — membawa dua cangkir kopi dari kafe kecil di sudut jalan.
Ia berdiri di depan pintu rumah Darren, mengetuk pelan seperti biasa.
Beberapa detik tak ada jawaban.
Aruna sudah hampir berpikir untuk pergi, saat akhirnya pintu itu berderit terbuka.
Darren berdiri di sana, mengenakan kaos abu lusuh dan celana longgar.
Matanya merah, kantung di bawah matanya dalam, seolah malam-malamnya masih penuh pertempuran.
Aruna mengangkat kedua cangkir itu, tersenyum kecil.
"Aku bawa senjata damai," katanya.
Darren menatapnya kosong selama beberapa saat, lalu — tanpa sepatah kata pun — mengambil salah satu cangkir itu dari tangan Aruna.
Gerakannya malas, tapi tidak kasar.
Aruna menganggap itu sebagai kemajuan.
Mereka masuk ke dalam.
Hari ini, jendela terbuka lebih lebar.
Udara musim semi yang segar mengalir masuk, membawa bau tanah basah dan dedaunan.
Aruna duduk di kursinya, menyeruput kopi perlahan.
Darren, masih diam, duduk di lantai bersandar pada sofa, jarak mereka lebih dekat daripada hari-hari sebelumnya.
"Semalaman tidak tidur?" tanya Aruna pelan, menebak dari wajahnya.
Darren mengangguk sedikit, mengusap matanya yang lelah.
"Mimpi buruk?"
Diam.
Lalu Darren mengangguk lagi, sangat kecil.
Aruna tidak bertanya lebih jauh.
Ia tahu, beberapa luka terlalu dalam untuk diungkit tanpa izin.
Sebagai gantinya, ia memandang keluar jendela, membiarkan angin menyapu rambutnya, menciptakan keheningan yang nyaman.
Setelah beberapa saat, Darren berbicara — suaranya rendah dan serak.
"Ada mimpi... aku terkurung di ruangan putih itu lagi."
Aruna menoleh perlahan, mendengarkan.
"Dindingnya... terlalu dekat," lanjut Darren.
"Semakin aku berteriak, semakin sempit. Sampai aku nggak bisa napas."
Aruna merasakan dadanya sesak mendengar pengakuan itu.
Tanpa berpikir panjang, ia berkata, "Sekarang kamu di sini. Kamu bebas."
Darren mendengus, tapi kali ini bukan ejekan.
Lebih seperti kelelahan.
"Di luar ruangan itu pun... aku tetap terkurung," katanya lirih.
Aruna menatapnya lama.
Ia ingin menyentuh Darren, mungkin sekadar menyentuh tangannya.
Tapi ia menahan diri.
Sentuhan tanpa izin bisa jadi lebih menyakitkan.
Sebaliknya, Aruna menaruh cangkir kopinya di meja kecil, lalu duduk di lantai, sejajar dengan Darren.
"Hidup ini kadang kayak luka yang nggak pernah benar-benar sembuh," kata Aruna.
"Tapi... bukankah luka itu membuktikan kalau kita pernah bertahan?"
Darren memejamkan matanya, menahan sesuatu di dalam dirinya.
Seolah kata-kata itu membuka pintu kecil yang lama terkunci.
Mereka duduk diam lagi, tapi keheningan kali ini berbeda.
Bukan sunyi yang membekukan, tapi keheningan yang menghangatkan d**a.
Aruna memperhatikan tangan Darren yang gemetar sedikit.
Ia melihat ketegangan di bahu lelaki itu, seperti seseorang yang terlalu lama membawa beban sendirian.
"Aku nggak mau jadi beban," kata Darren tiba-tiba, suaranya pecah.
Aruna menggeleng cepat, hampir refleks.
"Kamu bukan beban, Darren," katanya serius.
"Setiap orang berhak merasa hancur. Berhak merasa rapuh.
Kamu bukan lebih kecil karena itu."
Darren menghela napas berat, seolah menghembuskan sebagian dari bebannya.
Lalu, dalam gerakan yang hampir tak kentara, ia bersandar sedikit ke arah Aruna — tidak bersentuhan, tapi cukup dekat untuk merasakan kehadirannya.
Aruna tidak bergerak.
Ia hanya tetap di sana, menawarkan dirinya sebagai jangkar kecil di tengah badai Darren.
Mungkin, pikir Aruna, inilah awal dari kepercayaan:
bukan tentang kata-kata manis atau janji kosong,
tetapi tentang siapa yang tetap tinggal, saat semuanya terasa mustahil.
Di luar, angin bertiup pelan, membawa harapan samar di tengah dunia yang masih penuh luka.