Celah Kecil di Balik Dinding

503 Words
Keesokan harinya, Aruna kembali. Bahkan sebelum ia sempat mengetuk pintu, Darren sudah membukakannya, seolah diam-diam menunggunya. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyuman. Hanya tatapan singkat, dan gerakan kepala kecil yang mengizinkan Aruna masuk. Hari ini, cahaya dari jendela sedikit lebih banyak masuk. Tirai itu — yang kemarin tertutup rapat — kini setengah terbuka, membiarkan sinar matahari mengalir perlahan ke lantai kayu yang dingin. Aruna menyadarinya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Kadang, perubahan kecil butuh dihargai tanpa sorak-sorai. Ia berjalan pelan menuju kursi biasa, meletakkan tasnya, lalu duduk sambil menatap sekeliling. Ruangan ini masih terasa berat, tapi entah bagaimana, ada sesuatu yang terasa... lebih hidup. Darren duduk di sofa seberang, kakinya terlipat di bawah tubuhnya, satu tangan menopang kepala. "Kenapa kamu datang lagi?" tanyanya datar. Aruna menautkan jemarinya, menatap Darren dengan tenang. "Karena aku bilang aku akan tetap di sini," jawabnya ringan. Darren mendengus, tapi kali ini tanpa rasa sinis. Lebih seperti seseorang yang bingung, atau mungkin... belum percaya. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lalu tiba-tiba, Darren melemparkan sesuatu ke arah Aruna — sebuah buku lusuh, jatuh tepat di pangkuannya. Aruna menatapnya, heran. "Baca," kata Darren singkat. Aruna memandang sampul buku itu: kumpulan puisi usang, dengan halaman-halaman yang sudah menguning. Ia membuka perlahan, mencium aroma kertas tua yang membawa nostalgia aneh. Beberapa baris puisi terbaca samar: "Tak semua luka harus sembuh, Beberapa hanya butuh tempat untuk bernapas." Aruna membaca dalam diam, membiarkan kata-kata itu mengendap di dadanya. Ketika ia mengangkat kepala, Darren sudah menatap ke arah lain, seolah pura-pura sibuk memperhatikan debu di udara. "Aku suka," kata Aruna akhirnya. Darren mengangguk pelan, seolah lega — meski ia menyembunyikannya dengan baik. "Itu... buku ibuku," gumamnya setelah lama. Aruna membeku sejenak. Ini... sesuatu. Darren, yang bahkan tak mau membuka dirinya kemarin, kini berbagi secuil tentang masa lalunya. "Boleh aku membacanya di sini?" tanya Aruna hati-hati. Darren mengangguk, hampir tidak terlihat. Aruna membuka halaman lain, membiarkan suaranya mengalir pelan di ruangan itu: "Jika dunia ini tak memelukmu, Setidaknya peluklah dirimu sendiri." Saat ia membaca, Darren menutup matanya, mendengarkan. Aruna tahu, ini bukan hanya tentang puisi. Ini tentang mengenang seseorang yang hilang — seseorang yang mungkin menjadi satu-satunya sumber cahaya dalam hidup Darren, sebelum semuanya berubah menjadi gelap. Mereka terjebak dalam dunia kecil yang dibangun dari kata-kata dan kenangan. Untuk sesaat, rasa sakit yang selalu melingkupi Darren terasa sedikit lebih ringan. Ketika Aruna selesai membaca satu puisi lagi, Darren membuka mata. "Aku tidak percaya orang," katanya tiba-tiba. "Sama sekali." Aruna menutup buku itu perlahan, menatapnya dengan lembut. "Aku tidak meminta kamu percaya," jawabnya. "Aku hanya ingin... jadi seseorang yang tidak menambah luka baru." Darren menatapnya lama, seolah mencari kebenaran dalam setiap inci wajah Aruna. Lalu, dengan suara hampir tak terdengar, ia berkata: "Kita lihat saja." Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, sudut bibir Darren bergerak sedikit ke atas — bukan tawa, bukan senyum penuh, tapi sesuatu yang menyerupai harapan. Aruna menggenggam buku di pangkuannya erat-erat, merasakan sesuatu yang hangat mengalir perlahan di antara dinding-dinding luka mereka. Mungkin, pikirnya, ini bukan tentang menyembuhkan. Mungkin ini tentang belajar bertahan, bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD