Diandra dan teman temanya sudah selesai mengerjakan tugas masing masing. Saat ini mereka sedang mengobrol ringan sembari menikmati cemilan yang disuguhkan Bi Sum tadi.
Jangan lupa juga. Mereka tak henti hentinya menggoda dan mencubiti pipi gembul si Debay. Yang sudah diresmikan namanya menjadi Cello. Unyu bukan..
"Dii emaknya kok tega banget ya buang bayi seimut ini" ujar Bulan yang merasa miris dengan hidup dede Cello.
"Nggak tau juga Bul ini dibuang atau tidak. Soalnya tadi bayi ini ditengah jalan nggak ada siapa siapa disekitarnya. Yahh daripada aku tinggalin saja disana kan kasihan. Jadi ya aku bawa saja" jelas Diandra.
Semuanya manggut manggut. Nggak semua sih hanya Zela dan Bulan. Kalau para lelaki asik bermain game androit sambil mulutnya tak berhenti mengunyah.
"Bang Llo pelan pelan nanti tersedaaak"
"Uhuk...uhuk..." baru saja Zela selesai mengingatkan Zelo sudah tersedak. Naluri anak kembar deh sepertinya. Tapi sayang Zela ngingetinya telat.
"Nih nih minum" Bulan menyodorkan segelas limun bekas Zelo tadi. Nggak tega juga melihat wajah Zelo yang memerah karena tersedak oreo.
Zelo menerima sodoran Bulan dan langsung meminumnya cepat seperti orang kesetanan.
"Perhatian deh kamu Yang. Jadi makin sayang" Zelo berdiri dan pindah duduk di sebelah Bulan. Lalu Zelo memeluk tangan Bulan. Menyenderkan kepalanya di bahu Bulan.
Cieee.....
Akhirnya kata kata laknat itu keluar dari mulut Diandra, Michell, dan Zela.
"Jauh jauh ah Zel. Geli gue" Bulan menyingkirkan tangan Zelo yang melingkari tanganya.
"Jahat" ujar Zelo mencebikkan bibirnya.
"Udah ah jangan berantem terus. Sebaiknya kalian jadian aja deh. Sama sama suka saja gengsi" kata Diandra sambil tertawa.
Zelo tersenyum lebar lima jari. Tapi Bulan manyun sepuluh centi.
"Dii tadi itu siapa. Pasangan suami istri yang baru dateng tadi" Michell mengalihkan pembicaraan.
Oh iya Diandra belum menceritakan ya tentang kedatangan Om sama Tante Darmawan. Beberapa menit yang lalu orang tua Rio berkunjung kerumah Diandra. Katanya ingin mengobrol dengan Mami Papi Diandra. Tapi sayangnya Papi masih ada urusan di luar jadi hanya Mami Diandra yang menemani orang tua Rio.
"Oh itu Om Darmawan" jawab Diandra singkat. Nggak mungkin kan Diandra bilang sama teman temanya kalau itu calon mertuanya. Bisa diwawancarai sampai subuh dia nanti. Lagian Diandra juga harus meminta persetujuan Rio. Boleh tidak nya mengatakan yang sebenarnya pada teman teman Diandra.
Semua hanya ber-oh Ria. Tidak terlalu perduli sih. Tapi Michell kepo juga melihat pasangan suami istri yang sudah berumur tapi tetap mesra dan pastinya awet muda.
"Dii numpang kamar mandi dong. Kebelet pipis nih" ujar Zela.
"Ngapain izin kalau mau ke kamar mandi ke kamar mandi aja. Kaya baru sekali aja kerumah aku. Masih inget kan jalanya?"
Zela mengangguk dan langsung berlari ke kamar mandi. Sudah diujung tanduk. Kalau nggak cepet bisa basah celananya nanti.
Bulan melirik jam tanganya. "Dii gue pulang ya. Udah malem nanti Mama gue nyari"
Bulan berdiri. Zelo pun juga ikut berdiri.
"Tunggu Zela dulu Bul. Kita nanti pulang sama sama. Kamu bareng aku"
Bulan mendengus pelan. Zelo ini masih saja setia mengejar ngejar dia. Padahal Bulan selalu menolak. Selalu kasar. Selalu dingin sama Zelo. Tapi kenapa sih Zelo nggak nyerah nyerah. Bulan kan capek bohongin perasaanya terus. Kalau Zelo menjauh Bulan kan bisa melupakan perasaanya sengan cepat. Bagaimanapun juga Bulan benci Zelo. (Kalau mau tau lebih banyak tentang Bulan dan Zelo. Baca Sweet Enemy oke! Cerita baru aku).
Bulan menghentakkan tangan Zelo kasar. Zelo menatap mata Bulan nanar.
"Nggak! Lo buta atau apa sih. Gue bawa mobil! Udah ah sana minggir" ketus Bulan.
"Bul" panggil Zelo parau.
Bulan tak menghiraukanya. Bulan menghampiri Diandra untuk berpamitan sekalian menciumi Chello.
"Gue balik dulu ya" pamit Bulan sambil mencium pipi Diandra.
Diandra sedih juga sihh melihat Zelo yang selalu ditolak dan dikasari Bulan. Mereka ini seperti pemeran drama korea. Yang saling mencintai namun gengsi mengakuinya.
"Bul anter gue ya" Michell berdiri disebelah Bulan.
"Oke!" Bulan mensetujuinya membuat Zelo kebakaran jenggot.
"Eitts apa apaan ini. Jangan nusuk gue deh Mich" ujar Zelo nggak terima.
"Yee sapa yang nusuk orang gue gak punya ongkos buat mesen gojek"
"Dii aku pulang ya" ujar Michell mau nyosor Diandra.
"Modus ae lo Mich" dengan sigap Zelo menarik kerah baju Michell.
Diandra tersenyum kecil. Si Chello juga ikutan tertawa melihat Michell yang memarahi Zelo.
Saat Zela sudah datang mereka pulang. Diandra menngantarkan teman temanya sampai depan pintu.
Setelah teman temanya tak terlihat lagi. Diandra masuk kedalam.
Bi Sum sedang membereskan bekas bekas cemilan dimeja. Saat Bi Sum menyadari kedatangan Diandra. Dia menegakkan tubuhnya.
"Mbak Dii dipanggil ibu di taman belakang"
Diandra mengangguk dan melangkah menuju taman belakang dengan Chello yang masih dalam gendonganya.
-
Rio menyusuri setiap foto foto Diandra dan keluarganya yang tergantung manis di dinding kamar Diandra yang bercat pink muda. Dengan lukisan lukisan bunga sakura menghiasi dinding kamar Diandra. Kamarnya perempuan banget.
Mata Rio memandangi foto Diandra yang tengah dirangkul oleh seorang lelaki yang seumuran dengan Rio.
"Ini siapa?" tanya Rio pada dirinya sendiri.
Saat menyadari kemiripan antara wajah Diandra dan lelaki itu. Rio baru menyadari bahwa itu mungkin kakak Diandra.
"Imut sekali" Rio mengelus foto masa kecil Diandra yang sedang memakan ice cream sampai belepotan.
Lalu Rio mengernyitkan dahinya saat melihat foto Diandra dengan seorang remaja lelaki. Didalam foto itu mereka menyatukan jari telunjuk dan ibu jari mereka. Sehingga membentuk love.
Rio tersenyum kecut. "Mungkin ini pacar Diandra"
"Bukan kak itu Mich sahabat aku" Rio membalikkan badanya setengah terkejut. Sambil berharap harap cemas bahwa suara Diandra tadi hanya halusinasinya saja. Mata Rio membulat. Ternyata itu benar benar Diandra.
Aduh Rio jadi malu sendiri. Rasanya pingin sembunyi dibalik punggung Daddy.
"Ooh"
"Kak dipanggil Mommy nya kakak. Disuruh ke taman belakang"
Baru saja Rio ingin menjawab. Diandra menarik paksa tangan Rio. Membuat Rio sport jantung. Tapi Rio pasrah saja lah ditarik Diandra macam sapi.
-
"Tan ini kak Rio nya"Ketiga orang yang sebelumnya berbincang seru dikursi taman menolehkan kepalanya. Dan terpekik senang.
"Wah udah pada pdkt" goda Mami Diandra yang melihat Rio dan anaknya masih bergandengan.
Diandra menunduk malu malu. Dan Rio hanya diam saja.
"Sini nak duduk sini"
Rio dan Diandra duduk bersebelahan. Layaknya pengantin baru. Padahal kan seminggu lagi mereka menikah.
"Mi dede Chello mana?" tanya Diandra yang tak melihat Chello diantara mereka. Padahal kan tadi Diandra menitipkan Chello pada Maminya.
"Chello tidur. Jadi Mami suruh Bi Sum bawa Chello ke kamar Mami. Sekalian dijagain sama Bi Sum" jelas Mami Diandra.
"Yo..bagaimana langkah kamu selanjutnya mengenai bayi itu" tanya Daddy Rio.
"Tak tau Dad. Jika bayi itu masih mempunyai orang tua Rio bakal balikin. Kalau nggak mungkin Rio bakal adopsi" jawab Rio.
Mata Diandra berkaca kaca. Bagaimana jika Chello masih mempunyai orang tua. Diandra nggak mau dipisahin sama Chello. Diandra sayang banget sama Chello.
Diandra menyandarkan kepalanya pada bahu Rio. Membuat Rio sedikit menegang.

(Ps: bayangin aja itu malam. Terus bayangin juga mukanya gak sebahagia itu.)
"Hiks..kak Rio jangan balikkin dede Chello ya. Kita adopsi saja. Aku sayang Chello" isak Diandra.
Ketiga orang tua itu lantas saling pandang. lalu mereka memutuskan untuk membiarkan Rio dan Diandra berbicara berdua. Mereka butuh privasi.
Rio menatap kepergian orang tuanya dengan nanar. Apa yang harus dilakukanya bersama Diandra yang sedang menangis ini. Rio tak berpengalaman menenangkan orang menangis. Apalagi perempuan yang masih labil seperti Diandra ini.
"Kak kita adopsi saja ya ya" Diandra memeluk lengan Rio dan menggoyang goyangkanya. Memaksa Rio mensetujui perkataanya.
"Kalau orang tuanya mencari bagaimana?"
"Biarkan saja..toh orang tuanya nggak perduli"
Rio menarik nafasnya berat. "Kita bisa bikin sendiri"
Diandra menegakkan tubuhnya. "Caranya bagaimana kak?"
Rio menatap Diandra. Dia bingung cara jelasinya seperti apa. Dijelasin seperti apa pun Rio yakin Diandra tak akan mengerti. Diandra masih polos permirsahh.
"Nanti kalau sudah sah kakak ajari"
Diandra mengangguk saja. Diandra kembali menyandarkan kepalanya di bahu Rio. Sampai kantuk melandanya.
Diandra bergerak gerak mencari posisi nyaman. Rio diam saja saat mendengar deru nafas teratur Diandra. Ternyata dia tertidur.
Rio mengangkat tubuh Diandra. Berniat memindahkan Diandra ke kamarnya.