Raya masuk lagi ke dalam ruangan rawat inap Damar setelah selesai berbincang dengan dokter Diro. Damar tersenyum lagi begitu melihatnya, senyum yang sebenarnya sangat Raya rindukan akhir-akhir ini, tapi menggores hatinya karena perpisahan mereka yang mendadak. Raya menarik nafas dalam-dalam. Biar mereka sudah putus, ia tetap tidak tega meninggalkan Damar sendirian. Apalagi sebenarnya ia pun masih punya rasa tertinggal pada lelaki itu. Biarlah aku disini dulu, putusnya dalam hati.
“Mas belum makan?” Tanya Raya, melihat nampan makanan Damar masih utuh. Damar menggeleng. “Kenapa?”
“Mau disuapin kamu, boleh?” Pintanya, manja.
“Iya, aku suapin.” Raya membalas pasrah. Dengan telaten, Raya lalu membukakan plastik pada nampan makanan dan mulai menyuapkan nasi tim itu pada Damar.
“Kata dokter, aku amnesia retrogade?” Damar berkata setelah menelan satu suapan. Amnesia retrograde adalah amnesia kehilangan memori sebagian, dan itulah yang terjadi pada Damar, yang lupa semua kejadian setahun ke belakang. Raya mengangguk lemah. “Apa aja ya yang aku lupa? Kok rasanya kayak nggak ada yang berubah. Cuma ingetku ini beda tahun aja sama yang dokter Diro bilang.”
Ada, mas. Ada yang kamu lupa. Soal aku, soal kita. Kamu lupa. Ucap Raya sendu dalam hati. Ia menimbang-nimbang kapan harus bilang soal status hubungan mereka pada Damar. “Mas udah telepon kantor belum?” Tanya Raya, teringat Damar berada di Batam pasti untuk urusan kantor.
“Belum, hapeku rusak dan aku cuma inget nomor kamu. Boleh kamu telponin kantorku?”
“Oke, nanti aku cari nomor telpon kantor mas di google dan aku telpon, ngasih kabar situasi mas. Mudah-mudahan kantor mas belum ganti ya..” Harapnya.
“Emang mungkin aku pindah kantor dan kamu nggak tahu? Kan aku pasti cerita sama kamu.” Sambar Damar. Raya menelan ludah. Bagaimana ia bisa tahu status pekerjaan Damar terbaru? Sudah tiga bulan lebih kontaknya diblok oleh lelaki ini.
“Kalau ibu atau bapak atau Daniar, mas sudah hubungi?” Tanya Raya lagi, menanyakan soal keluarga Damar beserta adiknya. Damar menggeleng.
“Aku cuma inget nomor hape kamu Ray, nomor yang lain aku lupa. Kamu tahu nomor ibu?”
“Nggak tahu, mas. Aku nggak pernah kontak ibu langsung, bicara sama ibu selalu pas sama mas Damar lewat telepon mas.” Jawab Raya. “Ya sudah, sebentar lagi aku kontak kantor mas ya. Nanti aku minta tolong mereka telepon sama keluarga mas di Jakarta, pasti kantor mas punya daftar nomor darurat untuk karyawannya.”
“Makasih, sayang.” Damar tersenyum lebar, sementara Raya menunduk. Panggilan itu, sudah lama sekali rasanya ia tidak mendengarnya. Sepertinya lewat dari enam bulan, saat Damar mulai dingin padanya.
Raya lalu menyelesaikan menyuapi Damar, dan memenuhi janjinya menghubungi kantor Damar. Syukur, Damar masih bekerja di kantor tersebut dan memang sedang dalam perjalanan dinas sendirian ke Batam. Setelah Raya menceritakan siapa dirinya dan bagaimana situasi Damar, kantor Damar merespons cepat dengan berjanji mengabarkan pada keluarga Damar di Jakarta dan mengirim karyawan lain untuk mengurus administrasi Damar di Batam.
Raya lalu menghubungi bosnya, Pak Adya, dan menceritakan soal kondisinya, bahwa ia menemani sang mantan di rumah sakit karena yang bersangkutan mengalami amnesia. Ia tak pernah cerita soal masalah pribadinya pada sang bos, tapi seperti biasa, Adya selalu paham situasinya. Mungkin karena dokter Diro sebagai ipar sudah menjelaskan duluan.
“Kamu bisa bekerja jarak jauh sampai urusanmu di rumah sakit selesai, Raya. Nanti kamu bisa koordinasi sama Indah untuk urusan yang perlu datang ke kantor.” Begitu instruksi Adya lewat telepon. Indah adalah kolega Raya di PayDo, sesama sekretaris, bedanya Indah adalah sekretaris pak Feri, COO PayDo.
“Terima kasih banyak atas pengertian Bapak. Saya usahakan tidak lama-lama berada disini, pak. Mudah-mudahan dalam sebulan atau lebih cepat.” Janjinya.
“Ya, jangan khawatir. Toh tidak ada pekerjaan darurat yang harus selesai secepatnya dalam bulan ini.”
“Baik pak, terima kasih banyak.”
“Bilang sama Raka atau Indah kalau ada perlu apa-apa ya Raya. Dan jaga kesehatan.” Raka adalah sekretaris Pak Adya di kantor ayah beliau, dan merupakan rekan kerja Raya yang lain dalam hal mengurus keperluan Pak Adya. Raya lagi-lagi mengucapkan terima kasih, bersyukur memiliki bos sebaik Adya.
“Jadi, apa kata bos kamu?” Tanya Damar begitu Raya kembali masuk ke dalam ruangan rawat inap setelah selesai menelpon Adya.
“Aku boleh kerja jarak jauh mas, untuk nemenin mas.”
“Syukurlah. Baik juga ya Pak Adya.” Komentar Damar, raut wajahnya tiba-tiba serius. “Dia beneran nggak ada perasaan sama kamu kan Ray?” Tanyanya lagi, sarat cemburu. Raya sontak tergelak, teringat dulu semasa mereka pacaran Damar memang beberapa kali menyatakan kecemburuannya pada sang bos.
“Mas, sudah berapa kali aku bilang kan, aku sama Pak Adya nggak ada hubungan apa-apa selain pekerjaan! Apalagi Pak Adya juga baru menikah.”
“Pak Adya, sudah menikah?”Mata Damar membulat, dan Raya mengangguk cepat.
“Istrinya pengacara, dan iparnya adalah Dokter Diro. Masa mas masih curiga sama aku? Mas kan tahu, aku paling nggak mau pekerjaanku hilang dan karirku hancur kalau sampai aku terlibat urusan asmara di kantor, apalagi sama bosku yang udah menikah. Sebelum beliau menikah aja aku jaga jarak. Dan Pak Adya juga dari dulu tipe setia, bukan yang suka main cewek gitu.” Ntah kenapa Raya begitu menggebu menjelaskan ini, padahal Damar kan bukan siapa-siapanya lagi. Dia hanya tidak ingin Damar salah sangka terhadapnya dan menganggapnya sebagai sekretaris penggoda bos.
“Iya sih. Aku tahu biar kamu workaholic, kamu itu sebenarnya setia.” Celetuk Damar.
Raya mendengus mendengar Damar menjulukinya gila bekerja. “Mas juga workaholic, makanya cuma bisa nemuin aku ke Batam sebulan sekali atau pas lagi business trip.”
“Hehe.. kamu jangan marah dong. Kan aku janji kalau kita nikah nanti, aku pindah ke Batam dan bikin kantor baru.”
“Emang kita jadi mau nikah?” Raya menaikkan alisnya.
“Ya jadi dong. Tahun depan?” Damar terlihat begitu yakin, dan ini membuat hati Raya makin teriris.
“Mas Damar…” Raya menarik nafas panjang, memutuskan untuk menceritakan saja semua sekarang sebelum terbuai lebih dalam. “Kita kan udah putus, tiga bulan lalu.”
“Putus?? Aku nggak inget kita udah putus! Kenapa kamu putusin aku??” Damar malah balik bertanya dengan wajah yang shock.
“Mas Damar yang putusin aku…” Raya menurunkan suaranya, tidak enak dengan pasien satu lagi di kamar ini yang selalu tertutup di balik tirai.
“Nggak mungkin, aku sayang banget sama kamu.”
“Aku juga sayang dulu, tapi aku nggak bohong. Memang mas Damar yang putusin aku!” Tegas Raya lagi, sebelum akhirnya menceritakan kronologi putus mereka dengan uraian air mata. Tapi Damar masih tidak bisa menerima penjelasannya.
“Pokoknya apapun yang terjadi, kita nggak putus, Raya. Aku sayang banget sama kamu.” Damar menggenggam tangan Raya. Tangan kanannya ia pakai menyeka air mata Raya. “Jangan nangis lagi ya. kamu itu pacar aku.”
“Mas…” Raya berkata lirih. “Jangan bilang begitu. Jangan buat aku berharap. Mas bilang gitu sekarang karena mas lupa apa yang terjadi setahun ke belakang. Kalau ingatan mas Damar udah balik, bisa jadi mas akan putusin aku lagi. Dan aku bakal sakit hati lagi.”
“Nggak, aku mau nikah sama kamu, Raya. Aku nggak akan pernah putusin kamu.” Genggaman tangan Damar malah makin erat.
“Mas, udahlah. Jangan bahas itu. Pokoknya aku sekarang temani mas saja, setidaknya sampai keluarga mas datang.”
“Aku mau kamu yang temani aku disini, biar ingatanku cepat pulih.” Pintanya lagi.
“Tapi aku udah bukan siapa-siapa mas Damar..”
“Kamu calon istriku!” Damar bersikeras. “Jangan kamu bilang kata putus itu lagi, Raya. Kamu masih sayang sama aku kan?” Lelaki itu menatapnya dengan mata penuh harap, yang sontak membuat Raya bimbang. Tentu saja ia masih sayang dengan lelaki ini. Seberapapun sakit hatinya ia waktu diputuskan tiba-tiba, ia tetap saja masih memendam rasa. Jadi Raya hanya mengangguk, dan Damar menariknya ke dalam pelukan, lalu mencium puncak kepalanya. Seperti yang sering ia lakukan dulu waktu mereka masih berpacaran, perbuatan manis sederhana yang langsung menembus hati Raya.
Tuhan.. apa boleh aku berharap bisa kembali dengannya? Raya berujar lirih dalam hatinya.
Meski statusnya dengan Damar mengambang, dengan Damar bersikeras mereka masih berpacaran sementara Raya masih tak kuasa menerima sepenuhnya, Raya tetap menemani Damar di rumah sakit dengan telaten. Ia membantu membersihkan luka, menyuapkan makan, bahkan menceritakan kejadian-kejadian selama setahun ke belakang. Meski adiknya Rayi sudah mengirimkan pesan protes padanya karena Raya masih bersikap baik pada orang yang menyakiti hatinya, tapi Raya tetap teguh. Ditambah perlakuan Damar yang manis, persis seperti waktu mereka masih berpacaran, Raya jadi semakin luluh. Ia hampir saja percaya bahwa mereka benar-benar balikan, sampai sore ini, sehari setelah ia menemani Damar, empat orang datang mengunjungi Damar.
Raya hanya mengenali dua orang di antaranya sebagai Ibunda Damar dan Daniar, adiknya. Sementara dua orang wanita lain, yang satu wanita muda seumurannya yang sedang hamil, dan satu lagi wanita sebaya ibunya Damar, Raya tidak kenal. Sepupu mas Damar? Atau istri Daniar? Raya melempar senyum pada kedua wanita itu yang dijawab mereka dengan lengosan, tak ramah.
“Damar..”
Sang Ibu langsung memeluk anak lelakinya, sementara Raya hanya berdiri di samping tempat tidur, canggung. Ia baru dua kali bertemu dengan keluarga Damar karena ia hanya baru dua kali ke Jakarta untuk mengunjungi mereka selama ia dan Damar berpacaran.
“Ibu..Aku minta maaf udah buat ibu khawatir.” Damar memeluk sang ibu erat. Setelah ibunya, Damar lalu memeluk Daniar, adik lelakinya.
“Dan..” Keduanya tak berkata-kata, hanya bertukar peluk.
“Mas Damar…” Kini sang wanita hamil yang mendekati Damar dengan tetesan air mata. Tapi Damar malah mengangkat kedua tangannya, menatap heran.
“Siapa ya?” Tanya Damar, membuat seluruh keluarga Damar pucat.
Ya Tuhan.. kenapa Raya tiba-tiba bisa menebak siapa perempuan ini? Tapi dalam hati ia berdoa tebakannya salah.
“Mas, aku Ratih mas, masa mas Damar nggak inget sama aku?” Ratih yang sedang hamil makin bercucuran air mata,dan feeling
Raya semakin buruk.
“Maaf, kata dokter saya amnesia. Raya, kamu inget Ratih?” Damar malah bertanya pada Raya, dan Raya tentu menggeleng. Dia memang tidak pernah bertemu Ratih sebelumnya.
“Maaf, mungkin nanti saya baru ingat.” Jawab Damar santai, lalu pandangannya beralih ke sang ibu yang masih diam. “Ibu kok repot-repot kesini. Padahal udah ada Raya yang jaga aku.” Damar berkata sembari menarik tangan Raya mendekatinya.
“Kalian masih ingat kan, Raya? Pacarku.” Ucapan Damar membuat Raya lagi-lagi salah tingkah, tapi ternyata reaksi keluarga Damar malah terperangah.
“Pacar?” Ratih terbelalak. Wajahnya yang sedih berubah menjadi murka, dan ia mendekati Raya dengan langkah cepat. Tanpa basa-basi Ratih menampar Raya keras. Raya terdiam, mengusapi pipi yang pasti memerah. Apa feeling buruknya benar?
“Hei!! Kamu siapa?? Berani-beraninya kamu tampar dia!!” Malah Damar yang bersuara duluan, membentak Ratih yang masih menatap Raya dengan penuh amarah. Sementara ibunya yang berusaha menenangkannya tidak dihiraukannya.
“Aku istri mas Damar!!” Jawabnya tak kalah keras, dengan tatapan mata setajam pisau masih kepada Raya. “Berani-beraninya kamu datang kesini ya, dasar wanita gak tahu diri!” Lagi-lagi pipi Raya ditampar, bersamaan dengan air matanya yang menetes pelan. Tapi Raya tak berkutik.
Sudah kuduga.. memang sudah tidak seharusnya aku berharap kembali.