Raya masih tidak menyangka, kedatangannya ke rumah sakit akan menjadi seperti ini. Dia yang diputuskan sepihak tiba-tiba, harus menggalau selama tiga bulan lamanya. Saat sudah bisa move on, sang mantan malah lupa ingatan dan menganggap mereka masih pacaran. Ketika Raya merasa mereka akan benar-benar balikan, ternyata sang mantan sebenarnya sudah menikah. Dan barusan, ia habis ditampari istri mantannya. Jadi untuk apa dia ada disini?
“Istri?” Damar terpana mendengar amarah wanita itu. “Aku belum menikah, anda salah.” Ia menggeleng yakin.
“Sudah, Damar.” Ibunya yang dari tadi diam berkata. “Kamu sudah menikah, tiga bulan lalu, sama Ratih.”
Tiga bulan lalu? Berarti tidak lama dari kami putus. Mungkin mas Damar sengaja mutusin aku sebelum acara pernikahannya. Batin Raya.
“Tapi aku tidak kenal dia, Bu!” Tolak Damar cepat. “Bagaimana mungkin aku bisa menikah dengan orang yang aku tidak kenal?”
“Kita kenal setahun lalu, mas Damar!” Jerit Ratih. “Kita kenal pas clubbing di Senopati. Setelah kenal, tidak lama dari itu, kita pacaran, hingga akhirnya aku hamil dan mas Damar nikahin aku.”
Penjelasan Ratih semakin menghujam hati Raya. Jadi setahun ke belakang, Damar menyelingkuhinya? Pantas kian lama lelaki itu makin dingin saja. Mereka bahkan kebablasan sampai istrinya hamil duluan. Raya makin merasa tak ada gunanya dia disini.
“Kamu bohong!” Damar menggelengkan kepalanya,
“Bohong bagaimana? Ini kalau nggak percaya.” Ratih mengeluarkan berlembar-lembar kertas dari tasnya. “Ada fotokopi kartu keluarga kita sama buku nikah. Bahkan KTP mas aja udah berubah jadi menikah. Mas lihat aja di dompet mas.”
Raya terperangah, menahan air mata agar tidak makin deras keluar. Benar-benar terhina sekali ia rasanya. Jadi dua hari ke belakang ini ia mengurusi suami orang?
Melihat Damar yang diam saja, Ratih mengeluarkan ponselnya, menunjukkan layar pada lelaki itu. “Ini foto-foto kita berdua dari pacaran hingga nikah. Nih, lihat kan?”
Damar mengerang, masih keras kepala meski sudah melihat namanya tertulis jelas di dokumen yang ditunjukkan istrinya, beserta semua foto-foto mereka berdua. “Ini nggak mungkin. Apa ibu yang maksa aku nikahin dia?” Tuduh Damar pada ibunya, yang malah mengernyitkan dahi.
“Mana ada? Justru kamu yang tahu-tahu datang ke rumah bawa Ratih yang sudah hamil, Damar. bilang ingin menikah sama dia. Padahal dari dulu ibu tahunya kamu bakal menikah sama Raya.”
“Aku memang mau menikah sama Raya! Ini pasti ada yang salah.”
“Nggak ada yang salah. Mas harus terima fakta kalau mas udah nikahin aku. Aku istri mas yang sah, bukan dia!” Desis Ratih sambil menunjuk Raya dengan tatapan menusuk.
Damar menggeleng, lalu menarik Raya mendekat. “Ray, kamu jangan percaya dia ya? Aku nggak mungkin selingkuhin kamu, aku sayang sama kamu, Ray.” Ujarnya mengiba pada Raya. Raya hanya diam, menunduk. Ia masih terlalu shock untuk berkomentar.
Ratih tampak emosi lagi karena suaminya terang-terangan memilih mantan pacarnya. Jadi ia menghambur mendekati Raya dan menarik rambutnya.
“Heh pelakor! Kau pelet apa suamiku, hah?? Ini pasti semua karena perbuatanmu sampai dia melupakanku!!” Tuduhnya, satu tangan menarik rambut Raya, satu tangan lain menampari wajah Raya. Raya mengaduh, berusaha melepaskan tangan itu. Tidak ada satupun yang membantunya kecuali Damar.
“Stop! Stop!” Damar menarik tangan Ratih. “Arghhh…” Kini ia memegang kepalanya, tertunduk. Wajahnya meringis kesakitan. Lelaki ini juga pasti terkejut atas apa yang terjadi, membuat kepalanya sakit.
“Mas Damaar…” Seru Ratih lagi, kini melepaskan Raya dan mendorongnya. Wanita hamil itu kini mengelusi punggung Damar. “Apa yang sakit mas? Mas..” Ratih menangis.
“Raya, kamu harus pergi.” Perintah ibunya mas Damar pada Raya yang masih termangu. “Damar bukan urusan kamu lagi.” Lanjutnya dengan wajah dingin.
Raya mengangguk lemah, lalu mengambil tasnya dan keluar dari korden tempat ranjang Damar berada. Ia baru akan keluar kamar saat tak sengaja bertatap muka dengan pasien di ranjang satunya di kamar itu. Seorang lelaki muda, dengan kepala botak dan badan ringkih, sedang duduk sambil membaca buku. Lelaki itu menatapnya, ekspresinya lurus bercampur iba. Ia pasti mendengar semua yang terjadi barusan. Raya menunduk malu, dan bergegas keluar dari kamar itu.
Raya kembali ke rumahnya dengan mengendarai mobil ignisnya. Setelah dua hari tak pulang, Rayi, adik laki-lakinya, menyambut dengan muka masam.
“Kukira kakak nggak ingat jalan pulang.” Sindirnya. Raya hanya menghela nafas.
“Kamu benar, Yi. Harusnya kakak nggak kesana.”
“Kenapa kak?” Raut wajah Rayi berubah khawatir. “Apa mas Damar udah nggak amnesia dan mutusin kakak lagi?”
Pertanyaan Rayi malah membuat Raya terkekeh, menertawakan nasibnya. Ia baru sadar betapa anehnya semua kejadian yang terjadi ini.
“Mas Damar masih amnesia Yi. Dia ingat kakak, tapi nggak ingat sama istrinya.”
“Istri???” Giliran adiknya yang shock.
“Iya, mas Damar ternyata selama ini udah punya istri dan lagi hamil pula.” Akhirnya Raya bercerita.
“Apa?? Jadi mas Damar…”
“Selingkuhin kakak dulu, dan mutusin kakak waktu dia mau nikah.” Raya mengangguk. “Apa kakak yang jadi selingkuhan? Kakak juga bingung.” Raya masuk ke dalam kamarnya, langsung berbaring di tempat tidur. Badannya lelah karena dua hari ia tidur meringkuk di sofa rumah sakit. Itupun tak bisa tidur panjang karena ia berulang kali terbangun malam hari setiap Damar membutuhkan bantuannya. Rayi merangsek mengikutinya, dan ikut duduk di pinggir tempat tidur.
“Sabar ya kak.” Adiknya menepuk-nepuk punggung Raya. “Ini mungkin memang tanda kakak sebenarnya nggak jodoh sama dia. Malah bagus kan, tahu dari sebelum nikah. Bayangin kalau kakak diselingkuhin pas udah nikah.”
“Benar, Yi. Kakak juga mikir gitu. Memang rasa sayang itu masih ada, tapi udah jelas kakak sama dia nggak mungkin bersatu. Kakak juga nggak mau ganggu hubungan dia sama istrinya. Kakak… udah relakan Mas Damar.”
“Bagus, Kakak jangan pikirin dia lagi ya.”
“Iya, mending mikirin kehidupan kita aja.”
Begitu Raya berkata begitu, tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal. Tadinya ia malas mengangkat, tapi ia teringat dengan bosnya, bisa jadi ini urusan kerjaan.
“Halo?”
“Raya, ini ibunya Damar.” Ucap suara paruh baya itu, suaranya yang tadi dingin kini terdengar begitu lemas. Raya terpaku. “Bisa kesini? Damar.. Damar membutuhkanmu.”
“Hah?”