Raya masih tak bisa mempercayai pendengarannya saat menerima panggilan itu.
“Bukannya Ibu tadi yang minta saya pulang?”
“Ya… tapi Damar minta kamu kesini sekarang.” Wanita paruh baya itu bersikeras.
Raya menelan ludah. Apa haknya sekarang mengurusi suami orang? Lagipula Damar juga sudah menyelingkuhinya.
“Kan ada Mbak Ratih, saya kan bukan siapa-siapanya Mas Damar.” Tolaknya langsung.
“Ya, tapi Damar tidak mengenali Ratih sama sekali, dia hanya ingat sama kamu.” Ibunya Damar menimpali. “Tolonglah, Raya…”
“Maaf Bu, saya tidak bisa. Semoga Mas Damar cepat sembuh.” Tutup Raya langsung. Begitu sambungan terputus, Rayi mengacungkan kedua jempolnya.
“Mantap, gitu dong Kak.”
“Hhh.. Kakak nggak mau mikirin dia lagi.” Raya membaringkan lagi badannya, berusaha menutup mata.
“Ya, bagus.”
***
Raya mengira urusannya benar-benar sudah selesai, tapi ternyata pagi harinya saat ia mau berangkat ke kantor, ibunda Damar beserta adiknya Daniar tiba-tiba muncul di depan rumahnya.
“Ibu, kok bisa disini?” Raya bertanya kaget. Sebenarnya dia gerah didatangi begini, tapi mana mungkin ia mengusir keduanya? Jadi ia hanya bisa meminta mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
“Damar yang minta ibu kesini.” Jelas wanita itu. Wajah yang biasanya kaku berubah jadi lelah dengan kantong mata tebal.
“Mas Damar ingat alamat saya?”
“Ya, dia ingat segala hal tentang kamu, tapi yang lain malah lupa.” Lanjut sang ibu. “Ibu nggak tahu kenapa, tapi memang begitu.” Wanita itu menatapnya dengan pandangan curiga, yang membuat Raya teringat tuduhan Ratih semalam padanya, bahwa Raya telah mengirimkan guna-guna pada Damar, membuatnya jadi seperti ini.
“Saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu Bu. Yang jelas saya tidak mengirim pelet seperti yang dituduhkan Mbak Ratih.” Sambar Raya, jelas tersinggung. “Saya sudah terima diputuskan tiga bulan lalu, Mas Damar dan saya sudah tidak ada hubungan apapun.”
“Tapi Damar perlu kehadiranmu, dokter saja bilang begitu.” Ibunda Damar masih bersikeras.
“Mas Damar harusnya cukup ditemani istrinya, bukan saya. Bawa saja Mas Damar pulang ke Jakarta agar tidak lagi ingat sama saya.”
“Tidak bisa, kondisinya belum mampu untuk dibawa keluar kota.” Jelas sang Ibu lagi. “Tolonglah, Raya. Datang ke rumah sakit, temui Damar. Setidaknya untuk hari ini.” Pintanya.
Raya berpandangan pada Rayi di sampingnya yang sudah siap akan berangkat ke kampusnya. Adiknya itu hanya mengangkat bahu, menyerahkan keputusan pada Raya sepenuhnya. Raya menghela nafas.
“Baiklah, Bu. Hanya untuk hari ini.”
***
Saat Raya tiba di rumah sakit pagi itu, Damar menyambutnya dengan sangat ceria. Sungguh jauh berbeda dengan Ratih beserta ibunya yang menatapnya dengan tatapan tajam penuh permusuhan.
“Raya! Akhirnya kamu datang juga…” Senyum lelaki itu, sambil melambaikan tangan, menyuruh mendekat. “Kamu jangan pergi lagi ya? Bisa disini aja kan sama aku, sampai aku sembuh?”
Raya menelan ludah. “Mas, kayanya aku nggak bisa deh disini lama-lama. Kan udah ada Mbak Ratih..”
“Aku nggak kenal dia, Raya! Aku nggak tahu dia siapa. Masa aku diurusin sama orang yang aku nggak kenal?” Penolakan Damar yang begitu tegas terlihat melukai Ratih yang tampak meneteskan air mata. Raya jadi semakin tidak tega.
“Mas, mungkin Mas cuma perlu waktu aja. Supaya pelan-pelan ingat sama Mbak Ratih, sama calon anaknya Mas Damar.” Raya merayunya.
“Aku nggak mau dipaksa ingat-ingat begitu. Kepalaku langsung sakit kalau dipakai mikir keras, Ray.”
“Mas..”
“Pokoknya aku cuma mau sama kamu. Bu, suruh aja dia pulang ke Jakarta, aku nggak perlu dia disini.” Damar berkata pada sang Ibu sambil menunjuk Ratih. Sontak, Ratih berdiri.
“Mas! Aku nggak mau ninggalin Mas disini. Kenapa Mas malah suruh aku pulang?”
“Aku nggak kenal sama kamu, jadi mending kamu pulang aja. Aku cuma perlu Raya.”
Ratih malah mendekat diusir begitu. “Mas, sadar Mas. Aku ini istri Mas.”
“Aku belum menikah, calon istriku cuma Raya. Jangan coba-coba ya kamu bohongi aku.” Damar bersikeras.
“Mas!! Jangan tertipu sama bujuk rayu cewek ini!” Ratih memegang lengan Damar, sementara Raya hanya berdiri di samping ranjang, memproses semua percakapan ini. “Mas ingat nggak dulu mas bilang mas udah bosan sama dia, makanya mas milih aku?”
“Bosan?? Mana mungkin aku bilang begitu!”
“Mas yang bilang begitu!”
“Pokoknya aku nggak mau dengar omongan kamu. Jangan bicara yang aneh-aneh terus bikin hubunganku sama Raya jadi jelek ya. Pergi kamu dari sini.” Usir Damar lagi, sambil menarik tangan Raya dan menggenggamnya. “Aku cuma mau sama Raya.”
“Mas Damar, Mbak Ratih itu istri Mas. Jangan kasar begitu…” Bujuk Raya lirih. Tapi Damar hanya menggeleng tak peduli. Raya menunduk, bisa merasakan tatapan menuduh Ratih yang semakin membuatnya tak nyaman.
Sungguh situasi yang aneh. Beruntung, saat keadaan begitu canggung, Dokter Diro datang untuk memeriksa keadaan Damar. Masih seperti sebelumnya, Dokter Diro menekankan agar Damar tidak berpikir terlalu keras apalagi sampai stress agar bisa lebih cepat pulih. Bahkan, sang dokter memuji Raya karena kehadirannya dianggap berpengaruh besar pada kondisi Damar. Setelah Dokter Diro pergi, suasana kembali hening. Ratih tiba-tiba mendekati Raya yang masih berdiri canggung di samping ranjang Damar.
“Kita perlu bicara.”
“Mau bicara apa kamu sama dia?” Damar menyambar dengan tatapan curiga. Ratih gelagapan.
“Sudahlah Mas, sebentar saja kok.” Raya mencoba menenangkan. “Ayo Mbak, kita bicara di luar.”
Raya lalu mengikuti Ratih keluar kamar, dan berdua mereka duduk di kursi di lorong rumah sakit itu, dengan Ratih di ujung dan Raya di ujung satunya. Raya sengaja menjaga jarak agar tidak lagi diserang seperti sebelumnya. Mereka terdiam beberapa saat hingga akhirnya Raya bersuara.
“Saya akan pulang sebentar lagi, Mbak. Jadi Mbak Ratih tidak usah khawatir…”
“Nggak, Mas Damar minta lo yang disini, jadi gue bakal balik ke Jakarta.” Ia berkata dengan sorot mata tajam.
“Loh, tapi kan mbak istrinya, saya bukan siapa-siapa…”
“Nggak usah munafik, Raya. Bukannya ini emang mau lo?”
“Mau saya?” Raya mengernyitkan dahi.
“Ya, supaya Damar bisa balik sama lo. Ini pasti semua gara-gara pelet yang lo kirim kan?”
Raya menghela nafas. Bisa-bisanya ia dituduh lagi mengirim guna-guna.
“Mbak, saya berani sumpah, saya nggak ada ngirim begituan sama Mas Damar. Apa untungnya buat saya?”
“Ya supaya bisa sama Damar lah! Lo pasti ngincer hartanya Damar kan makanya lo pengen ngerebut dia dari gue? Ngaku aja lo!” Ratih menunjuk-nunjuknya.
“Mbak, yang bener aja dong kalau bicara. Saya nggak semiskin itu sampai harus ngemis hartanya Mas Damar. Lagian harta apa juga saya nggak tahu.” Raya mengomel balik.
“Halah, basi lo.” Ratih mengibaskan tangannya kesal. “Sekarang gue emang ngalah ya, gue balik Jakarta dulu untuk sementara. Tapi ingat, jangan pikir ini tandanya gue kalah dan lo jadi kesempatan ngerebut Mas Damar. Lo mesti inget, siapa istrinya.”
Raya belum sempat membalas saat Ratih bangun dari duduk dan berjalan meninggalkannya bersama ibunya. Hanya tinggal ia sendiri sekarang di lorong itu.
Sebenarnya aku ini lagi ngapain, sih?
Raya ingin sekali pergi juga dari situ, tapi baru ia mau bangkit, ibunya Damar sudah keluar dari kamar rawat inap itu dan menghampirinya.
“Ray, sudah selesai kan bicara sama Ratih?”
“Sudah Bu, kata Mbak Ratih tadi…”
“Sudah, jangan didengarkan dia bilang apa.” Pernyataan ibunya Damar membuat Raya mendelik. Bukankah Ratih itu menantunya? Kenapa jadi tak dipedulikan begitu?
“Tapi bu, Mbak Ratih bilang dia mau balik ke Jakarta…”
“Biarkan saja.” Lagi-lagi wanita paruh baya itu memotongnya. “Damar cari kamu nih. Tolong kamu temani dia ya. Ibu sama Daniar mungkin tidak bisa lama di Batam, sore ini mau pulang. Daniar harus kerja, ibu harus temani bapak.”
“Hah? Tapi kan bu…”
“Tolonglah Raya, bukannya kamu juga sudah janji sama Damar? Sama Dokter Diro juga. Jadi tolong kamu urus Damar ya setidaknya sampai dia membaik.”
“Bu, saya kan sudah bilang, saya bukan siapa-siapanya Mas Damar.”
“Apa itu penting, Raya? Sekarang yang penting kan supaya Damar sembuh dulu! Memang kamu tega, membiarkan Damar sendiri disini?” Wanita itu membentaknya, mulai kehilangan kesabaran. Raya menelan ludah, melirik ke arah Damar di dalam kamar yang masih memijati kepalanya sendiri yang diperban. Tentu saja, dia tidak tega. Perasaannya pada Damar memang masih ada. Tapi tetap saja rasanya aneh harus menjaga suami orang begini.
Ibunya Damar tampak mengerti asal muasal keraguan Raya, jadi wanita itu kini berkata dengan lebih lembut.
“Temani Damar, ya. Sekarang memang dia suami Ratih, tapi nanti, ibu bisa bantu supaya dia juga bisa menikahi kamu saat sudah sembuh.”
Raya tersentak. “Maksud ibu?”
“Ya… kamu bisa jadi istri kedua Damar. Kalau kamu temani dia sampai sembuh.”
“Istri… kedua??”