Chapter 6: Jadi Pelakor

1687 Words
“Sudah selesai bicaranya?” Tanya Damar begitu Raya masuk kembali ke dalam kamar rawat inap itu. Raya mengangguk, lalu mengambil duduk di kursi sebelah ranjang. “Mbak Ratih, Ibu sama Daniar mau kembali ke Jakarta, mas.” Ujar Raya, tapi Damar tampak tak terganggu. “Ya, biarin aja. Aku sih yang penting ada kamu, sayang.” Lelaki itu kembali menggenggam tangannya, menebar senyum manis yang selama ini memikat hati Raya. Rasanya Raya hampir luluh, kalau tidak ingat mantannya ini sebenarnya sudah punya istri dan akan punya anak. Akhirnya ia hanya bisa menghembus nafas pasrah, lalu pelan-pelan menarik tangannya. “Mas tahu kan, sebenarnya bukan aku yang harusnya sama Mas disini?” “Karena aku sebenarnya udah nikah sama yang namanya Ratih itu?” Raya mengangguk. “Kan sudah berapa kali kubilang Ray, aku itu belum nikah, dan aku cuma mau nikah sama kamu.” Damar masih bersikeras, dan setelah dua tahun berpacaran dengan lelaki itu, Raya tahu ia harus menyerah memaksakan Damar menerima fakta soal status barunya. Sifat mantannya ini memang pada dasarnya begini, keras. Itu juga yang membuat Raya waktu itu tak berkutik saat Damar memutuskannya tiba-tiba dan bahkan memblok seluruh kontaknya. Kalau sudah memutuskan sesuatu, lelaki ini tak akan goyah pendiriannya. Nampaknya sifatnya yang ini tak berubah meski separuh ingatannya kini hilang akibat kecelakaan fatal. “Aku nggak mau nikah sama mas.” Ucap Raya tegas. Baik jadi istri kedua, maupun jadi istri satu-satunya, Raya memutuskan untuk menolak. “Ray..” Damar baru akan menyambar saat Raya mengangkat tangan, menghentikan ucapannya. “Tapi untuk sementara, aku bakal temani mas disini.” Lanjut Raya. Ia sadar, perbuatannya ini sebenarnya adalah tindakan yang bodoh. Merawat orang yang sudah mengkhianatinya? Bukannya sama saja dengan mengundang sakit hati secara cuma-cuma? Tapi cinta memang kadang tak berakal. Dan meski perasaannya sakit, sekarang Raya hanya ingin orang yang ia sayangi ini sembuh. Damar tersenyum lebar mendengar jawabannya, lalu kembali menggenggam tangan Raya. “Makasih, sayang. Kamu emang yang terbaik buat aku.” Lelaki itu mengecup punggung tangannya. Raya berjengit, menarik tangannya lagi, tapi Damar menahannya, dan malah menariknya mendekat. “Mas, jangan ci…” Ucapan Raya terhenti ketika Damar menciumnya, tepat di bibir. Lutut Raya langsung lemas, dan meski otaknya tahu ini salah, tapi ia terbuai, tak kuasa menolak saat sang mantan melanjutkan memagut bibir dan memainkan lidahnya, persis seperti saat waktu mereka pacaran dulu. Raya… kamu benar-benar jadi pelakor sekarang. *** Raya berdiri di depan jendela kamar rawat inap itu. Damar sedang tidur setelah tadi ia suapi makan siang. Lelaki itu benar-benar senang dengan kehadirannya, dan malah jadi semakin manis kelakuannya. Sembari meraba bibirnya sendiri yang baru habis dicium tadi, Raya memandangi pemandangan kota Batam di luar jendela. Pikirannya carut marut, meratapi nasibnya yang membingungkan saat ini. Bingung? Raya mendengus dalam hati. Orang masalah ini kamu yang cari sendiri, Ray. Komentarnya lagi, masih dalam hati. Rayi saja sudah berulang kali mengirimkan pesan komplen yang sengaja ia abaikan. Adiknya itu pasti sebentar lagi datang ke rumah sakit demi memarahinya langsung. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri saat tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dari balik tirai ranjang pasien satu lagi. Sebuah botol jus jatuh terguling dan berhenti dekat kakinya. Raya mengambil botol itu, berniat mengembalikannya pada si empunya. “Maaf, botolnya jatuh…” Raya berkata pelan sambil menyibakkan tirai itu. Di balik tirai, tampak pasien lelaki muda yang kemarin ia lihat. Ekspresi kaget muncul di wajah tirus itu. “Maaf, saya jadi merepotkan.” Katanya, sambil tersenyum lemah saat menerima botol dari Raya. “Nggak apa-apa, mas.” Raya balas tersenyum, lalu menyadari lelaki itu kesulitan membuka tutup botol itu karena salah satu tangannya diinfus. “Biar saya saja, mas.” Tawar Raya, mengulurkan tangannya. Lelaki itu sempat ragu, tapi akhirnya mengembalikan botol itu pada Raya. “Terima kasih,” “Sama-sama.” Raya masih tersenyum, dan tanpa sengaja mengedarkan pandangan ke seantero bilik perawatan lelaki itu yang selama ini tertutup tirai. Terlihat jelas lelaki ini memang sudah lama berada disini, karena ada rak buku kecil yang tidak ada di bagian kamar milik Damar. Seperti Damar, lelaki kurus ini juga tampaknya sendirian, karena sejauh ini Raya tak pernah melihat siapapun menemaninya. “Mbaknya suka buah apa?” Tanyanya tiba-tiba, sembari menunjuk ke keranjang buah di atas mejanya. “Ambil aja apapun mbak.” “Terima kasih, mas.” Raya tersenyum, lalu mengambil jeruk. “Boleh saya duduk di sini?” Menunjuk sofa di pinggir dinding. Ntah kenapa ia masih malas kembali ke tempat Damar di samping. “Oh, silakan Mbak.” Raya lalu duduk di kursi itu dan mulai mengupas jeruk. Setelahnya, ia membagi dua jeruknya dan meletakkan separuh di piring kosong meja makan sang lelaki. “Ini untuk mas.” “Loh, kok jadi malah saya yang dikupasin jeruknya, Mbak?” “Nggak apa-apa, nggak enak makan sendirian.” Raya terkekeh. “Saya Raya.” Raya akhirnya mengulurkan tangannya. “Fajar.” Lelaki itu membalas dengan mengulurkan tangan kanan yang tidak terinfus. “Jangan panggil saya Mbak lagi ya Mas Fajar, panggil Raya saja. Umur saya kayanya di bawah Mas, masih 27 tahun.” “Baiklah, Raya.” Fajar tertawa kecil sembari mengambil jeruk yang dikupasi Raya. Berdua mereka menikmati jeruk sembari menonton berita di TV ruangan itu. “Maaf ya Mas, dari kemarin pasti berisik ya di sebelah?” Raya membuka obrolan, mengerling ke sudut kamar satunya yang juga tertutup tirai, tempat Damar tidur. “Mas pasti jadi terganggu istirahatnya.” “Tidak apa-apa,” Fajar menatapnya dengan senyum pengertian. “Saya sempat khawatir saja dengan Raya,” “Khawatir dengan saya?” “Ya, kemarin Raya pulang buru-buru dan terlihat pucat. Tapi syukur, hari ini kamu kembali dan baik-baik saja.” Raya menunduk malu. Bahkan orang asing seperti Fajar yang baru sekali melihatnya saja menyadari kondisinya lebih baik daripada Damar. Firasatnya kemarin sepertinya benar, Fajar memang mendengar dan tahu segala macam konflik aneh yang terjadi pada Damar, Raya dan keluarganya ini. “Tadinya saya nggak mau balik kesini Mas, tapi… ntahlah.” “Tenang, Raya. Terkadang kita memang harus membuat pilihan sendiri yang tidak bisa diterima orang lain.” Lelaki botak itu menenangkannya dengan senyum lembut. Raya jadi terenyuh sendiri mendengarnya. “Terima kasih, Mas.” “Kenapa terima kasih?” “Nggak apa-apa.” Raya menggeleng. “Senang saya ada teman bicara begini.” “Saya lebih senang, belum pernah ada yang ngobrol sama saya begini selama disini.” “Mas Fajar juga nggak ada yang jaga ya?” Fajar mengangguk. Ingin Raya bertanya kenapa lelaki itu selalu sendirian, tapi ia tak enak. Jadinya malah ia menawarkan diri. “Kalau begitu selama saya disini, saya bakal sering ganggu Mas nih. Apalagi kayanya selera buku kita sama.” Raya menunjuk buku karangan Malcolm Gladwell yang diletakkan Fajar di dekat nampan makanannya. “Kamu suka juga, Ray?” “Sama buku-bukunya Malcolm Gladwell? Suka, Mas. Saya punya semua versi terjemahannya. Inginnya sih beli yang versi bahasa Inggris, tapi disini susah carinya.” “Aku punya semua, nanti aku kasih sama kamu.” Fajar menimpali, terlihat jauh lebih santai sekarang. “Kok dikasih Mas? Pinjam saja.” “Aku udah baca semua kok. Lagipula aku simpan juga buat apa, umurku toh nggak lama lagi. Mending aku kasih sama yang mau baca, kaya kamu.” “Mas!” Raya menyambar cepat. “Jangan bilang gitu ah. Masalah umur siapa yang tahu?” Fajar tertawa kecil. “Iya, iya. Aku bercanda, Raya.” “Jangan bercanda soal itu. Saya nggak tahu Mas Fajar sakit apa, tapi harus tetap optimis. Jangan menyerah.” Raya mengepalkan kedua tangannya, mencoba memberi semangat. Tapi Fajar malah makin tertawa, mungkin karena ekspresinya yang berlebihan. “Iya, ya ampun. Kamu serius banget sih.” Fajar lalu mengambil buku berjudul ‘Outlier’ yang sedang ia baca itu dan memberinya pada Raya. “Ini salah satu yang versi bahasa Inggris. Kamu mau lihat?” “Mau, mas.” Raya bersorak saat menerimanya, senang karena buku yang selama ini ia cari ternyata bisa muncul secara magis di hadapannya. Mereka berdua pun lanjut mengobrol soal buku itu saat suara Damar yang serak terdengar. “Ray?” Panggil lelaki itu. Baik Raya maupun Fajar terdiam, saling pandang. “Raya?” Panggilnya lagi. Raya menghela nafas dan berdiri. “Makasih ya mas, nanti saya kesini lagi.” Bisiknya. Fajar mengangguk, lagi-lagi melempar senyum tipis. “Ya, aku juga mau istirahat nih. Sampai jumpa, Raya.” *** “Kukira kamu pulang lagi, Ray.” Damar tersenyum cerah begitu melihat Raya masuk ke balik tirainya. “Nggak kok mas, aku dari tadi disini.” Balas Raya. “Ngobrol sama yang sekamar sama Mas.” Ia merendahkan suaranya agar tak terdengar Fajar yang tampaknya sedang tidur sekarang. “Ngobrol? Mau juga dia ngobrol sama orang?” “Emang kenapa?” “Perasaanku mukanya dingin banget, kirain orangnya nggak mau bersosialisasi.” Damar mengangkat bahu. “Emang Mas pernah lihat orangnya?” “Ya pernah dong Ray. Kadang kalau pas tirainya lagi terbuka, aku lihat dia. Pernah kusapa juga, tapi dia malah melengos. Jutek gitu ya aku malas.” Bisik sang mantan dengan wajah kesal. “Oh ya? Perasaan orangnya baik tuh sama aku.” “Hmm, aneh juga. Jangan-jangan dia suka sama kamu?” Kini raut wajahnya berubah curiga. “Ck, apaan sih Mas Damar ini. Kemaren curiga sama Pak Adya, sekarang curiga sama dia.” “Wajar dong aku curiga. Kamu kan cantik, Raya. Aku cemburu kalau kamu dekat sama cowok lain.” “Mas nggak berhak cemburu gitu, Mas kan bukan siapa-siapanya aku.” Sentak Raya jengkel. “Lho, aku kan pacar kamu, apaan sih kamu?” “Bukan pacar ya.” “Bukan pacar? Jadi kita ciuman tadi apa namanya kalau bukan pacar? Apa kamu sekarang cium-ciuman bebas aja sama yang bukan pacar?” Damar makin menyudutkannya. “Kan Mas tadi yang paksa cium aku!” “Tapi kamu mau juga, ya kan?” Mantannya menyeringai puas, sementara Raya tergagap. Dalam hati Raya mengutuki dirinya sendiri yang tadi takluk dicium begitu. “Sudahlah Raya, pokoknya kita pacaran.” Lagi-lagi Damar menggenggamnya. Senyumnya lebar, tampak senang karena berhasil menang argument mereka. Sementara Raya hanya bisa diam, pasrah dengan nasibnya sebagai pelakor sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD