Chapter 7: Melamar Kamu

1426 Words
“Makasih Yi, kamu udah mau anterin baju kakak kesini.” Raya menerima tas pakaiannya dari Rayi yang masih setia memasang wajah kusut. Ia memang meminta sang adik menyiapkan pakaian gantinya dan mengantarnya ke rumah sakit. Meski Rayi menolak keras ia menunggui Damar, tetap saja adiknya yang masih berkuliah itu memenuhi permintaannya, walau ia datang dengan tampang jutek. “Padahal bisa kamu kirim pakai gosend aja, tapi kamu jadi repot-repot kesini.” “Aku mau sekalian cek kabar kakak.” Jawabnya. Mereka berdua sedang duduk di kafetaria rumah sakit, menikmati makan malam mereka. “Kamu nggak maksa kakak pulang lagi?” “Memangnya apa yang kubilang bisa bikin kakak pulang?” Cibirnya. Raya hanya terkekeh, lalu mengacak rambut sang adik lelaki yang usianya tujuh tahun lebih muda darinya ini. “Sebentar aja kok kakak disini. Kamu nggak apa-apa kan sendiri di rumah?” “Nggak apa-apa, kan ada Bu Susi yang masakin Rayi dan ngurus rumah.” Bu Susi adalah ART mereka yang sengaja Raya pekerjakan untuk mengurus urusan rumahnya, karena Raya yang sehari-hari bekerja tak pernah sanggup melakukan pekerjaan rumah tangga. Tapi sang ART tidak menginap, melainkan pulang pergi tiap hari. “Tapi kamu jadi sendirian kalau malam?” “Emang aku anak kecil? Aku berani kok.” “Ya udah, baguslah. Udah gede berarti.” “Aku emang udah gede. Udah dewasa. Nggak kayak kakak, nggak dewasa. Susah banget move on-nya.” Raya terkekeh. “Kamu kesini sengaja buat ngejek kakak ya?” “Iya.” Rayi menjawab mantap, tapi Raya tidak marah mendengar sindiran adiknya itu. Biar bagaimanapun, perbuatan bodohnya ini memang pantas dihina dina sang adik. “Ya udah, doain aja Mas Damar cepat sembuh, jadi kakak bisa cepat pulang.” “Ngapain aku doain dia? Mending aku doain kakak supaya cepat sadar, jadi kakak cepat pulang.” “Emang kakak ini lagi nggak sadar?” “Kakak kayak lagi kena pelet.” “Pfft.” Raya menahan tawa. “Kata keluarganya Mas Damar, malah kakak yang pelet Mas Damar, makanya dia cuma inget sama kakak.” “Kurang kerjaan banget kakak pelet Mas Damar? Memang laki-laki cuma dia?” “Itu juga yang kakak bilang, tapi pada nggak percaya. Istrinya ngira kakak ngejar hartanya dia.” “Ckck.” Rayi berdecak. “Eh kak ngomong-ngomong soal harta, tadi siang Ibu nelpon Rayi.” Raya langsung merengut mendengar berita itu. “Oh ya? Ngomong apa?” “Nanya kabar Rayi sama kakak.” “Tumben? Pasti ada udang di balik bakwan.” “Ibu cerita juga, bentar lagi si Roni masuk SD. Perlu uang kira-kira 15 juta lah.” “Oh.” Komentar Raya pendek. Benar firasatnya, ibu kandungnya memang hanya menelpon mereka saat membutuhkan sesuatu. Lebih tepatnya, saat memerlukan sokongan dana dari Raya. “Memang nggak minta langsung sih, tapi itu kayaknya kode ya kak buat kakak?” “Iya kali.” Raya menyeruput es teh manisnya, tak acuh. “Pasti iya. Dulu waktu Rina masuk SMP aja ibu minta uangnya sama kakak kan?” Rayi bertanya lagi, dan Raya hanya bisa mengangguk. “Kenapa sih selalu kakak yang diminta bantu ngebiayain sekolah mereka? Padahal ayah mereka juga masih ada. Giliran kita dulu hidup susah sama almarhum bapak, ibu nggak pernah peduli.” Rayi melanjutkan keluhannya panjang lebar, sementara Raya hanya mengangkat bahu. “Kalau nanti ibu minta uang sekolahnya Roni langsung sama kakak, kakak mau kasih?” “Nggak tahu, Yi.” “Jangan dikasih dong kak. Kakak ini sekali-kali harus tega. Jangan nggak tegaan mulu, gara-gara nggak tega kakak jadi selalu dimanfaatkan. Baik sama Ibu, maupun ini sama mantan kakak.” Adiknya makin mengomel. “Udah ah, nggak usah bahas itu. Nggak ada habisnya. Mending sekarang kita fokus ke kamu, Yi. Kuliah yang bener.” “Pasti kak. Aku bakal cepat beresin kuliah dan cari kerja, biar nanti bisa ganti semua uang kakak.” “Nggak perlu diganti, Yi, emang udah kewajiban kakak lah biayain kamu.” Lagi-lagi Raya mengacak rambut sang adik, terharu. “Ya, aku kan ingin buat kakak senang juga nanti kalau aku banyak duit.” “Kakak udah cukup senang sekarang. Apalagi kalau kamu nggak sengit lagi sama kakak selama kakak disini.” Ledek Raya, tapi Rayi malah mendengus. “Nggak bisa, aku masih sebel banget sebenarnya sama kakak. Tapi lebih sebel lagi sama Mas Damar sih. Eh, tapi disini kakak lebih ngeselin, mau-maunya dibeginikan.” “Rayi, udah deh. Abisin aja itu makanmu, terus pulang sana, nanti kemalaman.” “Ck…” Anak mahasiswa ini berdecak untuk yang kesekian kalinya, tapi kemudian menyerah. “Iya, iya.” *** Esok paginya, Raya sedang menyuapi sarapan Damar saat sebuah nomor tak dikenal menelponnya. “Ya?” “Gue mau bicara sama Mas Damar.” Suara wanita itu memerintahnya, tanpa basa-basi. Raya mengernyitkan dahi. “Ini siapa?” “Gue Ratih, istri SAHnya Mas Damar!” Bentak wanita itu. “Gak usah belagak bodoh ya lo, cepet, mana Mas Damar?” Raya menghela nafas. “Oke, bentar.” Diserahkannya ponselnya pada Damar. “Mas, ada yang mau bicara.” “Siapa?” “Terima aja.” Raya menyorongkan ponsel ke tangan Damar, dan Damar menurut. “Halo?” Tanyanya, ekspresinya tampak heran. Begitu mendengar suara siapa di balik sambungan, wajah Damar berubah jadi datar. “Sehat. Iya. Makasih. Udah ya.” Jawabnya singkat, lalu mengembalikan ponsel pada Raya, dalam kondisi panggilan sudah dimatikan, dan muka kini ditekuk. “Mas sudah mulai ingat sama Mbak Ratih?” Tanya Raya pelan. Damar menggeleng. “Aku bener-bener nggak yakin aku udah nikah sama dia, Ray. Aku nggak ngerasain apapun sama dia, beda dengan perasaanku sama kamu.” “Mungkin cuma perlu waktu, Mas…” Baru Raya akan berkata saat panggilan dari nomor Ratih berbunyi lagi. Sedikit malas, Raya mengangkatnya. “Ya?” “Heh pelakor!” Ratih menyemprotnya. Raya mau protes dengan panggilan itu, tapi ia mengkeret, mengingat Damar menciumnya dan menganggap ia tetap pacarnya. “Lo jangan makin ngeracunin Mas Damar ya, mentang-mentang gue gak disana!” Raya menggigit bibir, dan memutuskan keluar dari ruangan itu agar percakapan mereka tak terdengar oleh Damar. “Mbak, saya nggak ngomong apa-apa sama Mas Damar. Malah saya selalu bujuk Mas Damar supaya bisa ingat soal Mbak…” “Bohong! Mas Damar malah makin dingin sama gue. Awas lo ya, nggak akan gue biarin lo rebut Damar dari gue!” “Mbak, mending mbak yang aja jaga disini deh. Saya nggak ada niat ngerebut Mas Damar, orang saya udah diputusin lama kok, bukan saya yang minta dia cuma inget sama saya sekarang.” “Berisik lo! Tunggu aja pembalasan gue!” Dan telepon tertutup. Raya menghembuskan nafas, lalu memblok kontak Ratih dari ponselnya. Dia tidak ingin tambah stress sendiri karena diperlakukan kasar oleh istrinya Damar. Kesabarannya semakin menipis tiap harus berhadapan dengan wanita hamil itu. “Dia ngomong apa lagi sama kamu?” Tanya Damar, ekspresinya tampak iba saat melihat Raya masuk ruang rawat inap dengan wajah lemas. “Gitulah Mas.” Raya hanya tersenyum lemah, melanjutkan menyuapi sang mantan. “Aku harap Mas bisa cepat kembali ingatannya, biar Mas bisa ingat sama Mbak Ratih.” “Terus kalau aku udah ingat sama dia, kamu mau pergi, ya Ray?” Raya hanya diam, menyodorkan suapan berikutnya. “Kenapa kamu mau tinggalin aku, Ray? Aku benar-benar sayang banget sama kamu.” Damar menatapnya dengan pandangan nanar, membuat Raya hampir terbujuk. Dia juga sayang, tapi Damar duluan yang telah memutuskannya. Ia sadar, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari mantannya ini. Pria di depannya ini, sudah punya istri yang sedang hamil. Istri yang ia hamili dengan sadar di luar nikah pula, saat ia masih berpacaran dengan Raya. Raya yakin, semua pernyataan cinta Damar sekarang hanya terjadi karena Damar lupa ingatan. Saat ingatannya telah kembali, lelaki ini pasti akan berubah kembali seperti waktu memutuskannya, dingin dan tak lagi menyayanginya. Jadi Raya harus membentengi diri agar tidak semakin jatuh dan berakhir sakit hati lagi. “Udah Mas, nggak usah dipikirin soal itu. Mending Mas makan yang banyak biar nanti pas terapi ada energi.” Raya memasang senyum simpul. “Kalau Mas cepat sembuh kan enak, bisa keluar dari rumah sakit, bisa balik kerja lagi.” “Iya ya.” Senyum lelaki itu ikut berkembang, lalu melanjutkan makan dengan lahap. “Aku ingin cepat sembuh, Ray. Ada yang ingin banget aku lakukan kalau aku udah sehat, dan ingatanku udah pulih total.” Ujarnya di sela kunyahan. “Apa tuh mas?” “Ngelamar kamu.” Raya hanya bisa bengong, sementara Damar menggenggam tangannya. "Aku serius, Raya. Aku hanya mau kamu yang jadi istriku. Mau ya, terima lamaranku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD