Ojol 11

1667 Words
Ojol 11 "Jo!" Gue menoleh seketika saat mendengar teriakan itu, di sana, jauh di dekat gerbang berdiri seorang pria dengan tubuh gempal yang terlihat begitu menggemaskan macam pig pink yang sunguh lucu, dia Edo temen satu angkatan gue, melihat dia mulai berlari, gue menghentikan langkah menonton sebuah pertunjukan di mana lemak memantul yak tentu arah tiap kali Edo menatap langkah dengan cepat, dan itu lucu di mata gue. "Tumben pagi bet Lo dateng? Biasanya juga telat." Ujar Edo dengan napas terengah seperti biasa, tubuh yang gemuk mempengaruhi oksigen yang masuk kedalam paru-parunya, atau malah karena gaya tarik gravitasi yang membuat Edo kesulitan untuk mengatur langkahnya. Entahlah gue bingung dengan urusan macam itu. "Abang gue balik." Jawab gue kembali menyusuri koridor kampus yang terlihat masih sepi. "Lah tumben." Mengedikkan bahu gue menoleh ke kanan kiri gue melihat suasana yang masih terkesan sunyi dan membuat bulu kuduk gue merinding. Gue benci suasana kaya gini, tau bakal sepi mending berangkat siang tadi gue. "Makanya, gue kagak bisa bolos." Edo terbahak seketika, dia tahu gimana Abang gue, dan gimana galaknya Abang pas tahu gue bolos kuliah cuma buat narik. Semakin hari emang gue semakin sibuk ngumpulin pundi duit dari pada fokus kuliah, makanya kenapa gue bisa memiliki predikat sebagai mahasiswa abadi di kampus. Dan Edo adalah temen gue dari awal masuk sampai sekarang yang belum menyelesaikan kuliah. "Sabar ae, malah bagus lo bisa cepet rampung kuliah." "Ya bagus sih, tapi gue juga butuh uang jajan elah, ya kali minta mulu kagak banget." Karena bagi gue anti untuk meminta selagi gue masih mampu untuk cari, dan yanyh tadi pagi itu, anggap saja uang bonus uang gue dapet, lagian 300 ribu satu Minggu untuk bujang macam gue mana cukup. Kagak lah, gue kudu ngesot demi bisa menutup kekurangan gue. Nggak ngeluh, gue cuma belajar mandiri. Apalagi gue tumbuh tanpa seorang bapak, dan gue nggak bisa gitu aja bergantung sama Abang gue, apalagi dia udah masuk umur di mana dia harus merid, punya anak, dan semua itu butuh tabungan yang nggak sedikit, gue sebagai adik yang tentu aja harus tahu diri. Terus kakak gue, dia walau terkesan reseh, tapi dia peduli sama gue, dan bisa di katakan dia yang memasok semua kekurangan gue, bedanya kakak gue itu langsung kirim ke rekening, bukan macam Abang. Cuma ya itu sekali lagi gue nggak mau bergantung sama duit mereka, bahkan sampai sekarang duit yang kakak kasih masih tersimpan rapih di rekening gue. Gue anggap kakak itu nitip nabung di rekening gue, dan kalo udah siap atau dia butuh nanti bisa gue balikin. Karena orang nggak ada yang tahu, biasa aja mereka sekarang nggak butuh, tapi suatu hari nanti nggak tahu kan. *Ya nggak papa lah, Abang lo juga kerja buat lo kan?" Gue menggeleng pelan. "Bukan gitu juga lah konsepnya." Satu persepsi yang selalu gue sangkal tiap kali ada orang yang ngomong gini, percayalah walau nyatanya memang Abang gue kerja untuk gue dan kakak yang notabenya masih adiknya, tapi kita nggak langsung manja gitu ada, apalagi kak Jaka, dia itu yang mengajarkan gue untuk bersikap mandiri walau Abang memang udah menyiapkan semuanya, walau kita minta Abang bakal kasih, tapi kita nggak bisa selamanya gitu. Abang bakal memiliki keluarga nantinya. "Walau nyatanya Abang gue nyiapin semuanya untuk gue, dana kuliah, uang jajan, makan, uang transport, tetep aja gue nggak bisa manja, gue cowok dan gue masih punya malu untuk itu." *Iya juga sih, selagi kita bisa kenapa harus minta?" "Nah itu Lo tahu konsepnya." Ucap gue merangkul pundak Edo dan berjalan beriringan, gue sama dia ini bisa di bilang sahabat lah, cuma ya itu ketemu di kelas sama lingkungan kampus doang, di luar kampus kita udah sibuk sama urusan masing-masing, gue ngojek dia nulis, dan sekedar info nih ya, temen di sebelah gue ini adalah penulis yang semua karyanya hampir di pajang di toko buku, duitnya udah tebel walau mainannya cuma laptop doang, modal otak aja dia udah bisa punya banyak duit, makanya kenapa dia bisa gendut gitu, secara olahraga aja nggak pernah. Gue sering ingetin, tapi emang dasar dianya aja yang nggak mau peduli sama keadaanya sendiri. "Apalagi kalo sampe ngutang ya, jo?" "Nggak tau diri itu mau, apalagi ngutang tapi pas bayar susah, sampe kita kudu ngemis di depan dia buat tanya utangnya, balesnya mah gampang tarsok tarsok mulu, nggak mikir pas awal pinjem nangis-nangis ke bayi." "Tipikal yang bikin gue males itu." Gue menoleh seketika menatap Edo dengan kening bertaut. "Berarti lo malas sama gue?" "*Lah kok lo? Gue kan ngomongin yang lain." "Tapi secara nggak langsung Lo nyindir gue Bambang, gue kan sering pinjem duit lo!' Edo salah satu temen yang gue butuhkan tiap kali gue butuh sesuatu, kadang suka malu sih, tapi ya gimana lagi, kadang kalau kepepet ya cuma dia satu-satunya harapan gue. "Beda lah anjir, gue juga kalo di tanggal tua selalu pinjem ke Lo, kita tuh macam simbiosis mutualisme, sama sama menguntungkan." "Simbosis apa tadi?" Tanya gue bingung. "Mutualisme." "Itu simbiosis pelajaran IPA apa bilogi sih dulu? Lupa gue." "Kagak tau, lupa juga gue, pelajaran ekonomi dah keknya!" "Sih t***l, mana ada ekonomi astaga. Lo b**o kelewatan anjir!" Gue terbahak setelahnya, nyatanya Edo nggak setolol itu, dia cuma sok pura-pura polos, padahal mah pinter, gue nggak memungkiri itu, tapi ya itu, kelemahan dia kalau udah malas ya malas banget, dan kalau udah fokus ya lupa sama sekitarnya. Apalagi kalau udah nulis, sudahlah jangan harap dia akan peduli dengan telpon, makanan ataupun surabi kesukaannya. Mereka semua akan teronggok bagai sampah di lantai siap kali pemiliknya sudah sibuk dengan tulisan. "Kantin ae lah yuk, laper gue!" "Lo teraktir?" Tanya gue seketika, lumayan banget kan kalo dapet traktir pagi buta seperti ini. Gue itu penganut gratisan, tiap kali ada yang gratis kenapa enggak, uang bisa gue simpen dan gue pake untuk keperluan lainnya. "Udah gampang, mumpung gue baru cair ini." "Lah selama ini Lo beku dong?" "Nggak usah mulai ya, Jo. Males gue!" Gue terbahak setelahnya. "Lagian cair apaan coba? Apa selama ini Lo masuk freezer sampe Lo beku?" "Sebasing Lo, Jo. Sebasing Lo ae!" Pernah lihat pig pink jalan nggak? Lenggak-lenggok macam binatang paling imut, tapi nyatanya enggak, nah kalau kalian pernah lihat, ya sama persis kek Edo jalan. Bedanya dia pig pink versi cowok dan bikin muak. Kadang doang sih. Edo jalan duluan ninggalin gue yang masih terbahak karena kelakuan dirinya. "Do!" Teriak gue berusaha untuk menghentikan langkah temen gue ini. Alamat ilang gratisan gue kalo gini caranya mah! °°cinta mas ojol.... Setelah melewati jam panjang yang menghabiskan banyak tenaga demi mendengarkan penjelasan dosen yang sama sekali nggak gue mengerti tapi sok polos dan pura-pura mengerti, adalah hal yang paling membosankan untuk gue. Gue bukan tipikal orang yang bisa menyerap ilmu macam vakum cleaner yang dengan mudah menyerap debu. Atau memiliki otak macam Abang yang dengan mudah mengingat sesuatu dalam sekali lihat, makanya kenapa Abang suka gambar bangunan, karena ingatan dan kesukaannya dalam menata ruang membuat dia mudah melakukan sesuatu. Beda sama gue, yang apa-apa kudu ngesot macan suster di rumah sakit yang bikin orang teriak cuma karena kedatangannya, ok, abaikan. Intinya gue capek dan gue butuh makan, dua jam di dalam kelas dengan guru yang tak hentinya mengoceh benar-benar membuat gue merasa kembali bodoh untuk kedua kalinya. Gue berjalan menyusuri koridor menuju kantin, gue jadi mikir gimana nasib Edo di kelasnya, berhubung hari ini gue sama Edo beda kelas jadi ya pisah gini, padahal gue masih berharap dapet traktiran dari dia, tapi malah kagak bisa, s****n dah. Rogoh kantong ini mah. Belum juga kaki gue menginjak lantai kantin, ponsel gue udah berdering nyaring, gue nggak tahu siapa yang nelpon di jam segini. Segera saja gue meraih ponsel yang ada di saku celana, gue mengukir senyum saat nama Daisy tertera di sana, tak menunggu lama gue langsung menggeser icon hijau dan menempelkan benda pipih itu di telinga gue. "Jo!" "Ya, kenapa Dai?" "Kamu di mana Jo?" "Lagi di kampus ini, baru selesai jam. Kenapa Dai?" Tanya gue lagi, agak tumben sih Daisy nelpon gue di jam segini, nggak biasanya banget, apalagi dia kerja juga kan. "Sore bisa jemput aku nggak, Jo?" Senyum gue makin lebar saat mendengar permintaan itu, sebuah angin segar seolah menerpa wajah ini, gue nggak tahu entah kenapa setelah acara kondanhan itu, yang berakhir dengan mengungsi di sebuah kedai eskrim dan memesan banyak eskrim untuk mentertawakan kebodohan kami, hubungan gue dengan Daisy masuk membaik, sudah beberapa kali gue jalan sama doi, malam Minggu yang biasanya kelabu dan gue berdoa agar hujan, jadi terasa begitu menyenangkan dan dia gue jadi berubah menjadi cerah, semoga malam Minggu cerah. Aneh emang, tapi itu yang gue rasakan sekarang, gue nggak tau pasti sama poerasaan gue, tapi yang jelas gue nyaman berada di dekati Daisy. "Lah tanpa kamu minta pasti bisa aku jemput lah, jam berapa?" Tanya gue dengan ringan. "Jam 3 deh kayaknya, soalnya hari ini pulang awal.* Gue mengintip jam G-Shock yang ada di pergelangan tangan, melihat jam yang hampir menunjuk angka satu, berarti masih cukup untuk mengisi perut di kantin sebelum jemput Daisy nanti. "Sip, sebentar lagi aku otw kesana deh." "Oke, makasih ya Jo." Gue terkekeh pelan. Daisy, wanita dengan pembawaan yang luar biasa santai, dan dia wanita yang berbeda dengan wanita lainnya, ini menurut gue loh, walau gue baru kenal doi beberapa saat, tapi gue bisa merasakan bagaimana cara dia menghargai seseorang seperti gue yang hanya sebagai ojol, si pengais rejeki dari jalanan, beda sama dia yang kerja kantoran dan tentu aja gaji tetap dan tunjangan, tapi meski begitu, Daisy tetaplah rendah hati, walau dengan pengojek sekali pun. "Sip, nanti kabari aja kalo kamu udah pulang, aku tunggu kamu di tempat biasa aja ya, sekalian ngopi!" "Oke deh, aku kabari nanti." Setelah itu panggilan telpon terputus, gue melanjutkan tujuan gue untuk mengisi perut siang itu. Karena mau bagaimanapun menjadi bucin itu tetaplah butuh tenaga, dan gue harus mengisi banyak amunisi sebelum go menjadi bucin sejati dari seorang Daisy. Sama halnya, butuh untuk mengais pundi rejeki, bahkan gue harus begadang untuk mendapat uang lebih. Apapun itu nggak ada yang mudah, jodoh, duit memang semua butuh tenaga ekstra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD