Ojol 7
"Ini bener arahnya ke sini mbak?" Tanya gue sedikit bingung kearah mbak Daisy, setelah tadi gue jemput dia dengan Madona kesayangan dan menyambut diri ini yang haus akan parah anggun dari seorang wanita membuat gue terpukau untuk beberapa lama, apalagi ... apalagi, boleh gue sebut nggak sih? Ahh lebih baik nggak usah deh, sore tadi pas gue samperin mbak Daisy, dia agak sedikit kaget saat gue keluar dari Madona, seorang ojol jemput cewek dengan mobil, walau bukan mobil mahal, tetep ae ini mobil gan. Dia agak nggak percaya gitu, tapi setelah gue tersenyum dan jelasin kalau mobil ini adalah mobil Abang, dia baru percaya.
Belum lagi, penampilannya hari ini benar-benar memukau mata gue yang haus akan nutrisi keindahan dari serang wanita, dan mbak Daisy adalah salah satu yang berhasil membuat gue terpesona. Baju batik berwarna cream dengan motif yang sama seperti yang gue kenakan membuat kita terlihat memakai baju pasangan, couple. Agak nggak nyangka sih dia ini malah pakai baju yang bisa samaan gini,
Mbak Daisy sedikit tersentak saat gue mencoba menanyakan kebenaran arah jalan yang menurut gue nggak asing, gue seolah pernah kesini beberapa kali, tapi entah kapan. Dia menoleh kearah gue dengan cepat, ada sesuatu yang membuat gue tertegun sesaat, dan setelahnya dia menghapus bulir air mata yang membasahi pipinya. Tipis sih, tapi begitu jelas terlihat.
"Sorry, Jo. Agak ngelamun tadi." Dia tersenyum kearah gue, detik itu juga gue tahu apa yang dia rasakan, sakit rasanya saat kita harus dipaksa melepas orang yang benar-benar kita sayang untuk bersanding bersama orang lain. Gue pernah mengalami posisi itu, bedanya nggak sampai menikah. Gue ditinggal saat cewek gue merasa gue nggak akan mampu ngebahagiain dia. Nurutin semua kemauan dia, bahkan nggak bisa ngasih sesuatu yang mahal. Gue ditinggal karena dia lebih memilih orang berduit daripada sama gue yang nggak punya apa-apa. Gue sih awalnya terpukul, tapi lambat laun gue sadar, cewek macam itu nggak akan bisa bersanding dengan gue nantinya. Akan ada saat di mana gue pisah di tengah jalan kalau aja gue mempertahankan hubungan itu. Jadi dari sana gue belajar mengikhlaskan.
Gue tersenyum tipis, tangan gue gatel rasanya untuk bergerak dan mengusap puncak kepala mbak Daisy dan mencoba menenangkannya, tapi sayang gue masih punya harga diri dan akhlak yang nggak bisa nyentuh sembarang orang yang bahkan baru gue kenal, di dalam mobil pula, bisa dikira gue m***m nanti, berabe juga.
"Sabarin mbak, mungkin dia bukan jodoh kakak, sekeras apa kakak bertahan, kalo dia bersikeras untuk berpisah ya nggak akan bisa bertahan."
Omongan gue udah berasa paling bener aja, padahal gue sendiri masih berusaha menata hati dan memungut puing-puing serpihan yang sampai saat ini belum bisa kekumpul semuanya, terkadang gue malah nggak fokus untuk memungut semua, dan malah diam di tempat untuk merenung. Dimana kesalahan gue sebenernya, sampai saat ini pun gue nggak tahu.
"Kita pacaran udah tiga tahun, aku nggak tau apa yang buat dia mengakhiri hubungan kita, mungkin karena dia nggak betah LDR terlalu lama."
Gue menoleh kearah mbak Daisy, laku secepat itu juga gue merah tisu di atas dasbor dan mengulurkan padanya. Air mata wanita cantik di sebelah gue nggak bisa dibendung lagi. Dan gue jadi inget gimana rasa sakit itu dulu, agak nyesek dan bikin gue kebas untuk merasakan apa-apa.
"Aku kerja di Batam dua tahun, perusahaan ngirim aku kesana, dan selama itu, aku kira hubungan kita baik-baik aja, tapi nyatanya ...." Dia menoleh kearah gue dengan mata yang bisa di katakan sembab, hitam gitu dan bikin gue iba, tapi gimana ya, sekali lagi gue nggak berani buat pegangan atau kasih nenangin dia, takut di bilang modus ye kan.
Mbak Daisy melarikan tatapannya keluar jendela, menatap segelintir orang dengan tatapan terluka, dia pasti malu karena nangis di depan gue, tapi dengan ini, boleh nggak sih kalo gue ngerasa besar kepala karena udah di kasih kepercayaan dari dia untuk masalahnya.
"Dia mutusin aku dengan alasan yang sama sekali nggak logis, dia bilang dia udah nggak ada rasa lagi sama aku, terus selama ini apa? Aku udah capek jaga perasaan aku buat dia, aku udah capek nunggu waktu lama, semua aku lakuin buat dia. Tapi malah ini yang aku dapet?"
Berada di posisi ini nembuat gue serba salah, gue nggak tau musti ngomong apa, di sini gue merasakan apa yang dia rasakan, bahkan gue tahu gimana mirisnya dulu. Saat dimana seluruh dunia seolah berpusat pada dirinya, dan tiba-tiba berakhir begitu saja tanpa ada sebuah kejelasan yang jelas. Gue nggak terima sebenarnya, tapi gue nggak bisa berbuat apa-apa lagi.
Gue menoleh kearahnya, memasang senyum sebentar sembari menepikan kendaraanya, kondisi saat ini jelas nggak memungkinkan untuk kita masuk kedalam acara, apalagi kondisi mbak Daisy yang terlihat kacau.
"Percaya deh, mungkin dia bukan cowok buat mbak, secara nggak langsung dia udah nunjukin taringnya, dia merasa bosan dengan sesuatu yang jelas cuma masalah sepele, nggak ketemu dua tahun, terus gimana nanti setelah kalian bersama dan dia bosen? Kemungkinan untuk dia selingkuh jelas kebuka lebar."
Karena nyatanya emang seperti itu, Lo nggak bisa selamanya memaksakan sebuah kehendak. Kalau memang dia sudah menunjukan taring keburukan, jangan terlalu di paksa lagi, lepasin aja udah, pasangan bukan cuma dia seorang, masih banyak yang lebih baik lagi, cukup percaya akan ada waktu di mana semua akan membaik. Tapi untuk mencapai titik itu emang butuh perjuangan yang nggak sedikit.
Kita butuh mengenal betapa sakit dan pedihnya sebuah cinta, belajar bagaimana rasanya hancur karena cinta sebelum mendapat sesuatu yang benar-benar utuh. Kalau kalian menyangkal dan berkata, "gue nggak harus berdarah darah dulu untuk mendapatkan sebuah pasangan yang selalu ada untuk gue." Maka gue cuma mau bilang, nasib setiap orang berbeda-beda, jalan hidup, takdir, jodoh, itu udah ada garisnya, lo nggak bisa menyamakan semua hal dengan apa yang udah Lo alami, karena nyatanya Kita nggak sama. Bahkan saat Lo di sakiti sekalipun, kemungkinan itu nggak akan terulang lagi kalo Lo nggak terpaku pada sosok yang sama, sifat yang sama. Belajar dari sebuah kesalahan itu yang lebih baik.
"Jangan terpaku pada satu sosok, jika dia emang udah nggak nyaman ya udah lepas, karena satu yang perlu kita inget, kita punya harga diri. Dan kita memiliki hak untuk mendapat yang terbaik juga, kalo dia mencampakkan mbak, maka dia bukan orang yang layak untuk, mbak. Anggap aja sampah, udah."
Di sini gue seolah menyemangati diri gue sendiri dengan apa yang gue katakan. Karena nyatanya gue masih belum bisa move dari masa lalu gue. Cupu? Ya bisa dikatakan seperti itu. Gue emang cupu, tapi gue masih tahu diri untuk nggak selalu mengingat dan coba untuk melupakan.
Gue lihat mbak Airin menunduk. Menyeka air mata yang sejak tadi meleleh melewati pipi, gue hanya tersenyum tipis melihat itu. Andai gue punya keberanian dan mental pria buaya, gue yakin ini adalah kesempatan emas untuk menyusup masuk dengan kata manis dan buaian indah. Cuma sayangnya gue bukanlah tipikal orang yang mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kecuali itu uang, dan halal. Gue nggak mau jadi sebuah ladang pelampiasan dengan menebar pesona dan benih ke sembarang orang.
Mbak Daisy menoleh kearah gue, memasang senyum yang luar biasa indah di sana, satu hal yang nggak bisa gue hindari saat semua terjadi begitu cepat, mbak Daisy menubruk tubuh gue. Tangannya menelusup masuk kedalam sela tangan dan pinggang, melingkarkan pinggang untuk memeluk gue. Wajahnya dia selusupkan di dalam d**a gue. Dan percayalah gue yang terkejut cuma bisa diam dengan tangan gue angkat keatas, gue nggak bisa asal peluk ini perempuan kan?
"Makasih ...." Satu bisikan pelan membuat gue tertegun. "aku tau kamu orang baik. Alasan kenapa aku minta tolong kamu untuk ikut sama aku. Aku butuh sandaran, aku butuh sesuatu yang bisa menguatkan aku di sana nanti."
Mbak Daisy menjauhkan tubuhnya, menatap gue dengan tatapan sayu sembari tersenyum tipis. "Makasih ya."
Demi apapun gue yakin wajah gue pasti merona sekarang, bagai kepiting rebus yang siang di santap, gue yang emang udah lama nggak pernah ngerasain pelukan dari cewek, tentu aja membuat gue gelagapan, apalagi pujian yang benar-benar bikin melayang. Ini tuh sesuatu bangat.
"I ... Itu. An ... Anu, nggak papa kok, m,mbak. Kita sama-sana pernah ada di posisi yang sama." Jawab gue sembari menggaruk pipi dengan jari telunjuk kanan, sesuatu yang selalu gue lakukan tiap kali gue gugup, melarikan tatapan keluar jendela agar nggak tertuju pada sesuatu yang saat ini menempel erat di d**a gue. Kenyal sih, lembut gitu. Astaga kenapa pikiran gue malah lari kesana sih.
Dia tersenyum lagi, lalu menjauhkan tubuhnya, tangannya meraih sebuah benda bulat pipih dari dalam tas sebelum membukanya, dan baru gue tahu kalau itu adalah bedak. "Aku berantakan banget ya?" Tanya dia sembari menoleh ke arahku.
Aku yang baru saja bisa mengambil napas panjang hanya mengangguk cepat, gila apa, gue baru aja dapet terapi serangan langsung dari sesuatu yang membuat otak gue blank, itu indah banget gila. Astaga, jiwa buaya gue kenapa jadi meronta gini tiap kali mendapat sesuatu yang benar-benar gila. Apalagi aroma mbak Daisy benar-benar membuat gue terlena. Dia itu memiliki satu sisi yang sulit untuk gue tolak.
Gimana ya bilangnya, dia itu seolah mengingatkan gue pada sosok yang benar-benar kuat di luar tapi rapuh di dalam, udah mirip macam mamak lah. Tapi ya gitu, gue masih belum yakin sama perasaan gue sendiri, gue cuma takut aja ini hanya perasaan kagum sesaat dan bikin gue lupa akan dunia, bisa aja kan? Apalagi pesona kak Daisy itu sulit banget di tolak.
Gue tersenyum menatap sepasang mata yang tajam itu. "Nggak kok, mbak masih cantik. Sebagian kelihatan lebih lepas dan plong dari biasanya." Itu bukan kata gombal atau rayuan ya, percaya itu keluar dari kesungguhan diri gue.
Mbak Daisy terkekeh pelan, dia melirik pelan dengan tangan menampol lengan kiri ku pelan. "Bisa aja. Pinter gombal ya ternyata!"
Gue ikut terkekeh. Apalagi tawa mbak Daisy emang bener-bener bikin gue keblinger, ada yang lain di senyum mu yang membuat lidah ku gugup tak bergerak. Kenapa pula gue malah nyanyi astaga, tapi lagu itu emang bener-bener menjadi penyeru yang pas atas apa yang gue rasakan.
"Tapi serius kok, bukan gombal, mbak lebih kelihatan lepas dan seger aja setelah nangis tadi."
"Jo?"
Gue mengerut kedua alis gue, menatap mbak Daisy yang menatap gue dengan sorot yang nggak bisa gue ngerti lagi.
"Bisa panggil dengan nama aja nggak? Aku agak risih dipanggil embak, berasa tua."
Dan seketika gue terkekeh karenanya. Mbak Daisy atau boleh gue panggil Daisy aja sekarang? Dia lucu sesuatu yang membuat gue nggak tahu lagi musti gimana. Gue terlalu larut dalam pesona dia, apalagi ini seolah menjadi lampu kuning untuk sebuah akses. Antara merah atau hijau, dan gue berharap sih semoga saja lampu hijau untuk gue.