Ojol 8

1701 Words
Ojol 8 Satu hal yang benar-benar membuat terkejut begitu gue sampai di pelataran rumah yang terlihat cukup megah, rumah ini, rumah yang beberapa tahun lalu membuat gue mengakhiri hubungan gue dengan mantan kekasih gue, Sosok yang sudah menanamkan luka begitu dalam di relung sanubari gue, bahkan membuat gue terpuruk dan enggan untuk beranjak beberapa bulan karenanya, jika saja bukan dorongan dari keluarga, mungkin gue nggak bisa berdiri di sini sekarang ini. Gue tercengang, itu pertama kali yang gue rasakan begitu mobil gue terparkir dengan pas di tempat yang memang sudah di sediakan. Jantung gue berdebar cukup keras untuk persekian detik, bahkan puing hati yang selama ini udah gue kumpulkan seolah hancur untuk kedua kalinya. Gue nggak tau kenapa nasib masih aja mempermainkan gue, bahkan di saat gue hampir melupakan semuanya, sosok itu kembali hadir tanpa sengaja, tanpa gue tahu, dan tanpa gue duga. seolah Daisy ini ingin menularkan rasa sedih yang gue sendiri nggak ingin inget lagi. "Jo?" Satu panggilan membuat gue tersentak kaget saat suara bisikan itu melambai lembut di telinga gue, bagai robot yang pergerakannya terlalu lambat, gue menoleh dengan kaku, menatap sepasang bola hitam legam itu dengan senyum kecut. Wajah gue udah terlampau kaku dan gue yakin bakal aneh untuk dilihat. "Kamu kenapa?" Kamu kenapa? Percayalah di saat kondisi normal, gue yakin gue bakal bisa jawab dengan lancar, bahkan gue bisa bercanda karena pertanyaan "kamu kenapa" ini, tapi sayang, posisi saat ini membuat gue seolah kaku, bahkan lidah gue terasa begitu kelu untuk bergerak dan menghasilkan sebuah getaran yang bisa menimbulkan suara, atau apapun itu lah sebutannya, sebodo amat, gue bingung bahkan kewarasa gue seolah nggak bisa gue kuasai. Kekehan kecil menggema dengan pilu di dalam mobil yang minim suara, hingga membuat Daisy menatap gue dengan bingung. "Jo?" Ada kerutan penuh tanya di sana, gue tau dia penasaran, tapi gue juga nggak tau kenapa gue malah membeku seperti sekarang. Apalagi di depan gue sekarang, di balik bangunan megah itu ada seseorang yang sudah mematahkan hari gue, kehidupan gue sebelumnya. Jangan tanya kenapa gue bisa tahu, karena jelas saja. Untuk nikahan orang besar pasti ada karangan bunga yang tertuliskan nama dua mempelai dengan kata-kata selamat menempuh hidup baru. Dan di sana nama itu tersemat dengan indah, dirangkai dengan puluhan bunga yang menjadi satu kesatuan indah. Arumi Ningtias satu nama yang terlampau indah untuk gue ingat, kenangan bersama itu kembali hadir dalam ingatan gue, memupuskan kewarasan yang sejak tadi berteriak untuk menolak segala hal semu yang akan membuat gue semakin larut. Tanpa sadar, bulir air mata luruh membasahi pipi gue, begitu besar pengaruh seorang Arumi untuk hidup gue, dan gue bisa gila hanya karena ini. Dua tahun dua menghilang tanpa jejak setelah pertemuan terakhir kami di rumah ini, sekarang kenapa dia malah kembali dengan sebuah kabar yang mengejutkan. Bahkan kabar itu gue dapat kan tanpa sengaja? "Jojo!" Gue tersentak dengan keras saat satu pukulan mendarat di pipi gue. Seketika tatapan gue tertuju pada bola mata redup itu dengan jelas. Gue termenung seketika. "Kamu kenapa?" Satu pertanyaan lembut membuat gue tersadar saat itu. Menggerakkan tangan, gue mengusap bulir air mata yang membasahi wajah gue, seketika itu juga gue ingat akan satu hal. Kenapa? Kenapa gue harus menangisi sesuatu yang jelas nggak peduli sama gue, dia bahkan lebih milih orang lain tanpa peduli sama perasaan gue, terus kenapa gue malah sebodoh ini, terlarut dalam sesuatu yang jelas nggak masuk akal. Gue tertawa, menertawakan kebodohan diri gue yang sungguh luar biasa, sekarang buat apa gue sedih, toh di sebelah gue ada sosok yang menjadi korban hubungan mereka. "Jo, jangan buat aku takut ya!" Gue terkekeh kecil karenanya, secepat itu juga gue merubah tatapan wajah gue. "Maaf, ada sesuatu yang salah sama diri gue setelah baca nama Arumi Ningtias." Kata gue dengan jujur. Untuk apa menutupi sesuatu yang jelas  nggak perlu. "Istri Rahman? Kamu kenal dia?" Tanya Daisy bingung, yang gue balas dengan senyum kecil. Gue memilih turun, berlari memutar dan segera membuka pintu Daisy. Tangan gue terulur yang dengan cepat di sambut oleh Daisy. Gue terkekeh pelan membayangkan betapa bodohnya kami sesaat sebelum sampai di tempat ini. Daisy yang menangis Karena mantannya menikah, dan gue yang terkejut saat mengetahui siapa mempelai wanitanya. Kamu dua orang yang sama-sama bodoh karena mengenang sosok yang sama sekali nggak penting. Sekali lagi gue melebarkan senyum saat dengan santainya Daisy merangkul lengan gue dan kami berjalan beriringan masuk kedalam sebuah rumah mewah yang menjadi resepsi pernikahan mantan kami. "Udah siap?" Tanya gue dengan riang, yah beginilah harusnya gue. Santai, riang dan menganggap semua tidak pernah terjadi, semua udah jelas bukan, Arumi memilih pria itu, dan itu artinya gue udah nggak memiliki harapan lagi, pupus sudah kisah kelam yang selama ini menjadi bayangan kelabu. Gue bakal melangkah dengan tegap untuk menggapai hari esok yang luar biasa cerah, tidak ada lagi mendung, tidak ada lagi badai yang akan menghalangi langkah gue. "Siap!" Meneguhkan hati, kami melangkah dengan pasti. Walau gue baru mengenal sosok Daisy beberapa bulan lalu melalui aplikasi ojol dengan setatus customer dan driver, sekarang setatus kami sama, sama-sama orang terluka yang belajar untuk merelakan. Hiru pikuk tawa bahagia menjadi sesuatu yang menyambut kedatangan kami, nuansa kebahagiaan begitu kental di sana, gue bisa merasa itu, bahkan hanya dengan melihat dekorasi di dalam sana gue bisa tahu betapa hebatnya pasangan Arumi sekarang. Gue menoleh, menatap sosok yang sejak tadi memeluk lengan gue dengan erat, Daisy menatap gue dengan raut ketakutan. Gue tersenyum, sebelah tangan bebas gue gunakan untuk mengusap punggung tangan Airin, "semua bakal baik-baik aja." Kata gue mencoba meyakinkan dirinya dan juga diri gue sendiri, percayalah, gue boleh aja terlihat baik-baik saja, tapi ada sesuatu yang membuat tubuh gue bergetar karenanya. "Jojo...." Satu lantunan suara dalam riuhnya puluhan suara yang ada mampu membuat gue menoleh, di sana, gue menemukan sosok yang sungguh luar biasa, cantik anggun dan sempurna, gue tersenyum. Dengan tangan masih terpaut dengan Daisy, gue melangkah kearahnya. Saat itu dengan cepat gue raih telapak tangan lembut yang sudah begitu lama tidak ku sentuh. Gue berlutut, mencium punggung tangan beliau yang terasa bergetar di tangan gue. Satu bulir kembali lolos dari pelupuk mata gue. Bulir yang sejak tadi gue tahan dengan senyum palsu. Semua luruh saat sosok yang sudah menjadi ibu kedua dalam hidup gue menatap dengan tatapan nanar kearah gue, tatapan terluka yang pernah gue lihat seumur hidup gue, tatapan kecewa dan tidak rela, semua terangkum begitu lengkap di sana, membuat gue kehabisan kata untuk berucap atau berceloteh riang seperti dulu lagi. Tangan lembut bergetar itu mengelus puncak kepala gue, gue berlutut dengan menundukan wajah gue kehabisan kata-kata, bahkan d**a gue terasa sesak untuk beberapa saat, hingga gue merasa satu tangan melingkar di punggung gue. Meraih pundak gue dan membawanya untuk berdiri. Senyum tulus itu terpaut indah di mata gue yang masih saja bungkam karenanya. "Lap dulu ingusnya, malu, ah." Seketika gue menghapus air mata dan ingus gue yang nyatanya nggak ada, Daisy terkikik pelan karenanya membuat gue mendengkus kecil. Gue menatap sosok yang ada di hadapan gue, senyum tipis terukir di sana dengan sepasang mata sayu berkaca. "Anak mamak ...." Suara itu begitu lembut mengalun di telinga gue, seolah menjadi satu-satunya suara yang gue dengar di tengah keramaian yang ada. "Jojo apa kabar?" Gue tersenyum simpul, kebahagiaan di tengah kesedihan, kalian pasti tahu bagaimana rasanya, di saat gue nggak bisa bersama dengan mantan kekasih gue, tapi nyatanya ibu dari mantan gue malah menyambut gue dengan begitu hangat, seolah hubungan gue dengan beliau nggak putus bersamaan dengan hubungan gue dan anaknya. Sosok yang selalu menerima gue dengan hangat, sosok yang begitu semangat saat gue mengatakan bakal melamar Arumi suatu saat nanti. Namun semua seolah sirna saat hubungan kami berakhir beberapa tahun yang lalu, di ikuti berakhirnya juga hubungan gue dengan mamak. Satu hal yang gue sesalkan, gue terlalu larut dalam sebuah luka sampai gue lupa pada sebuah kenyataan. Tanpa sengaja gue melukai sosok yang begitu hangat menerima keberadaan gue. "Baik, Mak." Beliau tersenyum lembut, kerutan di dahi dan kelopak matanya menggambarkan jelas usia yang sudah tak lagi muda, waktu mengikis kesempurnaan fisik, walau demikian, hatinya masih terasa begitu lembut dan hangat. "Alhamdulilah, mamak kangen Jojo." Ada jeda sesaat saat suara tertahan membuat mamak mengalihkan tatapannya, dari posisi gue, terlihat jelas mamak menangis di sana. "Jojo udah lupa sama mamak ya? Nggak pernah main lagi kerumah!" Gue tertegun sesaat, ini yang membuat gue meratapi kebodohan gue. "Nggak gitu Mak, Jono pindah rumah, terus harus kuliah dan kerja juga, makanya Jojo belum sempet ngunjungi mamak." Asalan klasik yang keluar begitu saja, gue hanya bisa merangkai sebuah kebohongan kecil yang memang seperti itulah nyatanya. Gue memilih menyibukkan diri dengan kegiatan yang bisa membuat gue lupa pada sosok Arumi. Sejak tadi mamak nggak melepas senyumnya. Mungkin sesaat tadi saat beliau membuang tatapannya, dan gue maklum akan hal itu. Mamak mengulurkan tangannya, meraih wajah gue dan mengelusnya pelan, gue berlutut lagi tepat di hadapan mamak yang tengah duduk di sebuah kursi, pada posisi ini gue bisa merasakan dengan jelas perasaan mamak yang berusaha beliau sampaikan. "Maafin Arum ya, Jo." Ucapan lembut itu membuat gue mendongak, menatap mamak yang masih setia mengelus puncak kepala gue, bagai anak kecil yang tengah mengadu, gue mengangguk kecil. "Mungkin Arum sudah memutuskan sesuatu yang sulit untuk diterima sama kamu, tapi bukan berarti hubungan kita berakhir dengan berakhirnya hubungan kalian. Kamu masih tetap jadi anak angkat mamak sama bapak, bahkan bapak selalu tanya kenapa kamu nggak pernah datang lagi bawa martabak manis, main catur bareng, bapak juga kangen kamu Jo." Ini lah yang menjadi penyesalan gue karena sudah bodoh dan larut dalam kesedihan, gue melupakan sosok yang begitu peduli akan gue. Bahkan mengangkat gue sebagai anak. "Maaf ...." Satu kata itu mungkin bisa mewakili semua perasaan yang begitu sulit untuk gue ucapkan. Mamak menggeleng pelan di sana, "semua bukan salah kamu, mamak yakin kamu pasti butuh waktu untuk semua ini. Dan sekarang. Mamak sedikit lega karena bisa mengutarakan semua ke kami, maaf ya, maaf juga untuk keputusan Arum yang udah memilih Rahman, semua bukan kehendak kami, mungkin kalian bukan jodoh." mamak mengalihkan tatapannya, menatap Daisy yang terlihat begitu anggun berdiri di samping gue, mereka tersenyum bersama. "Dan sepertinya kamu sudah menemukan wanita dambaan mu. Kalian terlihat begitu serasi. Percayalah, gue nggak berhenti tersenyum saat mamak mengatakan hal itu. Gue bahkan mengamini dalam hati apa yang di ucapkan mamak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD