Ojol 9
"Hahah kamu serius?" Tawa menggelegar dari wanita yang mengenakan batik dan tatanan rambut ala Putri Keraton itu membuat beberapa pasang mata menatap kearah kami. Gue terkekeh kecil, mengangguk sebagai jawaban atas pertanyannya. Saat ini gue tengah berada di sebuah kafe yang cukup ramai di daerah tempat kami acara kondangan tadi.
Di sini gue menceritakan semua yang menjadi uneg-uneg gue, hal yang mengganjal di hati gue sejak gue keluar dari acara resepsi tadi. Walau nggak sampai selesai. Kami datang dan hanya memberi kado, ucapan selamat dan pelukan kecil untuk masing-masing mempelai yang terlihat terkejut dengan kedatangan kami. tentu saja, hal itu tidak pernah terencana sebelumnya, gue kira hanya akan menemani acara kondangan di rumah Mantang Daisy, lah nggak taunya itu juga acara pernikahan mantan gue. Kurang lengkap apa lagi coba, tapi kita dapet sedikit hiburan tadi, setelah melepaskan rasa desah dengan tangisan yang membuat gue sesak, apalagi kalau bukan melihat raut bingung dari kedua mempelai, belum lagi pihak mempelai pria yang terkejut karena bapak, membuat sebuah pernyataan yang luar biasa di sana. Beliau dengan lantang menyebut gue calon mantu yang luar biasa dengan segala kekurangan gue. Dan di sana gue secara resmi diangkat sebagai anak dari mamak dan bapak.
Bukan cuma gue dan keluarga mempelai pria, tapi Arum dan Daisy juga ikut terkejut karenanya. Gue nggak keberatan untuk itu, cuma agak risih aja jika suatu saat nanti gue malah sering ketemu sama Arum. Hati gue belum siap untuk semuanya, walau gue udah mengikhlaskan tapi tetap aja masih terasa sesak di d**a.
"Jadi sebelum ini kamu emang udah Deket dama keluarganya?" Tanya Daisy dengan raut tak percaya.
"Deket banget. Kan denger sendiri tadi kamu. Pas gimana bapak berkata di atas panggung dengan lantang, aku itu cowok terbaik yang pernah bapak kenal."
"I see, keliatan dari pesona kamu!"
Gue terbahak pelan, meraih satu gelas kopi hitam, sehitam kenangan gue selama ini, agak kelam tapi memiliki sebuah maksa yang cukup mendalam, filosofi hidup gue itu nggak bisa untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Terlalu menyedihkan.
"Jadi kamu mengakui kalo aku emang mempesona, hm?
"Jangan GeEr deh, aku cuma bilang sesuai apa yang aku lihat!" Ucap Daisy dengan menyilangkan anak rambutnya ke belakang telinga. Dan hal itu benar-benar membuat gue terpukau, Lo tahu nggak sih gimana wajah mulus Daisy yang bersih tanpa jerawat dan putih bersih. Bahkan pipinya itu astaga chubby banget, gue tau itu karena nggak sengaja nyentuh tadi. Kenyal macam permen karet. Di topang dengan bibir tipis, bola mata besar yang sesuai porsinya dan tubuh yang nggak terlalu tinggi membuat dia lebih terlihat seperti anak SMA dari pada seorang pekerja kantoran.
Gue terkesima sesaat sebelum di kejutkan dengan suara mendayu buang begitu lembut membelai telinga gue.
"Jadi selama ini kamu lebih milih deketin orang tua sebelum pdkt sama anaknya?" Tebak Daisy yang membuat gue mengangguk dengan bangga.
"Restu dari orang tua dulu baru pacari anaknya, aku bukan tipikal yang doyan pacaran dengan cara sembunyi-sembunyi. Lebih baik bilang secara terus terang dari pada harus mendapat malu di kemudian hari."
Yup itu adalah prinsip gue, sebelum gue mendekati sang anak untuk menjalin sebuah hubungan, gue selalu menyempatkan diri untuk mendekati orang tuanya terlebih dahulu. Jika mereka mengijinkan dan biasanya di ikuti dengan petuah yang cukup panjang dan buat pusing kepala, baru gue memilih pacaran dengan sehat, ngobrol di rumah, malam Minggu apel dari jam 7 malam sampai jam 10 malam doang. Terus kalaupun jalan gue lebih memilih menuju tempat keramaian untuk menghindari suatu hal yang kadang sulit gue tolak.
Jangan percaya tiap kali gue bilang kalo gue ini polos, karena nyatanya gue nggak sepolos yang kalian kira, gue b******n, tapi itu semua sudah berlalu, sekarang gue lebih memilih menata diri untuk lebih baik lagi.
"Kalau misal cewek yang mau kamu deketin udah nggak punya orang tua?" Tanya Daisy tiba-tiba.
Percayalah ini adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk gue. Kadang pertanyaan yang terkesan simpel itu untuk melihat seberapa tekun kita dengan pendirian yang kita miliki. Gue sering terjebak pertanyaan yang hampir mirip seperti ini.
"Setiap anak gadis pasti memiliki seorang wali, entah paman, pakde, kakek, atau bibi. Jadi selama doi punya seorang wali dan keluarga. Aku selalu berusaha untuk dekat dan meminta ijin dari mereka."
"Kalau ternyata ditolak?"
Gue terkekeh pelan, untuk kalian para buaya atau mantan buaya sekalipun kalian akan tertawa jika mendapat pertanyaan semacam ini, percaya atau nggak ini adalah pertanyaan paling simpel yang pernah aku dapatkan dari wanita yang hampir luluh dengan sebuah kata-kata di awal tadi.
"Ditolak nggak menutup kemungkinan akan ditolak selamanya, ada ada saat di mana mereka luluh dengan usaha kita." Gue menjeda sembari tersenyum menatap bola hitam pekat itu. "Nggak ada ada batu yang selamanya kuat menerima tetes Airi tiap saat. Ada masanya di mana hati seseorang akan luluh dengan usaha dan ketekunan kita. Manusia boleh egois tapi mereka memiliki suatu hak yang membuat mereka harus berpikir egois. Orang egois nggak selamanya menakutkan. Kalo kamu tau!"
Daisy terkekeh pelan, dia memainkan bibir gelas di hadapannya dengan jari lentik yang terlihat begitu indah di mata gue. "Ada dua macam orang egois kalo kamu mau tau." Wanita cantik itu mendongak wajahnya menatap sepasang mata gue yang sama sekali nggak gentar untuk menatapnya kembali. Gue paling suka posisi saat ini, posisi di mana gue bisa melihat dengan jelas indah ciptaan Tuhan yang nggak akan ada duanya lagi.
"Pertama, egois karena dia nggak mau berbagi, memilih untuk melindungi sesuatu yang menurut mereka berharga. Egois tahap ini mereka nggak akan mengekang, itu persis apa yang keluarga aku lakukan untuk aku." Ada jeda sesaat diiringi dengan senyum kecut di sana. "Kadang aku ngerasa terkekang dengan keegoisan meraka, tapi aku juga bersyukur dengan itu mereka jelas memperdulikan aku."
Gue mengangguk kecil, membenarkan perkataan Daisy yang menurut gue memang benar adanya.
"Egois yang kedua, egois di tahap akut, di mana dia ngerasa paling benar sendiri, nggak mau berkaca dan seolah dia di atas segalanya, itu egois yang paling mengerikan yang pernah aku tahu, selain mengekang, mereka yang memiliki sifat itu jelas nggak mau berbagi, bertukar pikiran, dan nggak mau mendengar ucapan apapun dari seseorang, jika dia sudah berkata A maka selamanya akan tetap A. Aku udah kenyang berhadapan sama orang seperti itu."
"Rahman?" Tebak gue seketika saat melihat Daisy menunduk, sorot matanya jelas menggambarkan hal itu. Dan gue bisa melihat jika apa yang Daisy katakan benar adanya, terlebih saat gue memeluk Arum untuk terakhir kalinya tadi, tatapan menghunus itu jelas gue dapatkan, tapi sayang, Rahman salah berhadapan dengan seseorang, dia pikir dengan tatapan tajam dan muka garang maka gue akan takut? Nggak! Gue bukan tipikal cowok pengecut macam dia yang hanya mengandalkan keegoisan untuk menganggap semua adalah miliknya.
"Keliatan banget ya?"
Gue mengangguk pelan. "Tipikal cowok pengecut, mengekang dengan keangkuhan yang ada." Gue menjeda kalimat gue sebentar. "Percaya atau nggak, hubungan dua orang itu nggak akan berjalan mulus seperti apa yang terlihat."
Karena gue bisa lihat ada getar ketakutan saat gue memeluk Arum tadi, padahal saat itu kedua orang tuanya ada di sana, dan merekalah yang menyuruh gue untuk melakukan hal itu. Sebagai perpisahan terakhir katanya.
Daisy tersenyum pelan, kembali dia menyilakan anak rambut ke belakang telinganya. Gua mulai memahami karakter Daisy ini, di saat dia gugup ataupun bingung, dia akan melakukan hal itu, jadi bisa gue tebak kalau apa yang gue katakan tentang Rahman benar adanya.
"Itu yang aku rasain selama 2 tahun lebih, di awal dia terlihat manis dan lembut, tapi jalan tahun kedua dia mulai mengekang dan marah tanpa alasan yang jelas." Ada helaan napas yang keluar begitu saja dari mulut Daisy, gue bisa merasa tekanan yang dia rasakan.
"Tapi setidaknya kamu udah bebas dari dia kan?"
Daisy mengangguk kecil, dia mendongak menatap gue dengan senyum yang begitu sulit gue tolak, bahkan senyum itu bagaikan virus yang bisa menular dengan cepat. Gue terpukau untuk kesekian kalinya. Apa ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Gue nyaman sama dia, nyaman dengan tutur kata yang dia miliki. Lucu nggak sih kalau gue bilang gue suka sama Daisy?
"Yah, apa yang kamu bilang bener, aku bebas sekarang. Nggak ada lagi rasa takut akan makian atau bentakan tiap kali aku telat balas chat, atau tuduhan yang membuat aku merasa jadi wanita t***l di depannya."
Gue tersenyum karenanya, apa yang dia rasakan sama seperti apa yang gue rasakan, gue seolah lepas dari bayang-bayang yang membelenggu diri gue selama ini. Apalagi kalau bukan Arum, dia sudah bahagia dengan pilihannya, itu nyatanya, dan sekarang gue bisa tahu sebuah fakta kalau ternyata gue masih anak angkat dari ibu Arum, itu yang terpenting sekarang ini.
Di saat gue merasa nggak punya seorang bapak, ternyata bapak Arum menerima gue selayaknya anak kandungnya sendiri, bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Gue sendiri merasa benar-benar menjadi orang beruntung yang bisa merasakan pelukan sosok bapak yang sesungguhnya.
"Lucu ya?" Gue terkekeh pelan. "Sebelum ini kita adalah dua orang yang terluka karena masa lalu. Tapi sekarang?" Gue menjeda kalimat. Mengering kecil pada Daisy yang dibalas dengan kekehan pelan. "Kita menjadi dua orang yang bebas. Selayaknya burung yang terkungkung di dalam sangkar, sekarang kita bisa terbang bebas tanpa beban tanpa ragu yang selama ini menghambat."
Daisy mengangguk pelan, jelas apa yang gue katakan ini nyata, hari gue terasa begitu ringan sekarang.
"Ternyata, mengikhlaskan itu nggak sesulit yang kita kira ya? Selama ini kita cuma takut akan bayangan yang sudah tertanam, bahwa kita nggak bisa tanpa dia, tapi nyatanya, kita malah jadi orang baru setelah melepas kenangan itu. Belajar menjadi sosok yang baru dari rasa sakit yang luar biasa. Aku harap kita akan terlepas dari kesakitan itu dan mendapat kebahagiaan kita sendiri ya."
"Tentu dan harus! Dari rasa sakit kita bisa belajar bagaimana menanggapi sebuah perasaan di kemudian hari. Kita belajar dari sebuah pengalaman, jika hubungan memang nggak bisa di paksakan, sekeras apapun kita mencoba jika hanya sebelah pihak yang bertahan tapi pihak lain melepaskan, maka hubungan itu udah nggak sehat. Sakit yang akan kita dapat nantinya. Jadi dari sini aku belajar bagaimana cara mengikhlaskan sesuatu tanpa harus terpuruk di dalamnya."
Daisy tertawa kecil, tangan lentik ya memukul pelan pundak gue. "Nggak ada ruginya kita berangkat ke acara nikahan mantan ya?"
"Untung tadi aku tahan diri untuk nggak nyanyi di sana. Kalo aja aku nggak kuat nahan diri. Alamat heboh itu satu acara, secara Afgan manggung di sana gitu!"
"Pede banget kamu!" Ujar Daisy dengan tawa lepas, selepas perasaan kita yang sudah lenyap terkikis oleh kenyataan. Sore itu kami tertawa sepuas kami, lepas dan bebas.