“Ya, Tuhan! Kau nyaris dipatuk ular, Lang?” sela Kikan kaget. Alang mengangguk. “Kalau sudah tahu, kenapa tetap kau lakukan?” tanya Prayit lagi. Alang bungkam. Merasa bingung harus menjawab apa. Ia membuang pandangan ke perapian. Tak berani memandang wajah Prayit. “Maaf, Lang. Bukannya tak menghargai usahamu. Menurut saya, masih ada yang lain, untuk dimakan. Andai pun hanya ada dua hewan itu. Mungkin saya memilih berpuasa,” ucap Prayit memberikan alasan. Alang diam lalu memandang wajah Prayit. “Karena itu—kupisah jadi tiga bungkusan. Kalo ada yang keberatan, masih ada daging puyuh. Biar aku yang memakan daging dalam hitungan.” jelas Alang serius. Sebenarnya Alang tak mau berdebat masalah itu. Semua terjadi karena adanya keterbatasan dan keterpaksaan. Masalah keyakinan dalam kondisi seper

