“Hei!? Ada apa dengan kalian?!” sela Endi menengahi. “Baik—saya capek! Puas?!” jawab Sam melotot. Wajahnya terlihat marah. Ia merasa tak pantas untuk disalahkan. Kikan mendengus kesal. “Cukup?! Kenapa jadi ribut?!” hardik Prayit keras melerai mereka. Sam mendengus. Wajahnya tampak masih terlihat gusar. “Tahan emosi kalian. Masalah kita sudah banyak. Jangan ditambah lagi!” lerai Paryit dengan wajah serius. “Kikan cuma tanya, Sam. Tak perlu bersikap seperti itu,” ujar Dewi mengingatkan. Sam bungkam. Suasana makin kaku dan membisu. Hanya derik serangga belantara yang terdengar. Juga lengkingan primata dari kejauhan. “Harusnya dicegah kalo dia pergi sendirian,” gumam Kikan lirih memecah kebisuan. Matanya mulai memerah. “Kita semua tahu—kondisi dia sebenarnya,” sambungnya dengan mata berkac

