Sesungguhnya fase yang dialami oleh orang di sekitar Lula juga dialami oleh Lula sendiri. Karena rasanya baru kemarin dirinya menganggap Bimo itu adalah salah satu anggota MLM dan salah mengira kebaikannya waktu itu. Tapi kini cowok itu sudah menjadi pacarnya, orang yang siap menjaga dan menemaninya. Orang yang akan mendukung sekaligus mendengarkan keluh kesahnya. Orang yang tak kini tak malu merangkul atau menggandeng tangannya.
Padahal dulu Lula tidak berpikir akan bersama dengan seseorang selama menjalani masa kuliahnya. Apalagi tujuan utamanya ke sini tentu saja untuk fokus mengejar cita-cita. Tapi saat Bimo datang ke hidupnya, terus terang saja memang hidup Lula sedikit lebih berwarna.
Sebelumnya hidupnya memang sudah memiliki warna, namun semenjak Bimo ada, semuanya rasanya lebih indah dan menentramkan jiwa.
Setelah akhirnya resmi menjalin asmara, tentu saja Lula tidak bisa membiarkan cerita dan peristiwa sebesar ini tidak diketahui oleh Papanya. Oleh sebab itu, Lula pun mencari waktu dan kesempatan untuk bisa menyampaikan berita bahwa kini dirinya sudah punya pacar.
Agak sulit memang mencari kesempatan untuk bisa bicara serius dan fokus bersama Papanya. Apalagi jika hanya melalui sambungan telepon saja. Makanya di satu kesempatan Lula memanfaatkan waktu untuk pulang ke Cirebon tanpa pemberitahuan. Hasilnya? Tentu saja Papa kaget bukan kepalang. Bukan semata karena kepulangan Lula. Tapi karena Lula sampai ke rumah sudah nyaris tengah malam, dan di saat Papa juga sudah terlelap hampir tertidur dalam.
“Kamu kenapa pulang ke rumah nggak ngasih tahu dulu?” sergah Papa agak kaget dengan kedatangan Lula. Saat itu rambut Lula masih sepanjang pinggang dan sering digerai. Tentu saja hal tersebut membuat Papa langsung diserang horor luar biasa. “Mana kamu datang jam segini, pakai baju putih, celana item nggak kelihatan kakinya sama sekali. Mau gimana Papa mikir normal coba.”
Ya, memang tidak bisa disalahkan juga. Tapi kan, namanya kejutan, mana ada yang pakai pemberitahuan?!
“Lula memang sengaja nggak ngabarin Papa dulu biar nggak capek jemput juga,” ucap gadis itu sambil tersenyum.
Karena Papa nya masih setengah nyawa, tentu saja apapun ucapan Lula hanya ditanggapi sekadarnya dengan anggukan kepala. Papa lalu balik badan dan mengingatkan Lula untuk mengunci pintu dengan benar.
“Jangan lupa kunci pintu dua kali. Cabut kuncinya dan taruh di perutnya si Ucil,” sahut Papa sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Ucil adalah nama dari patung kucing yang sudah ada sejak Lula lahir. Meskipun bukan keturunan Tionghoa, tapi ada sahabat Papa yang keturunan Tionghoa dan memberikan patung tersebut sebagai hadiah kelahiran Lula. Papa meyakini bahwa patung dan kelahiran dirinya menjadi salah satu hal yang membawa keberuntungan. Oleh sebab itu, patung tersebut mendapatkan posisi istimewa di rumah ini. Bahkan perutnya menjadi tempat penyimpanan kunci dan kertas penting. Seperti kunci rumah, kunci mobil atau motor hingga struk pembayaran rekening listrik.
Lula menuruti apa yang dikatakan oleh Papanya dan segera menutup pintu lalu mengunci pintu depan. Gadis itu juga mengikuti instruksi dari Papa nya dengan memutar kunci dua kali, lalu melepas kunci tersebut dari lubangnya dan membawanya ke meja telepon. Segera dimasukkannya kunci tersebut ke dalam perut patung kucing yang diberi nama Ucil oleh Papa nya.
Karena sepertinya ini sudah terlalu larut untuk mengatakan apa tujuan utamanya pulang, maka Lula pun segera pergi ke kamarnya sendiri. Sepertinya dia akan mengatakan semua yang terjadi selama dia kuliah dalam beberapa bulan terakhir, termasuk hadirnya Bimo kini di hidupnya besok pagi saja. Saat kesadaran Papa nya sedang penuh dan Lula tak perlu repot mengulang apa yang dia sampaikan karena konsentrasi Papanya sedang mengawang ke mana-mana seperti sekarang.
Hingga keesokan harinya, saat Papa pulang dari membeli sarapan dan Lula sudah selesai menjemur pakaian, Lula pun mengajak Papanya duduk.
“Pah, sini deh. Lula bikinin singkong rebus kesukaan Papa,” ucapnya sambil menunjukkan piring berisi singkong rebus yang asapnya masih mengebul.
Melihat singkong yang menumpuk di atas piring, Papa pun langsung menyeringai.
“Wah, pas banget ini. Tapi Papa udah telanjur beli docang. Kumaha atuh?” tanya Papa sambil mengangkat plastik berisi docang yang sudah dibelinya.
“Ya nggak apa-apa. Nanti Papa bisa makan singkongnya pas Papa udah mulai laper lagi tapi belum waktunya makan siang. Gimana?” Lula mencoba memberikan solusi.
Papa mengangguk-anggukan kepalanya. “Cocok lah. Hayuk kalau gitu kita makan dulu,” ucap Papa sambil pergi ke rak perabot untuk mengambil dua mangkuk dan gelas.
“Eh, Lul, eta gelas nya diisi air,” pinta Papa sambil menunjukkan gelas yang sudah Papa taruh di dekat dispenser untuk segera Lula isi.
“Siap, Pah,” sahut Lula semangat dan segera mengisi gelas tersebut. “Papa nggak pengin teh atau kopi gitu?” tanyanya setelah mengisi satu gelas dengan air hampir penuh.
Papanya itu kontan menggeleng.
"Papa lagi ngurangin ngeteh ngopi kan. Masak kamu lupa," ucap Papa nya heran.
Lula tersadar. Semenjak kena asam lambung Papa nya diancam tidak akan menyaksikan Lula wisuda kalau tidak merubah kebiasaannya merokok dan minum kopi.
"Aah, iya juga. Hampura, namanya juga lupa," sahut Lula kemudian menghampiri Papa dengan dua gelas berisi air yang nyaris penuh.
"Nih, Papa beliin Docang buat kamu. Khusus nih biar kamu nggak ribut terus nggak makan docang karena kelupaan beli." Papa mulai menuangkan isi plastik berisi salah satu makanan khas Cirebon tersebut ke dalam mangkuk.
Lula tersenyum lalu berucap syukur ketika Papa menyodorkan mangkuk berisi Docang yang hampir full.
"Makasih Papah, ih ngertiin banget ya kepengenan anaknya," kata gadis itu dengan nada terharu.
Papa menuangkan isi plastik satunya lagi ke mangkuk miliknya dan tersenyum.
"Ya, memang siapa lagi yang bakal ngertiin kepenginan kamu kalau bukan Papa?" Papa menyahut dengan kalimat yang sebenarnya bukan berbentuk pertanyaan.
Tapi Lula merasa disitulah kesempatan dia untuk menyisipkan informasi mengenai Bimo.
"Kalau misalkan ada orang yang bantu Papah buat jagain Lula, gapapa kan?!" sahut gadis itu sambil mulai mengaduk isi mangkuknya.
"Emang siapa yang bakal bantuin? Papah mah nggak yakin ada yang tahan sama sikap manja, ribet, dan emosian kamu," komen Papa sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada kok, Pah. Cuma Papah… ngebolehin nggak?" tanya Lula hati-hati sambil memperhatikan ekspresi Papa nya yang mulai mengangkat wajah dan menyodorkan ekspresi seolah menuntut penjelasan lebih lanjut.
Lula mencoba tersenyum tenang dan tetap memperhatikan reaksi sang ayah. "Nggak apa apa-apa kan?!"
"Kamu teh punya pacar?" todong Papah seketika.
Kalau ditodong langsung begini harusnya Lula bisa langsung saja menjawab iya. Cuma air muka Papa nya yang sepertinya tidak begitu antusias membuat Lula harus membelokkan ucapannya segera.
Dia tidak ingin mengacaukan ajang makan pagi bersama Papa nya yang semula syahdu dan khidmat menjadi horor dan mencekam. Tapi bagaimanapun Lula tidak ingin menyembunyikan status hubungannya dengan Bimo sama sekali. Sebaliknya, restu utama yang ia ingin segera dengar hanyalah dari Papa nya.
“Lebih kurangnya begitu, Pah,” ucap Lula akhirnya berani mengiyakan apa yang Papa tanya tadi.
Papa tidak bereaksi. Papa melanjutkan memakan docangnya dengan khidmat seolah tak terpengaruh dengan fakta baru yang sudah dia dengar dari putri tunggalnya. Lula jadi bingung. Apakah Papa marah? Atau ini adalah tindakan Papa sengaja untuk memberitahukannya bahwa tidak akan ada yang bisa menyayangi dan mengerti Lula selain Papa nya sendiri?
Tapi masalahnya Lula juga lapar. Makanya ia pun mengikuti Papa dan menyantap docangnya dengan penuh syahdu. Docang Papa sudah habis dan Papa segera membawa mangkuk kotornya ke wastafel.
“Jangan lupa nanti langsung dicuci,” begitu ucap Papa pada Lula sebelum meninggalkan meja makan.
Lula semakin bingung. Apakah Papa benar-benar marah? Lula akhirnya mempercepat mengunyah lontong dua biji yang tersisa dan menyeruput serta kuah docang yang nikmat tersebut. Setelah itu sambil masih mengunyah, Lula mulai mencuci bekas mangkuknya sendiri.
Setelah menelan makanannya dan menaruh kembali mangkuk di rak, Lula meminum air dengan tegukan besar. Untung saja ia tidak tersedak. Lula kemudian mengejar Papa yang sudah hendak menyiram pekarangannya.
“Pah?!” panggil Lula agak ngos-ngosan.
“Apa?” tanya Papa agak kaget sambil menoleh ke arah putrinya. “Itu kenapa kaus kamu basah? Terus ada daun singkong yang nyelip di gigi kamu.”
Lula segera mencoba membersihkan giginya dengan lidah yang dia putar di dalam gigi. “Udah ilang belum?” tanyanya sambil menyeringai di hadapan Papa nya.
“Eta masih aya,” balas Papa sambil menunjuk ke arah giginya.
“Hah? Mana, sih?” Lula kembal membersihkan sela-sela giginya dengan lidah dan akhirnya putus asa. Diambilnya ponselnya dan dilihatnya melalui kamera letak daun singkong yang terselip. “Halah, di sini,” seru Lula ketika berhasil mendapati daun singkong yang nyelip di giginya tadi.
“Lagian ngapain sih meuni buru-buru pisan. Makan tuh kudu tenang, dinikmatin,” ujar Papa sambil melanjutkan menyiram tanamannya.
“Masalahnya, Pah, Papa marah sama aku,” sergah Lula setelah urusan daun singkong nyelip di giginya selesai.
“Hah?” gantian Papa yang ternganga. “Siapa yang marah?” Papa nya malah balik tanya.
“Papa dong,” tukas Lula sambil menunjuk Papa nya.
Papa menggelengkan kepalanya. “Nggak kok, Papa nggak marah.”
“Kalau Papa nggak marah, terus kenapa tadi pas tahu Lula punya pacar Papah nggak ada reaksinya?” tanya Lula lagi.
“Ya, memang Papa harus bereaksi gimana?” pertanyaan Lula dikembalikan lagi. “Kamu teh udah gede, udah tahu cara menjaga diri. Kalau memang ada orang yang bisa bikin kamu semangat kuliah, ya Papa mah nggak masalah. Asalkan tidak melakukan tindakan di luar batas kewajaran. Udah, Papa mah titip itu aja.”
Lula sama sekali tak menyangka bahwa Papa nya akan bicara seperti itu. Jujur saja, hatinya masih merasa tak tenang semenjak resmi berpacaran dengan Bimo namun Papa masih belum tahu berita itu.
Reaksi Papa ini sungguh di luar dugaan. Makanya agak lega juga setelah mendengar bahwa Papa tidak mempermasalahkan.
“Terus Papa nggak pengin tahu namanya atau informasi lainnya?”
“Namanya mirip sama angkutan roda tiga kayak bajaj itu kan?!”
Gadis itu loading sebentar kemudian langsung protes. “Ih, bukaaaan!” serunya dengan putus asa. “Namanya Bimo, Pah, bukan bemo. Bedaaaaa.”
Papa terkikik geli sendiri. “Kirain teh sama,” ujarnya masih menyeringai.
Sungguh Lula tak menyangka reaksi Papa nya akan jauh lebih aman dari yang dia duga. Padahal Lula sudah menyiapkan berbagai kalimat untuk menjawab berbagai pertanyaan dari Papa kalau-kalau izin masih belum ia kantongi saat kembali ke Jakarta. Tahunya begini mudahnya.
“Tapi di kepulangan kamu minggu depan, orangnya suruh ke sini ya, Lul!”
Deg!
Ternyata tidak semudah itu.
Lula menyeringai lalu mendekati Papa nya yang masih santai dan kalem menyiram pekarangan.
“Ini Papa lagi bercanda atau serius?” tanyanya sekadar memastikan.
Papa hanya menoleh pelan dan menunjukkan ekspresi wajahnya yang datar dan tegas. Dari sana Lula sudah cukup mendapatkan jawaban.
“Serius.” Lula manggut-manggut lalu mundur beberapa langkah. “Itu artinya memang harus dituruti kalau mau direstui.”
“TUL!” seru Papa dengan nada agak tinggi.