Lah? Kenapa Begitu?

1650 Words
Setelah berbaikan dengan Bimo dan akhirnya berbincang secara mendalam, Lula sudah merasakan semuanya sudah kembali seperti semula. Apalagi setelah mengajukan perbaikan rules dari hubungan mereka. Bimo terlihat bisa lebih santai namun tetap mesra padanya. Malah Bimo tak lupa mengingatkan pada Lula untuk bersiap dan berdandan di hari perayaan ulang tahun pernikahan kedua orangtuanya besok. Sesampainya mobil Bimo di depan gedung kos Lula, Bimo mengingatkan kembali pada Lula terkait acara besok. “Sampai deh kita,” ucap Lula sebelum dia turun dari mobil kekasihnya tersebut. “Iya, udah sampai di kosnya Ulul,” sahut Bimo hampir serupa dengan apa yang Lula ucapkan.  “Makannya enak, muter-muternya seru, dan obrolannya bikin Ulul seneng,” kata gadis itu sambil melepaskan sabuk pengamannya. Bimo mengangguk dan sepakat dengan apa yang diucapkan kekasihnya tersebut. “Iya, Bimo juga ngerasain gitu kok. Seneng lihat Ulul ceria lagi.” “Makanya nanti jangan bikin kesel dan gondok lagi, ya,” ancam Lula sambil menyetel tampang yang agak judes. Cowok di sebelahnya itu tersenyum salah tingkah namun kemudian mengangguk. “Iya, Bimo coba buat nggak bikin Ulul bete dan gondok lagi deh.” Mendengar apa yang diucapkan oleh Bimo, Lula pun kembali tersenyum. “Ya, udah, Ulul turun dulu, ya. Bimo segera pulang juga.” Saat Lula hendak turun, Bimo memegang tangannya. “Eh, Lul,” tahannya. Gadis itu kemudian menahan untuk tidak segera turun. “Iya, kenapa, Bim?” tanyanya pelan. “Besok jangan lupa, ya,” ucap Bimo sambil memegangi tangan Lula. “Dandan yang cantik dan harus tampil siap untuk acara acara mama papa nya Bimo, ya.” Lula kaget karena Bimo seakan memintanya dengan ketulusan yang benar-benar terasa. “Besok Bimo bakal nemuin Ulul sama Mama Papa Bimo, okay?! Pokoknya Ulul tenang aja, ya. Besok Bimo bakal jagain Ulul pokoknya. Jadi nggak usah khawatir.” Mau tak mau Lula tersenyum rikuh karena Bimo berucap seperti itu. Rasanya seperti Bimo yang dia kenal sekitar tiga tahun yang lalu. Seperti Bimo yang menyukai dan menjaganya dari rasa malu saat pertama kali berjumpa dulu. Lula benar-benar bahagia karena perasaan itu kembali dia rasakan secara nyata dan buka ilusi. Gadis itu pun segera menjawab. “Iyaa, Bim. Besok Ulul bakal menyerahkan semuanya sama Bimo, ya. Jangan biarin Ulul sendirian dan cengok di tengah pesta Mama Papa nya Bimo.” Cowok itu menggelengkan kepalanya tegas. “Nggak akan Ulul sayang. Bimo bakal jagain Ulul dan nggak bakal ngebiarin Ulul kebingungan.” “Iya, udah, Ulul percaya sama Bimo. Sekarang Ulul turun dulu. Badan rasanya udah nggak enak pengin cepetan mandi, Bim,” ucap Lula sambil menyentuh leher dan lengannya sendiri. “Okay.” Cowok itu mengangguk dengan senyuman manis yang Lula hafal. “Segera mandi ya biar seger. Tungguin Bimo sampai rumah, nanti Bimo kabarin lagi, ya.” Lula mengangguk dan segera turun dari mobil Bimo dengan perasaan lebih lega dan leluasa. Bimo membunyikan klakson dua kali sebelum meninggalkan halaman depan gedung kos Lula. Gadis itu segera melambaikan tangannya, berpamitan pada kekasihnya yang mobilnya mulai menjauh tersebut. Sungguh, ajaib sekali rasa cinta yang dirasakan Lula saat ini. Senyum dan berbinar-binar seolah bisa bertahan di wajahnya selamanya. Namun biar tidak dikira gila, Lula pun segera masuk ke dalam kos nya. Begitu Lula berjalan menuju kamarnya, ponselnya bergetar. Rupanya dari Gadis. Lula tersenyum. Segera dibukanya w******p dari sahabatnya tersebut.  Gadis Lul, lo udah di kos apa belom sih? Sambil berjalan menuju kamarnya, Lula pun segera membalas chat dari Gadis tersebut. Lula Gue udah di kos ini. Lo masih di luar Apa udah di kos juga? Begitu selesai mengirimkan balasan pada Gadis, Lula segera membuka kunci kamarnya dan segera masuk. Seperti yang diagendakan, dia ingin langsung segera mandi. Jadi, Lula tidak menunggu balasan Gadis atau mungkin chat dari Bimo. Setengah jam kemudian, Lula pun selesai mandi dan merasakan tubuhnya sudah jauh lebih segar. “Wah, gila kayak habis di transfer sama Papa rasanya. Segar,” ucapnya di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.  Lula hendak memakai pelembab wajahnya namun ponselnya berdering tak berhenti. Lula pun penasaran dari siapa. Rupanya Gadis. Segera Lula menjawab panggilan tersebut. “Halo? Kenapa, Dis?” tanya Lula sambil mengeringkan rambutnya di depan cermin, “Dis, keluar dong!” suara Gadis langsung memintanya keluar. Gadis mengernyitkan dahinya. “Hah? Keluar ke mana?” tanyanya bingung sendiri. “Ke gerbang depan. Bukain gue pintu depan,” lanjut Gadis.  Namun Lula masih tak mengerti dengan maksud dari Gadis tersebut. “Memang kunci lo di mana?” tanya Lula masih tak menangkap maksud dari Gadis. Suara Gadis mulai terdengar putus asa. “Gue dijambret, Ulul. Tas gue kagak sama gue sekarang. Jadi gue kagak bisa masuk ke kos karena kunci gue ada di dalam tas yang dijambret tadi. Makanya gue minta tolong ke lo sekarang buat bukain pintu gerbang. Biar gue kagak diteriakin maling kalau nekat lompat pagar,” tutur Gadis panjang lebar. Lula segera memahami. “Oke-oke, lo tunggu dulu bentar,” sahut Lula segera bergegas. “Eh, Lul,” suara Gadis seolah menahan. “Ada apa lagi, Dis?” tanyanya dengan nada yang mulai khawatir. “Sekalian pinjem dua puluh rebu buat ongkos ojek gue dong. Kan dompet gue ada di dalam tas yang dijambret tadi,” sahut Gadis lagi. “Ya, ampun. Iya ini gue bawa dompet. Tunggu bentar.” Lula pun segera keluar dari kamarnya dan berlari menuju gerbang sambil membawa dompet dan ponsel. Gadis sudah menunggu sambil berdiri di samping ojek yang menunggu. Dengan cekatan Lula mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan dari dalam dompetnya dan menyerahkan pada abang ojek tersebut. “Makasih ya, Pak,” ucap Lula seraya menyodorkan uang tersebut. Abang ojol tersebut menerima uang yang disodorkan Lula dan menganggukkan kepalanya.  “Iya, Kak, sama-sama. Kakak ini kasihan Kak tadi lagi nangis di pinggir jalan. Langsung aja saya tawarin ojek,” tutur abang ojeknya menceritakan sedikit kronologi yang menimpa Gadis. Gadis menyodorkan helm yang semula dipegangnya pada abang ojek tersebut seraya kembali mengucapkan terimakasih. “Makasih sekali lagi ya, Pak. udah anterin saja sampai di depan kos dan saya bisa ketemu temen saya lagi,” ucap Gadis dengan suara lesu. “Sama-sama Kak. Segera lapor polisi besok Kak biar diusut kasusnya, ya,” ucap abang ojeknya memberi saran. “Iya, Pak. Makasih sekali lagi, ya,” ucap Lula dan Gadis nyaris bersamaan dengan bunyi kalimat yang sama. Setelah abang ojek itu pergi, Lula segera merentangkan tangannya ke arah Gadis yang langsung memeluknya. “Gue shock, Lul,” ucapnya dengan nada sendu, hampir menangis. Lula mengangguk-angguk. Iya gue paham, Dis. Lo udah makan? Gue pesenin nasi goreng ke Bang Paul, ya,” ucap Lula segera membuka ponselnya dan menelepon tukang nasi goreng yang biasa mereka beli dan bahkan sudah bertukar nomor telepon untuk memudahkan pemesanan. Karena merasa tak tenang membiarkan Gadis sendiri, malam ini, Lula berencana untuk tidur di kamar sahabatnya tersebut. Setelah menantikan Bang Paul mengantarkan seporsi nasi goreng dan mie goreng yang dipesan Lula, dia segera bergegas naik ke lantai dua. Gadis sepertinya masih benar-benar shock dengan apa yang dia alami. Makanya setelah mandi, gadis itu hanya menyampirkan handuknya di bahu. Tatapannya kosong. Lula yang hendak mengetuk pintu jadi makin tidak tega. Tapi memberikan anak itu segera makanan sepertinya adalah salah satu bentuk bantuan yang wajib untuk diberikan. Akhirnya Lula mengetuk kamar Gadis. Benar saja. Gadis sampai tergeragap saat mendengar suara ketukan kamarnya sendiri.  “Sorry,” ucap Lula merasa tidak enak. Gadis tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia pun sedang kehilangan energi untuk bicara. Makanya dia tidak mempersilakan Lula masuk dengan suara, melainkan isyarat tangan yang melambaikan pada sahabatnya.  "Nasi goreng lho gue taruh di piring ya, Dis," ucap Lula sambil membuka bungkus nasi goreng pesanan Gadis. Lagi-lagi sahabatnya itu hanya mengangguk dan masih tak bersuara. Lula pun kemudian mengeluarkan bungkusan mie gorengnya dan membawa kedua piring tersebut ke hadapan Gadis. "Kita makan dulu ya, Dis. Habis itu lo ceritain ke gue kronologi nya. Tapi kalau lo kuat dan udah better. Kalau belom gapapa, nanti aja. Lo istirahat aja oke?!" ujar Gadis seraya menyerahkan piring bagian Gadis. Gadis mengangguk dan menerima piring yang disodorkan padanya. Kedua gadis muda itu makan dalam diam dan keheningan. Meski demikian, Lula memahami betul kondisi dan situasi naas yang sedang menimpa sahabat nya ini. Menunggu dan mendukung Gadis semampu nya seperti yang sekarang dia lakukan adalah satu-satunya cara yang Lula tahu. Makanya dia akan sabar saja dahulu. Karena pasti tak mudah bagi Gadis untuk melalui ini sendiri. Bisa jadi Gadis masih memproses semua yang barusan terjadi. Sampai akhirnya makanan mereka habis. Kemudian mereka meminum air di botol kemasan masing-masing, Lula begitu kaget karena tiba-tiba Gadis meremas botol air mineralnya dengan penuh tenaga. "Gue kalau punya tenaga ekstra tadi, Lul, udah gue uber tuh maling. Masalahnya seharian ini gue belom makan, Lul, karena bolak balik kasting. Jadi pas gue nunggu di halte busway itu lah kayaknya muka polos dan tak berdaya gue menarik minat jambret nya." Gadis memukul tangannya sendiri dengan botol air mineral yang sudah diremas tadi dengan penuh penghayatan. "Ah! Andai aja gue sempet makan siang aja, pasti gue bisa nyelamatin tas gue," cerocos Gadis begitu berapi-api. "Tapi ya udah lah sekarang energi gue udah terisi dan gue udah bisa mikir juga." Mendengar pernyataan itu, tentu saja Lula langsung termotivasi untuk bertanya hal yang lebih dalam. "Jadi lo nggak bisa ngelawan itu jambret karena belom makan?" tanya Lula memastikan kecurigaan pertamanya. Sahabatnya itu mengangguk. Lula lalu melanjutkan pertanyaan yang kedua. "Dan lo barusan lemes, nangis, dan tampak linglung itu bukan karena mikirin tas lo yang dijambret tapi karena lo kelaperan?" Gadis memandang Lula dengan tatapan syahdu seakan tak memahami mengapa Lula bertanya seperti itu. Namun gadis itu tak urung mengangguk lambat dengan ekspresi polos yang sontak membuat Lula kecele. "Seharian Lul gue belom makan. Lo nggak lihat sekarang muka gue tirusan karena baru nemu nasi tadi lo beli itu?" Lula pun tersenyum namun merasa ingin kesal juga. Tapi sepertinya tidak bisa. Memang kalau urusannya dengan perut sulit untuk dikompromikan mau bagaimana pun caranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD