Jangan Sepelekan Kostum

1581 Words
Hari yang sudah dinantikan Lula akhirnya datang juga. Hari di mana ia akan bertemu dengan keluarga Bimo secara khusus. Meskipun hari ini Lula ada kuliah dan harus menghadapi kuis, tapi rasanya gadis itu bisa santai dan tenang saja menghadapinya. Di alam bawah sadar Lula seolah sudah tersimpan motivasi untuk melalui hari dengan suka cita dan ringan hati. Karena peristiwa tak menyenangkan yang menimpa Gadis kemarin, hari ini dia absen tidak masuk. Dia sudah meminta izin untuk pergi ke polsek setempat demi mengurus barang-barangnya yang hilang karena dijambret kemarin. Sebelum Lula berangkat ke kampus, Gadis sudah sempat mampir ke kamarnya untuk memberitahukan niatnya tersebut. Malah, Lula sempat berniat untuk mendampingi dan menemai sahabatnya tersebut. Namun Gadis menolak. “Nggak usah, Lul. Lo berangkat ke kampus aja kayak biasa,” ucapnya menolak ide yang diajukan oleh sahabatnya tersebut. “Kenapa?” tanya Lula dengan suara kecewa. “Kan biar lo ada yang nguatin nanti kalau ditanya-tanya sama polisinya,” lanjutnya dengan ekspresi memohon. “Yah? Gue temenin aja, ya.” Akan tetapi, Gadis tetap menggeleng. “Nggak usah, Lul. Lo ngampus aja kayak biasa nggak apa-apa kok,” ujar Gadis meyakinkan Lula. “Lagian kayaknya cuma bikin laporan doang, nggak bakalan lama. Habisan itu gue juga mau ada mampir ke suatu tempat dulu baru langsung pulang kos.” “Hmm? Begitu?” Lula bertanya sekali lagi untuk lebih meyakinkan. Gadis mengangguk mantap. “Ya, udah. Sorry kalau gitu ya, Dis. Gue nggak bisa nemenin lo ke polsek,” ucap Lula masih dengan suara yang berat. “Nggak apa-apa, Lul. Kan gue yang memang mau pergi sendiri. Lo ngampus aja udah. Nanti perkembangannya gue kabarin via chat, ya,” sahut Gadis meyakinkan sekali lagi sahabatnya tersebut.  Lula mengangguk saja. “Bener lho, kabarin gue.” “Iya bawel. Ya, udah. Gue duluan, ya. Mumpung masih pagi, dan biasanya jam segini aja udah ada banyak orang yang bikin laporan sejenis. Lihat aja nanti,” sahut Gadis penuh keyakinan seolah memang sudah bisa menerka apa yang akan dilihatnya nanti. “Pokoknya kabarin gue sesampainya lo di polsek dan kalau ada apa-apa lagi. Ngerti?!”  Gadis mengangguk mantap. “Ya, udah. Gue berangkat dulu.” Lula melambaikan tangannya segera pada Gadis yang mulai berlari ringan menuju gerbang utama gedung kos mereka. “Kasihan amat tuh anak. Semoga lancar aja deh nanti pas dia bikin laporan,” gumam Lula pelan. Lima menit usai Gadis pergi, Lula pun segera berangkat ke kampus. Mungkin karena kini dia sudah memasuki semester keenam, maka jadwal kuliahnya seolah makin padat saja. Atau sebenarnya memang jadwal kuliahnya tidak pernah longgar sejak awal? Ah, Lula malas membahas lebih jauh juga. Karena perayaan ulang tahun pernikahan orang tua Bimo diadakan sore hingga malam, maka Lula berencana untuk berburu kostum yang cocok dan pas. Mungkin ini adalah kali pertama Lula akan berhadapan langsung dan diperkenalkan di depan keluarga besar Bimo. Setahu Lula, keluarga Bimo termasuk keluarga besar yang memiliki beberapa jabatan penting di negara ini. Bimo adalah bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya adalah perempuan, dan kakak keduanya adalah laki-laki. Namun kedua kakak Bimo tersebut tidak di Indonesia sejak Lula dan Bimo berpacaran. Menurut cerita Bimo, kakak perempuanya ikut sang suami pindah ke Austria. Sedangkan kakak keduanya sedang melanjutkan pendidikan Doktoral nya di salah satu universitas bergengsi di California, Amerika Serikat. Jadi, di Jakarta hanya ada Bimo dan kedua orangtuanya saja. Papa nya adalah seorang Vice President di salah satu bank Swasta terbesar di Indonesia. Sementara Mama nya adalah pemilik beberapa toko berlian yang ada di Jakarta.  Dengan latar belakang Bimo yang demikian, tentu saja sudah diketahui bahwa hidup Bimo selalu dilimpahi kemudahan. Namun, selama mengenal Bimo, Lula tidak melihat lelaki itu sebagai pemuda yang sombong atau memanfaatkan kekayaan kedua orangtuanya.  Sebaliknya. Bimo kadang risih jika harus melibatkan salah satu diantara mereka jika ada sesuatu di kampus. Namun justru karena hal itu juga, akhirnya satu hingga dua kali Lula bisa bertemu dengan Mama dan Papa Bimo. Tapi yang namanya sedang acara sekolah, tentu pertemuan tersebut terjadi sangat singkat dan tidak ada obrolan lebih dari tiga kalimat di antara mereka. Makanya jangan heran jika kemarin Lula begitu murka mendapati Bimo dengan seenteng itu mengatakan pada Lula untuk datang jika ia mau. Namun, Bimo sudah meminta maaf. Tidak etis rasanya jika Lula terus mengingat peristiwa tersebut terus menerus. Sementara Bimo sudah secara resmi meminta maaf dan memintanya untuk datang ke perayaan ulang tahun pernikahan Mama Papa nya. Kembali lagi pada beberapa rencana persiapan yang hendak Lula lakukan. Jadi, setelah kuliah berakhir nanti, Lula akan mampir ke sebuah butik untuk mencari kostum yang cocok untuk menghadiri acara perayaan ulang tahun pernikahan kekasihnya. Sebuah kostum yang jika dipakai olehnya orang akan terkesima namun segan di waktu yang bersamaan. Jadi, ketika melihat dirinya, Mama dan Papa nya Bimo sudah tahu siapa dirinya. Mungkin keinginan itu sedikit berlebihan, tapi bagi Lula rasanya sah-sah saja. Apalagi jika mengingat ini merupakan kali pertama Lula akan berada di satu ruangan yang sama, untuk waktu yang lama, bersama kedua orang tua Bimo. Meskipun nantinya mungkin saja kedua orangtua Bimo tidak akan begitu fokus juga pada dirinya terus menerus. Tapi di beberapa momen, Mama atau Papa nya pasti akan menyadari keberadaannya dan mungkin menyampaikan pendapat atau pikiran mereka tentang Lula pada Bimo. Baru membayangkannya saja Lula sudah tidak tidak ingin mengacaukan kesan pertama yang harus dia bangun dan ciptakan. Makanya, Lula ingin menyiapkan dirinya sebaik mungkin hari ini.  Dengan motivasi yang besar untuk membuat hari ini lancar jaya tanpa hambatan apa-apa, Lula pun mengikuti semua rangkaian kuliahnya dengan semangat. Ternyata Papa nya benar. Saat kita memiliki suatu motivasi tak terkalahkan dalam hati, maka rintangan apapun jadi tak akan berarti. Segala hambatan dan kendala yang mungkin ditemui nanti jadi sudah siap untuk dihadapi. Mungkin ini adalah motivasi yang tanpa sadar jadi bahan bakar yang bagus dan tahan lama. Sampai Lula mengakhiri kuliah terakhirnya dengan senyum lebar di bibirnya. Bahkan Lula sendiri sampai heran. Kenapa bisa di akhir hari menjalani kuliahnya dia masih bersemangat dan seolah tak ada tanda-tanda kendur energi.  Waktunya sudah tepat dan pas untuk mampir ke butik yang sudah dia telusuri paling dekat dengan kos namun memiliki koleksi gaun malam dan bisa dia pilih salah satunya.  Bimo hari ini tidak masuk karena memang dituntut untuk bersiap di rumah oleh Mama nya yang terkenal perfeksionis. Jadi, menurut Bimo, Mama nya tidak ingin sampai ada hal yang minus atau terlupa di hari penting ini. Makanya, Bimo bolos kuliah pun dimaklumi. “Sungguh kontradiktif, kan?! Padahal dari dulu, pas Bimo sakit nih, boro-boro Bimo disuruh istirahat di rumah. Selama Bimo masih bisa jelas ngomongnya, Mama pasti tetep nyuruh Bimo buat berangkat ke sekolah,” ucap Bimo di telepon semalam saat mengabari Lula bahwa dia harus absen hari ini. “Tapi giliran buat acara dia sendiri nih, pasti semuanya harus total dan nggak boleh ada cela. Aneh memang Mama Bimo ini.” “Ya, udah, Bim. Nggak apa-apa. Namanya orang tua kan memang pengin segala sesuatunya sempurna,” komen Lula menenangkan kekasihnya itu. “Papa nya Ulul juga gitu. Maunya semuanya aman terkendali sesuai yang dia inginkan.” “Iya, suka heran deh Bimo ini sama orang tua kita. Apakah karena memang orang tua jadi pada ngerasa sah-sah aja gitu punya aturan sendiri?!” Bimo seolah bergumam sendiri. “Wah, kalau yang itu Ulul nggak berani komen lebih lanjut. Soalnya masih takut kualat, Bim,” sahut gadis itu sambil menahan kekeh gelinya karena cerita Bimo yang diwarnai nada bicara yang agak putus asa. “Makanya besok Ulul jangan nyariin, ya. Soalnya Bimo memang sengaja nggak masuk karena Mama yang nyuruh buat riweuh dari pagi.” Lula merasa tenang karena untuk hal sekecil ini Bimo tidak lupa untuk memberitahukannya. Berarti cowok itu memang sudah menepati ucapannya untuk menjaga sikap dan menjadi pacar yang lebih baik dan mengerti Lula. “Iya, Ulul nggak akan nyariin kalau udah Bimo bilang kayak gini. Ulul malah jadi keingetan buat ngasih tahu kalau besok pulang ngampus Ulul mau…” kalimat Lula terhenti. Tidak. Sepertinya akan lebih baik jika Bimo pun turut terkejut dengan penampilannya nanti.  Mendengar Lula tak melanjutkan kalimatnya sendiri, Bimo pun memanggil. “Lul?” panggil Bimo sambil menjauhkan sesaat ponselnya untuk memastikan kalau panggilan teleponnya masih tersambung. Gadis itu tersenyum. “Ulul mau segera pulang buat siap-siap sebelum ke acara orangtuanya Bimo,” sambungnya pada kalimat yang sempat terhenti tadi. Tidak memberitahukan apa yang akan ditampilkannya nanti pada Bimo pasti akan menjadi salah satu hal yang seru. Lula bahkan tak sabar menantikan bagaimana reaksi Bimo nanti terhadap penampilannya. “Ooh, ya ampu. Iya, Lul. Bimo juga nggak sabar besok buat ngajak Ulul ketemu Mama Papa Bimo kok.” Percakapannya semalam bersama Bimo juga menjadi salah satu motivasi untuk Lulu hari ini. Begitu memasuki butik tersebut, Lula seolah sudah siap untuk menjelang segala perhatian, decak kagum, dan sambutan baik dari keluarga Bimo. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, kak?!” tanya seorang pramuniaga mendekati Lula. Lula mengangguk. “Hmm, iya, Kak. Bisa tolong bantu cari kostum buat perang?” tanyanya sambil tersenyum manis. Mendengar pertanyaan Lula tersebut, Mbak Pramuniaganya tampaknya agak bingung.  Ini adalah kali pertama Lula akan diperkenalkan secara resmi setelah tiga tahun bersama Bimo. Tentu saja Lula tahu bahwa dia pun harus mempersiapkan segala sesuatu kemungkinan terburuk yang bisa saja dihadapinya. Dengan kostum ‘perang’ yang tepat nanti, setidaknya Lula akan jauh lebih siap jika ada hal yang diluar kendalinya. Sebab kostum yang baik dan tepat akan menyelamatkannya. Lula lupa dia pernah baca di mana. Namun selain sepatu, kostum yang tepat saat hendak menghadapi momen penting jangan sampai disepelekan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD