Lula saat ini benar-benar siap. Setelah melihat satu kali, Lula kemudian terpikat pada sebuah gaun yang cukup elegan. Gaun berwarna putih tersebut dibalut renda di bagian bawahnya yang membuatnya semakin manis. Dengan panjang lengan di atas siku, Lula rasanya akan nyaman memakainya sepanjang acara orang tuanya Bimo nanti.
Dia akan memilih gaun tersebut untuk datang ke acara perayaan ulang tahun pernikahan orang tua Bimo. Melihat Lula tampaknya tertarik dengan gaun tersebut, mbak pramuniaganya bertanya.
“Apakah kakak tertarik untuk mencobanya terlebih dahulu?” tanya mbak pramuniaganya tersebut dengan ramah.
“Hmm, boleh Mbak?” Lula malah balik tanya.
Mbak Pramuniaga nya langsung mengangguk. “Tentu saja boleh, Kak. Sebab kami hanya menyediakan satu nomor saja per itemnya. Karena produk kami memang eksklusif,” tutur mbak pramuniaganya menjelaskan.
Alangkah senangnya Lula mendengar penjelasan itu. Sebab itu menandakan bahwa tidak banyak produk yang diproduksi. Hal tersebut dapat meminimalisir produk yang sama dipakai oleh orang lain. Maka tak lama berpikir, Lula pun segera menganggukkan kepalanya.
“Boleh, Mbak. Saya mau cobain yang itu,” ucapnya sambil menunjuk gaun putih yang sudah memikatnya tadi.
Mbak pramuniaga tersebut langsung mengambilkan gaun yang memang dipilih oleh Lula. Sambil menyerahkan gaun tersebut, si mbak pramuniaganya menunjukkan lokasi kamar pas.
“Silakan dicoba di kamar pas yang ada di sebelah sana, Kak,” ucap mbak pramuniaga tersebut sambil menunjuk ke arah salah satu sudut ruangan tersebut.
“Terima kasih, Mbak,” sahut Lula sambil menerima gaun tersebut dan segera dia bergegas ke arah yang ditunjuk tadi. Di dalam kamar pas, Lula sudah melihat dirinya dengan penuh kesiapan.
Lula langsung tertegun saat mencoba gaun tersebut. Penilaiannya tidak salah. Gaun tersebut memang sangat pas dan cocok untuk dia kenakan malam ini. Lula hanya perlu waktu lima menit lagi untuk memutuskan membawanya ke kasir dan membayar selembar gaun tersebut. Sedikit menguras uang simpanannya memang tapi menurut Lula ini sepadan. Bahkan Lula rasanya tidak menyesal membeli gaun ini.
Setelah membayar gaun tersebut, Lula keluar toko sambil memikirkan step selanjutnya. Yakni urusan dandanan yang harus dipoles di wajahnya. Mungkin Korean Look atau casual look akan cocok untuk dipadukan dengan gaun malam yang dipilihnya ini. Karena meski ingin jadi pusat perhatian, tapi Lula tidak ingin jadi bahan perbincangan orang kalau salah memilih jenis dandanan.
“Mungkin gue harus ke salon biar lebih nggak mengecewakan,” gumamnya saat sudah keluar dari butik tersebut.
Lula memiliki beberapa pilihan beberapa salon yang ada di pikirannya saat ini. Pilihan tersebut tentu saja dia dapat dari Gadis yang memang memiliki beberapa tempat yang pernah dijajalnya saat hendak kasting iklan. Selain karena harga yang bersahabat, pelayanan dan hasil make up dari salon-salon tersebut tidak mengecewakan.
“Memang untuk urusan kali ini rasanya gue harus berterima kasih sama Gadis nanti karena udah ngasih tahuin gue beberapa rekomendasi salon ini,” pikir Lula sambil memilih tujuan satu salon yang lokasinya searah ke jalan kosnya.
Begitu sampai di sana, Lula kaget sebab salon tersebut tidak buka. “Yah, kok tutup sih?!” keluh Lula sambil memperhatikan pintu yang terkunci tersebut.
Mungkin sekitar sepuluh menit Lula berdiri diam di depan salon tersebut sambil memperhatikan seolah-olah pintu masuknya akan terbuka.
Saat Lula hendak pergi, seorang karyawan fotokopi di sebelahnya bicara. “Salonnya habis kerampokan, Mbak. Makanya tutup,” serunya dengan sedotan teh kotak di bibirnya.
Lula mengangguk lalu tersenyum. “Ooh gitu. Saya baru tahu salon bisa kerampokan juga. Saya pikir cuma bank doang yang dilirik maling,” sahut Lula sambil menyeringai.
“Maling mah selama ada transaksi pake duit mah disikat aja Mbak. Emang di salon nggak ada transaksi pake duit? Kan, pake duit juga,” tukas mbak di fotokopi sebelah dengan nada yang tak habis pikir.
Apa yang diucapkan mbak fotokopi tadi ada benarnya juga. “Aah, iya, sih.” Lula mau tak mau mengangguk. “Ya, udah, Mbak. Saya permisi. Makasih ya, Mbak.” Gadis itu pun mohon diri dan segera pergi ke salon ke dua yang juga pernah direkomendasikan oleh Gadis dulu.
Namun sesampainya di salon kedua, rupanya sudah full booked dan tidak menerima tamu lagi.
“Yah?” Lula langsung kecewa. “Beneran nggak bisa nambah satu aja? Cuma make up doang kok,” ucap Lula merayu mbak pramuniaga yang langsung menolak menerima tamu.
Mbak pramuniaga di salon tersebut tampak tidak enak namun tetap tidak meluluskan permintaan dari Lula tersebut.
“Maaf ya, Mbak. Soalnya kami hanya buka sampai jam 5 sore. Dan ini sudah fully booking dari dua hari yang lalu. Kami mohon maaf sekali, Mbak,” ucap mbak pramuniaganya dengan wajah yang sangat tidak enak. Lula pun bisa merasakan dan melihat itu. Karena memang tidak bisa memaksakan juga, akhirnya Lula mengangguk.
“Makasih ya, Mbak,” ucapnya sambil balik badan dan berjalan keluar.
“Sekali lagi mohon maaf ya, Kak. Silakan datang lain waktu.”
Masalahnya Lula pun tidak yakin akan ada lain waktu untuk tampil berbeda di hadapan keluarga kekasihnya. Makanya dia ingin betul-betul menyiapkan momen ini.
Ternyata benar apa yang pernah diucapkan oleh Gadis. Paling nggak kita harus punya skill make up dasar untuk pergi ke acara penting. Biar pas dalam keadaan terdesak, kita bisa mengandalkan kemampuan dirinya. Lula pernah percaya diri memoles make up sekadarnya dan mengikuti dandanan dari sahabat masa kecil Bimo beberapa waktu lalu. Namun hasilnya, dirinya tetap kebanting jauh jika dibandingkan dengan Anindita malam itu.
AH! Perempuan itu akan diundang secara spesial. Meskipun rasanya Anindita tidak membuatnya kesal secara langsung dan Bimo juga sudah minta maaf dengan tulus padanya tapi di pesta nanti malam, ada kemungkinan Lula akan berjumpa dengan gadis itu lagi.
Lula tidak ingin tampil biasa-biasa saja, tapi juga tak mau kelihatan begitu berusaha. Makanya dia harus ke salon atau mengandalkan kemampuan orang yang tepat untuk sedikit memercikan keajaiban ke wajahnya. Untuk malam ini saja. Lula ingin jadi orang yang bisa memikat Bimo lagi seperti dulu.
Pandangan dan sorot mata Bimo yang seakan hanya bisa melihat Lula, malam itu sempat membuat Lula meragu dan mempertanyakan kemurnian persahabatan antara Bimo dan Anindita. Bukan berprasangka, Lula hanya merasa tetap wajib untuk bersiaga pada sesuatu yang buruk. Makanya, dia ingin tahu juga di malam ini, apakah Bimo akan lebih memperhatikan dirinya dan bersikap netral di antara keberadaan dirinya dan Anindita. Atau justru… ada sebuah pemandangan baru yang akan dilihatnya.
Lula pun belum tahu dengan pasti. Dia juga tidak menantikan apa-apa. Ini benar-benar hanya persiapannya sendiri. Karena dia ingin meyakinkan dirinya kalau memang persahabatan antara Bimo dan Anindita setulus itu, maka Lula tak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.
Hari semakin sore dan Lula tidak mungkin diam saja dan pasrah. Akhirnya gadis itu pun mengandalkan kemahiran untuk mengcopy apa yang dia bisa ingat dalam waktu beberapa detik saja dan mempraktikkannya langsung pada wajahnya sendiri. Memang hasilnya tidak begitu mendekati seperti yang dia inginkan, tapi sudah terlihat jelas bahwa Lula bersiap secara khusus untuk malam ini.
Lula bahkan sampai terlupa akan Gadis dan mengecek keberadaan maupun keadaannya hari ini. Dia benar-benar terhanyut pada persiapannya malam ini untuk menghadapi pertemuan dengan keluarga Bimo yang diharapkan Lula berjalan lancar dan sempurna.
Pukul lima tepat, setelah mandi dan memakai gaun yang sudah dibelinya tadi, Lula langsung mengulang lagi praktiknya yang sudah dia sempat lakukan dengan bermodalkan video tutorial di YouTube.
“Rasa terima kasih gue yang terbesar hari ini gue persembahkan untuk Gadis pokoknya. Karena ngenalin gue dengan YouTube dan beberapa make up artist super canggih yang bisa gue fotokopi saat ini,” gumam Lula sambil mulai memoles primer yang dia miliki. “Gue harus beliin Gadis cimol deh kayaknya habis ini,” lanjut Lula yang sedang meratakan primer tersebut ke seluruh bagian wajahnya.
Baru saja Lula hendak memakai bedaknya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dari Bimo. Lula langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Ulul, Bimo udah sampai nih. Ulul cepet keluar dong. Biar kita nggak telat,” ucap cowok itu dengan suara terdesak.
“Hah?” Lula langsung terperanjat kaget. “Kok cepet banget sampenya? Mana nggak ngabarin dulu pula,” balas Lula sampai sedikit panik dan mulai mencari tasnya.
“Bukannya Bimo udah bilang ya kalau acaranya sorean? Sebelum magrib Bimo udah bakal jemput Ulul makanya Ulul harus siap sebelum itu.”
Apa iya Bimo mengatakan hal itu? Atau dirinya yang memang lupa karena terlalu sibuk dengan persiapannya untuk malam ini.
“Yah, gimana dong? Dandan Ulul belum kelar nih.”
“Kita udah nggak punya waktu lagi Ulul. Kalau berangkat sekarang dan telat, Mama Bimo bakalan marah nantinya.”
Mendengar itu, Lula tentu saja langsung kecut. Dia berusaha tampil baik malam ini tapi jadi orang yang terlambat? Sama saja bohong.
“Ya, udah tunggu bentar. Ulul lagi cari tas dulu,” ucap Lula kemudian sambil bangun dari depan cerminnya. Sambil memasukkan beberapa perlengkapan sisa seperti bedak, parfum, sisir, dan lainnya, Lula pun bergegas keluar dari kamarnya. Karena dia sedang menggulung poninya, maka Lula pun keluar dengan masih mengenakan satu rol rambut untuk membentuk poninya.
Dengan setengah berlari Lula menuju mobil Bimo yang terparkir persis di depan gerbang. Benar-benar rasanya tak nyaman sekali jika sedang berproses lalu diburu-buru. Seperti sedang mencoba belajar naik sepeda dan diburu-buru agar segera bisa lancar. Kesal pokoknya.
Tapi Lula berusaha untuk mengalah dan segera masuk ke dalam mobil. Tentu saja di dalam mobil, Bimo sudah tampak tak bersahabat. Selain wajahnya nampak lelah, Bimo juga tampak jengkel.
“Buruan masuk,” ucap Bimo dengan nada setengah memaksa. Lula tidak ingin membalas terlebih dahulu dan segera masuk ke dalam mobil. Setelah gadis itu masuk dan pintunya tertutup, Bimo langsung tancap gas tanpa aba-aba. Tentu saja Lula langsung terpekik karena keget.
“Ulul lain kali kalau Bimo cerita tuh didengerin dong. Biar Bimo nggak perlu nunggu kayak gini,” ucap cowok itu dengan raut wajah yang tak enak.
Lula langsung membalas ucapan Bimo tersebut. “Ulul kan juga mesti nyiapin semuanya buat hari ini, Bim. Ya, kalau Ulul lupa sedikit dimaafin dong. Bimo aja kalau lupa waktu terus ninggalin ngobrol sama temen-temennya Ulul nggak pernah semarah ini.”
Bimo melirik Lula sepintas lalu bicara lagi. “Masalahnya ini acara penting orang tua Bimo, Lul.”
Gadis itu masih tidak mau kalah. “Ya, karena Ulul tahu ini acara penting orang tuanya Bimo, Ulul nggak mungkin biasa-biasa aja, kan?!”
Bimo kemudian hanya diams aja dan fokus pada kemudinya. Entah mungkin karena telanjur kesal atau memang tidak ingin terlambat, Bimo pun mengebut untuk bisa sampai kembali ke rumahnya tepat waktu.
Hal tersebut tentu saja membuat Lula histeris dan nyaris jantungan. Mana dia masih harus mengoleskan eye shadow, blush on, dan lipstik pula. Tapi Bimo seakan tak peduli dengan perjuangan Lula berdandan istimewa hari ini untuknya. Bimo juga bahkan tidak berpendapat soal gaun baru yang pasti menimbulkan tanya untuknya. Cowok itu benar-benar fokus pada kemudi dan sepertinya enggan mengajak Lula bicara.
Saat Lula hendak memakai blush on nya, rupanya Bimo sedang mencoba menyalip mobil yang ada di depan. Sayangnya hal tersebut membuat kuah Lula meleset dan malah mengenai matanya.
Begitu terhenti di lampu merah, Lula langsung memukul pelan lengan cowoknya. “Kamu kenapa, sih? Ulul tuh perjuangan banget buat tampil nggak malu-maluin malam ini. Kamu jangan bikin gara-gara dengan nggak nganggep kalau Ulul masih ada di sebelah kamu dan lagi lanjutin dandan dong. Untung tadi kuas yang nyolok ke mata. Gimana kalau jarum?”
Mendengar cerocosan Lula tersebut, akhirnya air muka Bimo pun mengendur dan tidak setegang tadi.
“Ya, Ulul tahu kita udah telat. Tapi tolong hargain Ulul dan usaha Ulul juga dong hari ini,” lanjut gadis itu mulai mengakhiri dandannya dan melepaskan rol rambutnya.
Cowok di sebelah Lula pun tampak menyesal dan segera meminta maaf. “Maafin, Bimo, ya. Karena Mama Bimo orangnya perfeksionis makanya Bimo sempet senewen tadi.”
Lula melipat kedua tangannya dan masih cemberut. “Ulul inget kok Mama nya Bimo orang yang perfeksionis dan penguin semuanya sempurna. Makanya Ulul nggak mungkin ngasih kesan yang jelek di pertemuan pertama secara resmi ini. Tolong pikir juga ke situ dong.”
Bimo mulai menyadari kebenaran dari kalimat Lula dan alasannya kesal. Makanya cowok itu pun mengulang ucapan maafnya sekali lagi.
“Iya, Ulul sayang. Maafin Bimo, ya,” ucap Bimo sambil hendak mengusap rambut Lula tapi si pemilik rambut langsung menghindar dengan wajah yang masih bete.
“Udah ya, jangan ngambek lagi, ya. Biar riasannya nggak rusak dan nanti pas turun kelihatan resep gitu dilihat orang,” sambung Bimo mencoba meluluhkan amarah Lula.
Agar Bimo diam, Lula pun mengiyakan dengan cepat. “Iya, udah. Fokus aja ke jalan. Bentar lagi mau ijo kayaknya.”
Cowok itu menurut namun tetap sesekali menoleh pada gadis di sebelahnya yang tampak masih belum membaik. Mumpung masih lampu merah, Lula pun segera meletakkan kantong berisi peralatan make up nya di jok belakang.