Ketika meletakkan pouch make up nya ke jok belakang, Lula sempat tidak menyadari ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Namun saat dia hendak kembali menghadap ke depan, Lula melihat sebuah kotak. Bukan kotak biasa, sebab tampaknya itu adalah kotak perhiasan.
Gadis itu berpikir bahwa dalam kotak tersebut pasti berisi cincin. Apakah cincin tersebut hendak digunakan Bimo untuk melamarnya? Lula benar-benar tidak bisa berpikir sampai sejauh itu. Tapi jika benar, bagaimana seharusnya reaksi yang diperlihatkan nanti jika sampai Bimo melakukan sebuah proses lamaran terhadapnya?
Saat Lula hendak mengambil kotak tersebut, Bimo malah menancap gas tanpa aba-aba sama sekali dan membuat Lula shock bukan kepalang. Alhasil gadis itu buru-buru kembali ke posisi duduknya semula.
Lula tadinya hendak marah tapi urung karena teringat kotak perhiasan yang sempat dia lihat tadi. Makanya Lula pun akhirnya hanya terdiam namun memendam senyum malu-malu. Bimo sempat menoleh sesaat ke gadis di sebelahnya tapi cowok itu pun tidak bertanya apa-apa.
Sampai akhirnya mereka sampai juga di kediaman Bimo. Ternyata di sana sudah ramai dan parkiran di depan rumah Bimo sudah penuh oleh mobil tamu.
“Udah rame, Lul. Ayo, kita masuk lewat pintu belakang aja,” ajak Bimo yang langsung menggandeng tangan Lula denngan erat.
Lula hanya mengangguk dan mengikuti langkah Bimo berjalan masuk menuju rumahnya. Ketika Bimo dan Lula berhasil masuk ke dalam rumah, Lula sempat menahan keterperangahannya. Bukan hanya karena dekorasi perayaan serta bentuk rumah Bimo yang luar biasa megah. Tapi juga jumlah tamu yang datang.
Meskipun tamu-tamu yang datang didominasi oleh para orang tua angkatan Mama dan Papa Bimo, tapi ada banyak juga anak muda yang datang dan tampak membaur. Mungkin itu adalah anak-anak dari para orang tua yang diundang oleh Papa dan Mama nya Bimo tersebut.
Bimo berusaha mencari kedua orang tuanya untuk memperkenalkan Lula. “Mama sama Papah mana, sih?” ucap Bimo sambil tetap menggandeng tangan Lula di tengah para tamu.
“Mungkin lagi menjamu salah satu tamu istimewa, Bim,” jawab gadis itu sambil ikut melemparkan pandangannya berkeliling. Lula pun masih ingat bagaimana wajah kedua orang tua Bimo tersebut makanya dia ingin membantu.
Setelah berkeliling beberapa saat, akhirnya Bmo tersenyum. “Aaah, itu dia!” ucap Bmo dengan suara lega. “Ternyata benar, Lul. Mama Papa lagi menjamu tamu yang istimewa.”
Lula ikut tersenyum dan ikut melihat ke arah Bimo menunjuk. Namun seketika senyumnya lenyap. Lula malah menyesali kalimat yang diucapkannya sendiri. Kenapa harus juga menyebut tamu istimewa.
Di dekat kue perayaan ulang tahun pernikahan Mama Papa Bimo rupanya orang tua cowok itu sedang mengobrol dengan sangat akrab dan hangat dengan Anindita. Lula mungkin memang cemburu karena melihat keintiman yang terjadi antara kedua orang tua Bimo dan Anindita.
Bimo pun segera menghampiri Mama Papa nya sambil tetap menggandeng Lula. “Mah, Pah,” panggilnya dengan suara riang.
“Eeeeh, dateng juga akhirnya nih si Bimo,” seru Mama nya. Begitu melihat Lula, senyum Mama nya sempat hilang namun kemudian tersenyum lagi. “Oh, ini temen deketnya Bimo itu, ya?! Siapa namanya? Nula?” tanya Mama mencoba mengakrabkan.
Bimo menyenggol lengan Mamanya. “Lula namanya, Mam.” Bimo meralat ucapan sang Mama.
“Oh, iya, maaf, ya. Tante ini orangnya pelupa, Lula,” ucap Mama nya Bimo sambil mencoba akrab.
Lula hanya mengangguk lalu bicara singkat. “Iya, nggak apa-apa, Tante.”
“Terimakasih ya, Lula sudah menyempatkan datang ke acara ini,” ucap Mama nya Bimo kemudian.
Gadis itu mengangguk sambil menampilkan senyuman terbaiknya. “Iya, Tante, sama-sama.”
Bimo pun kemudian menyapa sahabatnya. “Lo udah dateng aja, Dot,” sapa Bimo pada Anindita yang tersenyum lebar.
“Iya dong. Kan gue orang yang mandiri, jadi nggak perlu pake jemputan, gue udah dateng sebelum tamu lain dateng,” ucapnya dengan ringan.
Mendengar itu Lula tentu saja merasa gusar. Maksudnya apa coba dia ngomong seperti ini? Batin Lula dengan dongkol.
“Iya, kan kalau orang dalam gak perlu dijemput udah paham sendiri. Lagian Dita kan bukan orang lain di rumah ini. Dita bisa ke sini kapan aja dan masuk lewat pintu mana saja,” sambung Mama nya Bimo menyanjung Anindita.
Anindita tampak malu-malu mendengar hal tersebut. Sebaliknya, Lula merasa semakin kepanasan.
“Eh, hampir aja lupa. Tante, Om, selamat ulang tahun pernikahan, ya,” ucap Anindita lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangannya. Sebuah amplop entah apa isinya.
Mama Bimo yang menerima amplop tersebut tampak terkejut namun kelihatan sumringah luar biasa.
“Aduh, Dita, ini apaan, sih. Nggak usah repot-repot padahal,” ucap Mama Bimo dengan ekspresi yang seolah dibuat tidak enak.
“Nggak repot kok Tante. Itu cuma tiket pergi pulang ke Jepang aja kok,” ucap Anindita seolah hal tersebut memang bukan hal yang besar. “Oh, ya, kalau Tante sama Om butuh rekomendasi penginapan juga nanti aku bisa bantuin kok,” lanjut gadis itu dengan penuh perhatian.
Dari situ Lula akhirnya tersadar bahwa dia terlupa hal yang sangat penting sama seperti pakaian yang akan dikenakannya. Kado untuk kedua orang tua Bimo. Mengapa Lula bisa sampai lupa sama sekali hal esensial seperti ini?
Harusnya urusan kado juga menjadi prioritas Lula sejak kemarin. Kenapa juga hanya memikirkan masalah penampilan dirinya sendiri saja? Ah, sepertinya Lula tertinggal beberapa skor hari ini.
“Wah, makasih banget ya, Dit,” sambung Papa nya Bimo sambil melirik ke arah isi amplop yang isinya dibuka sedikit oleh Mama Bimo.
“Sama-sama Om. Semoga suka ya sama kadonya,” sahut Anindita dengan ekspresi manis dan apa adanya.
Lula benar-benar ingin mengutuk dirinya sendiri saat ini. Kenapa dia bisa sadar harus berpenampilan menarik dan cantik, tapi bisa lupa membawa kado untuk menambah kesan dari dirinya. Rasanya Lula ingin ditelan hiu saja sekarang agar tak perlu berlama-lama di sini.
Seakan menyadari gadis di sebelahnya sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Bimo pun berbisik. “Kelupaan, ya?!” tanyanya dengan pelan.
Lula mengangkat sedikit wajahnya lalu sedikit tersenyum malu. Dia akhirnya mengangguk samar. Bimo ikut tersenyum lalu meremas tangan Lula yang masih ada digenggamannya.
“Lula juga punya kado lho buat Mama sama Papa,” ujar Bimo dengan suara lantang.
Mama, Papa, Anindita dan tentu saja Lula serentak menoleh ke arah Bimo. Lula seolah mengirimkan sinyal dengan remasan di tangan Bimo, dan cowok itu membalas satu kali lagi genggaman kekasihnya.
Mama dan Papa berpandangan sesaat lalu tersenyum juga dan mengucapkan terimakasih.
“Wah, makasih juga ya, Lula,” ucap Mama Bimo dengan suara senang. Namun tentu saja berbeda jauh dengan suara suka cita yang terdengar saat Anindita memberikan kado untuk mereka.
“Iya, tapi Lula nggak pengin ngasih di tengah publik gini, Mam. Jadi, nanti pas udah agak sepi aja tamu-tamu udah pada pulang baru Lula kasihin kadonya buat Mama sama Papa,” sambung Bimo masih dengan suara riang.
“Wah, surprise kayaknya nih,” ucap Papa dengan nada penasaran.
“Iya dong, Pa. Lagian Lula ini anaknya juga nggak suka ekspose pemberian di depan orang-orang. Biar lebih personal soalnya,” lanjut cowok itu dengan suara santai.
Lula melirik ke arah Bimo yang mengedipkan matanya ke arahnya dan tetap menggenggam mesra tangannya.
“Padahal nggak perlu repot-repot lho, La,” ucap Mama nya Bimo masih dengan nada bicara tak enak.
“Hmm, nggak apa-apa, Tante.” Hanya kalimat itu yang sanggup diucapkan oleh Lula saat ini. Sungguh dia tak terpikirkan apa-apa lagi.
Acara pun berlanjut makin dalam dan makin meriah. Tamu-tamu semakin banyak berdatangan dan Mama Papa Bimo juga sudah berkeliling untuk menyapa yang lain.
Anindita dan Lula pun mau tak mau akhirnya bertatapan dan saling tersenyum. Meski tentu saja senyum Lula pasti tampak kikuk.
“Hei, Lul. You look amazing!” puji Anindita. Entah tulus atau pura-pura. Lula sama sekali sulit berpikir baik saat ini.
“Eh? Hmm, iya, terimakasih,” ucap Lula masih dengan nada bicara yang canggung. “Kamu juga amazing,” sahutnya memuji balik Anindita.
“Tadi macet ya, kayaknya, Lul?!” Anindita tampak berusaha mengakrabkan dirinya lagi pada Lula.
Lula mengangguk. “Iya, sedikit, sih. Yah, maklum soalnya jam pulang kantor juga,” terangnya lagi.
Kemudian hening sesaat diantara mereka. Beberapa menit setelah itu, Mama nya Bimo mendekat dan membawakan Anindita segelas es jeruk.
“Dit, ini diminum, ya. Tante masih inget banget kamu suka es jeruk dari kecil. Diminum ya,” ucap Mama nya Bimo begitu perhatian.
Di situ Lula melongo. Dia memang berharap kalau Mama nya Bimo akan berperilaku sama padanya. Tapi tentu saja harapan hanya bisa jadi harapan sebab saat ini dirinya tidak mungkin mengemis perhatian. Siapa dirinya?
Lula hendak mundur dan mencoba tak terlihat saja namun ada seseorang yang kemudian merangkul lengannya dan membuatnya kaget. Ketika Lula menoleh rupanya Bimo.
“Mam, jangan nyuekin Lula dong. Dia dateng ke sini karena pengin akrab dan deket sama Mama lho,” ucap Bimo sambil mencolek bahu Mama nya.
Mama menoleh dan menyadari di belakangnya Lula tampak agak tertunduk dan putranya sedang merangkulnya.
“Aduh! Iya, maaf ya, Lula. Tante kelupaan lagi,” ucap Mamanya Bimo. Perempuan yang masih tampak sangat cantik itu kemudian mendekati meja hidang dan mengambil dua gelas minuman berbeda warna. “Ini air jeruk sama soda. Tante masih belum tahu yang mana selera Lula. Jadi silakan dipilih saja,”
Sebenarnya Lula tidak begitu suka soda. Setelah mengetahui kandungan gula yang ada di dalamnya dan kerugian yang bisa disebabkan oleh soda pada lambungnya, gadis itu sudah tak pernah lagi meminumnya.
Namun, air jeruk adalah air yang disukai oleh Anindita dan diberikan begitu ceria oleh Mama nya Bimo tanpa instruksi seperti dirinya. Oleh karena itu, Lula memutuskan untuk memilih air soda saja.
“Hmm, yang ini aja Tante. Kayaknya segeran yang ini,” ucap Lula seraya mengambil gelas soda di tangan kanan Mama nya Bimo.
“Ah, tepat banget. Memang air soda bisa menyegarkan banget. Apalagi Tante udah nyuruh ke bartendernya buat tambahin lemon asli sama sedikit daun mint. Tambah fresh deh Tante jamin,” ucap Mama nya Bimo setengah berpromosi.
Lula mengangguk seraya mencoba tetap tersenyum.
“Bimo mau nemenin Om Ridwan dulu ya, Ma. Tolong jangan dicuekin lagi ya Lulanya,” ucap Bimo seraya mengusap bahu Lula dengan sayang.
Mama tersenyum dan mengangguk paham. “Iya, Mama tapi nggak ngeliat Lula soalnya. Makanya cuma ngajak bicara Anindita saja.”
Kembali Lula melongo. Memangnya dirinya sekecil itu atau se-tak kasat mata itu sampai Mama nya Bimo bilang tak melihat keberadaan Lula? Ah, Lula makin tidak mengerti juga dengan Mama nya Bimo ini.
Begitu Bimo pergi meninggalkan mereka lagi, Mama nya Bimo pun mencoba mengakrabkan diri dengan Lula.
“Kita waktu udah beberapa kali ketemu ya, Lula, tapi belum ngobrol agak panjang memang.” Mama Bimo mulai membuka obrolan. “Lula ini berarti satu angkatan sama Bimo di kampus?” tanya Mama nya Lula dengan ramah.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Betul, Tante. Tapi kita beda jurusan aja,” jawabnya tak kalah ramah.
“Eh tapi Lula udah kenal belum sama Anindita?” Mama nya Bimo lalu tersadar juga akan keberadaan Anindita yang tak jauh dari situ.
Mama Bimo mengulurkan tangannya pada Anindita dan gadis itu menerimanya. Lula sama sekali tak mengerti apakah Anindita memang sengaja melakukannya untuk membuat dirinya semakin terbakar atau memang seperti itulah hubungan mereka.
Begitu Anindita sudah ada di samping Mama Bimo, gadis itu tersenyum ke arah Lula dengan senyum manis yang sama seperti di pertemuan pertama mereka dulu.
Lula sempat terpana sesaat. Namun sepintas Lula melihat ada perubahan sedikit dari cara tersenyum Anindita yang kemudian membuatnya kembali tersadar. Gadis di hadapannya ini memiliki perasaan yang lain terhadap Bimo. Tekadnya adalah segera mencari tahu kebenaran dari asumsinya setelah malam itu. Meskipun tidak yakin apakah Bimo juga memiliki perasaan yang sama juga, tapi Lula ingin membuktikan dari sisi Anindita terlebih dahulu.
“Oh, udah kok Tante. Dari pertama kali kenal sama Bimo, Bimo udah sering ceritain tentang Anindita ke Lula. Jadi Lula memang sudah ‘kenal’ Anindita ini jauh sebelum ketemu kayak gini,” tutur Lula jujur.
Anindita lalu bicara pada Mama nya Bimo. “Tante tahu sendiri lah Bimo kayak apa kalau nyeritain aku. Pasti jelek-jeleknya doang. Iya, kan, Lul?!” tanya Anindita pada Lula yang tidak tahu harus direspon seperti apa olehnya.
“Tapi pas Lula sama Bimo ini deket, memang Bimo langsung ngasih tahuin tentang Lula ke aku sih, Tan. Jadi aku juga udah kenal sama Lula jauh sebelum ketemu. Anaknya manis, Tan. Aku langsung suka banget sama pilihan anak Tante ini.”
Kenapa kamu yang harus suka atau nggak suka? Kan, yang pacaran Bimo. Kayaknya Bimo nggak perlu permisi siapa-siapa sebab dirinya pun single. Kenapa Anindita jadi percaya diri berlebihan seperti ini? Atau memang sejak awal dia begitu? Hanya Lula tak menyadarinya saja.
“Iya, Tante tahu sih,” sahut Mama nya seolah memahami hal tersebut. “Lul, Tante mau bilang ini ke kamu siapa tahu Bimo belum menyampaikan, ya, Biar tidak salah paham juga. Jadi, Anindita ini udah sahabatan sama Bimo dari kecil. Karena dulnya, rumah Anindita itu persis di samping rumah kami. Jadi akrab lah gitu. Makanya, Tante harap Lula jangan cemburu, ya. Karena mereka memang akrab dari dulu.”
Memang tidak wajar sih kalau akrabnya sampai seperti itu. Tapi Lula masih belum menemukan kesalahan atau kekurangan dari keakraban yang terjalin antara Bimo dan Anindita. Meskipun dia sudah merasakan ada sesuatu yang ganjil dan berbeda, namun itu belum bisa jadi salah satu landasan kuat untuk menyetop Bimo agar tidak berhubungan dengan Anindita.
Terlebih, sejak pertemuan pertamanya dengan Anindita malam itu, Lula pun rasanya tidak mendengar Bimo menyinggung soal gadis ini sama sekali. Entah apakah karena Bimo menyadari bahwa Lula mulai tak nyaman dengan Anindita atau Bimo memang sengaja membatasi informasi tentang gadis itu.
Sebenarnya Lula menyadari untuk bertanya. Namun Lula seakan terlupa. Hari ini dia memiliki alasan untuk bertanya nanti pada Bimo mengapa cowok itu jarang lagi bercerita tentang Anindita. Sekaligus Lula ingin memastikan bagaimana kah hubungan mereka yang sebenarnya.