Hari ini Lula punya alasan kuat untuk terus memperhatikan Bimo maupun Anindita hingga akhir. Bukan dia tidak percaya atau meragukan kemurnian dari laki-laki dan perempuan yang bersahabat. Meskipun dia tahu ada juga yang benar-benar tulus. Namun antara Bimo dan Anindita sepertinya tidak sesederhana itu. Entah apakah karena Anindita atau Bimo masih sama-sama tidak menyadarinya. Atau salah satunya ada yang sudah menyadari namun hanya bisa menyembunyikan. Atau bisa jadi keduanya masing-masing memang menyadari namun ada keengganan untuk mengaku. Hal yang satu ini lah yang tidak Lula tahu.
Karena sudah mendengar Mama Bimo langsung yang mengatakan untuk tidak cemburu. Sebenarnya Lula ingin frontal, tapi hal tersebut rasanya kurang baik untuk pertemuan pertama ini. Makanya Lula pun mencoba mengontrol diri untuk tidak kelepasan frontal di depan Mama nya Bimo, meskipun sangat ingin.
“Oh, ya, Tante. Lula nggak apa-apa kok,” sahut Lula dengan ekspresi manis, yang semoga tidak nampak terpaksa saat ini di hadapan Mama nya Bimo dan Anindita.
Mama Bimo tersenyum maklum dan mengusap punggung Lula juga. Sungguh suasana yang sangat canggung dan sulit Lula jelaskan. Jika tidak ingat bahwa dirinya harus menajamkan pandangan serta pendengarannya terhadap interaksi Bimo dan Anindita, serta menarik perhatian dari orang tua Bimo, Lula rasanya tidak ingin berlama-lama di sini.
Tak terasa acara puncak pun dimulai. MC memberitahukan para tamu spesial dan Mama Papa Bimo untuk bersiap sebab pemotongan kue akan segera dilaksanakan. Mama Bimo mengajak Anindita mendekat, barulah pada Lula. Gadis itu masih mencoba menahan dan hanya mengangguk seraya tersenyum.
Setelah memberikan beberapa sambutan, acara doa untuk kelanggengan rumah tangga serta cinta kasih kedua orang tua Bimo, sampailah pada acara yang mungkin sudah sangat dinantikan. Yakni acara pemotongan kue.
“Ya, setelah kue nya dipotong, Tante Bian boleh ngasih ke orang paling spesial di hidup Tante Bian yaitu Om Brody. Nah, buat potongan kue berikutnya Tante Bian bisa kasih ke orang yang paling spesial lainnya,” ucap MC tersebut dengan riang.
Potongan pertama langsung diberikan Mama nya Bimo pada sang suami dengan ekspresi agak malu-malu. Siulan dan celetukan menggoda langsung terdengar di penjuru ruangan.
Kemudian potongan kue yang kedua, Lula pikir akan diberikan pada Bimo. Namun ternyata tidak. Potongan kue tersebut langsung diberikan Mama Bimo pada… Anindita.
Gadis bertubuh tinggi langsing itu nampak terkejut, tapi juga sepertinya tidak. Gadis itu sepertinya menyadari dan tahu bahwa dia begitu istimewa di rumah ini. Makanya Mama nya Bimo memperlakukan dirinya seperti itu pun, Anindita nampak siap dan biasa saja.
Di situ, kecemburuan berikutnya terbit di hati Lula. Padahal sudah Lula katakan pada dirinya sendiri untuk tidak menyimpan perasaan tersebut, apalagi pada Anindita. Namun tidak bisa. Cemburu itu tetap tercipta dan mungkin kali ini dia akan sulit menyembunyikan ekspresi wajahnya.
MC pun bertanya mengapa Mama Bimo memberikan potongan kue kedua pada Anindita. Seakan belum cukup kecemburuan yang terbit di hati Lula, Mama Bimo kemudian meminjam mikrofon dan mulai bicara.
“Terimakasih saya ucapkan sekali lagi pada semua yang sudah datang. Alasan saya memberikan kue ini sama gadis ini adalah karena sejak kecil dia lah yang menemani dan mendampingi anak bungsu saya, Bimo. Apalagi dulu Bimo sulit sekali bicara. Tapi semenjak berteman dengan Anindita ini, Bimo jadi aktif dan akhirnya tak takut untuk berekspresi. Jadi, karena hal itu lah saya merasa Anindita ini juga istimewa untuk saya,” tutur Mama Bimo dengan ekspresi penuh kasih sembari memandang Anindita.
Apakah ucapan yang menyakitkan dari Mama nya Bimo selesai? Tentu saja belum. Sebab Mama Bimo masih melanjutkan kalimatnya setelah itu.
“Saya pikir persahabatan antara Bimo dan Anindita ini bakalan langgeng sampai akhirnya mereka pacaran secara. Tapi sangat disayangkan Anindita terpaksa pindah saat mereka mau masuk SMP. Saya sempet melihat Bimo murung sekali saat Anindita, sahabat terbaiknya ini, pergi ke luar negeri. Tapi sepertinya anak laki-laki saya memang sudah dewasa, makanya dia cepat move on dan melanjutkan hari-harinya lagi.”
Entah Mama nya Bimo ini sengaja atau sebaliknya, tapi Lulu tetap merasakan panas dan gerah datang bersamaan menjalari tubuhnya.
Lula pun perlahan menundukkan pandangannya agar tidak memperparah rasa sakit hatinya atas apa yang diucapkan oleh Mama nya Bimo. Mungkin tepat saat itu lah Mama nya Bimo tersadar akan keberadaan Lula di sana. Akhirnya Mama nya Bimo segera meralat ucapannya.
“Tapi yang namanya jodoh siapa yang tahu. Sekarang anak saya sudah punya pacar yang manis dan perhatian. Namanya Lula dan saya rasa kok mereka ini cocok satu sama lain,” ucap Mama Bimo dengan nada yang dibuat seolah lega dan bersyukur.
Masalahnya, Lula sudah tidak berselera untuk mempercayai apapun yang diucapkan oleh Mama nya Bimo ini. Lula sungguh tidak bisa menemukan ketulusan atau perhatian yang murni dari ucapan Mama Bimo barusan. Lula pun tak bisa menemukan alasan untuknya tegar kali ini karena Bimo tak ada didekatnya untuk menguatkannya. Akhirnya yang dapat dilakukan oleh Lula sepanjang acara hanya diam saja.
Mungkin karena sudah telanjur membuat Lula merasa terasingkan, akhirnya Mama Bimo menyerahkan potongan kue ketiga untuk Lula. Meski begitu Lula tetap menerima lepek plastik yang diberikan oleh Mama Bimo padanya.
“Terimakasih yang Tante,” ucap Lula dengan ekspresi yang coba dibuat dengan bahagia.
“Iya, sayang, sama-sama,” balas Mama Bimo dengan ekspresi manis.
Sepanjang acara tersebut Lula berusaha menjauh dan menarik diri. Namun ketika akhirnya dia semakin mundur, seseorang menahan tangannya. Lula menoleh dan Anindita tampak tersenyum.
Refleks Lula melepaskan tangan Anindita tersebut dan menunduk. “Maaf, aku kaget,” ucapnya sambil menunduk.
“Iya, nggak apa, Lul. Aku juga kayaknya ngagetin kamu, ya, barusan.” Anindita tampak tidak enak.
“It’s okay,” balas Lula lalu hendak mau pergi, namun Anindita bertanya.
“Kamu baik-baik aja, Lul? Wajah kamu kelihatan pucat deh. Kamu nggak sakit, kan?!”
Lula menggelengkan kepalanya lalu mencoba tersenyum. “Nggak kok, aku nggak apa-apa. Cuma mau ke toilet sebentar. Maaf kamu tahun toiletnya di mana?” tanya Lula sambil mengangkat sedikit wajahnya.
Anindita lalu menunjuk ke arah di belakang Lula. “Mentok belok kiri, Lul,” ucapnya menjelaskan.
Lula mengangguk lalu bergegas ke arah yang ditunjukkan oleh Anindita tersebut. Di dalam kamar mandi, sepertinya Lula tak bisa lagi membendung air matanya. Tangisan pun mengalir tanpa bisa dia cegah. Bagaimana caranya agar tak terlalu tampak kalau dirinya baru saja menangis? Peralatan make-upnya ada di mobil. Dia tak bisa menutupi dengan bedak atau concealer.
Akhirnya yang bisa Lula lakukan adalah membasahi tisu dengan sedikit air dan meratakan dandanannya sekali lagi. Lula menghela napas dalam dan mengatur agar tak terlihat kalau belum lama ini dia menangis. Semoga saat keluar matanya tidak terlihat merah.
Ah, tapi siapa juga yang akan memperhatikannya? Di sini tak ada orang yang mengenalnya sama sekali. Berbeda dengan Anindita. Lula memandang dirinya sendiri di depan cermin. Semua usahanya yang sudah diupayakannya sejak siang tadi seolah tak ada apa-apanya dibandingkan Anindita saat ini.
Mungkin Lula memang tidak perlu berusaha sekeras ini untuk perhatian itu? Mungkin seharusnya Lula tidak perlu ngotot untuk tampil berbeda karena pada akhirnya dia akan tetap kalah jauh dari langkah yang sudah diambil Anindita sejak awal. Dirinya berada di jalur yang berbeda saat ini. Jadi sangat salah jika Lula memaksakan lagi untuk memperoleh perhatian dengan cara seperti ini.
Lula membuang tisu yang masih digenggamnya lalu saat keluar dari toilet, Bimo sudah berdiri di depan pintu toilet. Saat memandangnya, Lula tak mengatakan apa-apa. Tapi Bimo tersenyum dan tangannya terulur. Diusapnya lembut pipi Lula.
“Maafin ucapan Mamaku, ya, Lul,” ucap Bimo pelan.
Mendengarkan Bimo berucap itu tentu saja Lula merasa sedih lagi. Dia ingin menangis lagi namun dia tahan. Bimo lalu memeluknya.
“Ulul tunggu di kamar Bimo aja, ya. Biar Bimo di sini bantu beres-beres dulu. Sebentar lagi acaranya selesai kok. Nanti habis itu Bimo anterin Ulul pulang.”
Lula hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan tanpa bersuara sama sekali. Bimo pun menggandeng tangan Lula menuju kamarnya di lantai atas. Ada seseorang yang menyadari Bimo mengajak Lula ke lantai dua. Seseorang itu memandang mereka dengan pandangan datar.
Begitu sampai di depan kamar Bimo, cowok itu melepaskan tangan Lula namun segera mengusap kedua bahu Lula.
“Tunggu di sini aja ya, Ulul nya. Setengah jam lagi pestanya kelar kok.”
Lula kemudian bicara. “Nggak apa-apa Ulul di sini dan nggak di bawah?”
“Nggak apa-apa. Kan Bimo nggak ikut ada di kamar. Kalau Bimo ikut ke dalam baru bahaya,” ucap cowok itu sengaja menggoda Lula.
Namun Lula memang sedang tak bisa digoda dengan cara apapun. Akhirnya dia hanya tersenyum tipis saja dan meninju pelan d**a Bimo.
“Ya, udah. Ulul masuk dulu ke kamar Bimo, biar Bimo ke bawah nemenin bubaran pesta dulu.”
Gadis itu menganggukan kepalanya. Sebelum Bimo pergi, cowok itu mencium punggung tangan Lula dengan sayang.
“Nanti kita ngobrol, ya. Pas Bimo anter Ulul pulang,” ucap cowok itu.
Lula mengangguk lagi. Kali ini dengan senyum yang agak lebih bersemangat.
“Nah, gitu dong. Kalau senyumannya lebaran dikit kayak gini imut banget jadinya,” puji Bimo sambil mencolek hidung perempuannya.
“Udah gih sana ke bawah nanti dicariin Mama nya Bimo,” sahut Lula sambil mendorong pelan Bimo.
“Ya, udah. Bimo tinggal dulu. Jangan kaget ya lihat kamar nya Bimo. Agak berantakan soalnya,” ujar Bimo sebelum pergi. Lula hanya mengangguk. “Oh, ya?!” Bimo seakan tersadar akan sesuatu. Dipandanginya lalu Lula dengan senyum tertahan.
“Kenapa?” tanya Lula penasaran.
“Ulul cewek pertama setelah Mama yang masuk ke kamar Bimo lho,” ucapnya dengan ekspresi agak salah tingkah.
Jujur saja Lula bingung harus bereaksi apa. Namun Bimo kemudian segera balik badan dan meninggalkan Lula yang masih mencerna ucapan Bimo tadi.
Gadis itu kemudian menurunkan handel pintu kamar Bimo dan masuk ke dalamnya.
Saat Lula ada di kamar Bimo, Lula sempat tercengang. “Hah? Kalau begini dibilang berantakan, kamar gue apaan dong? Tempat pembuangan sampah?” ucap Lula sambil memperhatikan kamar Bimo dengan sedikit keterperangahan yang luar biasa.
Lula akhirnya tersadar bahwa ada perbedaan mendasar tentang pemahaman berantakan, sederhana atau kecil antara Bimo dan dirinya. Jadi jika Lula bilang kecil, belum tentu kecil yang dipahami Bimo juga sama. Ya, karena perbedaan latar belakang antara keduanya.
Belum tuntas keterperangahan Lula dengan ukuran kamar dan dekorasi yang disebut ‘berantakan’ oleh Bimo tersebut, tiba-tiba Lula kaget dengan ukuran kamar mandinya yang tiga kali lebih besar dari kamar mandi di kosnya.
“Gue rasa gue bisa bikin dua kamar lagi ini di sini,” decak Lula dengan ekspresi tak percaya.
Setelah puas kaget dengan semua yang ada di kamar Bimo, Lula pun duduk di tepi tempat tidur cowok nya tersebut. Dalam diamnya, Lula kembali terngiang apa yang diucapkan Bimo tadi.
“Emang iya gitu gue jadi cewek pertama masuk ke sini?” tanya Lula pada dirinya sendiri. “Apa itu cuma biar gue kagak sedih lagi? Atau cuma buat ngelapangin hati gue doang karena nyokapnya gituin gue.” Lula berpikir sendiri mencari jawaban atas apa yang diucapkan Bimo tersebut.
Benar saja apa yang diucapkan Bimo. Dalam tiga puluh menit berikutnya Bimo mengetuk kamarnya dan menyembulkan kepalanya di ambang pintu.
“Ulul!” panggilnya dengan mesra.
Lula tersenyum dan melambaikan tangannya pada Bimo agar masuk.
Bimo pun masuk ke kamarnya namun membiarkan pintunya terbuka sedikit. “Takut Ulul teriak karena mikir Bimo mau ngapa-ngapain. Jadi pintunya dikasih celah dikit, ya.” Bimo menjelaskan mengapa dia melakukan hal tersebut sebelum Lula pinta.
Tak sadar Lula pun tersenyum geli dan menggelengkan kepalanya. “Bimo suka aneh-aneh aja deh. Ulul nggak mikir apa-apa juga,” ucap Lula tak habis pikir.
Bimo hanya menyeringai geli lalu duduk di samping Lula. “Gimana perasaan Ulul sekarang? Udah enakan?” tanyanya sambil memandang wajah gadis di sampingnya itu. “Ulul boleh cerita ke Bimo apa yang Ulul rasain sekarang.”
Lula menganggukan kepalanya. “Iya, Ulul tahu. Tapi kayaknya lagi ngerasain aja nih perasaan yang nggak enak tadi,” balasnya sambil mengusap dadanya sendiri.
“Bimo juga kaget sih, Mama Bimo bisa ngomong begitu. Di hadapan orang-orang pula,” sahut Bimo dengan raut muka kecewa. “Tapi Bimo bilang ke Ulul ya nggak usah terlalu dimasukin ke hati apapun yang Mama Bimo bilang tadi. Mama nggak tahu apa-apa soal kita, dan mungkin itu salah Bimo juga. Jadi, Bimo mau minta maaf juga ke Ulul soal itu.”
Sebenarnya Lula merasa cukup lega karena Bimo memberikannya penjelasan atas apa yang sudah Mama nya ucapkan tadi. Setidaknya Bimo berada di pihaknya dan merasa apa yang dikatakan Mama nya tersebut berlebihan. Tapi apakah pas jika dia bertanya soal dirinya dan Anindita di sini?
Ah, sepertinya dia tunda saja. Toh, nanti dia akan diantar pulang lagi oleh Bimo. Dia akan lebih leluasa berbicara dengan kekasihnya ini.
Tapi apakah sebaiknya Lula memberikan sedikit gambaran pada Bimo tentang apa yang hendak dia katakan nanti. Ibarat makan, Lula berikan dulu dessertnya sekarang jadi biar nanti main coursenya dalam perjalanan.
“Hmm, iya, Bim. Cuma sebenarnya ada yang ngeganjel saat ini di hati Ulul. Dan rasanya nggak pengin Ulul pendem lebih lama. Ja—…”
Pintu kamar Bimo diketuk. Ketika Lula dan Bimo menoleh ke asal suara, rupanya Anindita sudah berdiri di ambang pintu.
“Bim, lo dipanggil nyokap lo tuh,” ucapnya dengan nada santai. “Kamu udah baikan, Lul?” tanya Anindita pada Anindita.
Lula pun menggelengkan kepalanya. “Aku nggak kenapa-kenapa, sih,” sahutnya dengan nada datar.
“Kayaknya nggak mungkin deh. Soalnya tadi tuh muka kamu pucat. Makanya aku segera cari Bimo buat bawa kamu keluar dari kerumunan. Eh, sama Bimo malah dibawa ke sini.”
Kedua mata Lula menyipit. Tunggu! Jadi Bimo tahu tentang kondisinya dari laporan Anindita? Jadi, bukan karena Bimo yang memang sengaja mencarinya dan menyadari ketidakberesan darinya?
“Tapi ya aku lega kalau kamu nggak kenapa-kenapa,” sambung Anindita lalu beralih pada Bimo. “Buruan Bim, nyokap lo udah nyariin lo dari tadi.”
Anindita kemudian pergi meninggalkan Bimo dan Lula yang makin merasa seperti orang yang paling tidak mengerti apa-apa. Akhirnya Lula pun tak bisa lagi menahan diri untuk bertanya.
“Pas tadi Mama nya Bimo ngomong soal Anindita dan masa kecil kalian, Bimo ada di mana sih?!” tanya Lula kemudian.
Bima menoleh dan tidak langsung menjawab apa yang ditanyakan oleh Lula tersebut.