When Pacar You Orang yang ‘Nggak Enakan’

1397 Words
Keesokan harinya Lula diminta oleh Gadis, sahabatnya, untuk menemaninya kasting iklan pemutih wajah. Obsesinya untuk menjadi model iklan top memang tidak main-main. Berkali-kali Lula diminta oleh Gadis menjadi penasihat pribadinya untuk mengomentari aktingnya dalam mengiklankan berbagai produk sebelum dia mendaftar untuk kasting. Mulai dari iklan kecap, genteng kualitas super, wajan anti lengken, hingga kapur ajaib. Semuanya sudah pernah dicoba Gadis walau hasilnya belum ada yang memuaskan. “Lo tahu info kasting di PH ini darimana, sih, Dis?” tanya Lula saat sedang menemani Gadis dandan. “Ya, usaha dong. Cari info sana-sini juga,” jawab Gadis sambil tetap bedakan. “Habis kalau iklan yang di koran atau majalah suka hoax gitu, sih.” “Ooh.” Mulut Lula membulat. “Kenapa, ya, Dis, hidup kadang tidak sesuai dengan keinginan kita? Kita kadang harus menelan pil pahit, padahal kita usaha keras untuk membuat segala sesuatunya menjadi sama indahnya seperti fairy tale.” “Kalo semuanya indah, hidup manusia jadi monoton dong,” sahut Gadis masih sibuk bedakan.  “Ya, tapi bedanya bisa jauh banget begitu lho. Gue ampe sekarang nggak ngerti deh, kenapa membuat hidup seperti yang ada di cerita Walt Disney itu susah banget, ya?” Usaha Lula untuk meminta dukungan Gadis sebetulnya agak sia-sia saja. Bila sedang berdandan, apalagi untuk kasting iklan, Gadis bisa bertransformasi menjadi cewek yang super menyebalkan. Cuma Lula sendiri memang sedang butuh pertolongan. Makanya meski sadar dia dicuekin oleh Gadis, tapi Lula masih saja terus bicara. “Hmm, lo tuntasin aja dulu deh nempelin bedak itu ke muka lo,” kata Lula lalu merogoh ponsel di saku celana jinsnya. Dia langsung membuka Path dan mendapati foto Anindita. Anindita adalah sahabat Bimo dari kecil yang kini bermukim di Australia. Sebetulnya Lula belum pernah sekalipun bertemu dengan Anindita, tapi selama mereka kontakan via SMS, telepon atau Skype, Lula sudah bisa menangkap kesan bahwa gadis itu merupakan sosok yang menyenangkan. Dari sana jugalah, Lula kemudian jadi akrab dan sering sekali curhat pada Anindita tentang Bimo. Di Path Didot, terdapat fotonya yang sedang berada di pantai mengenakan bikini super seksi yang menunjukan kulit putih dan bentuk tubuhnya yang membuat iri. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Lulu sempat heran. Kenapa ada cewek yang bisa sesempurna dia, ya. Dengan begitu ceria Didot tampak berpose dengan seekor anjing. Lula memberi ‘Love’ pada foto Didot tersebut.  “Kalo gue cowok, gue pasti udah naksir sama nih cewek. Udah cantik, bodinya oke, ngobrol apa aja sama dia nyambung. Orangnya juga fun banget. Huh. Gue heran, masa Bimo nggak pernah naksir dia, ya?” “Siapa yang lo maksud?” tanya Gadis. “Ini lho, sohibnya Bimo yang namanya Didot, eh, Anindita dink, maksudnya. Menurut gue, sebagai cewek dia perfect banget.” “Se-perfect apa memang dia?” “Dia pinter, ngobrol apa aja sama dia udah pasti nyambung. Pengetahuannya itu luas banget. Udah gitu dia cantik, kulitnya putih mulus, ya, paling tidak itu yang gue liat di foto dan pas Skype-an sama dia. Ck, perfect banget deh dia tuh.” Lula lalu menoleh pada Gadis dan langsung terlonjak kaget. “Astaga, Dis! Lo bikin gue takut. Lo ngabisin bedaknya sekaligus, apa?” Gadis tersenyum lebar. “Putih amat muka lo. Nggak salah nih make-up-nya?” “Ya, nggak dong. Ini kan iklan pemutih wajah. Makanya harus putih.” Gadis menerangkan. “Memang lo jadi yang Before apa After-nya, sih?” tanya Lula meledek. Gadis tertawa maksa. “Ya, After dong. Kalo Before-nya begini, gimana After-nya coba?” gadis itu langsung membereskan peralatan make-up-nya. “Gue udah bisa mikir dengan jernih nih, silakan cerita. Kemarin itu ada kejadian apa di TIM sampe lo keki sama Bimo?” “Ya, itu, Dis. Gue ngerasa susah banget nyiptain momen romantis sama Bimo? Masa, ya, seharian kemarin Bimo nguji kesabaran gue banget. Pertama sebelum gue dan dia berangkat ke TIM. Dia berusaha untuk menggagalkan rencana nonton pertunjukan dengan alasan dia banyak tugas dari dosen. Tapi lo tahu gue, kan, tentu aja gue nggak akan ngebiarin Bimo menggagalkan apa yang udah gue persiapkan dengan matang. Jadi usahanya dia berhasil gue gagalkan. Itu soal pertama.” Lula menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. “Terus yang kedua, pas udah berangkat dan tinggal masuk ke gedung pertunjukannya. Bimo minta izin ke toilet karena dia kebelet. Namanya juga panggilan alam, nggak mungkin, kan, gue larang, makanya gue biarin. Tapi lo tau apa yang kemudian terjadi setelah gue biarin dia ke toilet, dia nggak kembali setelah tiga puluh menit gue udah di dalem teater nonton sendiri. “ Gadis berdecak prihatin. “Kasian banget lo, Lul. Terus si Bimo kemana, ke toilet ampe tiga puluh menit begitu? Nguras bak mandinya apa gimana? Eh! Toilet di mall kan kagak pake bak, ya?!” gadis itu malah bergumam sendiri.  “Dia ketemu sama temen-temen SMA-nya dan malah ngobrol panjang lebar sama mereka dan melupakan gue di dalam teater.” “Waduh, iya, bener. Lo pasti sangat kasihan kemarin itu. Terus apa yang diobrolin sama Bimo dkk ampe ngelupain lo tiga puluh menit lamanya?” “Mana gue tahu. Lo pikir gue masih tertarik buat tau apa yang mereka obrolin gitu?” tanya Lula jadi sebal. “Ya, siapa tau lo sempet nanya.” Gadis kemudian mulai menganalisa. “Kalo menurut gue, ya, Lul, Bimo seperti itu karena nggak enakan sama temen. Dia orang yang nggak tegaan menolak ajakan mereka. Bimo juga kayaknya lebih sering main daripada belajar.” Gadis menatap wajah Lulu yang sangat penasaran dengan apa yang akan diucapkan selanjutnya. “Menurut gue, lo bisa kasih tahuin dia untuk bikin jadwal deh biar lebih disiplin sama waktu.”  “Halah, lo ini lho. Emangnya gue nggak usaha buat Bimo lebih disiplin apa? Gue udah pernah bikin dia jadwal belajar dan juga jadwal pacaran. Tapi boro-boro diturutin, dibaca aja nggak kayaknya.” Gadis meletakkan telunjuknya di depan bibir. Dia mulai berpikir. “Gimana kalo lo pake score aja mulai sekarang? Maksudnya keeping score gitu lho.” Wajah Lula malah kelihatan seperti orang b**o. Gadis mengerti, Lula pasti tidak paham apa yang dia bicarakan ini. “Jadi gini, lho, Lul, gue pernah baca artikel di majalah apa gitu, ya, lupa juga judulnya. Tapi di artikel itu ada cara untuk keeping score ke pasangan. Menurut beberapa pakar asmara, cara itu cukup efektif. Jadi tiap masing-masing kalian bikin salah, kalian dikasih poin. Terus yang poin salahnya paling banyak, maka pada akhir bulan dia akan diberi hukuman.” Lula kelihatan merenungkan info yang barusan dia dapatkan dari Gadis. Tidak ada salahnya juga untuk dicoba.  “Hmm, apa mesti gue lakuin, ya? Kedengarannya, sih, menarik memang. Tapi memang nggak ada salahnya juga, sih buat dicoba.” Gadis tersenyum lalu mengangguk setuju. “Gue akan coba bilang ke Bimo tentang peraturan ini ke Bimo deh.” “Ya, memang harus lo bilang ke dia.” “Thanks, ya, Dis, atas saran lo.” “Lakuin aja dulu. Kalo udah berhasil, maka lo boleh ngucapin terima kasih ke gue dengan traktir gue makan bento. Hahaha,” ucap Gadis diiringi tawa bahagia. “Huh!” Lula langsung manyun. Mbak panitia lalu memanggil nama Gadis. “Mbak Gadis, silakan,” katanya.  Gadis tersenyum. “Nama gue dipanggil nih. Gue casting dulu, ya, Lul.” “Iya, gih! Best of luck, ya.” Lula mengacungkan kedua jempolnya sebelum Gadis pergi ke ruangan yang sudah ditunjukkan oleh panitia.  Gadis lalu mendekat ke lokasi pengambilan gambar namun si mbak panitia yang memanggilnya tadi malah menjerit kaget melihat wajah Gadis. Lula sampai mendekat karena ingin tahu apa yang terjadi. “Wajah mbak kenapa putih banget begitu? Make up-nya nggak perlu setebal itu padahal.” “Lho, bukannya saya memang harus berdandan seperti ini, ya, mbak? Ini iklan pemutih wajah, kan?!” Gadis mencoba memastikan. Dia lalu menoleh pada Lula meminta dukungan. Sahabatnya itu mengangguk-angguk membantu keterangan Gadis. Mbak panitia tadi hanya meringis. Dia lalu melemparkan pandangan ke arah kiri. Gadis dan Lulu mengikuti pandangan mbak panitia itu dan langsung lesu. Ada dua orang ibu-ibu yang sudah siap beradegan dengan baju putih kotor di tangan mereka. Di samping ember di depan mereka terdapat botol pemutih baju bertuliskan ‘White Klin-Pemutih Serba Guna’. “Mbak nanti akan beradegan bersama dua ibu disana mengiklankan pemutih baju terbaru dari klien kami.” “Hah?” Sepasang mata Gadis langsung terbelalak lebar. Sementara Lulu tak bisa menyembunyikan tawa gelinya lagi. Gadis hanya bisa pasrah membiarkan Lulu menuntaskan tawanya sepanjang perjalanan pulang. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD