Trying to be 'a good boyfriend'

1301 Words
Segala hal yang diucapkan oleh Gadis kemarin langsung ingin Lula praktekkan pada Bimo. Dia sangat ingin membuat cowoknya itu menjadi lebih romantis dan pengertian terhadapnya. Sejauh ini, apapun yang dilakukan oleh Lula untuk membuat Bimo jadi lebih sweet selalu saja tidak mempan. Makanya, meskipun ide-ide Gadis lebih sering ngaco, tapi ide kali ini terdengar sangat meyakinkan.  Langkah pertama yang dilakukan oleh Lula adalah meminta Bimo untuk menjemputnya dan berangkat bareng ke kampus. “Apa? Jemput?” tanya Bimo terperangah. Ponsel di tangannya hampir lepas saking shock-nya. “Iya. Memangnya kenapa?” Lula balik tanya dengan nada bingung. Bimo menggaruk-garuk punggung ponselnya.  “Ya, nggak papa, sih. Cuma biasanya Ulul, kan, berangkat sendiri ke kampus. Kenapa sekarang minta dijemput?” suara Bimo terdengar heran. “Tapi mulai sekarang Ulul penginnya kita berangkat bareng ke kampus. Kan, kita satu kampus dan satu fakultas juga.” Suara Lula terdengar begitu riang. “Lagian kenapa kamu pake nanya kenapa sekarang aku minta dijemput? Kamu nggak pengin jemput aku?” Lula bersungut-sungut. “Ya, nggak lah, Lul. Sekarang aku kesana jemput kamu, okay?” “Okay.” Telepon langsung terputus. Tak lama kemudian mobil Bimo berhenti di depan kosan Lula. Gadis yang hari itu mengenakan terusan warna pastel dan dipermanis dengan jaket jins langsung sumringah. Apalagi ketika Bimo sengaja turun untuk membukakan pintu. Dengan malu-malu Lula masuk dan tersenyum rikuh.  “Udah siap?” tanya Bimo setelah kembali ke balik kemudi. Lula mengangguk. “Yuk, berangkat!” Di dalam mobil Lula mulai membuka pembicaraan. “Kamu lihat fotonya Anindita nggak yang di post di Path?” “Belum tuh. Foto apaan, sih?” tanya Bimo tetap fokus pada kemudi. “Foto dia di pantai sama anjingnya gitu. Eh, nggak tahu, sih, itu anjingnya apa bukan.” “Terus?” “Ya, nggak terus-terus. Cuma lucu aja deh liat dia,” kata Lula lalu tertawa. “Eh, suruh dia liburan ke Jakarta dong.” “Eh, keingetan kamu ngomong begini. Beberapa hari yang lalu, Si Anindita bilang dia memang mau ke Jakarta dalam waktu dekat ini.” “Hah? Seriusan? Kamu bukan lagi ngebecandain aku, kan?!” Lula tanpa sadar terlonjak dari jok. Dia kemudian bertepuk tangan sendiri. “Iih, aku seneng banget deh dengernya. Jadi nggak sabar aku pengin ketemu dan ngeliat dia.” “Lebay, ah,” komen Bimo yang melirik jahil. “Ye, beneran. Secara aku belum pernah ketemu dan ngobrol langsung sama dia.”  Bimo hanya mengangguk-angguk. Lula jadi ingat bahwa ini saatnya dia membicarakan soal keeping score yang disarankan Gadis kemarin. “Bimo sayang, aku punya ide deh. Gimana kalo kita meng-upgrade sistem pacaran kita. Supaya kita nggak bosen, gitu. Siapa bisa jadi lebih greget dan nyaman setelah kita upgrade kualitas hubungan kita.” Cowok itu langsung menelan ludah sulit. Untuk urusan pengaturan sistem, Lulu memang ahlinya. Tapi pihak yang lebih sering harus menerima atas usulan tersebut pastilah dirinya. Bukan tidak bisa protes, namun gadisnya itu selalu memiliki cara untuk membuat Bimo tidak melakukan aksi protes.  “Ya, udah, kita bikin peraturannya sekarang.” Bimo akhirnya setuju juga. Meskipun dalam hati berkata sebaliknya. “Okay. Kita mulai dari yang boleh dan nggak boleh dilakukan, ya. Contohnya, misalnya salah satu diantara kita ada yang lagi bete, maka tugas yang lain adalah menghiburnya hingga betenya hilang. Gimana? Bimo setuju dong?!” Bimo pun mempertimbangkan rules baru mereka. Setelah berpikir agak lama, Bimo pun akhirnya setuju dengan ide yang dilemparkan oleh Lula. Tidak ada salahnya juga untuk dipraktikkan. Siapa tahu semuanya jadi bisa lebih greget, seperti istilah yang diungkap Lula barusan. * Masih di hari yang sama, pada saat jam istirahat, Lula mendatangi kelas Bimo. Namun dari kejauhan tampak cowok itu sedang berjalan ke arah lapangan. Dari kostum yang digunakan, nampaknya Bimo akan main futsal bersama teman-temannya. Sebelum cowok ini pergi tanpa melihatnya lebih dulu, Lula kemudian memanggil nama Bimo seraya melambaikan tangan. “Bimo! Bimo! Bimo!” Sebelum menoleh untuk memastikan siapa gerangan yang memanggilnya, Bimo sudah menepuk jidatnya. Dia sudah hafal oknum yang kerap memanggil namanya seperti memanggil massa untuk menanggulangi kebakaran. “Ulul.” Dengan nada yang dibuat ceria Bimo menoleh dan memanggil nama pacarnya itu. “Ngapain kesini pas jam istirahat? Memang Ulul nggak makan siang?” Lula menggeleng. “Bimo, hari ini kan ada festival Cina di FIB,” goda Lula. “Bener, masih kepingin latihan? Lagi banyak yang bisa ditonton lho disana.” “Apa yang bisa ditonton?” Bimo bertanya tanpa minat. “Ya, misalnya aja ada Endah ‘n Rhesa yang performance di parkiran mobil di belakang. Itu lho yang deketan sama teater Daun Sirih. Terus ada juga lomba karaoke di auditorium. Gimana? Kamu udah tertarik dong, pasti.” Lula senyum-senyum. “Nggak ah. Nggak tertarik,” jawab Bimo cuek. “Tapi, aku pengin nonton.” Lula bersikeras. “Aku lagi bete sedari di kelas tadi. Soalnya ada teman satu kelompokku yang nyebelinnya minta ampun.” “Lho, kan, Ulul biasanya pergi sama temen-temen Ulul. Kenapa sekarang ngajak Bimo? Bimo nggak enak nih sama temen-temen. Udah keburu nge-iyain main futsal.” “Kita kan udah sepakat dengan rules baru yang tadi dibikin. Sekarang saatnya dipraktikkan.” Lula mencoba mengingatkan kesepakatan mereka tadi. “Kita harus saling menghibur jika ada salah satu dari kita sedang bete. Sekarang Ulul lagi bete, jadi Ulul minta ke Bimo untuk menghibur Ulul dengan nemenin Ulul ke Festival Cina itu.” Bimo langsung menatap teman-temannya yang juga sedang menatap ke arah mereka. Sebetulnya dia tidak terlalu suka bila menjadi tontonan seperti ini. Karena ini kondisi apa boleh buat, maka mau tak mau Bimo harus segera memutuskan. Cowok itu pun kemudian mendekati teman-temannya. “Sorry, guys, gue kayaknya nggak bisa gabung kali ini. Next time deh, ya,” kata Bimo dengan tampang sangat menyesal pada mereka. “Yah, kenapa, Bim? Lo kudu nganterin ibu negara kemana sekarang?” tanya Herman dengan tampang yang sama kecewanya. “Biasalah. Ibu negaranya lagi bete. Makanya gue kudu nemenin dia ke Festival Cina. Kagak tahu juga disana ada apaan sampe Lula pengin banget ngeliat. Sorry, banget, ya, guys.” “Ya, udah, deh.” Herman akhirnya memperbolehkan juga.  Bimo lalu mengambil handuk dan tas ranselnya yang tadi ditaruh di pinggir lapangan.  “Aku ganti baju dulu, ya, Lul. Kamu tunggu di sini dulu deh,” ujar Bimo sebelum masuk ke toilet. Lula hanya mengacungkan jempolnya. Setelah ganti baju, Bimo pun kemudian menghampiri Lula yang menunggunya dengan sabar. “Okay, sekarang kita bisa berangkat.” Bimo tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Lulu. Dengan sumringah Lulu menyambut tangan Bimo. Bimo yang seperti inilah yang diinginkan Lula. Yang romantis, yang manis, yang selalu mau mengantarnya ke mana-mana. Dia selalu membayangkan kalau di belakang mereka, ada begitu banyak teman-teman mereka yang iri bahkan memandang tak suka. Tapi siapa peduli. Lula bahagia, Bimo juga. Ya, semoga Bimo juga bahagianya tidak karena terpaksa. Ketika Lula dan Bimo datang ke Festival Cina, kompetisi karaoke sedang berlangsung seru dan lucu. Tentu saja yang harus dinyanyikan adalah lagu-lagu bahasa Mandarin yang tidak semua mahasiswa di kampus ini bisa fasih mengucapkannya. Meski begitu, peserta yang mengikuti kompetisi tersebut ternyata cukup banyak juga. Lula dan Bimo begitu antusias melihat ekspresi berbagai peserta yang terkesan maksa menyanyikan lagi-lagu berbahasa Mandarin.  “Eh, sayang, itu ada Sony. Aku kesana sebentar, ya. Udah lama nggak ngobrol nih,” sahut Bimo hendak pergi meninggalkan Lula (lagi). Tapi Lulu hanya berdehem sampai Bimo urung pergi dan bertanya. “Kenapa?” “Jangan coba-coba melanggar rules baru kita, Bimo sayang. Belom juga sehari,” kata Lula santai. “Bimo suka lupa, sih, kalo Bimo sekarang lagi sama pacar. Bisa-bisa Bimo ninggalin Ulul disini dan pergi sama temen Bimo yang itu soalnya dia ngajakin tanding PS. Ntar juga gitu alasannya.” Bimo nyengir. “Okay. Bimo nggak jadi pergi. Bimo akan disini terus sama Ulul.” Bimo mengusap puncak kepala Lula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD