Pulang ke Kotaku...

1651 Words
Setelah itu suasana jadi lebih mengalir dari biasanya. Bimo selalu mengajak Lula berinteraksi mengomentari berbagai macam hal atau kejadian lucu yang mereka lihat. Terkadang Lula yang jadi sebal karena Bimo sekarang banyak mengambil porsi kalimat yang seharusnya diucapkan. Setelah selesai mengobrol Lula mengajak Bimo menonton barongsai, Kung Fu, dan makan bareng masakan Cina yang dijual di salah satu stand tak jauh dari situ. Meski kelihatannya lancar-lancar saja, tapi Bimo masih suka lupa-lupa kalau sedang ngobrol seru dengan Lua. Kadang dia membuat alasan pamit ke toilet, Lula tentu tidak membiarkannya begitu saja. Gadis itu langsung sigap dan siap mengantar Bimo hingga di depan pintu toiletnya. Di kesempatan lain, Bimo membuat alasan bahwa dia tiba-tiba kepingin makan kerak telor yang jarak penjualnya agak jauh dari tempat festival. Lula tentu tidak tinggal diam dan membiarkan Bimo pergi begitu saja. Dengan sedikit kerlingan nakal Lula, cowok itu jadi tersadar dan mengurungkan niatnya makan kerak telor. “Oke! Makan kerak telornya bisa nanti-nanti.” Bimo kemudian membuat kesimpulan. Lula mengangguk mengiyakan. Tak terasa jam istirahat sudah sebentar lagi berakhir. Lula merasa puas dalam hati.  “Aku seneng banget deh hari,” kata Lula terus terang. Bimo tersenyum tipis. “Aku juga seneng kalo kamu seneng, Ulul.” “Nanti kita pulangnya bareng, ya, Bim.” “Okay. Kita ketemu lagi pas jam pulang nanti, ya.” Mereka pun berpisah. Lula kembali ke kelasnya karena masih ada kuliah. Sementara Bimo kembali ke lapangan futsal sebab dia sudah tidak ada jam kuliah sebetulnya. Seperti yang sudah mereka sama-sama sepakati di jam istirahat tadi, Bimo datang menjemput Lula di kelasnya untuk pulang bersama.  “Tadi gimana kuliahnya?” tanya Bimo pada Lula begitu di dalam mobil. “Biasa aja. Nyatet-nyatet kayak biasa,” jawab Lula sambil memandang keluar jendela. “Lul, Bimo pengin ngomong sesuatu deh sama Ulul,” ucap Bimo pelan. “Hmm?” Lula langsung menatap pada Bimo yang dari luar kelihatan begitu fokus pada kemudi. “Aku kok kayaknya ngerasa keiket sama rules baru kita, ya?” Bimo mulai bicara. “Mungkin ini perasaanku aja. Tapi aku merasa kayak di kerangkeng. Nggak bebas gitu, lho, Lul.” “Kamu, kan, nggak aku kandangin, Bim. Kenapa bilang kayak dikerangkeng? Padahal ini baru hari pertama lho. Kok udah ngomong begitu?” “Iya, justru karena hari pertama, Lul. Kayaknya kalo terus-terusan, Bimo nggak bisa deh.” Lua langsung manyun. “Kayaknya tadi Bimo bahagia-bahagia aja deh. Bimo juga banyak ngomong tadi pas kita nonton Festival Cina.” “Memang. Bimo seneng liat Ulul seneng. Tapi Bimo pikir kalo terus begini Bimo nggak akan sanggup.” Lula tidak mau kalah. “Ya, itulah. Harusnya itu jadi refleksi Bimo. Berarti selama ini Bimo memang nggak pernah disiplin dan banyak bikin Ulul bete dengan tingkah Bimo.” Bimo langsung mati kutu. Apa yang barusan diucapkan Lula semuanya memang benar. Tapi tentu saja Bimo tidak akan mengaku kalau Lula benar.  Bimo pun kemudian bertanya dengan pelan-pelan. “Apa bener ini gaya pacaran sehat yang Ulul penginin?” Lula tidak kehabisan akal. Bukannya menjawab pertanyaan Bimo barusan, dia malah balik tanya.  “Bimo sebetulnya sayang nggak, sih, sama Ulul?” tanya Lulu ketus. “Ya, sayanglah, Lul. Kamu ini kalo nanya suka ngaco deh.” “Kalo memang sayang, kenapa mencoba sesuatu yang bisa bikin awet hubungan aja Bimo nggak bisa? Suka bilang nggak sanggup. Kenapa?” Seperti yang sudah-sudah, obrolan tidak menemukan jalan tengah. Mereka kemudian sama-sama diam. Tenggelam dalam pikiran dan juga perasaan masing-masing. Keduanya merenungkan apa yang baru saja mereka bicarakan. Setelah mobil Bimo sudah dekat dengan kosan Lulu, cewek itu kemudian bicara. “Soal rules itu, nanti kita coba bicarakan lagi. Mungkin akan dimatengin lagi, gimana baiknya buat kita.” Bimo tidak menjawab. Dia hanya menoleh, menatap Lula sebentar kemudian mengangguk pelan. Tak terasa mobil Bimo sudah sampai di depan kosan Lula. “Ulul pulang, ya. Bimo hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya,” sahut Lula lalu membuka pintu. Tadinya Bimo ingin membukakan pintu untuk Lula seperti yang rutin dilakukan. Tapi sepertinya gadisnya itu sedang tidak enak perasaan. Maka dibiarkan saja sampai Lula masuk ke kamarnya, Bimo baru pergi. * Hari sabtu tiba, sesuai janjinya pada sang papa, Lula pulang ke kampung halamannya, Cirebon. Dengan kereta pagi jam lima lewat empat puluh lima pagi, Lula berangkat dari Jakarta menuju Cirebon. Hanya tiga jam perjalanan, Lulu sudah sampai ke kota kelahirannya itu. Di depan pintu keluar, sang papa sudah menantikan kedatangannya. Dengan kaos oblong yang sudah tidak layak edar dan juga celana jins pendek yang penuh lumpur kering, papa melambaikan tangan pada Lula. Lula membalas lambaian tangan sang papa saat sedang berjalan menuju pintu keluar. Papa sudah merentangkan tangannya pada Lulu. Gadis itu langsung menyambut pelukan sang papa. Laki-laki yang sudah berusia setengah abad itu adalah satu-satunya alasan Lula untuk selalu bisa pulang ke kota ini. Setiap bertemu Lula, papa tidak pernah lupa mencukur habis kumisnya. Lula kerap mengeluh terganggu dengan kumis tersebut jika papa memberikan ciuman selamat malam sebab Lula malah jadi terbangun lagi. “Sehat, kamu?” tanya Papa saat sedang memeluk putrinya tersebut. Lula mengangguk. Pelukan kemudian diurai. “Papa sendiri gimana, sehat juga, kan?" Belum sempat menjawab, Lula menyambung lagi kalimatnya sendiri. "Tapi kalau ditilik dari bodinya yang sepertinya makin membesar, sih, papa kelihatannya sehat dan bahagia-bahagia aja deh.” Papa menyeringai lalu menepuk pelan perutnya yang membuncit. "Yah, namanya juga udah bapak-bapak. Nggak apa lah kalau perut maju dikit. Mau mempesona siapa juga, sih?" "Lho, siapa tahu Papa mau ngegebet Ibu warung depan komplek itu. Katanya single juga lho, Pa," sahut Lula melanjutkan godaannya pada Papa nya.   “Ah, kamu ini suka ngawur ngomongnya. Hayuk, ah, buruan pulang. Papa sengaja nggak sarapan tadi pagi nih supaya bisa sarapan bareng kamu.” “Lho, memang papah masak? Tumben.” Lula takjub sendiri dengan fakta barusan. "Ya, nggak lah,” balasan Papa ini membuat Lula kontan cemberut dan kehilangan aura positifnya. “Kamu mau sarapan apa? Nasi lengko, nasi kuning atau docang?” “Nasi lengko lah, bos,” sahut Lula yang disambut senyum Papa. "Udah lama banget kayaknya nggak makan." "Memang di Jakarta nggak nemu nasi lengko? Kayaknya ada aja sih yang jual. Meskipun nggak otentik, ya." Lula menjetikkan jarinya. "Nah, itu Papa udah menyatakan alasannya sebelum Lula kasih tahu. It's not authentic, you know. It's more like... " Lula berpikir sebentar mencari padanan kata yang pas. Tapi tidak ketemu. "Makan nasi biasa dikecapin aja gitu," sambungnya putus asa.  Bibir Papa kembali menyeringai lebar dan langsung menggandeng Lula menuju parkiran. Meskipun Lula tampak tidak nyaman karena seakan-akan jalan dengan om-o*******g, tapi Papa nampak fine-fine saja.  Papa menjemput Lula menggunakan motor matic milik Lula yang dulu selalu dipakainya. Sebelum pergi kuliah ke Jakarta, gadis itu menggunakan motor tersebut untuk berangkat sekolah, sebab jarak rumahnya dengan SMA Lula memang cukup jauh. Meskipun saat itu Lula belum resmi memiliki SIM, tapi papa sudah memberikan SIM pribadi dan selalu mengingatkan Lula agar selalu mematuhi rambu lalu lintas.  "Itu penting. Karena kalau sampai kamu ketangkep, alasannya kan cuma belum diperbolehkan untuk punya SIM karena batas usia yang belum mencukupi. Tapi kalau sudah melanggar tata tertib lalu lintas, beda lagi ceritanya. Paham, kamu?!" Begitulah kira-kira Papa memperingatkan Lula agar selalu patuh pada rambu dan peraturan lalu lintas yang berlaku. Beruntungnya, selama bersekolah tiga tahun di SMA Bakti Negara, Lula belum pernah ditilang polisi karena ketahuan melanggar tata tertib berkendara atau melanggar peraturan lalu lintas. Lula naik ke atas motor maticnya dengan perasaan bahagia. Momen-momen seperti ini seakan jadi obat manjur yang membuatnya bisa menunda sedikit setiap permasalahan hidup yang sedang dihadapinya.  Seperti yang sudah diucapkan di stasiun, sebelum pulang ke rumah, Papa dan Lula mampir sebentar ke penjual nasi lengko di pinggir jalan yang letaknya tak jauh dari perumahan. Nasi lengko merupakan salah satu makanan khas Cirebon yang paling berkesan untuk gadis itu. Mungkin untuk sebagian orang mungkin nasi lengko hanya nasi putih biasa yang diberi topping tahu dan tempe yang sudah dipotong kecil-kecil, tauge, sedikit irisan timun, taburan kucai, bumbu kacang dan kecap. Namun, bagi Lula, makna nasi lengko lebih dari itu. Nasi lengko adalah salah satu makanan yang paling sering dimakannya sewaktu kecil. Sebab mendiang Mama nya dulu berjualan persis di depan rumah. Nasi lengko dan nasi kuning buatan Mama menjadi salah satu yang terlaris. Jika dulu zamannya sudah ada sosial media, dagangan Mama Lulu pasti sudah viral di mana-mana.  Di satu pagi, setahun sebelum Mama berpulang, ada sebuah percakapan membekas di benak Lula. Percakapan yang merubah cara pandangnya terhadap makanan selamanya. Setelah membenahi semua makanan yang hendak dijajakan diatas meja, Mama mendekati Lula. “Lula mau nasi lengko atau nasi kuning?” tanya Mama saat itu.  Lula yang sedang memeluk bantal kepala sapi yang masih menahan kantuk luar biasa kemudian mendongak. “Lula mau makan apa aja asal Mama yang masak,” jawabnya polos. Tak disangka, Mama malah terlihat bingung. “Kenapa gitu?” “Karena Lula suka semua masakan yang Mama buat. Mau itu ayam goreng, sayur sop, sayur lodeh dan banyak lagi. Rasanya lebih enaaaaak kalau Mama yang masak. Nggak kayak di tempat lain,” sahut Lula lagi.  Mama kemudian mendekati Lula dan merangkul bahunya. “Lalu gimana kalau Mama nggak ada buat masak makanan buat Lula lagi?” “Kenapa Mama ngomong gitu?” tanya Lula dengan wajah sendu.  “Mama cuma mau bilang kalau Lula harus tetap bersyukur dan berterima dengan makanan yang ada di depan Lula.” “Kalau makanannya nggak enak?” sambar Lula. “Tetap harus disyukuri dan diterima.” Pandangan Lula masih bingung dan wajahnya masih sendu. Mama melanjutkan. “Mau tahu kenapa harus gitu?” Gadis kecil itu menggeleng sesaat. Mama melanjutkan kalimatnya. “Karena berbuat baik dan menyenangkan orang lain itu sebuah perbuatan luar biasa, Nak. Yang harus selalu Lula ingat juga, ada masih banyak orang tidak seberuntung kita bisa menemukan makanan layak. Diantara mereka malah ada yang sampai harus makan sisa orang.” Ekspresi wajah Lula berubah mengendur. Sepertinya anak itu sudah memahami maksud Mamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD