Makna sepiring nasi

1110 Words
Mendengar apa yang diucapkan oleh Mama nya barusan membuat Lula sempat bertanya-tanya dalam hati. Kenapa Mama tiba-tiba bicara seperti ini? Dia sama sekali tidak tahu gerangan apa yang akan terjadi. Namun, dia tidak berpikir sampai jauh kalau ini mungkin adalah momen berharga yang perlu dia syukuri sebelum perempuan yang melahirkannya itu pergi. “Jadi, mulai sekarang Lula harus memperlakukan semua makanan dengan santun. Lulu nggak harus selalu suka, tapi selama masih bisa dimakan, nikmati saja. Suatu saat Lula pasti mengerti apa yang Mama maksud ini.”  Sejak saat itu, saat melihat seorang ibu yang berjualan nasi lengko dan nasi kuning, Lula secara otomatis terkenang mendiang Mamanya. Lula juga jadi hampir tidak pernah protes lagi pada setiap rasa makanan yang menurutnya kurang dan tetap bisa menemukan kenikmatan saat menyantapnya. Mama telah berhasil membekalkan nasihat luar biasa untuknya.  Setelah sampai di rumah, Lula dan papa langsung menyantap sarapan mereka. Sambil berbincang dengan ringan, Papa sesekali bertanya mengenai kehidupan dan kuliah Lula. Lula menjawab apa adanya semua pertanyaan Papa, apalagi perihal kuliahnya. Lula tidak mau sampai mengecewakan bapak-bapak paruh baya yang sudah membiayai pendidikannya. Takut kucuran dana tiap bulan distop. Kan, bahaya! Usai menghabiskan makannya mendahului Lula, Papa bergegas bangun dari kursi.  “Papa mau benerin antena TV dulu, ya, Lul. Udah semingguan ini TV kita banyak semutnya. Papa sampe nggak nonton bola dua hari kemarin gara-gara ini. Mana nanti sore Persib maen.” Lula hanya berdehem dan meneruskan menyantap nasi lengkonya. Setelah nasi lengko miliknya habis, Lula menghampiri papa yang sedang mengutak-atik antena di samping rumah sambil membawa kipas tangan. “Udah dibilang pasanng tivi kabel aja dari dulu. Susah, sih, dibilangin. Ngerepotin diri sendiri aja Papa nih,” komen Lula sambil mengipas-ngipasi Papa nya dengan kipas anyaman bambu. “Hah, pasanng TV kabel, mah, kudu bayar Lulu. Mahal. Mending buat biaya kuliah kamu,” sahut Papa sambil melirik ke arah puterinya yang hanya manyun. “Kalo masih bisa dibenerin, ya, dibenerin aja,” sahut Papa sembari membetulkan antena. “Ya, coba pilihan antena dalam rumah itu lho, Pah. Kan, biar Papa nggak usah bolak-balik ke atas genteng,” sahut Lula masih mencoba memberi ide. “Kurang bagus kualitasnya, Lul,” sambar Papa. “Pak RT kemarin beli terus besoknya balik lagi ke antena luar. Untung Papa nggak ikut-ikutan beli, kan?! Jadi hemat uang.” Kalau sudah begitu, maka tidak ada lagi yang bisa Lula lakukan. “Terus kamu di Jakarta gimana? Aman?” “Aman yang mana nih, Pah? Kan, tadi Ulul bilang kuliah Ulul baik-baik aja. Hasil semesteran kemarin aja IPK Ulul cumlaude.” “Kalau yang itu kan sudah kamu bilang tadi. Cuma Papa pengin tahu, soal kehidupan sosial kamu. Terus soal pacar kamu. Siapa itu namanya?” “Bimo.” “Iya, itu si Bimo. Untung Papa nggak nyebut bemo, kan?!” Lula lagi-lagi manyun mendengar ucapan Papa nya. “Baik dia sama kamu?” “Baik dong, Pah.” Lula menjawab lesu. Papa langsung merasa bahwa sesuatu yang tidak beres sedang melanda putrinya. “Cerita aja, Lul,” kata Papa yang masih sibuk dengan aktivitasnya membetulkan antena. Karena sudah dikomandoi, maka Lula pun akhirnya bercerita tentang apa yang akhir-akhir ini mengganggunya. Tentang Bimo yang cueknya minta ampun bahkan tentang ide untuk meng-upgrade kualitas hubungan mereka. Seperti Papa Lula yang biasanya, Papa hanya mendengar dengan saksama, tak memotong sama sekali, dan tetap fokus pada aktivitas yang sedang dikerjakan. Setelah beberapa menit Lula selesai bercerita, barulah Papa buka suara. “Yah, namanya juga pacaran, Lul. Kamu pikir cuma ikan gurame saja yang bisa asem manis, pacaran juga ada asem manisnya.” Papa melirik Lulu sepintas. “Kamu mesti sabar dan tetap menjalani apa yang kamu percaya. Kalau selama itu baik, ya pertahanin aja.” Lula sebenarnya sudah agak bosan mendengar kata sabar. Papa juga sudah hafal bahwa puterinya itu sama sekali tidak puas dengan jawaban yang tengah diberikan. Karena itu Papa menyambung lagi kalimatnya. “Hidup selalu ada masanya seperti itu, Lul. Pacaran juga sama aja. Yang mesti diingat adalah kalo kamu masih sanggup bertahan, maka semuanya pasti baik-baik aja. Kecuali kalo dua-duanya udah nggak bisa saling mempertahankan dan bersepakat jalan bareng. Papa rasa jawabannya udah kamu tahu sendiri juga Jadi, Papa nggak perlu banyak prolog lagi.” Lula hanya diam mendengar kalimat Papanya tersebut. “Kamu pulang jam 3 ini, kan?!” “He-eh,” jawab Lulu singkat. “Habis makan siang, Papa antar kamu ke stasiun lagi. Kita tunggu di sana aja sebentar sampe keretanya dateng,” lanjut Papa. “Nah, ini tinggal dipasang aja deh.” Papa kembali naik ke atas tangga bambu untuk memasang antena.  “Hati-hati, Pah,” ucapnya saat Papa sedang mengikat antena tersebut pada bambu panjang. Telepon di saku celana jins Lulu bergetar. Dia merogoh sakunya kemudian melihat layarnya. Dari Bimo. Lula segera menjawabnya. “Halo?” “Halo, sayang. Kamu udah di rumah?” tanya Bimo di seberang sana. "Lagi ngapain sekarang?" “Udah, barusan nyampe. Aku habis sarapan bareng papa. Kenapa, Bim?” “Oh, sarapan apa tadi? Kaca sama beling pasti." Wajah Lulu langsung masam karena Bimo salah menebak. "Kamu pikir Ulul kuda lumping?!" sahutnya bersungut-sungut. "Aku tadi sarapan nasi lengko." Bimo terkikik geli. "Aku sengaja salah nebak kok biar kamu kesel. Hihi," ucapnya kemudian. Anehnya, sebal karena salah tebak tadi jadi hal yang membuat bibir Lula kini mengulas senyum. "Eh, Lul. Ada sesuatu yang mengejutkan yang pengin aku sampein ke kamu sekarang." Suara Bimo terdengar begitu ceria. “Sesuatu yang mengejutkan apaan, Bim?” Lula langsung antusias. “Anindita ternyata udah pulang ke Jakarta. Tadi aku di telepon sama dia. Kamu masih kepingin ketemu sama dia, kan?!” tanya Bimo semangat. Lula jadi ikutan semangat. Hatinya menjadi senang. “Ya, iyalah kepingin. Aku pengin liat dia kayak gimana? Eh, tapi dia mau nggak ketemu sama aku?” Lula jadi khawatir. “Ya, jelas mau lah, sayang. Aku tanya begini, kan, karena aku udah tanya sebelumnya ke dia. Okay kalo gitu. Kamu malam nanti sampe Jakarta Kota jam 6-an, kan?!" "Iya, jam 6-an lebih dikit aku sampe Jakot. Bimo mau jemput nggak?"  "Pasti dong," sahutnya. "Kalau gitu, aku atur waktu dan reservasi tempat, ya. Kalau ketemuannya besok minggu gimana, Lul?” “Okay juga, Bim. Ya, coba aja kamu reservasi tempat dulu sama kabarin Anindita nya.” “Siap. Ya, udah. Aku tutup, ya. Salam buat Papa.” “Sip. Nanti aku salamin kalo Papa udah turun dari atas.” “Hah? Atas? Atas mana maksudnya?” suara Bimo terdengar bingung. “Atas genting, Bimo. Papa lagi benerin antena. Biasalah. Kalo nggak bisa nonton bola, Papaku kan kayak orang kebakaran jenggot.” “Oh, haha, okay. Bilang hati-hati, gitu, ya. Dah, sayang.” “Dah, Bim.” Telepon terputus.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD