Backstory Saat Lula dan Bimo Berjumpa

1549 Words
Sudah sejak pertama bertemu Bimo, Lula mendengar nama Anindita. Sudah sejak kali pertama mereka saling mengenal satu sama lain, Lula tidak berhenti mendengar nama Anindita keluar dari mulut Bimo. Jika ingin ditarik mundur, maka Lula tentu masih ingat hari itu. Hari yang mungkin paling memalukan dan membuatnya ingin menangis sejadi-jadinya di tempat. Karena malu dan takut malah mengundang perhatian, Lula pun terpaksa hanya bisa menahan. Padahal dalam hati yang terdalam, Lula sudah ingin menghilang saja dari permukaan bumi. Entah karena sebelumnya ada invasi alien dari Mars atau tiba-tiba T-Rex datang menyerang. Apapun, yang penting keberadaannya tak terdeteksi lagi. Semuanya gara-gara Gadis yang hari itu tidak mengangkat teleponnya. Padahal Gadis dan handphone bak sahabat sejiwa. Tak terpisahkan dalam kondisi apapun, kecuali saat berenang dan mandi. Namun saat Lula membutuhkannya, Gadis justru tak mengangkat panggilannya sama sekali. Alhasil, Lula berangkat ke kampus dengan perasaan hampa dan tak tenang. Apalagi hari itu dia ada kuis yang mengharuskannya tampil prima. Dia tidak bisa tampak bermalas-malasan apalagi tak bersemangat di depan Pak Haris. Bisa-bisa nilainya dikurangi dan itu tentu saja bukan kabar baik. Meskipun perasaan tak nyaman itu terus menderanya tapi Lula mencoba untuk tetap positif bahwa semua akan baik-baik saja. Paling tidak sampai mata kuliah pagi ini selesai saja. Lula duduk di bangkunya dengan perasaan makin tak nyaman. Dan tiba-tiba saja perutnya seperti diremas dengan sangat kuat. Punggungnya tiba-tiba pegal, dan pinggangnya ingin bersandar. Namun karena perutnya terasa kram luar biasa seperti ini, tentu saja Lula memilih untuk mengasihi perutnya ini. Pak Haris pun masuk ke kelas dengan wajah garang seperti biasa. Lula sudah berusaha untuk duduk tegak namun tak bisa. Perutnya terlalu sakit hingga tangannya gemetaran. Tanpa berbasa-basi, Pak Haris pun memulai kuis hari ini.  Sambil tetap memasang kesadarannya pada situasi yang sedang berlangsung, Lula kemudian mengambil ponselnya dan melongok ke arah jam tangan digitalnya. Tanggal 23. Pantas saja. Memang sudah seharusnya ini terjadi. Tapi, kenapa harus hari ini? Ya, karena memang harus hari ini. Kalau terlambat malah bikin parno dan horor sendiri. Kenapa tidak dari kemarin saja saat dia tidak harus mengikuti kelas dari dosen yang tak segan memberinya mimpi buruk saat tak menunjukkan antusiasme pada kelasnya. Ah, menyebalkan sekali! Waktu dua jam rasanya panjang sekali sampai Lula merasa bahwa kini bagian belakang tubuhnya sudah basah dan tentu saja berwarna merah. Lula menengok ke arah tas punggungnya. Mungkin ini menjadi satu-satunya hal yang patut dia syukuri hari ini. Sebab dia menggunakan tas punggung berbahan kulit dan berwarna hitam. Setidaknya itu dapat menyamarkan pandangan saat dia menyetel talinya hingga akan menutupi bagian belakangnya. Dua jam paling neraka itu akhirnya selesai juga. Untunglah Pak Haris tak sempat menyadari wajah Lula sudah tidak begitu semangat berada di kelasnya. Setelah Pak Haris keluar, Lula buru-buru mengambil tasnya dan bangkit dari kursi. Dia mengecek alas bangkunya yang berwarna hitam. Memang tak tampak apa-apa, cuma Lula tahu bahwa kini  cairan bulanannya sudah merembas tak terkendali. Dia harus segera ke toilet. Sambil terus berjalan ke toilet, kepala Lula tertunduk. Karena hal itu jugalah Lula kemudian menabrak seseorang tak dikenal dan membuat tubuhnya hampir jatuh. Namun dengan sigap orang itu menangkap tangannya dan menahannya agar tidak oleng. Sedetik kemudian Lula tersadar bahwa orang yang bertabrakan dengannya adalah seorang cowok.  Satu kali melihat wajah cowok itu tampak penasaran dengan Lula. “Hei? Lo nggak apa-apa? Lo lagi sakit ya, kayaknya? Pucat gitu,” komen cowok tersebut. Lula tak menjawab dan tak sempat melihat dengan jelas cowok dengan jaket warna coklat itu. Gadis itu buru-buru melepaskan tangannya dan segera pergi. Lula melanjutkan langkahnya menuju toilet di fakultasnya tapi di sana semua ruang terisi. Dia tidak bisa menunggu. Lula pun keluar dan mencari toilet terdekat.  Lagi-lagi toilet dekat kantin pun sedang terisi penuh. Lula sampai mengeluh dalam hati. Kenapa hari ini dirinya s**l sekali? Akhirnya Lula balik badan dan hendak kembali ke arah fakultasnya namun seorang cowok menghadangnya. Dahi Lula berkerut. “Excuse me?!” Cowok itu tidak bicara apa-apa dan hanya menyodorkan sebuah bungkusan plastik hitam pada Lula. Dahi Lula masih mengerut tapi tak urung diterimanya juga plastik tersebut. Setelah Lula menerima bungkusan plastik tersebut, cowok itu langsung meletakkan tas punggungnya di bawah dan melepaskan serta jaket coklat yang dikenakannya.  “Gue tahu apa yang sekarang sedang menimpa lo. Lo bisa dateng ke toilet anak Seni yang nggak jauh dari sini.” ucapnya pelan. “Kalau udah telanjur tembus, lo bisa tutupin pakai ini dulu. Mungkin aja lo masih ada kelas,” lanjutnya sambil menyodorkan jaketnya. Karena melihat Lula diam saja, cowok itu mengambil tangan Lula dan meletakkan jaketnya di tangan gadis itu. “Gue anak Teknik 2010. Kalau lo udah selesai pakai, lo bisa balikin ke kelas gue.” Usai bicara seperti itu, cowok itu mengambil kembali tasnya yang semula dia taruh di bawah, balik badan dan meninggalkan Lula. Sedetik kemudian Lula sadar dan bertanya saat cowok itu sudah sekian langkah meninggalkannya. “Hei! Nama lo siapa?” tanya Lula meninggikan suaranya. Cowok itu menoleh dan tersenyum. Senyum lebar dan hangat yang rasanya belum pernah Lula lihat selain dari Papanya. “Gue kasih tahu pas lo balikin jaketnya.” Setelah menjawab pertanyaan Lula, cowok itu kembali berjalan meninggalkan Lula. Lula tersadar seratus persen bahwa sejak saat itu dia sudah terpikat dengan cowok itu.  * Mengingat bahwa Papa nya selalu bilang untuk mencari lelaki yang menghargai  dan menghormati perempuan, maka sejak awal Lula selalu menginginkan bertemu dengan seseorang yang seperti itu. Apakah alam mendengar afirmasinya setiap hari? Entahlah. Tapi yang jelas, di awal hubungan bersama Bimo, Lula merasakan bahwa cowok itu adalah lelaki idamannya banget. Setidaknya begitulah pikiran Lula di bulan pertama hingga bulan kesembilan hubungannya dengan Bimo. Sampai kemudian Bimo terasa banyak berubah. Lula merasa banyak kehilangan dari beberapa sifat yang sempat dia tahu dan kenal ada pada Bimo. Tapi setiap Lula mengingatkannya, Bimo berkilah bahwa dia tidak pernah berubah sama sekali. Dia masih Bimo yang sama dan masih sangat sayang pada Lula. Tapi kita tidak bisa serta merta hanya mempercayai apa yang diucapkan saja bukan? Apalagi tanpa dibarengi tindakan yang nyata. Makanya Lula pun jadi sering uring-uringan memperingatkan agar Bimo kembali pada ‘Bimo yang Lula kenal’. Romantis, manis, dan selalu menyediakan waktu untuk bersamanya. Sampai suatu ketika, Lula memergoki Bimo sedang tertawa lepas dan seolah tanpa beban. Tadinya Lula hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun ketika dia masuk dan mendapati Bimo sedang bicara dengan seseorang melalui Skype, Lula sempat termangu. Dengan ringan dan masih penuh dengan aura kegembiraan., Bimo mulai memperkenalkan Lula pada Anindita. Ini bukan kali pertama Lula mendengar nama Anindita. Namun ini adalah kali pertama Lula akhirnya melihat, meski sepintas via layar laptop, seperti apa orang yang namanya sering disebut dulu oleh Bimo. Lula pikir apabila dia mengenal sahabat dekatnya ini, maka Lula akan semakin memahami mengenai dunia Bimo. Setidaknya itulah yang diharapkannya. Ketika panggilan Skype bersama Anindita disudahi, Bimo lalu bercerita bahwa Anindita baru saja mendapatkan penawaran beasiswa di Inggris.  Dengan antusias, Lula mendengarkan cerita Bimo tersebut. Dari cerita yang disampaikan Bimo tentang Anindita, Lula merasa dia juga mulai menyukai Anindita. Dari foto yang diunggahnya via Path dan f*******:, caranya berinteraksi dengan orang-orang di sana, hingga hal-hal kecil yang diperhatikan Anindita membuat Lula merasa perempuan ini sangat menyenangkan. “Bimo yakin, Ulul bakalan cocok sama Anindita. Soalnya kalau Bimo lihat-lihat nih, kalian cukup punya kemiripan,” sahut Bimo setelah panggilan Skype bersama Anindita selesai. Mendengar itu, Lula pun penasaran. “Memang apa yang mirip antara aku sama Anindita?”  “Hmm,” Bimo berdehem sambil mulai memperhatikan wajah Lula. Dia kemudian tersenyum. “Cara kalian memandang sesuatu, sih. Kayak kalau Ulul lagi mikirin tentang satu hal yang Ulul suka. Itu lumayan mirip sama cara Anindita juga. Cuma aku yakin sih kalian punya keunggulan masing-masing yang nggak bisa aku bandingkan. Bisa dicekik aku sama Ulul nanti,” sahut Bimo sambil menyeringai. Lula tersipu. Dari pernyataan tersebut juga Lula dia tahu bahwa Bimo memikirkan tentang segala sesuatunya sehingga dia tidak asal bicara. “Emang Anindita pindah ke luar negeri kenapa sih?” tanya Lula kemudian. “Ikutan Mami nya pindah,” jawab Bimo. “Orang di sini dia udah nggak punya siapa-siapa lagi. Jadi ya waktu itu dia terpaksa pindah. Karena Maminya satu-satunya keluarga yang dia punya.” “Oh, gitu. Jadi dia nggak akan balik lagi ke Indonesia?” Lula masih penasaran. “Hmm, nggak tahu, sih. Soalnya setahuku rumah dia yang di Jakarta juga udah dijual. Tiap Bimo tanya dia mau balik Indonesia lagi apa nggak, dia selalu bilang nggak tahu.” Bimo lalu memperhatikan wajah kekasihnya. “Kenapa, Ulul? Kok Ulul nanyain sampai ke situ?”  Lula tersenyum. “Hmm, kalau ada kesempatan ketemu Anindita kayaknya bakal seru, sih. Dari cerita Bimo aja kayaknya Anindita anaknya asik, ya?!” Bimo menggeleng. “Sebenernya nggak senyenengin itu, sih. Dia anaknya jahil sama clumsy juga. Kadang Bimo males kalau udah pergi sama dia, pasti ada aja yang dia jatuhin atau tumpahin,” tuturnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Apa yang Ulu denger ini cuma sebagian doang dari aslinya Anindita tahu nggak?! Jadi, jangan terlalu melihat anak itu wah banget.” “Ya, Ulul kan cuma bisa ngeblend sama temen dan sahabatnya Bimo. Siapa tahu malah bisa jadi temen juga, kan?!” “Iya juga, sih. Tapi ya itu entah kapan terjadi. Nggak usah terlalu dipikirin banget, ya.” Lula menurut. Dia pun tak lagi terfokus tentang kapan Anindita akan balik ke Indonesia. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD