Darah tak selalu lebih kental dari air

1062 Words
"Terkadang sebuah perasaan hadir karena adanya keterikatan. Namun, pertemuan para insan melalui seleksi alam pun bisa jadi pondasi kukuh terjalinnya suatu hubungan."—One Last Time [04] LS. ***  Abizar berjalan mengendap-endap memasuki kamar putranya, dan langsung disambut dengkuran halus dari sang empunya. Sudah lewat tengah malam, tetapi kedua netranya belum juga bisa terpejam. Pembicaraan dengan sang ayah juga Gema dua hari terakhir ini seolah menstimulasi otaknya untuk tetap terjaga. Terus menekannya mengingat sesuatu yang tak ingin diingat. Kelamnya pekat, sakitnya sangat, ketika secara otomatis kilas balik masa lalunya berputar seakan nyata. Ketika perempuan punya catatan penting mengenai apa-apa saja yang mungkin melukainya, laki-laki juga sama. Abizar khususnya. Satu hal yang paling melukainya hingga sekarang adalah saat di mana ia ditinggalkan dalam kondisi tengah berusaha menganyam kasih sayang, merajut tali kasih bersama perempuan yang sebelumnya tak pernah ia cintai. Bukan melalui perjodohan seperti kisah-kisah klasik, apalagi pertemuan manis ala remaja masa kini. Abizar dan Kiara dipertemukan dalam sebuah kecelakaan mengerikan. Di mana sesuatu yang paling berharga bagi perempuan itu dirampas paksa. Tangannya terulur, mengusap punggung putra kesayangannya yang tidur begitu lelap. Sementara otaknya bekerja ekstra memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seandainya Gema mengetahui semua. Abizar tak siap ditinggalkan. Darah tak selalu lebih kental daripada air. Tanpa keterikatan pun Abizar mampu menyayangi Gema lebih dari keluarga kandung anak itu. Gema bergerak dalam tidurnya, merasa terusik dengan apa yang dilakukan Abizar. Kelopak matanya terbuka perlahan. Silau lampu dan keberadaan ayahnya membuat lelaki itu susah payah mengumpulkan kesadarannya. Walaupun yang terlihat justru raut terkantuk-kantuk saja. Kantuk yang tampak dominan membuat anak itu sangat menggemaskan. "Daddy," panggilnya serak. Gema menggeser tubuhnya, sebelum kembali bersuara. "Sini tidur," katanya seraya menepuk tempat kosong sebelahnya. Abizar duduk di tepian tempat tidur, membetulkan letak selimut Gema hingga sebatas d**a. "Tidur lagi aja. Daddy di sini." Gema meringkuk di balik selimut dan kembali menutup mata. "Selamat tidur, Baby Ge." *** Adam melipat koran yang sejak beberapa menit lalu dibacanya, kemudian melangkah menuju ruang makan, bergabung dengan Abizar juga Gema. Interaksi antata dua orang itu membuat hati Adam memanas. Meskipun turut membesarkan Gema sejak kecil, tapi kasih sayangnya pasa anak itu tak seperti Abizar. Ia hanya merasa kasihan karena Gema ditinggalkan ibu kandungnya. Sebatas itu. "Pagi, Opa. Mau sarapan apa? Aku ambilkan, ya?" "Enggak perlu." Gema mengurungkan niatnya. Padahal ia berusaha bersikap baik, tapi sang kakek tak juga bersedia menyambutnya. "Biar Opa sama Daddy aja. Kamu makan yang banyak, Ge." Gema mengangguk saja karena tak ingin menambah daftar sakit hatinya. "Oh iya, Daddy, nanti aku pulang sore lagi. Ada jadwal latihan hari ini." "Main terus. Jadi anak yang sedikit lebih berguna. Sepak bola tidak menjamin apa pun." Abizar melotot mendengar pernyataan sang ayah, tetapi sebelum ia melemparkan sanggahan, Gema lebih dulu buka suara. "Apanya yang enggak menjamin, Opa? Kalau bisa jadi pemain sepak bola yang hebat, paling enggak aku bisa mengharumkan nama Indonesia. Buat aku itu satu kebanggaan." "Apa gunanya? Tanya, apa Daddy kamu bangga dengan kamu bermain bola? Dia hanya dibuat cemas setiap harinya. Kalau tidak bisa membalas semua yang sudah dia korbankan, paling tidak berikan dia kebahagiaan." "Pa, cukup!" "Daddy, aku tunggu di luar, ya," pamit Gema. Suasana hatinya rusak seketika karena perdebatan tak berguna ini. Setelah memastikan putranya tak lagi di sana, Abizar langsung menatap ayahnya. "Apa yang hari ini Papa lakukan benar-benar keterlaluan. Biarkan Gema dengan pilihannya. Aku cemas, tapi aku masih punya hati dengan tidak berniat merampas kebahagiaannya." "Cari istri, berikan Papa cucu yang benar-benar darah dagingmu. Baru Papa akan berusaha menerima Gema." Abizar geleng-geleng. Tanpa menghabiskan sarapannya ia langsung berlalu meninggalkan sang ayah. *** "Yan, adik yang lo maksud itu mana? Kok belum kelihatan?" Septian melirik jam tangan warna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir bel masuk dan Gema belum juga terlihat. "Kejebak macet kali, ya. Gak tahu gue. Setiap pagi dia diantar sama papanya kok." Rossa terbelalak, merasa tidak percaya kalau anak SMA apalagi laki-laki, masih mau diantar oleh ayahnya. "Diantar? Dia anak cewek?" Septian menggeleng. "Dia cowok, tapi papanya kelewat sayang, jadi enggak mau anaknya sampai lecet." "Mainan gue nih. Gue unyel-unyel, ah, kalau nanti datang." "Dia emang manja, tapi enggak pernah mau kelihatan manja. Biarpun gitu, dia ikut ekskul bola kok sama gue." "Lo kayaknya sayang banget, ya, sama dia? Hm ... lo enggak--" "Gue normal," potong Septian cepat. Rossa orang ke sekian yang mempertanyakan perihal kenormalannya. "Gue cuma ngerasa banyak kesamaan aja. Dia dan gue sama-sama anak tunggal, piatu, dan kesepian. Bedanya, Gema bersikap seolah semuanya normal. Dia ceria, dan selalu menekankan kalau dia enggak kesepian." Rossa tersenyum tipis. Cara Septian mendeskripsikan anak itu terdengar begitu jujur. Ia jadi penasaran ingin segera mengenalnya. "Ge!" "Hah, ada apa?" Septian merangkulnya, lalu mengenalkan anak itu pada sahabatnya. "Ge, kenalin ini sahabat kecil gue, namanya Rossa. Nah, Rossa ini Gema yang mau gue kenalin sama lo." Rossa mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Gema. "Hallo Rossa, nama gue Gema Raihan Athaya anak paling ganteng Daddy Abizar Raqil Al-Fattah." Terkekeh kecil. Rossa merasa semangat Gema menular padanya. "Gue Tiana Rossa Ullina, dan panggil gue kakak, adik kecil." "Enak aja. Gue udah besar tahu," sanggah Gema sembari menggembungkan pipi saking kesalnya. "Ih, gemas banget." "Jangan gemas-gemas, nanti dijadiin pacar. Mau ke kelas dulu, ah. Dadah." Bukannya tak ingin berlama-lama mengobrol dengan dua kakak kelasnya itu, hanya saja suasana hati Gema sedang buruk. Jika hanya mengobrol sebentar, Gema masih bisa mengontrolnya. Ia hanya tidak ingin akhirnya melukai perasaan orang lain. "Gimana? Dia lucu, 'kan?" tanya Septian. "Lucu banget," jawab gadis itu, tapi masih lebih lucu lo, Yan. *** "Terima kasih, Pak. Senang bekerja sama dengan Anda." Abizar tersenyum sekilas kemudian mengangguk, dan mengucapkan rasa terima kasih yang sama. Tangannya yang terbebas sibuk mencengkram perutnya yang sedikit sakit. Kombinasi tidak tidur dan terlambat makan, jelas tidak menguntungkan untuk orang sibuk sepertinya. "Kayla, apa masih ada pertemuan lagi setelah ini?" Perempuan yang ditanya segera membuka agendanya, lantas menyebutkan beberapa pertemuan yang masih harus dilakukan oleh pimpinannya itu. "Tolong kamu hubungi Pak Darmawan, minta pertemuannya dipercepat. Ada urusan yang harus saya selesaikan sore ini." "Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi beliau." Abizar memainkan benda pipih yang sejak tadi tak tersentuh karena sibuk dengan pekerjaannya. Me Ge, nanti pulangnya pesan taksi online aja, ya. Daddy masih ada meeting. Jangan lupa makan. Belum ada jawaban tentu saja karena saat ini Gema pasti masih belajar. Laki-laki itu mengembuskan napasnya perlahan. Ia harus memikirkan kondisinya lebih dulu, agar tak semakin buruk. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD