Si anak nakal

1055 Words
"Sakit yang sesungguhnya itu adalah ketika seseorang mengumbar senyum dan mengeluarkan pernyataan bahwa semuanya baik-baik saja, tetapi tubuh memberikan reaksi sebaliknya."—One Last Time [9] LS. *** Baby Ge Daddy, aku berangkat sekolah dulu. Kalau udah bangun, Daddy langsung sarapan oke? Love you, Dad. Abizar mendengkus kesal membaca pesan yang dikirim putranya. Anak itu pergi lebih pagi pasti karena berniat mangkir dari pemeriksaan. Sejak kecil, Gema selalu saja begitu. Ketika sudah parah dan benar-benar tak bisa bangun, baru dia patuh. Gara-gara mengobrol dengan Gema sampai menjelang pagi, Abizar jadi kesiangan dan secara tidak langsung memberi kesempatan putranya untuk kabur. Strategi yang bagus. Memang dasar anak nakal. Me Daddy baru bangun dan kamu udah kabur. Naik apa ke sekolah? Emang uang jajannya masih ada? Gema Enggak kabur, cuma pergi lebih awal. Naik taksi online dong. Masih, Dad. Kata Daddy kemarin aku enggak boleh boros. Me Sarapan dulu enggak? Gema Nanti aja di sekolah, Dad. Tentu saja Abizar tak mudah percaya. Jika tidak sarapan dari rumah, anak itu pasti malas juga sarapan di sekolah. Sebelum berangkat ke kantor nanti mungkin ia akan ke sekolah putranya lebih dulu untuk menitipkan bekal. *** "Abang ... Abang, udah di sini aja," titah Gema. Sang supir mengernyit heran. Mereka belum sampai tempat tujuan, tetapi mengapa penumpangnya ini minta berhenti sekarang? "Ini uangnya, kembaliannya ambil aja. Nanti aku kasih bintang lima juga. Makasih, ya, Bang," kata anak itu lagi sembari menyerahkan selembar uang kertas berwarna biru. Gema bergegas turun dari mobil karena harus berjalan cukup jauh untuk sampai sekolah. Entahlah, melihat teman-temannya berjalan beriringan menuju sekolah rasanya lebih menyenangkan daripada diantar naik mobil sampai depan gerbang, tetapi sendirian. Ia berjalan sedikit terpincang. Dengan senyum lebar, Gema menyapa satu per satu orang yang dilewatinya. "Hai, Kakak. Hai teman." Semangatnya tak surut kendatipun kakinya sedang sakit sekarang. Gema tidak ingin kesakitan itu mengalahkannya. Sebagai pemain bola, di mana kaki dan strategi menjadi modal utama, tentu ia harus memberikan perlawanan sengit pada rasa sakitnya. Kaki, jangan nakal, ya. Seenggaknya sampai aku jadi pemain timnas. Eh, sampai aku jadi pemain dunia dan ketemu Om Ronaldo. Keyakinan itu yang selalu ditanamkannya dalam hati. Gema percaya, ketika kita berusaha menjadi lebih kuat, rasa sakit pasti malu dan akan pergi dengan sendirinya. Ayahnya mungkin bisa mengantarkan Gema kemanapun, termasuk menemui atau sekadar menonton langsung pertandingan pemain bintang berjuluk CR7 itu. Namun, Gema ingin ada di sana karena pencapaiannya sendiri. Tak peduli, setua apa idolanya itu nanti ketika bertemu. Salah satu daftar mimpi yang harus direalisasikan. *** "Tian, Gema itu lucu, ya." Septian terkekeh mendengar penuturan Rossa yang tiba-tiba. Sepertinya adegan ayah dan anak kemarin cukup mengejutkan bagi gadis itu. Saat ini memang sulit sekali menemukan kejadian serupa. Anak laki-laki cenderung gengsi menunjukkan perasaannya, apalagi pada sosok ayah. Namun, tidak dengan Gema. "Kok bisa, ya, dia enggak malu sama sekali bersikap manja kayak gitu di depan kita?" "Dia gengsian sebenarnya, tapi dia percaya sama kita. Menurut gue enggak ada yang salah sama sikap manja Gema. Dia akan dewasa pada waktunya. Malah gue pengin dia tetap kayak gitu, dan enggak perlu terkontaminasi sama pergaulan anak di luar sana." Rossa menatap sahabatnya. "Tapi, menjadi dewasa itu perlu. Kalau nanti dia punya pacar, 'kan enggak mungkin dia yang dimanja? Sosok perempuan pastinya ingin dilindungi." "Dia manja, tapi tangguh. Dia bisa melindungi orang-orang terdekatnya tanpa harus memaksakan diri menjadi dewasa. Percaya sama gue, dia tipe orang yang akan melakukan apa pun demi kebahagiaan orang di sekitarnya." Gadis itu tertegun, tiba-tiba merasa penasaran——sosok yang bagaimana Gema sebenarnya. "Mau bantu gue lebih dekat sama Gema, enggak?" "Kalau lo cuma penasaran, lebih baik jangan melakukan apa pun. Dia dibesarkan tanpa sosok perempuan di sampingnya. Jadi, seandainya ada yang mendekat, membuat dia nyaman dan merasakan kehadiran sosok ibu, hanya untuk mengecewakan dan mematahkan harapannya, dia pasti akan sangat hancur. Lo harus tahu, gue orang pertama yang bakal marah kalau sampai itu terjadi." "Oke, enggak jadi," kata Rossa akhirnya. Gue lebih takut lo marah sama gue, daripada nyakitin Gema. *** Tuk! Selang sepersekian detik dengan suara itu, terdengar ringisan pelan. Pemuda yang menjadi sasaran tembak guru matematika yang tengah menjelaskan di depan langsung mengangkat kepalanya. "Nyenyak tidurnya, Gema?" Gema memamerkan cengiran khasnya, lalu mengangguk dengan polosnya. Efek begadang semalam rupanya terbawa ke sekolah. Sejak jam pelajaran pertama Gema terus menguap karena kantuk yang terus membombardirnya, sampai akhirnya ia menyerah pada saat pelajaran matematika berlangsung apalagi perutnya kenyang setelah melahap habis bekal yang dititipkan sang ayah pada satpam sekolahnya. "Maaf, Pak, semalam saya enggak bisa tidur. Jadi, sekarang agak ngantuk gitu." "Kamu pikir di depan sini saya sedang berdongeng sampai kamu sebegitu nyamannya tidur pada jam pelajaran saya?" semprot Pak Amran. "Saya udah minta maaf, dan berusaha jujur, Pak. Kalau Bapak mau menghukum saya, langsung aja. Enggak usah bertele-tele." Merasa ditantang, guru berambut klimis itu langsung melemparkan tatapan tajam pada Gema. "Sekarang kamu ke lapangan, dan berdiri di sana sampai pelajaran saya selesai!" "Pak, Gema baru aja sembuh." Galuh memberanikan diri bersuara membela sahabatnya. "Kamu mau ikut? Atau menggantikan? Silakan." "Ge, lo di sini aja, biar gue yang gantiin." "Enggak usah ikutan deh. Gue emang salah kok. Lagian berdiri doang tuh kecil. Biasanya juga kita lari-lari di lapangan," sahut Gema masih dengan senyumnya. Ia menepuk bahu sahabatnya beberapa kali sebelum akhirnya bangkit dan meninggalkan kelas. Gema bukan tipe anak yang suka melarikan diri dari hukuman, terlebih jika ia memang bersalah. *** "Yan, si Gema dihukum tuh kayaknya." Septian yang semula fokus menyelesaikan soal-soal yang diberikan gurunya sontak menoleh ke sumber suara. "Dihukum? Kenapa?" Megi—si preman kelas—mengangkat bahu tanda tak tahu. Ia tadi hanya lewat setelah berjam-jam nongkrong di dekat toilet bersama beberapa temannya dari kelas lain dan melihat Gema tengah berdiri di lapangan. Dan Megi tahu kalau Septian dan Gema sudah seperti kembar beda ayah ibu, ke mana-mana berdua. Maka dari itu, ia memberitahu Septian. Septian meletakkan alat tulisnya di atas meja. Gema berduri, lantas melenggang ke luar. Kelasnya yang ada di lantai atas memudahkannya melihat Gema yang saat ini benar-benar berdiri di tengah lapangan. Namun, gestur tubuh lelaki yang sudah dianggapnya adik itu sedikit mengkhawatirkan. Sesekali Gema tampak menunduk, menyentuh kakinya atau hanya melakukan gerakan peregangan. Dengan langkah tergesa, Septian memilih menghampiri anak itu segera. Hanya memastikan kalau Gema baik-baik saja, tak seperti yang dipikirkannya. Sial. Belum sempat kakinya menginjak lantai dasar, Septian harus menyaksikan tubuh Gema ambruk. "Ge!" pekiknya. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD