Pertemuan

1188 Words
Cukup lama Septian menunggu dengan perasaan cemas sampai pemuda yang kini terkapar di ranjang unit kesehatan mulai membuka mata. Beberapa menit lagi saja Gema tak juga sadar, ia berencana menghubungi Abizar. Untung saja kesadaran anak itu kembali dengan segera. "Apa yang sakit?" Itulah hal pertama yang Septian tanyakan tatkala kedua netra sahabatnya terbuka sempurna. "Yan, jangan bilang Daddy," mohon Gema. "Pertanyaan gue jawab dulu!" "Janji dulu." Lelaki itu berdecak kesal melihat raut melas Gema. "Gue enggak akan bilang apa pun kalau Om Abi enggak nanya, tapi kalau ditanya, ya, gue bakal ja--" "Kak, please." Septian memutar bola matanya. Anak itu memang menyebalkan, tahu sekali kelemahannya. Sejak SMP, selalu berhasil meruntuhkan pertahanannya dengan panggilan itu. Walaupun keduanya sepakat untuk memanggil nama satu sama lain, tetapi sebutan kakak memang begitu Septian harapkan. "Oke. Sekarang apa yang sakit? Kenapa lo bisa dihukum kayak tadi?" "Kaki, Yan. Tadi dihukum gara-gara tidur di kelas." Tanpa pikir panjang, Septian sedikit bergeser, lalu membuka sepasang kaos kaki yang melekat di kaki Gema dengan cekatan. "Ge, ini makin bengkak dan pasti sakit banget. Lo b**o apa gimana sih? Nekat sekolah. Harusnya lo ikutin apa kata Om Abi kemarin, ke dokter!" "Daddy pasti cemas dan bisa-bisa nyuruh gue pensiun dini dari sepak bola. Gue enggak mau. Lo tahu sendiri, Yan, kalau jadi pemain bola itu mimpi terbesar gue." "Lo harusnya merasa beruntung karena ada yang mencemaskan lo di saat sakit. Itu tandanya dia sayang sama lo. Sekarang pikir lagi deh, dengan biarin kaki lo tetap seperti ini apa mungkin impian lo bisa terwujud? Enggak, Ge." Gema diam. Septian pun melakukan hal yang sama. Namun, dalam diamnya lelaki itu tengah berusaha mengingat kembali apa yang pernah terjadi pada Gema dan pertandingan terakhirnya semasa SMP. Hari di mana Gema mengalami cedera serius yang mirisnya justru dihujami berbagai komentar negatif dari teman-teman satu sekolahnya. Gema yang sebenarnya dilanggar oleh Ken-siswa SMP Delta Harapan-luput dari perhatian wasit. Alhasil pihak lawan yang diunggulkan, sementara Gema dicaci sana-sini karena dianggap berpura-pura. Sejak saat itu Gema seperti kehilangan performa terbaiknya. "Yan, lo diam bukan lagi mikirin cara buat ngadu sama Daddy, 'kan?" "Enggak." Gema mengembuskan napas lega. Apa yang dikatakan Septian tadi ada benarnya, tetapi ia juga belum siap kalau seandainya sang ayah tiba-tiba memintanya berhenti bermain bola. *** Abizar melangkah gontai memasuki rumah megah yang didominasi cat warna putih. Tak banyak yang berubah setelah terakhir ke sini dulu. Sebenarnya terlalu menyedihkan kalau harus menginjak rumah ini lagi, tetapi ada yang harus diluruskan. Seorang pelayan yang sedang membersihkan pekarangan rumah ibu mertuanya langsung melontarkan sapaan ramah, yang dibalas seperlunya oleh Abizar. "Siapa, Bi?" Belum sempat Abizar bertanya perihal nyonya pemilik rumah, seseorang yang dicarinya itu lebih dulu muncul di ambang pintu. Kursi roda yang menopang tubuh ringkih perempuan itu langsung jadi pusat perhatiannya. "A--bi. Ayo masuk, Nak." "Abi bantu, Bu." Abizar menawarkan diri memberi bantuan saat melihat Rahmi kesulitan berbalik memutar kursi rodanya. "Duduk, Bi." Lelaki itu mengangguk sebagai jawaban. "Akhirnya kamu ke sini, Nak. Mana Gema? Ibu rindu sekali sama cucu Ibu." Sesungguhnya Abizar ingin mematahkan pernyataan tersebut. Bagaimana ada rindu kalau rasa kasih sayang pun tak pernah ada. "Justru itu yang mau Abi bicarakan. Tolong jangan usik keluarga kami lagi, Bu. Selama ini Gema tahu kalau ibunya ataupun keluarga dari pihak ibunya sudah tidak ada. Jadi, jangan muncul tiba-tiba dan merusak semua yang susah payah Abi sembunyikan. Mungkin terdengar jahat, tapi ini yang terbaik. Abi tidak ingin Gema terluka karena kehadiran Ibu." Rahmi tak menyangka kalimat menyakitkan itu akan diucapkan pemuda berhati baik yang dulu pernah menyelamatkan reputasi keluarganya. "Maksud kamu apa, Abi? Gema juga cucu Ibu, bahkan kalau bicara berhak tidak berhak jelas Ibu yang lebih berhak karena Gema anak kandung Kia." "Kalau memang Kia menganggap Gema putranya, ke mana dia saat Gema masih membutuhkan ASI-nya? Apa layak disebut ibu kandung ketika dia yang seharusnya ada menyalurkan kehangatan dan kasih sayang, justru memilih pergi?" "Kamu tidak tahu seberat apa beban di pundaknya, Abi. Jadi, berhenti menghakimi." Abizar tersenyum meremehkan. "Abi tahu seperti apa sulitnya, seberat apa beban yang ditanggungnya. Tapi, kalau pola pikir Kia tidak terlalu sempit, seharusnya dia sadar ada Abi yang siap membantu untuk meringankannya." "Ibu, makanannya sudah siap. Ayo kit--, eh, ada tamu." Deg! Abizar terkesiap mendengar suara itu. Jantungnya berpacu cepat, sulit dikendalikan. Ada perasaan yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Terkejut, marah, kecewa, dan ... rindu. "Mas Abi." Masih dengan debaran yang sama, Abizar menoleh ke sumber suara. Namun tak sepatah kata pun berhasil keluar dari mulutnya. Lelaki itu terpaku, menatap sosok yang begitu dirindukannya sedikit lebih lama. Lelaki itu terpaku, menatap sosok yang begitu dirindukannya sedikit lebih lama "Apa yang kamu lakukan di sini, Mas?" tanya perempuan itu. Air matanya luruh begitu saja. Kehadiran Abizar di sini mengingatkannya pada kejadian pahit di masa lalu. Sekelebat bayangan Gema yang melintas tiba-tiba, menampar kesadaran Abizar keras-keras Sekelebat bayangan Gema yang melintas tiba-tiba, menampar kesadaran Abizar keras-keras. Mengembalikan pria itu pada kenyataan bahwa perempuan di hadapannya sekarang ini adalah sosok yang berkali-kali berusaha melenyapkan putranya. Abizar bangkit dari duduknya, berniat pergi, meskipun jujur, keinginan untuk tetep tinggal jauh lebih besar. "Saya permisi," pamitnya kemudian. "Ibu akan menjemput cucu Ibu, Abi." "Cucu?" Lelaki itu menghentikan langkahnya. "Berhenti bermain-main. Kalau kalian tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk anakku, cukup dengan tidak membuat dia terluka." Kiara mematung. Apakah benar yang didengarnya tadi? Ibunya menyinggung perihal cucu. Kalau ia anak tunggal dan tak pernah melahirkan siapapun lagi selain bayi s****n itu, berarti benar yang sedang mereka bicarakan adalah dia. "Ibu tidak pernah punya cucu, jadi tolong jangan bicara apa pun lagi tentang dia." "Dia darah daging kamu, Kia. Dia cucu Ibu," sanggah Rahmi. Abizar berbalik. "Bagaimana bisa Ibu membuat statement kalau Gema itu cucu Ibu, sementara Kia yang notabene ibu kandungnya saja tidak pernah menganggap bahwa anak itu pernah ada." Setelah bertutur demikian, Abizar benar-benar pergi meninggalkan kediaman Rahmi. Hanya rasa takut yang kini menggantung di benaknya. Takut bahwa mereka akan merebut Gema darinya. Dan yang lebih menakutkan lagi, mereka mungkin saja akan melukai Gema. "Daddy akan melindungi kamu, Ge," ujarnya lirih. *** Rossa curi-curi pandang ke jok belakang. Gema yang tertidur sejak mobil yang mereka tumpangi meninggalkan sekolah, mulai terlihat tak nyaman. "Yan, Gema kok gelisah gitu, ya, tidurnya?" Septian yang semula fokus mengemudi pun mendadak panik dan seketika menyesal karena tak langsung mengantarkan anak itu pulang. "Tolong jagain Gema di belakang dong, kayaknya lagi berasa lagi," titah Septian sembari menghentikan laju kendaraannya di bahu jalan. Rossa mengangguk. Tanpa basa-basi, gadis itu pindah ke belakang menemani Gema. Didorong rasa penasaran, ia mengulurkan tangan, menyentuh dahi dan leher Gema bergantian. "Yan, panas banget badannya." "Kita putar balik terus antar Gema pulang dulu deh. Om Abi lebih tahu apa yang harus dilakukan. Gue bingung nih." Kecemasan Septian tampak berlebihan di mata Rossa. Tangan sahabatnya itu bahkan tampak sedikit gemetar, meskipun cengkramannya pada kemudi cukup kuat. Tak mai ambil resiko, Rossa menawarkan diri untuk menggantikan Septian. "Ini enggak bakal benar. Gue aja yang nyetir aja, Yan. Nanti nabrak, kita celaka semua. Lo aja yang di belakang jagain Gema." Pemuda itu tak punya pilihan lain selain mengiyakan ucapan Rossa. Ia tak mungkin bisa berkonsentrasi kalau pikirannya dipenuhi kecemasan pada Gema. Jangan bikin gue khawatir, Ge. |Bersambung|
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD