Abizar memerhatikan dengan saksama tatkala Dokter Selly membacakan hasil pemeriksaan putranya. Dengan kalimat yang telah disederhanakan sedemikian rupa, perempuan itu menjelaskan perihal kejanggalan pada kaki Gema; di mana terdapat pelebaran sendi kaki dan penebalan jaringan lunak, yang biasanya menunjukkan adanya infeksi tulang. Ia cukup terkejut mendengar apa yang diutarakan dokter berparas cantik itu. Meskipun tak paham sepenuhnya, tetapi kata infeksi yang baru saja disebutkan seolah mempertegas bahwa putra tunggalnya tak baik-baik saja.
Lelaki itu menghela napas berat. Kenapa hal menyakitkan terjadi di saat yang bersamaan? Hari ini Abizar kembali dipertemukan dengan Kiara dan ibunya; terlibat perdebatan sengit perihal hak asuh Gema, walaupun sang ibu yang ngotot ingin membawa Gema kembali, bukan Kiara. Begitu sampai rumah, ia harus menyaksikan ketidakberdayaan putranya.
"Tapi, untuk menegakkan diagnosis, kita harus menunggu hasil pemeriksaan lain, Bi. Aku takut kalau ternyata apa yang dialami Gema malah merujuk pada penyakit berbeda, dengan gejala menyerupai osteomyelitis."
"Tolong lakukan yang terbaik, Sell. Dia putraku satu-satunya. Aku tidak ingin kehilangan dia."
Dokter Selly tersenyum seraya mengangguk kecil. "Kami akan berusaha semampunya. Masalah hasil, Allah yang memegang kuasa penuh. Untuk sekarang, Gema hanya akan diberi pereda rasa nyeri agar dia bisa istirahat dengan nyaman."
Abizar hanya mengangguk sebagai jawaban. Gema memang membutuhkan itu sekarang. "Sekali lagi makasih, ya, Sell."
"Kamu yang tenang. Kita sama-sama berdoa untuk Gema."
Senyum tipis tersungging dari bibir Abizar. Selly tak pernah berubah. Meskipun telah menyandang gelar dokter, perempuan itu tak terlihat angkuh sama sekali. Pembawaannya yang lemah lembut mampu mengurai ketegangan yang semula mendekapnya erat. Dan yang paling mencuri perhatian adalah penampilan perempuan itu. Rambut panjang yang dulu tergerai indah, sekarang disembunyikannya di balik jilbab, membuat Selly terlihat lebih cantik berkali-kali lipat.
"Bi?"
"Ah, iya?"
"Kamu kenapa melamun?"
"Gak pa-pa. Kalau begitu aku pamit dulu, ya, Sell. Makasih untuk waktu dan penjelasannya."
Selly mengangguk.
Selepas kepergian Abizar, Selly membenamkan wajahnya. Sepotong episode masa lalunya bersama Abizar seolah menamparnya kuat-kuat. Seandainya kita tidak berakhir semenyedihkan dulu, Bi. Mungkin kita tidak akan dipertemukan sebagai dokter dan wali pasien, tapi sebagai sepasang suami istri.
***
"Jangan ngintip, nanti gue tendang!" seru Gema keki. Sahabatnya terus saja membuntuti walaupun Gema sudah bilang bisa melakukannya sendiri.
Septian terkekeh geli melihat kelakuan anak itu. Dia memaksa ingin pergi ke kamar mandi sendiri karena sudah tak tahan ingin buang air kecil. Septian sudah menawarkan bantuan agar Gema tak perlu repot pergi ke sana, tetapi penawarannya ditolak mentah-mentah. Memang dasar anak gengsian. Padahal jangankan dibawa berjalan, bergerak sedikit saja Gema meringis kesakitan.
Karena tak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Gema sendiri di kamar mandi, Septian sekarang tetap berdiri di depan pintu, meskipun Gema terus mengomel memintanya jauh-jauh.
Hingga derit pintu terdengar, berhasil mengalihkan perhatian lelaki putih jangkung itu.
"Gema di dalam, Yan?"
"Iya, Om. Kebelet katanya."
"Dasar anak nakal. Dibilang jangan jalan-jalan dulu."
Gema membuka pintu kamar mandi, tangannya meraba-raba mencari pegangan. "Kalau aku nahan pipis nanti malah bahaya, Dad. Atau tiba-tiba bocor, 'kan lebih bahaya lagi. Bisa runtuh harga diri aku."
Abizar geleng-geleng. Ia menuntun putranya kembali ke tempat tidur. "Daddy tuh enggak mau kalau kamu banyak gerak dulu, Ge. Hasil pemeriksaannya aja belum jelas."
Pemuda itu menatap sang ayah penuh selidik. "Emang aku sakit apa, Dad? Parah, ya? Kok daddy kayak cemas banget."
"Katanya ada infeksi, tapi kita masih tunggu hasil pemeriksaan kamu yang lain juga untuk memastikan. Soalnya dokter juga belum bisa menegakkan diagnosis kalau hasil akhir belum keluar."
Kernyitan di dahi Gema, menjelaskan secara tidak langsung kebingungannya. "Kok infeksi? Kan enggak ada luka, Dad? Lihat nih. Yang luka itu di lutut, lagian cuma sedikit, udah kering juga. Mana bisa infeksinya di bawah."
"Infeksi itu enggak selalu terjadi pada luka luar dan terbuka aja, Ge."
Gema hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Lagi pula malas bicara lagi. Membicarakan rasa sakitnya seolah tak menemui titik henti.
"Emang pemeriksaan apalagi yang belum keluar hasilnya, Om?" Septian melebur ke dalam pembicaraan ayah dan anak itu.
"Apa, ya, yang tadi cairan dari tulang Gema diambil itu loh. Om lupa apa namanya."
"Daddy tua sih."
"Kamu nakal, bikin emosi terus. Jadi, Daddy tua terlalu cepat."
Gema memajukan bibir bawahnya. "Kok aku? Padahal Daddy-- aw ... aw," ucapan Gema terpotong saat kakinya tak sengaja terbentur tiang infusnya. Meskipun pelan untuk ukuran normal, tetapi bagi Gema itu sangat sakit.
Septian berubah panik. Ia bergerak sedikit lebih dekat dengan sahabatnya, lalu kembali berusara, "Om apa enggak ada tindakan sebelum hasil pemeriksaan yang lain keluar? Kasihan Gema, dia kesakitan."
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Gema seperti itu. Namun, rasanya tetap sama setiap kali melihat Gema menjerit kesakitan. Yang menurut mereka sepele bisa luar biasa sakitnya untuk Gema. Itu yang membuat Septian takut.
"Untuk sekarang belum banyak yang bisa dilakukan. Paling Gema hanya diberi pereda rasa sakit."
"Tapi, Dad, aku enggak mau minum obat lagi, ya. Perut aku jadi aneh karena minum obat pereda nyeri terus. Gak pa-pa deh nanti aku kesakitan, Daddy tutup kuping aja," ujarnya terus terang. Jangan tanya bagaimana Gema menelan obat itu di luar pengawasan ayahnya, yang jelas, saat dalam kondisi darurat Gema akan mengunyah obat tersebut lalu menetralkan rasa pahitnya dengan air. Tak perlu repot-repot dijadikan puyer.
Abizar mengernyit, sebelumnya ia berpikir kalau Gema hanya meminum obat pereda sakit satu kali saja--saat tak sengaja Abizar memergokinya tempo hari. "Perutnya enggak enak gimana?"
"Gak pa-pa, Dad."
"Ck, masih bisa bohong dalam keadaan seperti ini?"
Dengan raut yang tak bisa digambarkan, Gema akhirnya mengaku. "Ulu hatinya sakit, perih, kembung juga. Enggak enak pokoknya."
Abizar diam-diam membenarkan. Efek samping dari obat pereda nyeri memang tak bisa disepelekan. Jika dikonsumsi jangka panjang, boleh jadi malah menyakiti organ lain. Lambung contohnya.
"Nanti Daddy bilang sama dokternya. Sekarang kamu istirahat, ya."
Gema mengangguk. Meskipun nyaris mustahil Gema beristirahat dengan nyaman, ia tidak ingin membuat cemas sang ayah. Akhirnya, anak itu menurut saja.
Usai berbicara demikian, Abizar juga menyuruh Septian pulang. Bukan apa-apa, tetapi ini sudah malam dan besok anak itu harus sekolah.
"Iya, Om," sahut Septian. Lelaki itu kemudian beralih menatap Gema. "Gue balik dulu, ya. Istirahat yang benar."
Gema mengangguk sembari mengucap terima kasih. Bagaimanapun Septian sudah menjaganya.
|Bersambung|