Pukulan telak

1162 Words

Gema menghela napas, menahannya beberapa saat, mengembuskannya pelan. Begitu hingga berkali-kali. Ayahnya yang saat ini duduk terkantuk-kantuk dengan menjadikan tangan sebagai penopang kepalanya membuat Gema merasa bersalah.  Sang ayah pasti lelah harus bolak-balik kantor dan rumah sakit selama ia dirawat. Walaupun ada Septian yang terkadang menawarkan diri untuk menggantikan sejenak, tetapi Gema tahu ayahnya tak pernah benar-benar beristirahat. Tubuhnya mungkin berbaring; matanya terpejam; mulutnya terkatup rapat, tetapi otaknya boleh jadi terus berpikir. Mencari titik terang, di mana ada kesembuhan untuk Gema. Dan yang paling membuat Gema sedih, kakeknya tak sekali pun datang berkunjung semenjak dokter memutuskan bahwa ia harus rawat inap. Rindu? Tentu saja. Terlepas dari bagaimana

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD