Sayang tanpa batas

1126 Words

Septian memejamkan mata, menyesap dalam-dalam aroma hujan yang pagi ini mampu menyibak gundahnya. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya; tentang sang papa yang terus mengigau dengan melafalkan kata maaf berkali-kali, juga pesan yang dikirim ayah sahabatnya semalam. Sarkoma ewing. Sepanjang malam Septian menghabiskan waktunya untuk berselancar; menelusuri berbagai artikel yang muncul mengenai penyakit itu. Namun tak banyak yang bisa membuatnya bernapas lega. Kebanyakan mengatakan bahwa prognosisnya buruk, terlebih jika penyakit itu ditemui pada stadium lanjut. Membayangkan sejauh itu rasanya menakutkan. Tidak. Bukan kematian yang Septian takutkan. Ia tahu betul, tiap-tiap yang bernapas kelak akan dipertemukan dengan kematian. Boleh jadi, Septian yang sehat justru berpulang lebih dul

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD