Enam

1719 Words
Saat ini dua orang perempuan sedang duduk di sofa ruang keluarga. Wanita berumur sekitar 36 tahun itu duduk di sampingnya. Sepulang dari bandara, setelah mengantar kan Wisnu, Yuna, dan Arka. Mereka pergi, meninggalkan tanah air dan meninggalkan dirinya sendiri. ia tidak bisa mencegah karna sudah keputusan Wisnu. Dan tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun Arsha memandang lurus ke arah figura foto keluarga. di poto itu ada dirinya, Wisnu, Yuna, dan juga Arka. mereka semua tersenyum bahagia. seperti keluarga yang selalu harmonis Sejak tadi, Yurisa—adik dari Wisnu terus menerus membujuk dirinya untuk ikut pindah dengannya. Namun, ia menolak berkali–kali. tidak gampang menyerah itulah Risa, yang sampai sekarang belum kunjung berhenti membujuk dirinya “Sha, kamu mau gak tinggal bareng tante? kita pindah ke rumah tente, ya? kamu di sini kan sendiri, gak ada yang nemenin” Arsha menggeleng, menolak ajakan dari tante nya itu. Tak terhitung sebanyak apa Risa merayu dirinya untuk ikut pindah ke rumahnya. namun, ia menolak mentah-mentah. bukan tanpa alasan, namun, ia hanya takut, dan masih ada rasa trauma. “Gak usah tan, makasih udah nawarin Arsha tinggal bareng. tapi, Arsha tinggal sendiri aja di sini” Risa meraih telapak tangan Arsha. “Kenapa? nanti kamu kesepian loh. tante juga kesepian di rumah, gak ada temen.” Arsha tersenyum tipis mendengar penuturan dari wanita di hadapan nya. ternyata masih ada yang perduli kepadanya “Biasanya juga Arsha sendirian Tan,” lirihnya sambil menunduk Risa mendengar jawaban seperti itu menjadi tidak enak, ia merasa bersalah karna telah menyinggung fakta itu “Emh, maksud tante, lebih baik tinggal di rumah tante ya.” Ralat Risa sambil tersenyum lebar Bukan apa apa Risa terus merayu keponakannya itu, ia tau bahwa Arsha memiliki trauma lebih, dan mempunyai penyakit mental. dan hal itu membuat dirinya was was jika gadis itu tinggal sendiri di rumah besar seperti ini Yang ia tahu, bahwa seseorang yang mempunyai penyakit mental harus selalu di dampingi oleh seseorang. supaya mereka bisa berbagi keluh kesahnya. dan mereka tidak memendam sendirian Karna, hal itu dapat menyesakan di d**a mereka. dan membuat hal fatal muncul di pikirannya. seperti menyakiti dirinya sendiri, atau bahkan sampai bisa ingin membunuh diri nya sendiri. karna, mereka hanya ingin rasa yang sangat menyesakan itu hilang. Maka dari itu, Risa takut jika Arsha tinggal sendiri di rumah. ia takut kejadian yang tidak di ingin kan terjadi “Nggak Tan, Tante kan ada Kak Adit. Arsha takut nyusahin tante, terus malah jadi beban di sana” Arsha menarik tangannya. ia tetep dengan pendirian nya. Tetap menolak. “Kamu ini ngomong apa sih!, kamu bukan beban. tante malah pengen punya anak perempuan kayak kamu, hebat, kuat.” Risa mendekap tubuh keponakannya itu, ia dapat melihat kilat sirat putus asa dari tatapan Arsha Arsha diam, tidak membalas pelukan Risa, “Kata Papah Aku beban. beban keluarga, anak pembawa sial. anak yang tidak di inginkan. sampai Papah pindah ke Australia. itu nama nya beban kan?” Lirihnya sambil terkekeh miris “Stop bilang kamu beban, sayang. dengerin tante” Risa menangkup kedua pipi gadis itu, sambil menatap intens “Kamu itu anak yang hebat! kuat, mereka pergi karna ada keperluan, nanti mereka balik lagi kok kesini.” ucap Risa menyakinkan. namun, Arsha malah terkekeh miris. apa tadi katanya, mereka akan kembali? ck, mana mungkin. ia sudah tidak percaya dengan janji seperti itu “Tante percaya kalo Papah bakal balik lagi?” Risa terdiam, lidahnya terasa kelu “Aku gak percaya Tan, aku tau gimana benci nya papah sama aku. dia benci banget, sampe ninggalin aku sendiri di sini.” Arsha meraih telapak tangan Risa yang masih setia menangkup pipinya “Pa—” “Tan, aku capek. mau kekamar dulu, ada tugas yang belum aku kerjain. kalo Tante mau nginep di sini, boleh. kekamar tamu aja. tapi—” Arsha berdiri memotong ucapan Risa. dan berjalan menuju lantai atas “Kalo tante ngajak aku buat pindah ke rumah tante, aku nggak mau. aku gak mau ninggalin rumah ini. rumah yang penuh kenangan Aku sama mereka, walaupun mereka selama ini gak anggep aku” Risa membeku mendengar jawaban itu, ia dapat merasakan terdapat rasa kecewa yang gadis itu dapat dari keluarga nya sendiri. Arsha gadis kuat yang pernah ia temui, atau Arsha hanya pura pura kuat di hadapan semua orang? Arsha masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan kencang. Brak!! *** Arsha duduk di karpet bulu di dalam kamarnya. sedari tadi ia terus menyembunyikan kepalanya di antara lipatan kaki dan tangannya Hati gelisah, takut. ia tak berani keluar dari kamar, jangan kan keluar kamar, bergerak satu langkah saja ia tak berani. Tubuh nya bergetar hebat, keringan dingin terus membanjiri tubuh nya. Ingatannya kembali, bagaimana insiden 6 bulan lalu berputar di otaknya seperti kaset rusak Ia ingin menghentikan nya namun, ia juga tak tahu bagaimana caranya. ia selalu berusaha untuk melawan agar tidak takut, namun, perasaan takutnya lebih besar dari pada tekadnya. Di sisi nya terdapat beberapa pil penenang resep dari psikolog yang biasa ia temui. Keadaan di luar sedang hujan, lebat sekali. ah, mengenai Risa. sekarang, tante nya itu sudah pulang. ntah sejak kapan ia juga tidak tahu karna sedari tadi sore sampai sekarang ia mengurung diri di dalam kamar. Ia mendongak, menatap hujan turun. biasanya jika keadaan dirinya sedang seperti ini Arka selalu menghampiri nya dan memeluknya erat. membisikan sesuatu yang membuat dirinya kembali tenang, “Gak papa, jangan takut. Tenang, ada gua yang akan terus ada di samping lo. dia udah pergi, gak perlu lo takutin.” “Gua gak akan pernah ninggalin lo, gua akan terus ada di samping lo. Gua sayang lo” Air mata nya mengalir, ntah sejak kapan. ia terkekeh miris, kemarin Arka selalu menenangkan nya dan berjanji untuk tidak meninggalkan dirinya sendiri. ia berjanji untuk terus ada di samping nya, sampai napas terakhir. Tapi, semua itu hanya omong kosong. semua ucapan, janji manis mereka hilang dalam sekejap. mereka meninggalkan dirinya sendiri di saat dirinya membutuhkan seseorang. Semua nya bohong, palsu. tetap saja mereka meninggalkan dirinya sendiri Lalu, jika kemarin Arka yang selalu menenangkan nya sekarang siapa? SIAPA!? tidak ada yang peduli dengannya. ia merasa putus asa, sangat. Tidak ada lagi suara halus milik Arka yang mampu membuat dirinya tenang. Ia merasa kehilangan semuanya. Ting tong! Bell rumah berbunyi membuyarkan lamunannya, ia menegakan tubuhnya menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat Harus bagaimana mana? ia turun dan membuka kannya atau ia diam sampai seseorang itu pergi dengan sendirinya? Ia merasa takut, degup jantungnya tak beraturan. dengan terpaksa ia berdiri, dan berjalan ke arah pintu. Setelah sampai di depan pintu utama, ia masih terdiam dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu. menarik napas pelan, dan menyeka air matanya dengan cepat Ia tak mau jika orang itu mengetahui jika dirinya sedang menangis. Saat membuka pintu rumahnya. ia dapat melihat punggung tegap seseorang yang membelakangi dirinya. ia kenal, sangat kenal. Seketika tubuhnya menegang. Laki-laki itu berbalik ketika mendengar bahwa pintu telah di buka. dan segera mendekap tubuh gadis yang ada di depan pintu. Seolah peka dengan keadaan gadis itu, rambutnya yang sedikit acak acakan, tubuh bergetar, muka pucat. Ia tahu, pasti penyakit Arsha sedang kambuh. Di beritahu dari Risa dan Arka sebelum ia berangkat kesini “Maaf telat, Sha” Arsha mendorong pelan tubuh laki-laki itu, dan menatapnya dengan pandangan lurus “Kak Adit” Dia Adit, sepupu Arsha. atau lebih tepatnya anak dari Risa. Ntah tujuannya untuk apa sepupunya itu mengunjungi rumahnya. padahal biasanya tidak pernah. “Mau ngapain?” “Sha, gua di suruh nyokap buat jagain lo. karna lo nolak terus di ajak pindah kesana. gua bakal nginep di sini selama Bokap, nyokap, lo gak ada” jelas Adit Sudah ia duga! “Gak usah kak, nanti malah ngerepotin—” “Jangan keras kepala Sha, gua tahu lo lagi butuh seseorang. lagian gua gak ngerasa sama sekali di repotin lo,” Arsha menatap Adit. Adit tersenyum kecil dan langsung membawa tubuh gadis itu kedekapannya. Ia mengusap surai hitam, panjang, milik gadis itu. bahkan ia dapat merasakan bahwa tubuh gadis itu masih saja bergetar hebat. Adit membawa masuk Arsha, karna ia tahu di luar sangat dingin. ia tak mau jika gadis itu bertambah sakit “Udah makan Sha?” Tanya nya sambil melepaskan hoodie nya yang basah Arsha menggeleng pelan, “Kenapa? lagi kambuh?” Tanya Adit penasaran. sebenarnya ia hanya memancing saja supaya Arsha dapat mengeluarkan emosi yang gadis itu tahan Arsha terdiam kaku, Adit tahu. Seolah peka dengan pergerakan gadis yanga di hadapan nya hanya diam ia langsung mendekap gadis itu dan membisikan sesuatu “Lepasin Sha, lo lagi emosi, lepasin jangan di tahan. gak baik. lampiasin ke gua, Ayok” bisik Adit lembut tepat di telingga Arsha Sedetik kemudian, mata Arsha memanas, d**a nya terasa sangat sesak. ia memukul d**a bidang milik Adit terus menerus sambil meracau tak karuan “Semuanya jahat, semuanya bohong!, mereka ninggalin gua sendirian!, mereka jahat! gua benci mereka! BENCI!!!” “Gua capek, di saat gua baru aja merasa tenang, merasa sedikit bahagia. kenapa Tuhan ngambil kebahagiaan gua?!! KENAPA!?!! jahat! mereka jahat!! Gua benci mereka!” “Iya, mereka jahat. gak papa, masih ada gua” ucap Adit tenang sambil memeluk tubuh Arsha “Lo juga bakal ninggalin gua kan! Arka selalu bilang kayak gitu, dan dia—” suara Arsha tercekat ia tidak sanggup meneruskan nya “— Dia ninggalin gua sendiri, dia ikut mereka ninggalin gua. gua benci itu!! benci kak!!” “Gua sakit, tapi mereka malah ninggalin gua! seharusnya mereka ada di sini. nenangin gua bukan malah sebaliknya!! gua benci semuanya!” Adit mengusap punggung kecil gadis itu, hati nya sakit saat mendengar semuanya. takdir bahagia selalu tidak berpihak padanya. Arsha menangis sesenggukan, rasanya perih, sesak, sakit, lega. secara bersamaan. Mengingat perkataan menyakitkan dari semua orang, dan perkataan manis yang tak akan pernah meninggalkan nya. perkataan mereka terus berputar di ingatan nya seperti kaset rusak Ia membalas pelukan Adit, menenggelamkan wajahnya di d**a bidang milik laki-laki itu sambil terus menangis Di rasa jika Arsha sudah tidak mengeluarkan suara isakan, Adit melepaskan pelukan nya pelan dan menatap wajah milik Arsha “Udah? udah lega?” Arsha mengangguk sebagai jawaban Adit tersenyum melihat itu, lalu tangannya mengusap jejak air mata milik gadis itu. “Makan ya? luapin emosi kayak tadi juga butuh tenaga.” Arsha tersenyum tipis dan mengangguk Ia bersyukur masih ada orang seperti Adit, yang masih perduli dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD