Tujuh

2697 Words
“Sha, kantin bareng yok!!” Ajak Kayla heboh. membuat semua murid yang masih ada di dalam kelas mendengus malas ketika mendengar teriakan dari Kayla. “Dari pada ngelamun mulu lo, dari tadi gua liatin lo itu ngelamun mulu. ada yang lo pikirin?” Kayla menatap Arsha dari samping “Ye, si onta. malah nanya lagi, udah pasti orang yang ngelamun itu banyak pikiran” Rayna menoyor kepala Kayla. ia tak habis pikir dengan sahabat nya itu. sudah pasti jika orang yang ngelamun banyak pikiran malah di tanya kek gitu. “Kan gua nanya elah, siapa tau dia mau curhat gitu kan.” Kayla mendelik tajam Rayna yang ada di samping Arsha Arsha menggeleng kemudian tersenyum tipis. memang, sedari tadi pagi ia terus melamun. pikirannya berkecamuk. banyak yang ia pikirkan sehingga susah untung menjelaskan apa yang sedang ia pikirkan sekarang “Aku gak papa kok. kalian kalo mau ke kantin duluan aja, Aku mau ke perpus aja” “Tau perpus nya sebelah mana?” Sontak Rayna langsung menoyor kembali kepala Kayla. sahabat nya ini lupa atau pikun? baru kemarin mereka berdua mengajak Arsha mengelilingi sekolah. “Lo pikun atau gimana sih!? kan baru kemarin kita keliling di sekolah ini, Kay” “Oh..., iya, ya! gua lupa sorry. Gua gak inget. baru, kemarin kita keliling bareng ya Sha” Arsha hanya geleng-geleng sambil terkekeh kecil. “Ck! buru hayu kekantin perut gua udah laper nih!” Rayna menyeret paksa kedua tangan milik Kayla. Ia sudah tidak kuat, sedari tadi perutnya sakit minta di isi “Sabar elah. yodah kita duluan ya Sha, kalo ada yang ganteng kabarin gua yah!!” Pamit Kayla sambil nyengir kuda Arsha yang melihat itu hanya mengangguk pelan. ia senang memiliki kedua teman seperti Kayla dan Rayna, walaupun mereka seperti Tom and Jerry. dimana Kayla yang lemot dan Rayna yang mudah tersulut emosi. sungguh teman yang melengkapi satu sama lain Ia bangkit dan segera meninggalkan kelas. seperti yang ia bilang tadi, tujuannya adalah perpustakaan. mungkin dengan dia membaca buku mampu membuat dirinya sedikit tenang, dan melupakan sedikit pikiran yang sangat mengganggu isi kepalanya. *** Segerombolan lelaki berbadan tegap memakai jaket denim hitam, dengan tulisan Levator di d**a kiri sedang asik nongkrong di warung belakang sekolah. momen yang sudah biasabiasa setiap harinya. Suara gelak tawa pun mulai terdengar di antara barisan duduk panjang mereka. ada yang sedang mabar game online, ada yang mengikat dasi di dahinya, ada yang memasang wajah dingin, ada yang sedang membuat konten t****k, dan ada juga yang sedang menggoda anak gadis pemilik warung dengan pantun gombal. “Buah kedondong di makan sapi, i was born to make u happy.” “JIAHHHH, SELEBEW!! GASS TEROS, SAMPAI JALUR KUNING MELENGKUNG” Sorak Gavin heboh “Hidup sama vurgos mah, bukannya bahagia malah makan ati tiap hari.” celetuk Revan “Ye, lo mah malah ember Pan!” “Gua bukan ember, tapi menyelamatkan para kaum perempuan biar gak jadi korban kerdus lo” Repan memukul bangga d**a nya. “Bapak ketu tumben kesini weh!!” seru anggota yang lain Alex hanya beredehem pelan, lalu duduk di samping Rio. “Katanya ada murid baru, kelas sebelas.” “Serius? cewek? cantik gak? Udah ada pawangnya belum?” tanya Vurgos antusias “Giliran cewek aja lo cepet” “Harus lah! gimana? kelas mana dia?” “Gak tau gue, katanya sih dia nerd” “Temen Rayna, sama Kayla” “Woah, temen cewek lo, Yo?” Rio mengedikkan bahunya acuh “Maybe” jawabnya dingin Vurgos mendengus, “Lo kan cowoknya. pasti tau lah” Rio menatap Vurgos datar “Ya terus? urusan sama gue apa? gue macarin Rayna bukan mau cari tau siapa temennya” Sarkas Rio pedas Skakmat! Vurgos tidak bisa berkata apa apa lagi. Rio kalo sudah membuka mulut pasti akan sangat pedas, sangat berbahaya untuk kesehatan mental mereka. “Rayna tertekan gak ya sama mulut pedes Rio?” Rio menatap tajam Gavin. Gavin nyengir tanpa dosa, “Hehe, canda kawan” kedua tangannya ia satukan “Sejak kapan kita temenan?” tanya Rio datar Semua inti levator melotot tak percaya ke arah Rio. apa ini, jadi selama ini mereka itu apa? Rio memang benar-benar minta di cekik namun mereka tidak ada nyali “WAHHH GILAKKK, LO GAK ANGGEP KITA TEMEN? TERUS LO ANGGEP KITA INI APA, YO??” Tanya Reza heboh “JAHAT KAMU MASSS!! AKU KECEWA SAMA KAMU!! KU KIRA KAMU ANGGAP HUBUNGAN KITA ITU ADA,” Ujar Gavin sok dramatis ala ala sinetron “Geleh anying gua dengernya” Denis melempar kuaci ke muka Gavin yang sedang mendramatis “Pantes pin, cewek gak ada yang mau sama lo.” celetuk Revan “b*****t lo, pan!” “Pin, kalo lo ikuta casting pasti di pilih.” ujar Reza “Ide bagus tuh, nanti gua coba” mata Gavin langsung berbinar, ide yang tidak terlalu buruk “Iya, di pilih jadi waria nya AHAHAHA” sambungnya “Hujat aja gua terus, gak papa ikhlas kok” mengusap d**a nya sabar, menghadapi teman laknatnya “Ya, emang lo mah pantes” “Sialan lo pada! punya dosa apa sih gua ke lo pada!?” “Banyak, sampai tak terhingga” Semua nya tertawa terbahak-bahak kecuali Rio dan Alex. apalagi saat melihat ekspresi Gavin yang amat tertekan. Tak lama bell berbunyi semua nya langsung berhenti tertawa dan mengguman malas Alex berdiri, “Masuk kelas lo semua” Ia berjalan meninggalkan Warung tadi, tangannya di masukan kedalam saku celana abu abunya. “Wehh mau kemana lo Al?” “Perpus” Jawab Alex sedikit teriak “Edan! dia nyuruh kita masuk, tapi dia sendiri malah bolos di perpus” “Orang pinter mah bolosnya beda.” Revan berdiri hendak menyusul Alex dan Rio “Bolos juga lo pan?” “Kagak! mau masuk gue.” “Gak mau bolos juga lo?” “Gak. gua masih punya otak yang harus di isi dengan materi pelajaran” jawab Revan lalu melanjutkan langkahnya cepat *** Arsha bangkit dari kursinya saat mendengar bell berbunyi. ia berjalan menuju rak dan menaruh kembali buku yang ia tadi baca Ia membaca beberapa buku selama jam istirahat, menghabiskan waktu dengan membaca buku bisa membuat pikiran nya sedikit lebih ringan. itu lah mengapa ia selalu membaca buku saat pikirannya sedang kacau Setelah selesai manaruh kembali buku, ia langsung berjalan menuju pintu utama. dengan sedikit tergesa-gesa karna semua murid sudah tidak ada Membuat dirinya gelisah, ia tak mau telat masuk. malas untuk di hukum apalagi sekarang sedang terik, ia pasti di hukum dan di jemur di tengah lapangan yang sangat panas Karna berlari dan sedikit menundukkan kepala, tak ia ketahui bahwa ada seseorang juga yang berjalan dari arah berlawanan. Bruk! Kepala nya menabrak d**a bidang milik laki-laki itu, ia juga tak sengaja bahkan kaget ketika ia menyadari bahwa ada seseorang. “M-maaf kak gak sengaja” ujarnya sambil menunduk Tak sempat melihat rupa wajahnya karna ia sendiri tak berani dan takut. “Kalo jalan gak usah nunduk. percuma kalo lo punya mata tapi nunduk saat lo lagi jalan” suara baritone milik laki-laki itu membuat dirinya gugup “I-iya kak, maaf. aku buru buru” ucapnya lalu kembali berlari dan menghiraukan tatapan aneh dari laki-laki itu Alex menatap aneh gelagat Arsha dari belakang, dengan kedua alisnya yang saling bertautan. Sedetik kemudian ia menggidikan bahu nya acuh “Cewek aneh” gumannya pelan. lalu melanjutkan langkah kakinya Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengintip kejadian itu di balik tembok, ia mengepalkan kedua tangannya dan menggeram kesal. “Sialan, awas aja lo cewek cupu!” *** Bell pulang sudah berbunyi beberapa menit lalu, semua murid berhamburan keluar kelas menuju gerbang. Ada sebagian murid yang menunggu gerbang cukup sepi agar tidak berdesakan. dan ada juga yang masih piket di dalam kelas Masing-masing Arsha berjalan keluar kelas berdampingan dengan Kayla dan Rayna. Mereka sengaja menunggu semua murid telah pulang, karna malas untuk berdesakan di gerbang. “Guys, nanti sore kita jalan yok ke mall” ajak Kayla “Ke mall apa ke gramed, Kay?” Ranya menatap Kayla malas. ia tahu, pasti nanti ia akan di ajak nyantol di toko buku kata gadis itu bahwa gramedia adalah surganya para anak pecinta novel “Sekalian ke situ, hehe. ada novel yang pengen gua beli juga.” Kayla cengengesan sambil menatap balik Rayna. Rayna sudah tau ternyata tujuan utamanya “Sumpahhh pengen beli novel nya, di Aplikasi yang sering gua baca. sebagian partnya udah di apus ama author nya.” ucap Kayla antusias. ia tak sabar untuk ke toko buku Rayna memutar bola matanya malas, “Gua setuju, nanti gua ijin dulu ama kak Rio” “Lo, Sha?” Kayla memiringkan kepala menatap Arsha “Kayaknya aku gak bisa deh Kay, sorry ya.” jawab Arsha. Kayla mendesah kecewa padahal dirinya ingin jalan jalan sekaligus ingin lebih dekat “Why?” “Aku ada urusan nanti, jadi gak bisa ikut. tapi, besok besok aku usahain ya” Arsha tersenyum kikuk. sebenarnya ada sesuatu yang amat penting di hari sekarang “Oke deh, gak papa.” Kayla tersenyum manis “Ayok pulang” bisik seseorang tepat di telingga Rayna Rayna tersentak kaget, ia menoleh kesamping sudah ada seseorang yang memasang senyum tipis sangat tipis hampir tidak terlihat Laki-laki itu harus tau, bahwa sekarang jantungnya sedang dugem. karna mendengar suara serak nan baritone milik Rio. “Kak Rio ngagetin aja” ujarnya sambil memegang dadanya. “Sorry, babe” Rio meraih jemari mungil milik gadis itu “Ish, malu tau. ada Kayla sama Arsha kak” Bisik Rayna sembari berusaha untuk melepas genggaman itu Sungguh ia sangat malu sekarang. ya, walaupun sekarang cuman ada Dia, Kayla, dan Arsha. Kedua pipi nya memerah dan jantungnya semakin menjadi jadi. Rio menggulum bibirnya saat melihat rona merah yang ada di kedua pipi gembul milik gadisnya itu. Ingin sekali ia gigit sekarang juga karna gemas melihat raut dari Rayna “Gak peduli” balasnya “Ekhem, bisa kali uwu uwu nya jangan di depan saya. saya uwuphobia neh” celetuk Kayla gemas. sungguh ia juga ikutan baper melihat interaksi kedua sejoli ini “Makanya cari sono biar gak phobia” sahut Rio. sontak Rayna mencubit pinggang milik lelaki itu gak sopan bilang seperti itu “Nunggu karakter fiksi jadi nyata dulu,” Rio memutar bola matanya malas, ia langsung menarik sebelah tangan milik Rayna. Rayna yang tak siap pun jadi terseret paksa “Kay, Sha, gua duluan ya. see you guys” pamitnya sambil berjalan beringang dengan Rio “NA! JANGAN LUPA NANTI SORE GUA JEMPUT LO YA!!” Rayna mengacungkan jempolnya ke udara tanda mengerti dan siap. Sedari tadi Arsha hanya diam, memperhatikan interaksi anatara Rayna dan Rio. ia tak mengenal laki-laki itu karna memang ia tak terlalu kenal dengan orang-orang sekitar hanya beberapa saja “Tadi itu Kak Rio, kelas dua belas. sekaligus pacar Rayna” Jelas Kayla sambil mendekat ke samping Arsha dan menggandeng tangan gadis itu Arsha mengangguk mengerti,“Kok mereka gak pernah keliatan bareng di sekolah?” Kayla menghembuskan napasnya pelan “Mereka Back street,” “Loh kenapa? kok gitu?” Arsha mengernyit kan dahinya, kenapa mereka back street? padalah mereka terlihat sangat cocok. “Kemarin, ada salah satu fansnya kak Rio ngelabrak Rayna. dan hampir nyelakain dia. makanya, Rayna sama kak Rio mutusin buat back street” Kayla memutar kejadian beberapa minggu lalu, di saat hubungan Rayna dan Rio di ketahui oleh semua orang, Rayna di labrak oleh salah satu fans Rio. bahkan mereka tak segan segan untuk mencelakai gadis itu “Kok serem ya, pake gitu segala” Arsha bergidik ngeri mendengar hal itu “Iya gitu resikonya kalo sama cowok yang banyak fansnya.” “Eh, lo pulang bareng siapa?” Tanya Kayla mengalihkan topik “Aku, ada yang jemput kok, Kay.” “Serius? kalo belum sampai mending bareng gua aja, gua anter lo. gua bawa mobil kok” Kayla celingak celinguk ke luar gerbang, tidak ada siapa siapa. tidak ada mobil atau pun motor. “Iya serius, gak usah bentar lagi aku di jemput kok” “Yaudah gua ke parkiran dulu mau ngambil mobil” Arsha mengangguk sambil tersenyum. Kayla berbelok arah menuju parkiran untuk mengambil kendaraannya. Setelah itu, ia langsung keluar dari gerbang dan berjalan menuju halte. ia akan menunggu Adit menjemput di sana Ia duduk di halte sambil memainkan benda pipih miliknya, tak lama dari itu deruman motor berhenti di depannya “Lama ya, Sha?” Tanya Adit Arsha menggeleng, “Nggak kok, baru aja gua duduk di sini” “Padahal Sha, bisa aja gua jemput lo dari kelas langsung. lo gak usah nunggu di sini segala” “Ogah banget gua, nanti gua yang ada, i serang sama fans fans lo” Arsha memberenggut kesal, mengingat cerita Kayla tadi. ia langsung bergidik ngeri Adit terkekeh kecil, “Iya deh, serah lo. buru naek” *** Arsha keluar dari kamar mandi, ia baru saja melakukan ritualnya. duduk di sisi ranjang dan mengambil handphone nya Ting! Sebuah pesan yang membuat mimik muka nya berubah menjadi sendu. pesan berisikan jadwal untuk cek up ke psikolog [Sore Arsha, gimana harinya? oh iya, sekarang jadwal kamu] Ia menghembuskan napas nya pelan, sebenarnya beberapa bulan belakangan ia melewati jadwalnya. terlalu malas dan agak sedikit takut jika sendirian Ia berpikir sejenak, memikirkan apakah ia akan datang atau tidak? *** Adit merebahkan tubuhnya di ranjang, baru saja ia akan masuk ke alam mimpi. tiba-tiba saja deringan dari ponsel menganggunya Drrtt... Drrtt.. Ia mengambil benda pipih itu dan menatap nama yang tertera disana. ternyata yang menelpon nya Arka kembaran Arsha Menggeser tombol hijau dan menaruh benda pipih itu di atas daun telingga miliknya. “Halo Dit” sapa Arka di sebrang sana “Iya, kenapa, Ka?” “Lo lagi dimana? jadi tinggal di rumah gua kan?” tanya Arka dengan nada panik Adit mengernyitkan dahinya, kenapa nada Arka seperti orang panik? bahkan napas memburu milik lelaki itu terdengar “Jadi, ini gua udah menetap di rumah lo, kenapa?” Adit bangun dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang Arka menghembuskan napas nya lega, “Gua mau bilang sesuatu penting banget” “Iya apaan buru” “Sekarang jadwal Arsha konsul ke psikeater” sedetik kemudian yang terjadi hanya lah hening Adit masih bingung maksudnya apa? Jadwal? Konsul? Psikeater? Itu artinya.... “HAH!? PSIKEATER!??” Teriak Adit kaget, Arka menjauhkan handphone dari telingga miliknya, demi apapun teriakan Adit bisa merusak gendang telingga nya “b*****t! kuping gua pengang. gak usah tereak nanti orangnya denger” “Oh iya sorry, kaget gua tadi” “Emang Arsha punya sakit mental? Dia bilang kagak punya” tanya Adit serius kepada Arka “Lo kayak gak tau Arsha aja, dia kan emang gitu orangnya. gak mau orang sekitarnya tau tentang masalah dia ataupun yang sedang dia alami” jelas Arka. di barengi kekehan miris di akhir kalimat “Tau tuh kembaran lo,” celetuk Adit “Sepupu lo juga” “Ck iya iya!” “Udah belom? gua matiin nih” “Satu lagi d***u” “Paan lagi dah?” “Nanti pulang dari sana, lo ke toko buku dulu” Adit mengernyitkan dahinya heran “Lah ngapain? gua gak suka baca buku kalo lo lupa!” “Nah, itu yang jadi point pentingnya. lo ke toko buku beli buku tentang mental dan cara ngatasinnya. kalo si Arsha kambuh lo pake tuh. buku punya gua di bakar ama Wisnu!” “Bokap lo kenapa kek gitu amat sih, Ka?” tanya Adit dengan nada sinis dan heran Sumpah, Adit tidak bisa memahami jalan pikir si tua bangka itu “Udah stress, maklum” celetuk Arka sambil tertawa “Bangke lo jadi anak, bapak lo tuh” “udah yak gitu doang. gua matiin” “Okey, makasih udah di kasih tau” Adit bergegas kekamar mandi dan berganti baju. demi apapun, dirinya tak tahu bahwa Arsha memiliki penyakit mental. karna, ketika ia tanya Arsha pasti menjawab, “Gak kok, gua gak punya. mental gua bersih” Sebenarnya ia juga tidak percaya, namun lama kelamaan ia percaya karna ia belum pernah melihat gadis itu kambuh Namun, jika di pikir pakai logika tidak masuk akal. mana ada seseorang yang memiliki kejadian dan menyebabkan trauma tidak mempunyai penyakit mental. itu sangat tidak masuk akal
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD