Delapan belas

1944 Words
“Ada apa Bun?” Tanya Alex setelah selesai membersihkan badannya. Ia duduk di sofa, tadi saat ia baru pulang Vina memanggilnya dan ada yang ingin wanita itu sampaikan Vina tersenyum, lalu ia duduk di samping anak tunggalnya itu Melihat gelagat Vina yang terlihat aneh, seperti seseorang yang mengode meminta sesuatu. Menghembuskan napasnya, pasti Vina ingin meminta sesuatu. “Bunda mau apa? bakso? Cilok?” tebak nya langsung di jawaban gelengan oleh wanita tersebut “Bukan” Jawab Vina Alex mengernyitkan dahinya sembari menatap Vina, “Terus?” “Janji kamu harus mau lakuin ya” ucap Vina terlebih dahulu membuat Alex semakin curiga “Apa dulu?” “Janji dulu” “Apa dulu, Bun?” “Y-ya pokoknya janji dulu ya” kekeh Vina pada anaknya Alex menunduk sambil menghembuskan napasnya pasrah lalu mengangguk pelan. “Oke fine” Vina tersenyum sumringah mendengar hal itu, menarik napas dalam-dalam. “Bunda mau jodohin kamu sama anak temen Bunda!” Ucap Vina dengna cepat dan lancar Hening Tiba-tiba saja Alex tertawa terbahak-bahak. “Kok ketawa sih?!” tanya Vina kesal “Aneh-aneh aja Bun permintaannya” Wanita itu menatap malas Anaknya. “Bundaa, sekarang itu udah jaman modern. Bukan jaman siti Nurbaya segala di jodoh-jodohin” ucap Alex serius. Memang ini jaman dulu pake segala di jodoh-jodohin? Gak elit banget Ia menggeleng, “Al, Gak mau kalo permintaan bunda kayak gitu” “Kenapa? kamu udah cukup umur. bunda tuh pengen punya mantu” Lelaki itu mengangguk, walaupun umurnya sudah cukup tapi ia sendiri masih ingin meneruskan pendidikannya “Bunda nanti juga pasti punya. tapi bukan sekarang... Tapi nanti, kalo aku udah sukses” Terang Alex tersenyum manis “Gak papa dong, orang anak temen bunda juga cantik kamu pasti gak akan nolak” kekeh Vina “No” menggeleng kuat. Ia tidak mau menikah di usia yang sangat muda. kepikiran kesana saja ia tidak sama sekali “Harus mau” “Nggak bun, yang lain aja deh. Atau beri keringan lah” “Jangan-jangan kamu gay? gak suka sama cewek?” delik Vina curiga menatap anak tunggalnya itu dengan penuh tanya Alex melotot mendengar pertanyaan dari Vina, “Bun! bunda ngaco deh. Al suka cewek kok!” jawab Alex kesal. Bisa bisanya ia di fitnah seperti itu hanya karna tidak pernah membawa anak gadis main ke rumahnya “Yaudah buktiin sama Bunda!” tantang Vina sambil bersedekap dada “Kasih Al waktu” “Oke, hari minggu kamu harus bawa pacar kamu kehadapan Bunda. Dengan begitu Bunda percaya kalo kamu suka sama cewek” final Vina “Oke deal!” jawab Alex setuju. Mau tidak mau kan? Dari pada dirinya di jodohin sama orang yang tak di kenal lebih baik mencari pacar *** Alex mengacak rambutnya prustasi, dia duduk di balkon kamarnya dengan rokok yang menyalip di sela jari, serta minuman kaleng. Ia harus melakukan apa sekarang? mencari pacar? Ia bahkan tak napsu untuk memulai hubungan baru dengan lawan jenis. Meneguk minuman soda hingga tandas. ia langsung masuk kembali kedalam kamar Duduk di tepi ranjang menatap rensel sekolah nya. Selama ia menggedong tas itu ketika pulang sekolah terasa cukup berat. Padahal ia cuman membawa buku, dan baju basketnya. tapi biasanya tidak seberat yang tadi Berdiri dan melangkah maju kearah Ransel, lalu ia membukanya. Di dalam ia menemukan tote bag berwarna abu-abu, keningnya mengerut. Ia tidak pernah membawa tote bag. Lalu itu milik siapa? Tangannya mengambil tote bag tersebut dan langsung membukanya. setelah di buka ia mengeluarkan isinya. sudut bibir nya tertarik keatas sedikit setelah membaca isi stick note yang menempel di atas hoodie nya Stick note berisi ucapan terimakasih karna telah meminjamkan hoodie, dan permintaan maaf karna baru sekarang ia mengembalikannya. “Permisi kak, maaf lancang karna udah buka tas kakak sembarangan. Aku cuma mau balikin hoodie yang kakak pinjemin, makasih udah pinjemin hoodinya kak. maaf juga karna baru sekarang di balikinny. kemarin aku udah taro di kursi taman waktu itu tapi pas pulang sekolah hoodie nya masih ada. Jadi, sekarang aku balikin ya. Udah di cuci kok, pakai pewangi+kembang tujuh rupa biar gak bau. Sekali lagi makasih ya kak •ᴗ•” — Arsha. Begitulah isi dari stick note tersebut. Sudut bibirnya tertarik keatas membuat lengkungan sedikit ia tersenyum tipis setelah membaca stick note dari gadis itu Perlu kalian ketahui bahwa baru pertama kalinya lelaki itu tersenyum hanya karna sebuah isi stick note. Aneh bukan? “Menarik” *** Para pentolan Levator sedang duduk di rooftop. Mereka duduk di sofa yang sudah usang. Sebentar lagi bell jam pelajaran pertama akan berbunyi tapi mereka belum kunjung masuk kedalam kelas juga Yang lainnya bercanda tawa, ada juga yang sedari tadi fokus pada handphone, dan ada yang pokus membaca. Sedangkan Alex. Ia sendiri sedang menatap lurus sambil melamun memikirkan titahan bundanya semalam Apa yang harus ia lakukan? Mencari pacar? Tidak usah di cari pasti mereka pun akan mengantri menjadi pacarnya. Namun, di antara banyak nya perempuan yang mendekatinya tidak pernah ada yang masuk kedalam list pacar idamannya “Kenapa lo? Ngelamun mulu” tanya Revan sambil menepuk bahunya Alex hanya menggeleng samar “Ada masalah? Lo kayak orang yang stress mikirin sesuatu” ucap Revan lagi. Jika di lihat memang gelagat Alex seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu “Gak ada” jawab Alex singkat Revan memutar bola matanya malas, lelaki itu selalu menahan masalah nya sendiri. Padahal tidak ada salahnya jika dia mengatakan langsung masalah yang sedang dia alami. Siapa tau Revan dan yang lainnya bisa membantu Tringgggg! Bell jam pelajaran pertama sudah berbunyi. Alex berdiri sendiri ia langsung melangkah keluar dari rooftop “Kemana lo Al?” tanya Reza sambil berteriak “Perpus” jawab Alex singkat sembari menutup pintu rooftop itu Jika kalian berpikir Alex akan ke kelas maka jawabnya salah, ia akan pergi ke Perpustakaan untuk menenangkan pikirannya. Ia tak pokus belajar jika keadaan pikiran nya kacau Semuanya menatap pintu rooftop, kemudian menatap satu sama lain. “Gue yakin si Al lagi ada yang di pikirin” ucap Revan terlebih dahulu Semuanya mengangguk. “Kayak orang depresi mikirin sesuatu gak sih?” kini Vurgos yang berpendapat “Hooh bener Gos!” Gavin mengangguk cepat “Masalah besar kali” celetuk Rio sembari meninggalkan rooftop menuju kelasnya “Gak biasanya tuh anak bolos” ucap Reza pelan Ia yakin pasti ada sesuatu yang lelaki itu pendam sendiri. *** “Kantin?” tanya Kayla menatap kedua gadis yang ada di samping nya Keduanya menatap Kayla, sedetik kemudian Rayna dan Arsha menggeleng kompak. “Kenapa?” tanya Kayla heran “Gue mau ketemuan sama Kak Rio” Jawab Rayna berbisik Kayla menatap malas Rayna “Ck, iya sono deh” ujarnya kesal. Ia memaklumi bahwa sahabatnya itu sedang bucin satu sama lain "Aku mau belajar di perpus. Mau ikut?” jawab Arsha, dan tanya di akhir kalimat. Sontak Kayla menggeleng, ogah banget dia ke perpus. Matanya akan sepet menatap buku berisi tulisan. Rayna pamit duluan kepada keduanya untuk segera sampai di rooftop. “Gue kekantin sendiri nih?” tanya Kayla kepada Arsha yang sedang berjalan di sampingnya Arsha mengangguk, “Emang mau sama siapa lagi?” “Ck! Nasib gue gini amat yak. Lo bedua sibuk gue menyendiri lagi” ucap Kayla mendramatis Arsha mengelus bahu gadis itu sembari terkekeh kecil. “Kalo aku udah selesai belajar nya, aku nyusul kamu kok” “Lo kan nempel banget sama buku Sha. Pasti lama lo di perpustakaan” cibir Kayla. Selama sebulan lebih berteman dengan Arsha Kayla jadi tahu bahwa gadis itu sangat ambisius dalam hal yang namanya belajar Arsha menyengir, ia memang begitu. masih ambisius dalam hal belajar Kemudian Arsha berbelok kearah perpustakaan meninggalkan Kayla sendiri “Nasib gue jadi jomlo gini nih, kagak punya temen saat mereka bedua sibuk masing-masing” gerutunya pada nasib sendiri “Kata siapa?” suara lelaki dari arah belakang tubuh Kayla Gadis itu langsung berbalik menatap lelaki itu, sedangkan lelaki itu sudah tersenyum manis kearahnya “Eh, kak Revan” ucap Kayla malu sendiri “Mau ngantin bareng?” Ajak Revan langsung di angguki oleh gadis itu Mereka pun berjalan menuju kantin, Kayla merasa sangat senang karna dapat kekantin berdua dengan Revan. Lelaki yang sangat ia idam-idamkan dari dulu Sedangkan di sisi lain, ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Lelaki itu tersenyum getir melihat Revan yang berjalan berdampingan dengan gadis yang sangat ia sukai Pandangan nya beralih ke tangannya yang membawa tote bag berisi sekotak bekal. Tadinya ia berencana akan mengajak Kayla makan siang bersama dirinya di taman. Namun, ia kalah cepat dengan temannya sendiri Reza menghembuskan napasnya lesu, lalu berbalik dan berjalan lesu kearah taman Ya, lelaki yang sedari tadi melihat interaksi antara Revan dan Kayla. bolehkah ia cemburu dengan sahabat sendiri? Reza menggeleng, menghapus pikiran tersebut. Ia tak boleh cemburu, terserah gadis itu jika akan jalan bersama siapa pun. Itu hak nya. Lagi pula Revan itu sahabatnya mana mungkin lelaki itu akan merebut gadis yang sangat ia sukai *** Sudah lima belas menit Arsha berkutat dengan buku yang ada di hadapannya. Matanya terasa sangat perih karna terlalu lama menatap tulisan yang ada di buku paket Itu Tangannya pun sudah sangat pegal menulis di buku catatannya. Ia merapihkan semua bukunya lalu menutup nya. Menatap kearah jam tangannya ada waktu untuk mengistirahatkan matanya serta tangan nya yang sudah pegal Ia pun menelungkupkan wajahnya di antara kedua tangannya. Menutup matanya secara perlahan dan ia pun terbawa alam mimpi Sedangkan di bangku paling belakang, Alex menutup buku yang ia baca. Sudah banyak buku yang ia baca untuk mengalihkan pikirannya tapi tetap saja itu tidak berhasil sama sekali Berdecak kesal karna pikirannya terus menerus di penuhi dengan titahan dari Bundanya Ia membereskan bukunya kembali kedalam rak, saat kembalikan badannya pandangannya tak sengaja menangkap gadis yang sedang tertidur sambil menelungkupkan wajahnya Arsha. Ya, nama itu muncul di pikirannya. Tak terasa bibirnya tersenyum tipis sambil menatap punggung lesu milik gadis itu secara lamat Membuang pandangan, menatap kearah sekitar. Tidak ada orang. Hanya ada penjaga perpus yang sedang membaca buku juga Melangkah maju mendekati gadis itu, baru beberapa langkah bell sudah berbunyi kembali. Arsha langsung terperanjat kaget karena bell tersebut, ia membukakan matanya, menetralkan pandangan nya yang masih belum maksimal. Memandangi sekitar, sudah sepi. Karna sedari tadi ia masuk ke perpus memang sepi tidak ada murid lain Pandangan nya tak sengaja bertatapan langsung dengan Lelaki yang sedari tadi berdiam diri, di samping rak Alex langsung membuang pandangan. Dan berpura-pura tak melihat Arsha. Dengan cepat tangannya mengambil salah satu buku dan ia membukanya. Berpura-pura membaca sambil berdiri Arsha pun agak terkejut dengan keberadaan lelaki itu. Namun dengan cepat ia langsung membawa buku-buku dan melangkah meninggalkan perpustakaan Tak terasa oleh dirinya sendiri bahwa ada selembar kertas yang jatuh dari buku diary-nya Dan itu adalah selembar foto dirinya dan Angga sewaktu dulu Di rasa Arsha sudah pergi dan tak terlihat dari dalam perpustakaan. Alex membuang napasnya gusar. Lalu ia melangkah kembali. Namun, baru beberapa langkah kaki nya terasa menginjak sesuatu. Selembar kertas mungkin? Ia memundurkan kembali langkahnya dan menatap kertas yang ada di lantai itu Jemarinya mengambil kertas tersebut, ia yakin kertas ini berasal dari salah satu buku milik Arsha Ia menatap lamat selembar foto tersebut, di sana ada seseorang lelaki yang seumurannya, dan seorang gadis di sebelah nya tangan gadis itu mengangkat kue ulang tahun yang bertuliskan angka tujuh belas Dekoran ulang tahun ada di belakang mereka berdua. Namun sayang, wajah mereka berdua tidak terlihat karna sudah di silang oleh spidol berwarna hitam Gadis itu berbeda dengan kondisi pakaian Arsha sekarang. Gadis itu rambutnya di gerai indah, baju dress selutut, dan tas selempang yang tersampir di bahu gadis itu “Ini siapa?” tanya nya pada diri sendiri Ia yakin Arsha adalah gadis misterius. Dan banyak rahasia yang ia simpan sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD