Arsha mengacak-acak semua barang yang ada di dalam kamarnya. Bukan tanpa alasan, ia sedari tadi mencari selembar foto yang sangat ia jaga agar tidak ada orang lain yang melihatnya.
Ia sudah mengecek di buku diarynya, tas, dan buku catatan yang lain. Tapi tetap tidak ada di dalam sana
Kalo ada seseorang yang menganali orang-orang itu di dalam foto maka hidupnya akan teracam. Semua rahasia hidup kelamnya akan terbongkar.
Ia menggeleng kepala nya kuat, ia harus mencari foto itu sampai dapat. Karna foto itu adalah kunci dari semua pertanyaan hidup kelamnya
Tidak ada yang boleh tau siapa ia sebenarnya, jangan sekarang. Ia belum siap
Mengacak rambutnya prustasi. Harus mencari kemana lagi dia?
“ARGHHHH SIALANN! CEROBOH BANGET LO ARSHA!!” Teriaknya sambil memukul-mukul kepalanya dengan keras
Keringat sudah membanjiri diri nya. Dari kepala sampai ujung kaki semuanya sudah basah karna keringat. dadanya bergemuruh. Terasa sesak kembali, semuanya tubuhnya bergetar hebat. Membayangkan jika orang-orang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya
Kakinya melemas, ia terjatuh di bawah sisi ranjang. Menjambak rambutnya sendiri sambil menangis
Tak boleh, tak boleh ada yang tahu. Siapapun itu
“Ng-nggak! Gak boleh! Gak boleh ada yang tahu!” celoteh nya sendiri dengan tatapan kosong
Rambutnya sudah tak tetbentuk, karna ia sendiri yang menjambaknya.
Tiba-tiba saja pintu terbuka, seseorang berdiri di sana.
Arsha segera memeluk lututnya, bibirnya sudah bergetar.
Sedangkan Adit masih bingung dan kaget kenapa Arsha berteriak, dan kenapa kamar gadis itu sangat berantakan?
“Pergi! Gue mohon! Pergi!!” Arsha semakin ketakutan. Bayang-bayang kejadian itu tiba-tiba saja berputar di otaknya
Adit segera mengalihkan pandangannya, ia melangkah cepat. melihat kondisi gadis itu yang bisa di katakan sangat tidak baik-baik saja
Lelaki itu mendekat kearahnya, dan Arsha semakin berteriak ketakutan.
“PERGIII!!” teriak Arsha semakin menjadi - jadi
Telapak tangan gadis itu memegang pecahan gelas kaca,
“Sha, ini gue sha. Gue Adit.” ucap Adit mencoba menenangkan gadis itu
Arsha menggeleng kuat, mendengar penuturan orang itu
“Nggak! Bukan! Lo bukan Adit sialan!”
“Sha, ini gue Adit”
“Bukan! Lo bukan kak Adit!” racaunya. Telapak tangannya sudah robek karna memegang pecahan gelas kaca itu.
Darahnya sudah kemana-mana, Adit tak tahan melihat kondisi gadis itu
“Arsha sadar! Ini gue Adit”
“Bukan lo bukan Adit! Lo b******n!” Racaunya semakin tidak jelas, gadis itu melepaskan pecahan itu lalu menarik rambutnya sendiri
Adit langsung mendekat dan memeluk gadis itu, ia merintihkan air matanya.
Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya. Sudah sering jika Arsha seperti ini. Tapi jika gadis itu sedang panik atau ketakutan saja,
“Tenang Sha, ini gue bukan orang jahat”
“Gue takut...” ucapnya bergetar
Tangan Adit mengelus punggung milik Arsha guna menenangkan nya.
Arsha membalas pelukan Adit tak kalah erat. Ia menangis sesenggukan di bahu Adit.
“Gue takut kak...” mendengar suara gadis itu yang bergetar dan ketakutan membuat hatinya teriris sakit.
“Kenapa? Takut kenapa Sha?” tanya Adit dengan nada tenang
“Foto kak.. Foto itu ilang...” Arsha memberitahu dengan suara pelan
Adit mengangguk pelan, lalu mengelus punggung gadis itu. walaupun ia tidak tahu foto apa yang hilang dan yang di maksud oleh Arsha
“Nanti kita cari ya, tenang. nanti kita cari sama-sama”
“Cari kak... Nanti orang lain tahu”
Adit menggeleng, “Nggak Sha, gak ada yang bakal tahu. Tenang ya, nanti kita cari sama-sama”
Gadis itu mengangguk pelan, Adit melepaskan pelukannya dan menatap lamat gadis itu. Jemarinya menghapus jejak air mata Arsha. lalu tersenyum tipis kepada Arsha
“Tenang ya”
Gadis itu mengangguk pelan, sembari membalas senyuman Adit. Gadis itu tersenyum namun, senyuman dari gadis itu mengisyaratkan penuh luka. Luka yang dalam
***
Brum Brum Brum
Suara deru motor yang sangat keras, di tambah oleh sorakan para penggemar, terdengar riuh di jalan yang sepi. Ya, di sini terdapat balapan motor. Ada dua orang yang akan balapan motor.
Di dalam helm full-facenya mereka saling beradu pandangan sengit.
Alex menatap wanita yang berpakaian minim di depan. sembari memegang kain
Brum Brum Brum
“Satu...,” intruksi dari wanita itu
“Dua...,”
“Tiga...,” intruksi ketiga, wanita itu melemparkan kain, dan motor yang di tumpangi Alex, dan Mark melaju dengan cepat. Suara motor di tambah sorakan dari para penggemar, membuat jalan yang sunyi menjadi bising.
Jalan yang jauh dari perumahan, adalah tempat balapan sering terjadi. Karna jauh dari penduduk, jika didekat perumahan pasti ada salah satu penduduknya yang akan melaporkan kepada polisi. Itu lah alasan mengapa mereka memilih jalanan yang sunyi
Disini Alex tak sendiri, ia bersama dengan anak anak buahnya. karna tadi siang Reza dapat pesan dari salah satu anak buah Mark mengajak Alex untuk balapan dengannya.
Terdengar suara motor, dan terlihat motor yang melaju cepat menuju finish. Sorakan kembali terdengar riuh, Motor Alex dan Mark menuju dengan cepat kearah finish.
“Alex, Alex,” suara penggemar Alex terdengar riuh, mereka melihat motor Alex melaju lebih cepat mendahului lawannya.
Brum Brum Brum
Motor Alex melaju melewati garis finish, mengalahkan Mark yang tertinggal hanya beberapa jarak saja.
Alex membuka helm full-facenya, dan menyegarkan rambutnya dengan jari jemari.
Mark langsung turun dari motornya dan membuka helmnya. Dia langsung melangkah mendekati Alex, dan menyalami lelaki itu dengan tos ala ala anak muda.
“Wow... Selamat bro” ucap Mark
Alex terkekeh, “Thank you Mark”
“Baru kali ini gue di kalahin sama partner gue. Hebat juga lo ahahaha” puji Mark
“Lo juga hebat sebenarnya, cuman lebih hebat gue” balas Alex dengan tertawa renyah
Jika kalian berpikir mereka berdua bermusuhan maka pikiran kalian salah, mereka berdua sudah berteman baik sedari kelas 8 SMP. Tapi, mereka berbeda sekolah saat SMA maka dari itu mereka baru kembali bertemu sekarang
“Jangan lupakan jasa gue, yang bujuk Alex berjam-jam supaya nerima tawaran lo” ujar Reza
Mark mengangguk-angguk.
“Gimana kalo kita ngumpul bareng sebagai tanda pertemuan kita?” usul Vurgos langsung di angguki oleh anggota levator maupun teman-teman Mark
“Boleh tuh.” Jawab Mark setuju. Lagi pula dia baru kembali bertemu, tidak ada salahnya untuk berkumpul bersama mereka
Tiba-tiba saja seorang gadis berpakaian agak minim menghampiri mereka. Memakai celana jeans panjang berwarna hitam, baju crop top berwarna hitam sebatas bawah d**a, dan jaket kulit berwarna hitam. Serta rambut panjang yang di gerai berwarna hitam.
Gadis itu berdiri di samping Mark, tak lupa menyapa para lelaki yang sedang ada di sana.
Vurgos menatap gadis itu dengan sangat pokus. Bodynya bor mantep seperti gitar spanyol di tambah wajah gadis itu yang sangat cantik
Tangan kekar Mark menggeplak wajah Vurgos yang sedari tadi menatap gadis yang ada di sampingnya.
“Mau gue buat buta mata lo!??” Ucap Mark sangar
Vurgos langsung mengusap wajahnya, lalu menyengir tanpa dosa kearah Mark
“Hehe, sorry. Cantik dia soalnya”
Perlu kalian ketahui bahwa gadis itu adalah adik kandung Mark. Namanya Jesslyn.
Jesslyn mengusap bahu sang kakak agar tenang.
“Tenang, gue gak papa” ucap Jesslyn lembut
Mark menatap pakaian Jesslyn, ia berdecak kesal ketika perut putih, mulus, dan rata. Milik adik tersayang nya terekspos dan di lihat banyak buaya
Ia melepaskan jaketnya, lalu melepaskan kaos berwarna hitamnya. Dan memberikan kepada Jesslyn. Mark memakai kaos dalam berwarna putih, jadi jangan khawatir jika tubuh seksi lelaki itu terekspos.
Jesslyn berdecak kesal, ia malas memakai kaos milik Mark. Sedangkan lelaki itu sudah melotot maut kearah adiknya.
“Pake cepet!” titah Mark sembari menatap maut sang Adik
Jesslyn mengangguk terpaksa lalu ia memakai kaos itu.
“Posesif brothers!” ejek anak anak yang lain. Melihat interaksi yang sangat sweet anatara sang kakak dan sang Adik.
Umur mereka tidak jauh berbeda, membuat Mark dan Jesslyn sering kerap di anggap berpacaran.
“Kak Al, lain kali balap sama gue ya” ucap Jesslyn menantang Alex
Mark menatap tajam adiknya. Jesslyn hanya menyengir kearah Mark
Mereka semua terkekeh melihat hal itu
“Ngumpul di markas aja” ucap Alex langsung di angguki oleh semua orang
Mereka pun segera menaiki motor masing-masing dan menuju tempat markas Levator
***
Adit menatap gadis yang sedang tertidur pulas, sembari memerban telapak tangan gadis itu. Ia menatap sendu Arsha.
Setelah selesai memerban telapak tangan, ia beralih mengelus kening Arsha. ia tahu Arsha lelah seperti ini, pasti rasanya tidak bisa di katakan lagi.
Menghembuskan napasnya pelan, ia mengecup cepat kening gadis itu.
Ia melirik kearah jam, sudah menunjukan pukul sepuluh malam. baru saja tadi Arsha tenang dan tertidur.
Adit berdiri dan membenahi kotak p3k, dan menaruhnya di laci. Ia beralih mengambil kompresan karna suhu tubuh gadis itu naik.
Adit kembali dengan membawa baskom berisi air hangat, dan lap kompresan. lelaki itu langsung menaruhnya di kening Arsha
Lelaki itu beralih membuka laci nakas, di sana terdapat benda tajam. Seperti gunting, cater, dan silet. Adit langsung mengambil semua barang itu dan memindahkannya ketempat yang Arsha sendiri tidak tahu.
Ting tong
Bell pintu berbunyi, Adit segera keluar, dan turun menuruni anak tangga. Lelaki itu langsung membuka pintu dan menatap seseorang yang tengah berdiri tegap di depan
“Beneran balik lo?” tanya Adit setengah mengejek kepada orang itu
Arka mengangguk, “Seperti yang lo liat”
Ya, orang itu adalah Arka. Ia ingin memberi kejutan pada sang kakak, dan ia juga merindukan gadis itu. Adit memang sudah tahu, tadi sore ia ingin mengajak Arsha tapi, tadi keadaan nya sedang tidak mendukung. Maka dari itu ia belum berbicara apapun kepada Arsha
Arka menoleh, “Arsha mana?”
Adit menunduk, Arka langsung mengernyitkan dahinya tak mengerti.
“Dimana–”
“Kamarnya...” jawab Adit lesu
Arka langsung berlari naik kearah tangga. Tatapannya berubah menjadi khawatir. Perasaan nya tak enak sedari tadi
Membuka pintu kamar, dan terdiam diri melihat gadis yang berbaring tak berdaya di ranjang. Langkahnya terasa berat. Melihat gadis yang terbaring lemah, telapak tangannya di perban, bibirnya sudah pucat.
Dada nya terasa sangat sesak melihat keadaan kembarannya sekarang. Ia kira gadis itu bisa tersenyum kembali jika Wisnu tidak ada bersamanya. Namun ternyata dugaan nya salah, gadis itu melawan rasa traumanya sendirian
Arka duduk di tepi ranjang, tangannya terulur untuk menggengam tangan milik gadis itu
Air matanya turun, melihat keadaan Arsha yang sekarang. Sama sekali tidak berubah, sebulan dirinya tidak saling mengabari satu sama lain.
Adit tiba-tiba saja masuk, lelaki itu menatap sendu punggung Arka. Punggung yang biasanya tegap, kini turun ketika melihat keadaan kembarannya yang sangat kacau
“Tadi, dia kumat. Tangannya berdarah karna pegang pecahan gelas.” terang Adit sambil memejamkan matanya
“Kenapa dia bisa kumat, Dit? waktu gue belum pergi dia gak pernah kumat...”
“Dia bilang, foto nya ilang. Dia takut kalo orang lain tahu foto itu, dan ngenalin Arsha sama Angga” jawab Adit,
Arka mengangguk, tangannya beralih mengusap rambut gadis itu
“Maaf'in gue kak...” sesal Arka sembari menangis
Mata Arsha terbuka, melihat kearah sampingnya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali.
Arka menghapus dengan cepat air matanya, sebelum gadis itu melihat dan mengetahui bahwa dirinya menangis
“Ar-arka?” Tanya Arsha linglung
Ia tidak sedang bermimpi kan? Kembarannya ada di sampingnya?
Arka langsung mengangguk, “Iya, ini gue Kak” jawab Arka sembari tersenyum
Arsha langsung duduk, dan menatap lelaki itu tak percaya.
“Arka? Bener Arka? Gue gak lagi mimpi kan?”
Arka langsung menarik gadis itu, masuk kedalam dekapannya. Mengelus surai rambut gadis itu. Mengecupnya pelan
“Lo gak lagi mimpi kak, ini gue. Gue, Arka kembaran lo” jawab Arka dengan suara serak dan bergetar
Merasa bahwa kedua orang tersebut sedang membutuhkan waktu berdua. Adit melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya
Air mata Arsha kembali menetes, ia membalas pelukan Arka. Menangis di dalam pelukan lelaki itu
“Gue kangen, gue takut. Takut Ar,” ujar Arsha dengan suara bergetar
Arka semakin mengeratkan pelukan, ia mengelus punggung gadis itu
“Maaf kak, maafin gue...”
Arka melepaskan pelukan, dan menatap gadis itu.
“Sabar ya, gue pasti bawa pergi dari sini. dari tempat yang buat hati lo sakit kak”
“Kalo saham perusahaan papa udah jadi atas nama gue, gue akan jemput lo. Nanti kita pergi dari sini kak”
“Sabar ya..., gue lagi berusaha, demi lo..”
Arsha mengangguk, lalu memeluk lelaki itu lagi.
“Jangan tinggalin gue Ar, gue takut..”