Aku merasa jantungku akan meledak karena perasaan aneh yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Bibirnya masih menempel di bibirku, seolah enggan untuk dilepaskan. Aku mendesah pelan karena karena rasanya semakin kesulitan untuk menarik napas. Aku harus segera melepaskan diri darinya, tapi entah kenapa sangat sulit untuk kulakukan. Saat tanganku berhasil mendorong tubuhnya, dia menarik tubuhku kembali dan menekankan bibirnya semakin dalam. Aku tidak bisa berpikir dengan benar lagi saat gerakannya semakin tidak terkendali. "Hentikan, Yang Mulia," pintaku dengan napas yang terasa terengah. "Buat apa aku menghentikan hal yang menyenangkan ini?" balasnya. "Sudah lama aku menunggu hal ini," ucapnya. Tanganku bergetar saat mendorong tubuhnya. Rasa takutku sudah tidak bisa kujelaskan lagi.

