"Panas sekali rasanya," ucapku sambil pura-pura beranjak dari dudukku dan mengibas-ngibaskan tanganku. Sebenarnya kulakukan untuk mengalihkan pembicaraan. Aku berjalan dari satu sudut tenda ke sudut lainnya sampai dia menatapku dengan wajah aneh. "Diamlah! Jika kau bergerak terus seperti itu, malah akan semakin panas," ucapnya dengan nada kesal. Dia menarik lenganku dan membawaku kembali ke tempat tidur. "Istirahatlah sekarang, besok kita harus mengintai para pemberontak yang bersembunyi," ujarnya. "Apa aku juga ikut?" tanyaku. Ini tidak masuk akal, kenapa aku juga harus ikut dalam pengintaian itu. "Atau kau lebih memilih tinggal sendirian di dalam tenda ini," ujarnya sambil mengerling ke arahku. Aku menatap ke arahnya dan kemudian segera menundukkan kepalaku saat tatapan mata kami ber

