Pagi ini badan Naura sudah merasa membaik. Bahkan, ia sudah kuat memasak. Rencananya nanti ia akan mencari pekerjaan lagi. Kini Naura tengah menata sarapan di meja makan, ia baru saja selesai masak. Tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah. "Siapa yang datang sepagi ini?" guman Naura lalu bergegas ke depan untuk membuka pintu. "Mbak Valerina," lirih Naura yang seketika membeku melihat Valerina berdiri di hadapannya sambil tersenyum lebar. "Hai Naura," sapa gadis itu ramah. "Saya mau ketemu Aril. Saya juga bawa sarapan buat dia." "Si–silahkan masuk, Mbak," ucap Naura sedikit gagap. Valerina lalu berjalan masuk. "Tuan Aril masih di kamar. Sebentar saya panggilin dulu." "Tidak usah, biar saya saja yang panggil. Tolong kamu sajikan ini di meja makan, ya." Valerina menyerahkan rantang yang i

