Setelah acara sarapan pagi berjalan dengan kemarahan dan juga penuh kebencian Mr G bergerak pergi menuju ke tempatnya bekerja,
Seperti biasanya pria tampan bermata hijau itu hanya diam sembari mengingat kembali semua wajah wajah istrinya yang kecewa, bukan tanpa alasan Mr G melarang mereka semua untuk bermain main di perusahaan, meski tempat itu adalah salah satu aset miliknya tapi bukan berarti Mr G membiarkan orang lain ikut campur dalam bisnisnya sekalipun itu istrinya sendiri.
Mr G sebenarnya bukanlah seorang pria yang berwatak kejam dan keras yang suka mengekang ataupun menyiksa seseorang, dia hanyalah seorang pria dengan pemikiran yang berbeda dari pria yang lainnya
Mr G juga bukanlah seorang maniak seks sehingga dia harus memiliki banyak istri dirumah namun pria bermata hijau itu hanya seorang pria lemah yang mencintai keindahan pada wanita tertentu, sehingga dia ingin merawat dan memanjakan wanita yang Mr G sukai sesukanya.
Apakah dia normal ? Mr G bukanlah seorang fakboy ataupun seorang playboy dia hanya pria yang menyukai sesuatu maka dengan cara apapun Mr G akan menjaga dan juga menjadikan hal itu miliknya seutuhnya secara resmi.
Itulah alasan kenapa Mr G harus menikah para wanita itu meskipun dengan berbagai macam alasan di belakangnya,
Tapi Mr G sadar tidak mudah memberi penjelasan kepada orang lain tentang pandangannya, apalagi bila mereka sudah memberinya tanda sang Casanova.
" Tuan,! sudah sampai " kata sang supir sekaligus asisten pribadinya Lino, membuyarkan lamunan Mr G.
" Oh,...... terima kasih, apa ada informasi terbaru mengenai kasus yang kemarin ?" tanya Mr G pada Lino sebelum keluar dari mobil.
" Maaf tuan belum ada, kami hanya sedikit mendengar rumor bahwa tuan muda Emraan masih mengutus seorang untuk mencari stempel istana atis' h. " jawab Lino.
" Biarkan saja, laporkan padaku bila ada info terbaru dan satu lagi suruh seseorang untuk mencari tahu tentang wanita yang kemarin " perintah Mr G.
" Baik' tuan " jawab Lino.
Mr G kemudian segera beranjak keluar dari dalam mobil dan segera masuk kedalam lobby perusahaannya dengan di ikuti oleh asisten pribadinya dan beberapa staf yang sudah siap menyambutnya di pintu masuk.
Rumah perlindungan ********
Alissa masih duduk termenung di atas batu, saat ini dirinya baru saja selesai berlatih fisik sembari menikmati keindahan alam di sekitar rumah perlindungan tempat tinggalnya sementara,
sampai sebuah panggilan telepon mengubah suasana hatinya.
" Iya tuan, ...... baiklah " kata Alissa tanpa basa-basi lalu menutup kembali ponsel kedalam saku baju yang dia kenakan.
* is't time to work ! * teriaknya dalam hati sebelum memulai start untuk berlari kembali ke rumah perlindungan.
Lima menit kemudian Alissa sudah sampai di rumah, dirinya langsung bergegas berganti pakaian dan mempersiapkan beberapa senjata api di balik bajunya dan dokumen serta uang cash setelah semuanya siap lalu Alissa segera pergi dari rumah perlindungan untuk menjalankan perintah dari tuan muda Emraan menggunakan mobil.
Kali ini misi yang harus Alissa kerjakan cukup mudah, dia hanya ditugaskan untuk menjemput seorang tamu di perbatasan dan membawanya ke mansion sebelum jam lima, namun siapa sangka kalau semua itu hanya permainan dari tuan muda Emraan untuk menguji kesetiaan Alissa saja.
**** Istana Atis'h *******
Maria istri ke tiga Mr G masih terlihat sedih dan juga kesal karena Lili selaku nyonya besar di istana ini telah merendahkan martabatnya, dihadapan seluruh anggota keluarga didalam istana ini.
Wanita cantik itu hanya bisa mengeratkan genggaman tangannya sendiri sembari berusaha menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun, begitu banyak kata kata umpatan dan juga sumpah serapah yang menggantung di kepalanya.
" Brengsek ! sialan dasar wanita iblis !!! wanita hina !!! ah kurang ajar ! ah, ....... kalau saja aku tahu apa rahasia kecil yang kamu sembunyikan, kita lihat saja bagaimana aku akan membalasnya nanti ! " maki Maria dalam hati
Andaikan situasi mereka saat ini sedikit berbeda pasti Maria akan bisa melawan tiap hinaan dan sindiran yang selalu nyonya besar tujukan kepadanya,
Memang benar kalau alasan dirinya dan juga Mr G menikah bukanlah kerena cinta ataupun adanya aliansi kerjasama diantara kedua keluarga, tapi lebih karena rasa kasihan nasib Maria yang malang sehingga mengantarkan gadis cantik berambut ikal itu harus pasrah saat nasib masa depannya di tentukan oleh orang lain.
Maria dan Mr G memang teman sedari kecil namun perbedaan status keluarga mereka yang sangat jauh membuat Maria hanya bisa menjadi bayang bayang Mr G, bahkan dahulu gadis cantik berambut ikal itu tidak pernah berani menyentuh ataupun berkhayal untuk bisa bersanding dengan Mr G.
Tapi saat takdir mengubah arahnya Maria tetap saja tidak bisa mencintai bahkan menyentuh pria tampan bermata hijau itu meski status mereka saat ini adalah suami istri, begitu banyak tembok pembatas diantara mereka berdua di samping Maria harus bersaing dengan para istri istri Mr G yang lainnya juga Mr G sendiri yang sukar di dekati.
Di istana atis'h semua keinginan dan kebutuhan hidup tersedia dengan cuma cuma namun tidak dengan kasih sayang di tempat ini satu kata itu begitu berharga dari emas intan dan berlian, sebab Maria harus bersaing ketat dan bertahan sekuat tenaga untuk mendapatkan cinta Mr G dengan istri istrinya yang lain.
Tiga puluh menit kemudian setelah suasana hatinya membaik Maria segera beranjak pergi keluar dari dalam istana Atis'h untuk mencari udara segar.
Perbatasan.............,...
Sementara Alissa saat ini masih fokus mengemudi mobil SUV hasil modifikasi dengan santai menuju ke sebuah daerah perbatasan dipinggiran kota, sebenarnya tugasnya kali ini cukup mudah hanya menjemput seorang tamu saja tapi tidak ?
Apakah kalian pikir kalau hal ini akan sesederhana itu untuk orang yang dibesarkan dari rasa sakit selama bertahun-tahun karena kerasnya pelatihan yang harus Alissa rasakan demi memberikan sebuah kepuasan dan kebanggaan untuk tuan muda Emraan.
Meski tugasnya sederhana bahkan terlihat biasa Alissa yakin kalau sebenarnya perintah kali ini lebih berbahaya dari sebelumnya sebab bila Alissa lengah sedikit saja maka nyawanya akan melayang.
Sebelum sampai di perbatasan Alissa menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan, gadis itu mulai memakai beberapa riasan wajah dan baju untuk menyamarkan penampilan dirinya yang sebenarnya, dengan membuat makeup wajahnya sedikit tua dan kusam setelah selesai barulah gadis itu melanjutkan perjalanannya ke perbatasan kota.
Lima belas menit kemudian Alissa sudah sampai di perbatasan, lima meter jarak dari mobilnya dan pintu gerbang keluar perbatasan, setelah memperhatikan keadaan sekitar yang cenderung nampak sepi dan juga panas karena matahari yang sangat terik ditempat itu,
Alissa baru beranjak turun dari dalam mobilnya setelah sebelumnya sebuah pistol dia selipkan di belakang punggungnya untuk perlindungan, satu menit kemudian terlihat seorang wanita muda cantik dan seksi lengkap dengan gaun pesta berbelahan dada rendah berjalan keluar dari pintu gerbang perbatasan menuju kearahnya.
Melihat penampilan wanita itu ada sedikit oh bukan banyak rasa cemburu dan kesal mulai tumbuh di hati dan pikirannya tentang tuan muda Emraan, bahkan sebuah film biru siap bermain main di pusat pikirannya sehingga membuatnya gerah.
" Hai apa kamu supir yang menjemput ku ? " tanya wanita itu pada Alissa saat jarak mereka sudah dekat.
" Iya,..... masuklah disini panas " jawab Alissa cuek lalu segera berjalan memutar menuju ke arah kursi kemudi,.
" Oh,.... boleh aku tahu siapa namamu mam ? " tanya wanita cantik itu setelah mereka berada didalam mobil.
* Mam ?...... what the hell ! * maki Alissa dalam hati namun dia masih berusaha untuk bersabar.
" Memangnya kenapa nona ?" tanya Alissa
" Ya kamu tahu, aku perlu beberapa pijatan dan juga sedikit aromaterapi dan beberapa teman untuk berbagi cerita di jakuzi dan sebuah gaun untuk makan malam di restoran mewah."
" Dan oh aku ingin saat makan nanti dekat dengan jendela sebab aku suka melihat langit malam jadi dari mana aku mendapatkan semua itu bila aku tidak tahu dengan siapa aku bicara ?" kata wanita itu pada Alissa yang terlihat cuek.
" Maaf nona_..... "
" Briana, namaku ."
" Ok Miss Briana,.... aku perlu memberi tahu kepada anda bahwa saya cuma supir, dan untuk semua jenis keperluan seperti yang anda inginkan tadi aku yakin tuanku sudah menyiapkan semuanya, "
" So,..... bisakah kita pergi Miss " tanya Alissa kesal.
" Ya, .... and satu lagi bisakah kamu membawa mobilnya dengan santai karena aku ingin istirahat sejenak, " pinta Miss Briana pada Alissa.
" Yes Miss " jawab Alissa geram.
Ditengah perjalanan menuju pusat kota Alissa harus terjebak macet karena jalan mereka di blokir sebab adanya sebuah kecelakaan, saat Alissa akan keluar dari antrian panjang untuk mengambil jalur lain tiba tiba dari arah samping sebuah mobil truk besar menghantam mobilnya dengan keras sehingga menyebabkan beberapa mobil lain yang berada di dekat mobil SUV milik Alissa ikut rusak karena benturan.
Mobil SUV yang dikendarai oleh Alissa sedikit berputar sebelum berhenti di tengah jalan, sontak saja hal itu membuat konsentrasi Alissa buyar dan kepalanya harus sedikit terbentur dasboard, saat dirinya sedang berusaha untuk memulihkan kembali konsentrasinya pada kejadian yang baru saja menimpa dirinya,
Alissa sekali lagi harus menerima serangan susulan dari Miss Briana yang tiba tiba mencekik lehernya menggunakan tali, tentu saja hal itu membuat Alissa kesulitan untuk melawan dan terjebak antara hidup dan mati.
Alissa mencoba mengumpulkan sisa sisa kekuatan tubuhnya untuk bertahan hidup sementara tangan kanannya berusaha mencari sesuatu untuk melawan, disaat terdesak Alissa masih terus berusaha menahan jeratan tali pada lehernya hingga salah satu tangannya berhasil mengambil pistol yang terselip di belakang punggungnya dan ....
.
Dor !
Alissa melepaskan tembakan dari balik kursi dan sedikit mengenai perut Miss Briana sehingga Alissa bisa terbebas dari kematian, Alissa segera membuka pintu keluar dan dengan langkah gontai karena kekurangan oksigen Alissa tersungkur di tanah dan terbatuk-batuk beberapa saat,
Dua menit kemudian Alissa bangun dan segera menghampiri Miss Briana yang masih berada di dalam mobilnya, Alissa menyeret keluar Miss Briana meski awalnya dia sempat menolak tapi tak jadi karena sebuah timah panas siap bersarang di kepalanya bila dia mencoba berontak ataupun melawan.
" Katakan ?" tanya Alissa.
" What ?" tanya Miss Briana mengelak,
" Katakan siapa yang menyuruhmu atau aku tembak kepalamu ?! " tanya Alissa marah dengan nada setengah mengancam.
" Lakukan saja,..... " jawab Miss Briana acuh sembari berusaha menahan rasa perih dan sakit pada perutnya yang mulai mengeluarkan banyak darah karena terkena tembak.
" Brengsek !" umpat Alissa kesal sembari menampar wajah Miss Briana,
Alissa melihat keadaan sekitar sebelum memaksa Miss Briana untuk bangun dan mulai berjalan dengan kepayahan meninggalkan tempat itu sebelum polisi datang untuk memeriksa kondisi pasca kecelakaan,
Mereka berdua berjalan menjauh dari jalan raya dengan melewati jalan setapak sekitar daerah itu yang penuh dengan pohon untuk ruang hijau, selama perjalanan Miss Briana terlihat mulai pucat dan lemas, melihat hal itu Alissa terpaksa mengambil jalan pintas untuk menuju kejalan besar guna mencari tumpangan,
Alissa sendiri juga sedikit merasa letih dan marah karena harus mengalami hari yang jelek, ingin rasanya dia meninggalkan Miss Briana sendirian di tempat ini apa bila mengingat kalau wanita cantik bin lugu itu beberapa waktu yang lalu hampir membunuhnya.
Akan tetapi jika Alissa melakukan hal itu maka tuan muda Emraan akan makin marah kepadanya dan tentu saja dia tidak akan pernah tahu siapa yang berniat membunuhnya, akhirnya dengan terpaksa Alissa memapah tubuh Miss Briana yang sudah gontai menuju tepi jalan untuk meminta bantuan kepada pengendara yang melintas.
Alissa meletakkan tubuh Miss Briana ditepi jalan dan dengan gaya super super nekat Alissa berdiri di tengah jalan sembari mengarahkan pistolnya pada sebuah mobil yang sedang melintas tidak jauh dari hadapannya,
" Em' bos sepertinya aku sedang melihat seorang ibu ibu ingin bunuh diri ?" kata Lino pada Mr G sembari sedikit memperlambat laju mobilnya,
" Apa maksudmu? kemudikan saja mobilnya dengan benar " Mr G hanya mengabaikan ucapan Lino begitu saja tanpa melihat ke depan.
" Bos,........... wanita tua itu membawa pistol ?" kata Lino lagi sambil menginjak rem untuk berhenti.
" Lino apa kau tidak dengar ya ! tidak usah memikirkan hal yang aneh aneh, cepat nyalakan kembali mobilnya kenapa kita berhenti disini ? " perintah Mr G pada Lino,
" Tapi bos ?" kata Lino bingung bin takut.
" Aku bilang cepat nyalakan mobilnya ! kenapa kamu bertingkah aneh ? apa kamu sudah bosan bekerja hah !" bentak Mr G marah bin geram akan tingkah Lino yang menurutnya sangat aneh.
" Bos... " gumam Lino sembari memberi isyarat kepada Mr G.
" Apa' ka_ " ucapan Mr G terhenti saat dia melihat seseorang sedang mengetuk kaca mobilnya menggunakan pangkal pistol beberapa kali.
Sejenak mereka saling menatap tajam ada perasaan ragu dan juga penasaran dalam hati Mr G tentang sosok misterius yang sedang menghadang jalannya saat ini,
" Kenapa kamu mengusik jalanku ?" tanya Mr G setelah dia memutuskan untuk menurunkan sedikit kaca mobilnya.
" Beri aku tumpangan, kawanku sedang membutuhkan pertolongan saat ini,...... jika kamu menolak aku terpaksa berbuat kasar." kata Alissa tegas sembari mengarahkan pistolnya ke hadapan Mr G.
" Baiklah' Lino bantu wanita itu "pinta Mr G .
" Tapi bos ?" sanggah Lino keberatan akan perintah dari atasannya itu, secara Mr G saat ini sedang memaksa mereka untuk masuk kedalam bahaya.
" Lino...... " tegur Mr G.
" Baiklah..... " jawab Lino terpaksa turun dari dalam mobil dan membantu Alissa untuk mengangkat tubuh Miss Briana masuk kedalam mobil,
Saat ini posisi mereka telah bertukar tempat duduk, Lino berada di kursi belakang bersama Miss Briana yang sudah terkapar tak berdaya hanya rintihan kecil yang masih terdengar dari bibirnya yang merah.
Sementara Mr G yang menjadi supir dengan Alissa yang duduk di sebelahnya, mereka segera pergi dari tempat itu dan selama perjalanan Alissa terus mengaktifkan mode siaga pada Mr G.