DASAR BUAYA!

1014 Words
Dari kejauhan Maryam terlihat tengah berbincang dengan Fatimah, dengan salah satu tangannya sibuk mengambil sesuatu di atas meja prasmanan. Pandangan Jihan langsung beralih pada sosok laki-laki berkopyah di hadapannya. Ia bingung harus berbuat apa sekarang ? Jihan terus memainkan jemari tangannya sembari melihat Ibu dan Ayahnya yang tengah asyik menikmati makan malam bersama Kedua orang tua Arka. " Jihan, kamu nggak ikutan makan? " tanya ARKA secara tiba-tiba. Jihan yang terlihat gelisah itu nampak merubah posisi duduknya berkali-kali, " Mmm, nanti saja Mas. Saya belum lapar. Mas Arka sendiri kenapa nggak ikut makan bersama Ayah dan Ibu? " jawab Jihan gugup. " Kamu bilang kan kamu belum lapar, jadi Saya ingin menemani kamu disini. " Jawaban Arka sukses membuat Jihan kesal dan mengalihkan pandangannya sesaat. " Kalau Mas Arka mau makan, silahkan mas. Nggak perlu nemenin Saya disini. " jawab Jihan sedikit kesal. " Bagaimana Saya bisa makan, jika di hadapan Saya ada seorang bidadari cantik yang membuat Saya tak bisa memalingkan pandangan Saya.. " Beuuhhh!! dia Ini sebenarnya guru ngaji atau guru Sastra bahasa indonesia sih?! Jihan hanya tersenyum kecut mendengar gombalan Arka. " Jihan, maaf jika kamu terlihat risih dengan pandangan saya,, itu semua karena saya mencintai Kamu. " ucap Arka sembari menatap manik mata gadis cantik dihadapannya. What!! apa dia bilang?dia cinta sama aku? Padahal kita baru pertama kali ketemu, dasar buaya! " Maaf Mas Arka, apa saya tidak salah dengar? Kita kan baru pertama kalinya ketemu, kenapa Mas Arka bisa langsung berpendapat seperti itu? " Mungkin bagi kamu, kamu baru pertama kali melihat saya. Tapi saya sudah sering melihat kamu. " Haahh!!Maksudnya apa coba?! " Maaf, Mas Arka sering melihat saya dimana ya? " tanya Jihan heran. Bukannya menjawab, Arka malah memasukkan tangannya ke dalam kantong celana, lalu mengambil sebuah benda pipih miliknya. Dia mengutak atik benda pipih itu lalu menyodorkan pada gadis ayu dihadapannya. " Itu siapa, Mas? " tanya Jihan penasaran. " Kamu. " " Saya? " Jihanpun menunjuk dirinya sendiri. " Iya, ini kamu. " " Sebanyak itu koleksi foto Saya di galery Mas Arka? " Jihan pun semakin terheran-heran. " Kalau Kamu nggak percaya, cek saja sendiri. " Arka mengulurkan tangannya dan memberikan benda pipih itu pada Jihan. Setelah benda pipih itu berpindah tangan, Jihan langsung menscroll rentetan foto dirinya yang berada di album pribadi milik Arka. Jihan reflek membekap mulutnya karena merasa tak percaya. Ratusan koleksi foto candid dirinya terpampang jelas di ponsel milik Arka. Fotonya memang jarak jauh, namun tak ada yang blur sedikitpun. Dan yang membuat Jihan semakin tercengang, Arka memberi nama albumnya dengan sebuah judul " Kekasih Hatiku. " Ia buka satu persatu foto candid dirinya. Dalam koleksi foto itu ia pasti sedang berada di halaman rumahnya. Entah ia sedang memyirami bunga mawar, menyapu halaman, bahkan ada foto dirinya yang sedang berjingkat karena menginjak kotoran ayam. Baru saja ia akan menekan tombol delete. Dengan cepat Arka mengambil ponselnya. " Kamu tak punya wewenang apapun untuk menghapus koleksi foto di handphone saya, Jihan. "Arka memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam kantong celana. " Tapi Mas Arka juga sudah lancang karena mengambil foto saya secara diam-diam. " Jihan berseloroh kesal. " Kan saya sudah bilang, karena saya mencintai Kamu. " Jihan pun berdecak kesal. " Sejak kapan Mas Arka mengambil foto-foto saya? " " Sejak 6 bulan yang lalu. " jawabnya singkat. " Sebanyak itu? " " Ya, seperti yang kamu lihat tadi. " " Bukannya setiap sore Mas Arka mengajar di Madrasah? Lalu kenapa bisa ambil foto-foto saya sampai sebanyak itu. " " Saya mengajar di Madrasah ba'da 'ashar sampai pukul lima sore. Sebelum pulang, saya sempatkan untuk datang kesini agar bisa melihat Gadis Pujaan Hati saya. " Astagaaa!! gombal terus!! "Tapi setiap sore Saya nggak pernah melihat Mas Arka." "Itulah hebatnya saya, karena saya selalu mengambil posisi di ujung jalan sana. Jadi kamu nggak akan bisa melihat saya. " Arka pun terkekeh pelan. Karena kesal Jihanpun bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah meja prasmanan. " Kamu mau kemana? " Arka pun membuntutiJihan. " Saya mau makan. Laper! " Jihan terus melangkah menuju tempat dimana hidangan makan malam itu tersaji. " Baiklah. Saya juga mau makan. " Arka mencoba mensejajarkan langkahnya dengan Jihan. Dari kejauhan orang tua Mereka saling senyum dan berbisik. " Sudah akrab rupanya kalian berdua? Sampai ambil makan saja barengan gitu. " ledek Arsyad. " Ya seperti yang Ayah lihat ini. " jawab Arka sembari menaik turunkan kedua alisnya. " Nak Arka tolong dilayani ya Nak. " sambung Hamid meledek Putrinya. " Maksud Ayah apa? " protes Jihan semakin kesal. "Maksud Ayahnya, Nak Arka dilayani makan malamnya, diambilkan nasi dan lauknya gitu lho. " ledek Hamid sambil terkekeh. " Oh, baiklah Ayah. " Jihan langsung mengambil piring kosong lalu mengisinya dengan 3 centong penuh nas putihi, 2 potong daging ayam, 2 potong rendang sapi, 5 tusuk sate kambing, 5 sendok sambel goreng kentang, dan dua genggam kerupuk yang ditabur diatasnya. Jihan lantas menyodorkan piring yang sudah penuh nasi dan lauk itu pada Arka. " Astaghfirullah hal adzim, Saya bukan kuli Jihan. Mana sanggup perut saya untuk menghabiskan porsi sebanyak ini? " dengan ragu-ragu Arka menerima piring yang sudah penuh lauk pauk. " Saya nggak mau tahu. Pokoknya harus dihabiskan. Mubazir. " Jihan berbalik badan,kemudian mengambil nasi dan juga lauk untuk dirinya. Setelahnya Mereka duduk berhadapan seperti semula. " Mas Arka bisa geseran dikit nggak duduknya? " titah Jihan sembari menaruh piring diatas pangkuannya. " Nggak bisa! " jawab Arka sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. "Ya sudah, biar saya aja yang geser. " Jihan mengangkat piringnya lalu bergeser ke arah samping, agar tidak berhadapan dengan laki-laki menyebalkan itu. Namun dengan cepat, Arka juga ikut mengangkat piringnya lalu bergeser mengikuti Jihan. Saat ini posisi duduk Mereka saling berhadapan lagi. Ck! benar-benar menyebalkan. " Kenapa nggak dimakan? Apa mau saya suapin? " ledek Arka. Diiicchhh!!Ogah banget disuapin dia. Mending juga makan sendiri. " Terimakasih, Saya bisa makan sendiri. " " Sama-sama. " Jihanpun melongo mendengar jawaban Arka. Bagaimana bisa laki-laki yang super menyebalkan ini sebentar lagi akan resmi menjadi suaminya?! Allahu robbi! Kuatku aku. Semoga Aku bisa menerima takdir ini. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD