Di Balik Sebuah Pengorbanan

2067 Words
“Ada permasalahan apa sehingga kalian berkunjung kesini secara mendadak?” Raka bertanya setelah dirinya dipersilahkan duduk oleh sang tuan rumah. Kemudian Raka memandang satu-persatu wajah dari orang-orang perwakilan dari kedua negara yang duduk berdampingan namun dengan raut wajah yang datar dan tak bersahabat. Pintu depan rumah Tuan Danu dituutp oleh seorang pria yang menjaga keamanan sekitar agar pembicaraan lebih serius dan tidak ada warga yang mengganggu. “Aku mencurigai ada seseorang yang melanggar isi dari perjanjian kita. Aku menemukan sebuah sinyal dari Selatan terdapat di wilayah perbatasan antara wilayah Utara desa ini.” terang seorang berjas hitam yang duduk tepat di berhadapan dengan Raka. Ia adalah orang Utara yang bertugas menangani masalah ini atas perintah dari petinggi negaranya. “Kurasa itu hanya sinyal tersesat. Anda tahu bahwa disini tidak menerima orang asing dari Utara maupun Selatan untuk hal apapun. Kami tidak mungkin mengkhianati isi perjanjian kami.” “Ya, mungkin ada penyusup yang diam-diam memasuki desa ini dan menjadi mata-mata.” Raka terkekeh sejenak sebelum berkata, “Sebenarnya tidak ada keuntungan sama sekali orang-orang kalian menjadi mata-mata disini. Asal kalian tahu, aku mengetahui bahwa kalian menyimpan beberapa orang untuk menjadi mata-mata disini.” “Jadi sebenarnya, apa kalian sedang mencoba melanggar perjanjian kita?” gertak Raka yang tengah menyilangkan kakinya menatap kedua pria yang tampak tenang namun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dari manik Raka. “Aku rasa sia-sia sekali kalian sengaja datang kesini hanya karena sebuah sinyal yang bahkan kami-pun tidak mengetahuinya.” tambah Raka yang berusaha meyakinkan kedua pria itu agar mereka segera meninggalkan Desa Wania. “Aku merasa tidak ada yang sia-sia selama masa kehidupanku. Tuan Gray menginginkan agar semua wilayah di tempat ini memiliki keamanan yang lebih ketat di daerah sini.” titah sang pria dari Utara. “Kami rasa kami sudah hidup aman berada disini. Kami tidak perlu menambah keamanan tersebut jika diantara kalian tidak mencoba untuk melanggar perjanjian kita.” sela Tuan Danu yang sedari tadi diam dan mengamati. Seorang pria dari Selatan mengangguk-anggukkan kepala mengerti akan perkataan Tuan Danu. “Ya, aku percaya kepada kalian. Tetapi, sebagai persiapan dan penjagaan yang sudah terlaksana itu akan menambah keamanan kalian semakin terjamin.” ucap pria utusan dari Selatan yang tengah menutup misinya dari penciuman musuh. “Sir, anda dimana? Aku dimana? Kenapa gelap sekali.” Tiba-tiba pendengaran menangkap sebuah suara yang Raka ketahui sumbernya. Raka kemudian berdehem kepada tiga orang yang sedang beradu argumen. Ia kemudian mendekat kepada Tuan Danu dan berbisik mengenai akhir keputusan mereka. Akhirnya Raka menyela perbincangan itu dan mengungkapkan keputusannya dengan lantang. “Baiklah, kami berdua sudah sepakat untuk lebih menjaga keamanan desa kami dengan tanpa ikut campur kalian. Kami akan memeriksa setiap warga kami jika ada yang melanggar perjanjian. Untuk itu permasalahan diantara kami bersama pihak pertama dan kedua telah selesai.” Kedua pria di hadapan Raka serentak mengangguk dan saling berjabat tangan sejenak sebelum rombongan dari Utara pergi meninggalkan Desa Wania. Kini tertinggal Raka beserta Tuan Danu dan beberapa orang Selatan yang masih diam di rumah Tuan Danu. Tuan Danu menghela nafas melihat kea rah pria di depannya yang sedang menundukkan kepala. “Sebenarnya apa rencana kalian membawa cucuku kemari, Randu?” tanya Tuan Danu kepada menantu yang merupakan perwakilan dari Selatan yang datang untuk menyelesaikan masalah. Dengan kepala yang masih tertuntuk Tuan Randu menggeleng. “Aku hanya ingin memberikan kehidupan yang aman untuk puteriku.” “Ayah sebenarnya tidak melarang, jujur saja ayah sangat bahagia, tapi menyembunyikan Gania di tempat yang jelas-jelas terlarang untuk orang asing sangatlah berbahaya, bahkan lebih bahaya dibandingkan kehidupan di kota sana. “Gania bukan orang asing, ayah. Dia cucu ayah, Gania masih memiliki ikatan darah ayah dan juga Desa Wania. Dia bukan orang asing.” Raka berdehem sebelum ia menyela dan meminta izin untuk meninggalkan dua anggota keluarga yang tengah membicarakan masalah pribadinya. Raka merasa bahwa itu bukanlah haknya untuk ikut campur, lagi pula ia masih harus melakukan sesuatu terhadap gadis yang sudah sadar di dalam kamarnya. “Maaf tuan, saya pamit untuk pulang ke rumah.” Kedua pria itu mengangguk mempersilahkan. Raka berdiri dan mulai melangkah menuju pintu yang dibukakan oleh seorang penjaga. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari rumah Tuan Danu, kakek tua itu berseru dan menanyakan cucunya yang seharian ini belum sempat ia lihat. “Nak, apa kamu mengetahui keadaan cucuku? Sedari tadi aku tidak melihatnya di rumah. Apa ia tidak tersesat saat pulang dari sekolah?” tanya Tuan Danu yang teringat Gania. Sebenarnya sore tadi ia hendak mencari cucunya bersama beberapa pegawai pengurus desa lainnya, namun kedatangan tamu dari kedua negara benar-benar menghentikan niatnya. Raka mengangguk kaku sembari melihat Tuan Randu yang terlihat terkejut mengetahui anaknya tidak ada kabar selama seharian ini. “Dia, ada di kam … em maksudku di rumahku. Kakinya terkilir karena terjatuh saat melakukan praktek lapangan disaat jam pelajaran berlangsung.” “Ya Tuhan, anak itu benar-benar tidak bisa menghilangkan sikap cerobohnya dari dulu. Bisakah anda membawa kami untuk menemui Gania?” tanya Tuan Randu yang khawatir akan kondisi anaknya sekarang. Raka mengangguk sekali lagi lalu berjalan keluar diikuti oleh Tuan Randu dan juga Tuan Danu yang terlebih dahulu berteriak memanggil Nyonya Diva untuk ikut melihat keadaan cucu mereka. “Randu, pulanglah. Biarkan ayah dan ibu yang melihat Gania sekarang.” seru Tuan Danu saat mereka berada di luar halaman rumah Tuan Danu. Raka ikut menghentikan langkahnya saat Tuan Danu berbicara dengan menantunya. “Tapi, ayah,” Tuan Danu menggeleng tidak menyetujui tindakan Tuan Randu yang ingin memeriksa kondisi anaknya. “Mereka pasti curiga bila kamu tinggal lebih lama disini. Sekarang pulanglah.” Titah Tuan Danu sekali lagi. Tuan Randu akhirnya mengangguk dengan helaan nafas berat. Akhirnya ia terpaksa mengalah dan membiarkan dirinya pulang tanpa terlebih dahulu melihat kondisi anaknya sekarang. “Tolong jaga anakku, ayah.” “Jaga pula anakku disana.” Kedua lelaki itu mengangguk seiring dengan tekad melindungi orang-orang terkasihnya. Kemudian Tuan Randu berjalan mendekati Tuan Danu dan memeluknya sebagai salam perpisahan. Setelahnya ia menghampiri ibu mertuanya dan ikut memberikan salam perpisahan sebelum ia pergi meninggalkan Desa Wania. “Sampai jumpa kembali.” ucap Tuan Danu dengan senyuman berusaha menguatkan dirinya dan juga menantunya. Tuan Randu mengangguk lalu memasuki mobilnya yang langsung melesat pergi sebelum dirinya berubah pikiran untuk menemui anaknya. Raka menghela nafas sedihnya. Peristiwa barusan sedikit menyentil ulu hatinya melihat nasib dua keluarga yang terpisah karena perintah. Setelah mobil Tuan Randu beserta yang lainnya pergi, Raka menginterupsi pasangan lanjut usia itu untuk segera pergi ke dalam rumahnya. Suasana desa yang mulai sepi membuat Raka tak terlalu khawatir melihat kejadian barusan menjadi buah bibir masyarakat. ***** Beberapa mobil mewah terlihat menyusuri hutan yang menuju ke daerah perbatasan, termasuk pula mobil yang ditumpangi Tuan Randu yang melaju menuju ke negaranya setelah selesai melaksanakan tugasnya. Terlihat raut wajah yang begitu murung terpasang di wajah tegas Tuan Randu. Dirinya benar-benar merasakan bimbang dan kepedihan yang mendalam ketika ia diharuskan jauh dengan anak satu-satunya itu. Namun sebuah kesempatan hidup lebih baik tak ingin ia sia-siakan bersama istrinya hingga ia merelakan puterinya hidup bersama kakek neneknya dan jauh dari kedua orang tuanya. “Maafkan ayah.” gumam Tuan Randu sembari mengusap pipinya yang basah menggunakan sapu tangan dari saku jasnya. “Ini adalah pilihan terbaik untuk hidup kita.”   ******   “Apa yang kamu lakukan disana?!” tanya Raka saat melihat saudaranya berdiri di depan pintu kamarnya dengan tangan kanan yang tengah memegang kenop pintu. Arka berdecak melihat kakanya berdiri di belakangnya dan bertanya seolah dirinya adalah pencuri yang diam-diam memasuki kamar pribadinya. “Aku mendengar suara seorang perempuan dari dalam sana. Apa kau sedang menyembunyikan perempuan asing di dalam sana?” tuduh Arka yang curiga dengan tingkah kakaknya yang langsung salah tingkah. “Tidak terhormat sekali jika aku diam-diam menyembunyikan seorang gadis di dalam kamarku. Memang di dalam sana ada cucu Tuan Danu yang sedang terluka. Aku tidak mungkin berbuat hal yang melebihi batas.” “Aku pikir kata-kata yang kau ucapkan sama saja. Sama-sama memasukkan seorang gadis ke tempat yang aku sendiri sering diusir oleh pemiliknya.” ucap Arka dengan seringaian jahilnya. “s****n, enyahlah dari sini.” usir Raka yang geram akan sikap adiknya. Raka membuka sedikit pintu kamarnya, cukup untuk dirinya memasuki kamar tanpa memberikan kesempatan kepada Arka yang mencondongkan tubuhnya mencoba untuk melihat kondisi kamar sang kakak. “Benar-benar menyebalkan. Hei, cepat bangun dan keluar dari kamarku. Kakek dan nenekmu mencari keberadaanmu.” seru Raka setelah ia menyumpa serapahi adiknya yang terdengar tertawa keras di balik pintu kamarnya. Raka memandang malas ke arah Gania yang sedang duduk di kursi kayu yang membelakangi Raka. Gania menoleh ke arah sumber seruan dan berdiri seketika membuat kakinya yang masih terkilir tertekan dengan keras. Gania seketika duduk kembali diiringi dengan ringisan tertahan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya guna tidak mengeluarkan teriakan kesakitan yang akan membuat kakek dan neneknya khawatir. “Kenapa ceroboh sekali?” gumam Raka yang sudah berjongkok di hadapan Gania dan mengelus bagian kaki Gania yang terkilir. “Sakit sekali.” ringis Gania sembari memegang bahu Raka gemetar. Raka menghela nafas kasar, lalu ia berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu menemui kakek dan neneknya. Tanpa banyak bicara Raka mengangkat tubuh Gania dan berjalan keluar kamarnya yang masih gelap. “Ekhm …” terdengar deheman cukup keras menyambut Raka dan Gania begitu Raka membuka pintu kamarnya. Ketiga orang yang bertatap muka itu sama-sama terkejut melihat kondisi masing-masing. Arka tentu menjadi orang yang paling terkejut diantara Raka dan Gania karena melihat kakaknya keluar dari kamar dengan membawa seorang gadis yang cukup asing di pangkuannya. “Jangan terlalu banyak berfikir dan tutup saja mulutmu.” tekan Raka kepada adiknya sebelum ia berjalan mengabaikan Arkan yang masih terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. “Dan satu lagi, tolong tutup pintunya.” titah Raka tanpa membalikkan tubuhnya yang sudah berjalan cukup jauh. Arka mengangguk lalu dengan cepat menutup pintu kamar kakaknya dan berlari mengekori Raka untuk melihat apa yang selanjutnya terjadi dan mengetahui ada hubungan apa antara Raka dan gadis kecil itu.   *****   “Kerja yang cukup bagus. Akan tetapi anakmu hampir saja menggagalkan seluruh rencana kita. Tapi untungnya sebagian permasalahan dapat kita atasi dan kita bisa melanjutkan rencana kita.” ujar pria yang duduk di kursi kebesarannya sembari memegang sebuah cerutu yang mengeluarkan asap. “Maafkan saya tuan. Saya tidak menyangka akan terjadi kesalahan seperti ini. Saya sangat percaya kepada anak saya yang selalu menuruti perkataan saya.” jawab Tuan Randu yang duduk di hadapan pimpinannya yang meminta bertemu setelah ia sampai di pusat kota. “Tapi kenyataannya anakmu melangar perintah ayahnya sendiri.” Tuan Randu semakin menundukkan kepalanya. Dirinya benar-benar lalai dan kurang meyakinkan anaknya supaya tidak pernah menghubungkan koneksi di dalam Desa Wania. “Pergilah, besok lakukan pembaruan koneksi dan jangan hal ini terulang kembali.” Tuan Randu mengangguk lalu berdiri meninggalkan ruangan besar namun penuh tekanan dengan keringat dingin di dalam kepalan tangannya. “Syukurlah.” gumam Tuan Randu begitu pintu di belakangnya tertutup rapat. Tuan Randu melanjutkan langkahnya menuju area terluar dari gedung megah dengan ornament serba putih itu dengan tergesa. Dirinya tak ingin istrinya menunggu terlalu lama untuk sebuah kabar dari kondisi anaknya yang hampir celaka besar. Tuan Randu memasuki mobil yang sudah menunggu dirinya di halaman pintu depan gadung dan langsung melesat pergi menuju rumahnya. Setelah sampai Tuan Randu berlalu meninggalkan mobil yang belum terhenti dengan benar, kemudian ia membuka pintu depan dan berjalan menaiki tangga dengan langkah lebarnya menuju sebuah kamar dimana istrinya berada. Kabar mengenai tertangkapnya sebuah kejanggalan di wilayah perbatasan oleh tentara keamanan wilayah Utara yang dianggap berasal dari Selatan membuat Nyonya Amara gelisah dan khawatir karena pemerintah sana mengeluarkan sebuah ancaman yang mengerikan jika pelaku itu tertangkap. Nyonya Amara yang melihat suaminya tiba-tiba dipanggil secara mendesak membuatnya tak karuan karena ia benar-benar khawatir dengan keadaan anaknya yang jauh dari jangkauan tangannya. Ia sangat takut jika kejanggalan itu berasal dari anaknya yang memang tidak mereka berdua terangkan secara rinci mengenai larangan-larangan yang dilakukan selama ia di desa sana. Tuan Randu membuka pintu kamarnya perlahan dan mendapati istrinya seorang diri tengah berbaring di atas kasur dengan punggung bergetar menandakan bahwa ia sedang menangis tanpa suara. Perlahan Tuan Randu menutup pintu di belakangnya dan berjalan tergesa begitu istrinya menyadari kedatangannya dan bangun dari posisi tidurnya. Tuan Randu merengkuh tubuh rapuh di hadapannya yang kian terisak dengan mulut terus meracau menanyakan anaknya. “Gania, bagaimana dia … anak kita …” Tuan Randu melepas pelukan dan mengusap air mata yang keluar dari sudut mata istrinya sembari menyalurkan kekuatan dan ketegaran untuk istrinya bersamaan dengan terbitnya senyuman yang menandakan bahwa semuanya dalam keadaan baik-baik saja. “Gania baik-baik saja, ia cukup cepat beradaptasi disana. Katanya dia sangat senang berada disana.” ucap Randu yang tengah menyembunyikan fakta bahwa ia sama sekali tidak menemui ataupun sedikit berbincang dengan anaknya yang sedang terluka. Cukup saja dengan berita mengenai bocornya koneksi yang dihubungkan oleh Gania sampai di telinga istrinya, jangan sampai bahwa kecelakaan yang Gania alami diketahui juga oleh istrinya yang tentu akan menambah beban dan rasa bersalah di hati dan pikirannya. Nyonya Amara tersenyum dalam isak tangisnya, ia pun kembali menarik Tuan Randu ke dalam pelukannya, sama-sama menyalurkan perasaan lega akan keadaan anaknya yang baik-baik saja. “Jangan pernah menyesal telah mengirim Gania bersama kakek dan neneknya. Kita akan sama-sama aman berada di tempat masing-masing.” gumam Tuan Randu sebelum mengecup puncak kepala Nyonya Amara berkali-kali dengan perasaan penuh kasih sayang. Nyonya Amara mengangguk dalam rengkuhan Tuan Randu dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh suaminya dengan keharuan yang membucah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD