Langit yang semula terang kini perlahan meredup tergantikan oleh gelapnya langit malam karena pergerakan alam selalu terjadi setiap waktunya. Sepasang insan masih terdiam di balik batu yang menghalangi tubuh keduanya dari intaian matan-mata musuh yang setiap detik mengintai dan mengawasi mereka di balik batu yang terhalang oleh lebarnya sungai yang arusnya semakin deras seiring bertambahnya malam.
“Sampai kapan kita akan terus berdiam disini?” tanya Gania membisikkan kalimat tersebut kea rah telinga Raka yang begitu dekat dengannya karena keterbatasannya dalam bergerak di balik batu.
Gania kini benar-benar ketakutan jika ia harus lebih lama lagi di tempat gelap seperti ini. Apalagi ia tengah berada di pinggiran sungai dan hutan-hutan dengan ditambah beberapa pasukan dari seberang yang tengah mengintai dirinya.
“Sampai langit benar-benar gelap dan mereka tidak akan melihat kita yang keluar dari tempat persembunyian kita.” balas Raka serupa dengan bisikan membuat Gania menghela nafas lelah. Rasa nyeri di kakinya kembali datang membuat Gania harus memijatnya pelan guna meredakan rasa sakit seiring hembusan angin malam yang menerpa kakinya.
Sebuah tangan besar dan kuat menepis tangan Gania yang sedang memijat kakinya. Gania membuka mulutnya hendak menyela, namun pergerakan tangan itu di kakinya membuat Gania mengurungkan niatnya dan membiarkan tangan Raka memijat kakinya. Sesekali Gania meringis saat Raka menyentuh bagian yang terkilir membuat Raka berkali-kali menutup mulut Gania agar tak mengeluarkan suara lepas.
“Jangan lagi, disana sangat terasa sakit.” pinta Gania yang ternyata diabaikan oleh Raka. “Jika dibiarkan terus menerus, kakimu akan lama untuk sembuh.”
“Tapi jangan saat ini, bagaimana jika aku berteriak dan mereka menyadari keberadaan kita?”
“Kalau begitu jangan berteriak.” gumam Raka dengan datar membuat Gania geram sendiri.
“Auhh …” ringis Gania ketika Raka kembali menyentuh titik luka di bagian kaki Gania. Gania pun melayangkan pukulan yang lumayan keras kea rah lengan atas Raka yang masih bertelanjang d**a.
“Sampai kapan kamu akan t*******g seperti itu? Ini sudah malam dan udara sangat dingin.” cerca Gania yang langsung mengibaskan kemeja putih di pangkuan Raka dan menyuruh laki-laki itu untuk segera berpakaian.
“Kamu bertingkah seperti itu bukan sebagai bentuk rasa peduli kepadaku, kan? Kamu hanya ingin mendapatkan jawaban penolakanku karena kamu sendiri ingin memakainya karena kamu kedinginan.”
“Bagaimana bisa seperti itu?! Aku tidak seperti itu.” ucap Gania berkilah, ia memang sbeelumnya pemikiran seperti itu, namun ternyataRaka dengan udah menebaknya dan membuat dirinya malu.
“Pakailah.” titah Raka yang dibalas gelengan oleh Gania.
“Tidak.”
“Pakai, kita akan pulang setelah ini.” Kembali Raka memerintah tanpa mau menerima penolakan membuat Gania setengah terpaksa memakai kemeja putih milik laki-laki yang masih bertelanjang d**a itu.
“Kamu … tidak kedinginan?” tanya Gania masih ragu dengan pakaian Raka meskipun ia telah memakai kemeja tersebut.
“Tidak.” jawab Raka begitu singkat sebelum ia berdiri sembari melihat keadaan sekitar.
Di seberang sana terdapat beberapa pos penjagaan darurat beserta puluhan tenaga keamanan tengah menyisir keadaan sekitar, berkali-kali sinar dari lampu menyorot ke wilayah Desa Wania yang gelap gulita. Raka kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Gania berdiri dengan mata yang tetap awas memperhatikan para penjaga keamanan itu.
“Apa aku harus menggendong mu kembali?” tanya Raka yang sudah tahu akan jawabannya karena kaki Gania yang masih terkilir.
“Perhatikan diam-diam para keamanan itu, jika mereka menyadari keberadaan kita beritahu aku dan jangan mengeluarkan suara sedikitpun.”
Gania mengangguk dengan pandangan yang mulai mengawasi penjaga yang terlihat banyak itu, kemudian Gania merasakan tarikan di tangannya saat Raka sudah siap dalam posisinya untuk menggendong Gania. Dengan segera Gania menaiki punggung Raka dengan tangan melingkar di leher Raka membawa tas gendong miliknya.
Dengan penuh kehati-hatian Raka mulai melangkahkan kakinya meskipun tidak ada penerangan sama sekali. “Ponselku.” bisik Gania yang teringat dengan ponsel yang dilemparkan ke atas tumpukan kotoran kerbau oleh Raka.
“Besok kita bisa mengambilnya kembali.” jawab Raka berusaha tenang dan menajamkan penglihatannya supaya ia tidak salah dalam mengambil langkah.
“Tapi ponselku pasti rusak karena dilemparkan ke atas kotoran itu.” rajuk Gania sembari memukul-mukul pelan bahu Raka yang t*******g.
“Kalau begitu tidak usah diambil kemba-li.” ucapan Raka perlahan tertelan kesunyian, seketika ia menghentikan langkahnya saat pendengarannya yang tajam mendengar salah seorang keamanan itu menyadari keberadaan mereka berdua.
“Oh s**t, Ya Tuhan.”
“Kenapa berhenti?” tanya Gania sembari memiringkan kepalanya melihat wajah Raka yang sedikit memucat.
“Jangan menoleh ke belakang ataupun melakukan gerakan sedikitpun.” bisik Raka yang mematung di tempat. Gania terheran, apakah mereka telah diketahui keberadaannya dan sebentar lagi akan menjadi tawanan yang entah bagaimana nasib kedepannya. Gania memejamkan matanya dan mengeratkan alungan tangan di leher Raka yang tegang.
“Aku mohon jangan bersuara sedikitpun dan tutup saja matamu.” Gania menganggukkan kepala patuh dan mulai menutup matanya erat. Bisa Gania perlihat dari balik kelopak matanya sebuah sinar merah tengah mengelilinginya dan bersiap untuk ditembakkan.
Namun tidak ada yang terjadi dalam waktu beberapa saat itu. Raka yang tengah menajamkan pendengarannya mencari kesempatan disaat petugas keamanan itu lengah. Dan kini saatnya, Raka berlari secepatnya membawa Gania menuju ke balik semak-semak yang menghalangi area jalan setapak.
Raka menghembuskan nafas leganya saat dirasa bahwa mereka telah berada di tengah-tengah jalan dan berhasil lolos dari pantauan orang-orang dari Negara Utara. Raka menghembuskan nafas beratnya sebelum kembali berjalan menuruni bukit menuju wilayah perumahan.
Sementara itu, perasaan Gania benar-benar terguncang saat nyawanya tengah menjadi taruhan dengan sinar laser itu. Dirinya benar-benar mengutuk orang yang mengarahkan sinar laser itu, apalagi saat dirinya tiba-tiba dibawa lari sekencang mungkin oleh Raka yang bahkan tidak memberikan aba-aba untuk Gania mempersiapkan diri.
“Apa kita selamat?” tanya Gania ragu-ragu dan masih takut untuk membuka matanya. Raka hanya bergumam menanggapi perkataan Gania.
****
“Apa yang kau dapatkan barusan?” tanya seorang pria dengan seragam gelap dengan sebuah s*****a di tangannya.
“Aku melihat Nona Kandole di seberang sana.” gumam si pria berkostum sama dengan sebuah s*****a laser berada di tangannya.
Si pria lain terkekeh mendengar perkataan rekannya barusan. “Bukannya menangkap pelaku, kau malah mendapatkan hantu mitos itu.” Rekan pria lainnya tertawa saat mengatakan tentang hantu mitos berwujud wanita berpakaian putih yang melayang yang terkenal di wilayahnya.
“Lain kali pasang kamera penangkap hantu terlebih dahulu supaya aku percaya dengan perkataanmu.” Pria itu mengedikkan bahunya tak perduli akan perkataan rekannya. Ia pun kembali menyalakan lampu senter dan mulai menelusuri wilayah lainnya sendirian.
*****
“Sir, apakah masih lama?” tanya Gania yang sudah lelah dan mengantuk. Berkali-kali kepalanya terantuk bahu Raka yang keras.
“Tidurlah jika sudah tidak bisa menahan kantuk.”
“Sir, hati-hati dua langkah di depan sana terdapat batu besar yang timbul.” Gania bergumam sebelum kesadarannya benar-benar hilang dan tertidur dalam gendongan Raka.
Raka tertegun sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya dengan mata yang awas melihat jalanan yang berliku. Bulan purnama yang semula tertutupi awan gelap kini perlahan tersingkap dan menampakkan sinarnya yang mengiringi langkah Raka dalam menelusuri jalanan.
Setelah sampai di area perumahan, raka mengedarkan pandangan ketika suasana terlihat ramai karena beberapa warga tengah berkerumun di beberapa tempat dan saling berbisik penuh ketegangan.
Raka kemudian menepi sejenak dan mendudukkan Gania di bawah pohon jati yang sedikit tertutup dari pandangan orang-orang. Dengan terpaksa Raka membuka kemeja miliknya yang terpasang di tubuh Gania yang masih tertidur guna mengenyahkan pandangan negative dari masyarakat mengenai dirinya yang datang bersama seorang gadis asing dengan keadaan pakaian yang tidak lengkap.
Raka memakai kembali pakaiannya dengan cepat dan kembali menggendong Gania menuju rumah Tuan Danu. Raka terlebih dahulu bertanya kepada seorang pria tua untuk menanyakan keadaan Desa Wania yang tak biasanya ramai saat malam hari kecuali saat malam perayaan tertentu.
“Paman, apa sudah terjadi sesuatu disini?” tanya Raka sembari mengamati keadaan sekeliling.
“Ya Tuan Guru, pihak perwakilan dari Negara Utara dan Selatan tengah berkunjung karena terjadi suatu hal.” jawab pria tua yang tengah sendirian di depan rumahnya yang paling ujung dari rumah penduduk lainnya.
Raka mencerna sejenak perkataan pria tua yang ia ketahui sebagai pegawai Arka di kebun. Kemudian ia meminta kepada pria itu agar mengizinkan dirinya untuk memasuki pagar rumah pria itu. “Paman, izinkan aku sebentar untuk masuk ke dalam halaman rumahmu.”
“Ah, silahkan tuan.” jawab pria tua itu dengan cepat. Ia membukakan pintu pagar yang terbuat dari kawat yang sudah berkarat dan bengkok.
Raka kemudian mendudukkan Gania yang perlahan tersadar dan terkesiap menyadari bahwa bukan rumah kakeknya yang sedang ia tempati.
“Sir?” tanya Gania yang terkejut.
“Shhttt, diamlah. Biarkan aku memeriksa isi tasmu.” pinta Raka sebelum ia mengambil tas Gania dan membuka isinya. Gania mengangguk lalu menutup mulutnya yang tengah menguap menggunakan kedua tangannya.
Raka mulai melihat setiap isi dari tas Gania, ia berdecak pelan saat melihat bahwa semua peralatan yang Gania bawa menunjukkan semua benda yang berasal dari selatan.
“Paman, bisakah saya menitipkan tas ini sebentar, besok saya akan membawanya kembali.” pinta Raka yang dibalas ragu oleh pria tua yang sedari tadi berdiri mengamati.
“B-baik tuan, tapi … mengapa harus dititipkan kepada saya?”
“Ah tidak, saya hanya tidak ingin membuat gadis itu kerepotan karena ia sedang dalam keadaan tidak baik.”
Pria tua itu mengangguk seraya menatap Gania yang hampir tertidur kembali.
“Tolong jangan dibuka dan jangan sampai orang lain tahu.” ucap Raka yang kembali dibalas anggukan dari pria tua itu.
Raka kemudian menggendong Gania dengan mengubah posisinya menjadi di depan. Kemudian Raka berpamitan kepada pria tua itu dan keluar dari halaman rumah setelah dibukakan pintu pagar oleh pria tua itu.
“Tuan, maaf jika saya lancang. Sebenarnya siapa gadis itu?” tanya pria tua itu penasaran karena ia belum pernah melihat gadis yang sekarang berada dalam pangkuan Raka.
Raka berbalik badan lalu menjawab dengan sedikit keraguan dalam perkataannya. “Dia, kekasihku.” Raka kembali membalikkan diri dan mengumpat dalam diam saat dirinya telah menyadari bahwa ia telah berkata konyol di hadapan seorang pria tua.
“Permisi.” ucap Raka yang langsung benar benar pergi meninggalkan pria itu.
Raka mengambil jalan pintas yang langsung menghubungkannya dengan pintu belakang rumahnya. Dirinya sudah berpikir dua kali untuk tidak terlalu tampil menyolok dengan seseorang di pangkuannya apalagi mengingat bahwa desanya kini tengah didatangi oleh para penguasa negara yang tengah berkonflik akibat kecerobohan yang dilakukannya bersama gadis kecil itu, ya Raka sedikit mengakuinya bahwa ia juga menjadi penyebab kedatangan para penguasa itu.
Raka benar-benar bingung saat dirinya telah sampai di dalam rumahnya dan tengah menatap pintu kamarnya dengan bimbang. Kemudian pandangan Raka beralih pada sosok kecil yang tengah memejamkan mata dalam pangkuannya. Dirinya benar-benar bingung untuk menempatkan Gania dimana. Tidak mungkin ia membawa Gania ke rumah kakeknya yang jelas-jelas akan mendatangkan keributan.
Terpaksa Raka membuka pintu kamarnya dan membiarkan kamarnya untuk pertama kali terjamah oleh seorang perempuan. Raka membaringkan Gania di atas kasurnya dan menepuk-nepuk pipi gadi itu pelan guna sedikit memberikan kesadaran kepada gadis itu. “Hei, kau sedang berada di kamarku. Jangan pernah keluar sebelum aku kembali.” bisik Raka yang mendekat ke telinga Gania sebelum ia bangkit dan meninggalkan Gania sendirian di kamarnya yang sengaja digelapkan.
Raka mendatangi rumah Tuan Danu yang benar-benar ramai oleh para warga dan juga aparat keamanan dari negara masing-masing. Tuan Danu yang menjabat sebagai tetua sekaligus pemimpin desa selalu menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuan mengenai berbagai masalah yang akan dibahas dan ditangani.
Kehadiran Raka tentu menjadi pusat perhatian orang-orang. Dirinya yang tegas dan berwibawa cukup terkenal dalam ingatan para pemimpin itu saat Raka menjadi salah satu penengah diantara kedua negara yang tengah berkonflik.