Unexpected Code

3537 Words
“Apakah anda sudah memastikan target kita aman dari serangan musuh?” tanya seorang pria paruh baya di balik kursi kebesarannya yang mengkilap. Terlihat lagi seorang lawan bicara yang berdiri di seberang meja tengah menganggukkan kepala seraya menjawab, “Saya pastikan ia sudah aman dan akan menjadi informan penting bagi kelancaran misi kita saat ini. Dengan kepolosan seorang gadis, tentu mereka semua dengan sendirinya akan mudah kita pengaruhi.” “Ya, aku percaya. Pastikan semua berjalan dengan lancar dan kumpulkan semua informasi mengenai keadaan disana saat ini.” Titah pria yang terlihat sangat mendominasi seluruh ruangan dan sangat disegani oleh sang lawan bicara. Pria yang satu satunya menjadi lawan bicaranya itu mengangguk patuh pertanda jika ia menyanggupi keinginan dari sang pemimpin yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan negaranya. Setelahnya pria yang bertugas menjadi kaki tangnnya itu pergi meninggalkan ruangan disusul dengan berbaliknya kursi  pria paruh baya itu bersamaan dengan seriangan kejam dengan pipa tembakau di sudut kanan bibirnya. Ya, sebentar lagi seluruh dunia akan tunduk berada di bawah kekuasaannya.   *****    “Gania?” Gania megerjapkan matanya berulang kali setelah namanya disebutkan oleh Raka dari depan sana. Matanya melirik ke arah teman-temannya yang terdiam setelah mendengar seruan Raka. Dengan kaku Luna mengangguk kepada Gania pertanda bahwa Gania harus menghampiri laki laki tersebut dan mendengarkan setiap ucapan yang akan dikeluarkan oleh sang guru. Gania meneguk ludahnya sebelum kakinya ia langkahkan mendekati Raka yang menjulang di bawah pohon apel yang rimbun. Sesampainya di hadapan Raka, Gania menatap Raka yang terus menatapnya sedari ia berjalan ke hadapannya. “Sampaikan kembali secara rinci mengenai teori gravitasi yang dikemukakan oleh Sir Isaac Newton.” Gania mengangguk, pandangannya mulai terarah menghadap para siswa yang sedang menunggu pemaparan yang akan disampaikan oleh Gania, selaku siswa baru di Sekolah Elvandora. Gania pun mulai membuka mulut dan memaparkan pengetahuannya yang diperoleh dari penjelasan Raka maupun dari pembelajaran di sekolahnya terdahulu. “Sir Isaac Newton mengatakan dalam bukunya yang berjudul Principia bahwa segala sesuatu memiliki kekuatan. Kekuatan tersebut akhirnya dinamai dengan istilah Gravitasi. Gravitasi selalu menarik sesuatu untuk mendekati pusatnya. Untuk itulah, berkat kecermatan dalam mengamati lingkungan sekitar beliau bisa menemukan sebuah pencerahan dari balik peristiwa terjatuhnya buah apel ke atas tanah, maupun terhadap teori sebelumnya yang menyatakan bahwa setiap planet memiliki orbit dan pusatnya …” Gania menghentikan penjelasannya, lalu menatap Raka meminta agar laki laki tersebut menghentikan pemaparan materinya. Raka yang terdiam tengah mengamati kemudian tersadar dan mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Gania menghembuskan nafas lega dan bersiap menutup pemaparannya kalimat penutup, “Saya kira sudah cuk ..” “Tolong berikan salah satu contoh peristiwa mengenai teori hukum gravitasi.” Raka berbicara disela-sela perkataan penutup yang Gania ucapkan membuat Gania secara spontan menengok kea rah Raka dan memicingkan mata guna memperjelas perintah kedua yang dilayangkan Raka kepadanya. “Ah, untuk contohnya sendiri kita sudah menyadari bahwa kita tidak mengapung ataupun melayang di permukaan bumi ini karena kita sendiri ditarik oleh gravitasi yang ada di dalam bumi.” Gania menghembuskan nafas lega setelah menyelesaikan jawaban spontan darinya yang dirasa tepat. Gania kembali melirikkan matanya menatap Raka untuk meminta pendapat akan jawabannya sekaligus meminta kepada lelaki tersebut agar ia dipersilahkan kembali untuk duduk di atas rerumputan pendek bersama teman temannya. Terlihat Raka tengah menimbang jawaban yang disampaikan oleh Gania membuat gadis itu sedikit lebih lama berdiri di hadapan para siswa. “Bisakah kamu memberikan contoh yang lebih rasional dan spesifik lagi?” Raka sepertinya ingin mempermainkan Gania lebih lama dari yang Gania pikirkan. “Apa-apaan laki laki itu? Kenapa dia senang sekali mengerjaiku.” Gania menggeram pelan sebelum menjawab halus perkataan Raka, “ Saya rasa jawaban saya sudah lebih dari rasional dan spesifik, sir.” Raka kembali mengangguk-anggukkan kepala mengerti akan jawaban perkataan Gania, namun sepertinya ia belum cukup puas untuk memberikan sedikit pelajaran kepada siswa barunya yang telah berbuat tidak mengenakan kepadanya, “Bisakah sekali lagi memberikan contoh, setidaknya lakukan hal pembuktian seperti Sir Isaac Newton dengan buah apelnya yang terjatuh.” “Sir, apa aku harus menunggu buah apel untuk jatuh terlebih dahulu?” Sungguh benar-benar sangat tidak ber-faedah jika laki-laki itu menyuruh Gania untuk berdiam diri di bawah pohon apel menunggu buah yang bahkan masih terlalu muda untuk lepas dari ranting pohonnya. “Saya hanya ingin menunjukkan kepada siswa lain dengan praktik contoh yang bisa mereka perihat dan perjelas lagi untuk mereka kembangkan dan bisa jadi mereka menemukan sebuah teori perkembangan yang baru. Dan, kamu tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat apel terjatuh. Cukup kamu panjat pohon tersebut dan lemparkan apel tersebut ke bawah dan lakukan analisis tersebut.” Gania menatap sengit ke arah Raka untuk beberapa detik lamanya, kemudian ia melirik kea rah teman-temannya untuk meminta bantuan agar ia diselamatkan dari perintah guru barunya yang menyebalkan itu. Namun bukan pembelaan yang didapatkan Gania, ia malah mendapatkan tatapan penolakan dan gertakan agar Gania melakukan perintah dari gurunya. “Lakukan perintahnya, atau kamu akan mendapatkan beberapa hukuman yang berat jika kamu membantahnya!” Begitulah arti dari tatapan Luna yang dapat Gania tangkap. Ia-pun hanya menghela nafas lelah karena sudah terjebak dalam jeratan maut guru tersebut. “Tapi, dari mana saya mendapatkan apel tersebut?!” tanya Gania membalas meskipun ia sudah geram dengan tingkah Raka yang terlihat berlebihan. Raka memberikan aba-aba kepada Gania untuk menunggu, Gania bersedekap dan memperhatikan Raka, begitupun dengan para siswa lain. Terlihat Raka yang menyimpan buku tebalnya di atas akar pohon apel yang menyembul ke atas lalu mulai mengangkat tangannya untuk menggapai sebuah apel yang terlihat matang menggantung tak jauh dari jangkauan tangannya. Setelah berhasil memetik buah apel tersebut, Raka melempar apel ke arah Gania, membuat Gania secara spontan menangkap buah apel itu dengan kedua tangannya. Gania melongo menatap buah apel merah yang sudah berada di tangannya, ia berpikir mengenai pemikiran Raka yang jauh di luar pemikirannya. Jika laki-laki itu bisa mengambil serta melemparkan apel itu ke tangannya yang jelas menunjukkan suatu gravitasi yang sedang mereka pelajari, lantas kenapa ia masih tetap menginginkan Gania untuk memanjat pohon yang lumayan tinggi itu hanya sekedar untuk melemparkan buah apelnya ke tanah? Benar-benar s**l, Gania benar-benar telah menjadi bulan-bulanan guru barunya sendiri. “Sir, kenapa harus aku? Anda bisa meminta siswa laki-laki untuk memanjat pohon. Lagi pula, lihatlah, aku memakai sebuah rok, bagaimana jika pakaianku tersangkut di ranting pohon?” Jelas-jelas Gania akan protes mengenai hal tersebut. Memanjat pohon bukanlah kemampuan yang ia miliki. Dan jika diingat-ingat, Gania belum pernah sama sekali memanjat sebuah pohon meskipun itu hanya sebuah pohon singkong. “Tidak bisa, saya ingin menambah nilai pembelajaran anda yang tentu berbeda dengan siswa lain karena anda selaku siswa baru belum memenuhi nilai yang tinggi.” jelas Raka yang benar-benar tengah membual dan mengada-ada, karena Gania tahu bahwa ia sedang dikerjai oleh laki laki itu. “Baiklah Sir, tolong biarkan teman-temanku ikut membantuku untuk memanjat pohon tersebut.” pinta Gania yang langsung dibalas anggukan setuju dari Raka. Gania pun berseru dan memanggil Luna beserta Wendi agar membantu dirinya. Dan beruntungnya teman-teman Gania langsung beranjak dan membantunya tanpa memprotes sama sekali. Gania mulai memanjat pohon yang digunakan Raka saat mengajar tadi setelah laki-laki itu menyingkir dan mulai bergabung dengan para siswa yang bersorak ramai melihat aksi dari Gania. “Tuhan, tolong selamatkan aku dan biarkan aku turun dari pohon ini dengan selamat.” Gania merapalkan do’a-nya sembari merekatkan telapak tangannya dengan erat ke batang pohon yang perlahan ia panjat. Sesaat Gania melepaskan nafas lega saat dirinya telah sampai di bagian ranting pertama yang bisa menahan beban tubuh Gania.  Kini Gania benar-benar takut dan sedikit histeris saat menyadari ia tengah berada di ketinggian pohon, ia-pun menenangkan diri sejenak sebelum meminta instruksi dari Raka mengenai langkah selanjutnya. “Sir, apakah sekarang saya bisa melemparkan apelnya?” tanya Gania sedikit berteriak. Raka yang berdiri tak jauh dari pohon yang Gania panjat merasa terusik dan mengernyit saat suara lengkingan Gania menusuk pendengarannya. Tak mau menambah kesakitan di telinganya, akhirnya Raka menganggukkan kepala hingga membuat Gania terpekik kesenangan hingga kehilangan keseimbangan dan kakinya terpeleset dari batang pohon tersebut. Alhasil kini Gania berteriak histeris seraya memejamkan mata menunggu detik-detik ia terjatuh ke atas tanah sebelum ia menyelesaikan misinya untuk melemparkan buah apel tadi. Bruk … Gania benar benar merasa bahwa seluruh badannya remuk akibat hantaman tubuhnya yang cukup keras, apalagi ia merasa bahwa hanya bukan hanya permukaan tanah yang ia hantam melainkan juga tubuh seseorang. “Ya Tuhan …” ringis Gania yang masih memejamkan mata dalam posisi yang sama. Terlihat para siswa bangkit dari duduknya dan berkerumun untuk melihat keadaan Gania yang baru saja terjatuh menimpa seseorang. “Bangunlah!” suara baritone itu menggema dalam gendang telinganya sesaat sebelum tubuhnya terangkat dengan paksa hingga ia terduduk. Gania kembali meringis di sela-sela pandangan matanya yang mulai menelusuri sosok yang ikut duduk di hadapannya. Manik mata Gania perlahan membesar saat melihat siapa sosok yang barusan menjadi tempat dirinya terjun dari atas pohon. Gania lantas menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan memekik pelan saat menyadari bahwa Raka-lah yang telah ia timpa saat terjatuh. Ini sangat parah, bahkan terlihat lebih parah lagi saat mata Gania melihat bahwa kemeja putih yang Raka kenakan kini tercampuri noda tanah dan merah yang berasal dari apel yang sudah remuk dalam genggaman tangannya. Raka mendengus saat melihat kemeja putihnya kini terdapat beberapa bercak noda, kemudian ia melirik ke arah Gania yang masih terlihat syok berat. Raka menenagkan diri sekaligus meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, setelahnya ia berdiri dan berkata, “Pembelajaran hari ini selesai. Kalian semua dipersilahkan untuk pulang.” Sebagian besar siswa bersorak senang dan mulai mengabaikan Gania yang masih duduk di kelilingi temannya. Hingga kemudian Raka berbalik meninggalkan area diiringi beberapa siswanya menuju kelas. Gania meringis, kemudian ia bangkit dan berdiri dengan bantuan ketiga temannya untuk kembali ke dalam kelas. Kini Gania hanya meracau dan merutuki dirinya dalam hati karena kecerobohan yang telah diperbuatnya.   *****   Ganai menghela nafas saat kelas telah kosong dan dan para siswa telah pulang ke rumah masing-masing. Ia kemudian mencoba berdiri dan mengambil tas gendong miliknya sebelum ia keluar dari kelas. Gania kembali merutuki dirinya saat ia menyadari bahwa tak ada yang bisa dihubungi untuk membantu dirinya yang tengah kesusahan. Ponsel canggihnya benar-benar tak berguna disini karena ia dilarang keras oleh ayahnya untuk sekedar menghubungi ataupu menyalakan data koneksi. Sebenarnya Gania bisa saja menerima bantuan teman-temannya tadi, akan tetapi setelah dipertimbangkan lagi ia tak mau kembali merepotkan teman-temannya yang akan membantu pekerjaan orang tuanya selepas pulang dari sekolah. Alhasil Gania akan pulang sendirian dengan anggota tubuh yang masih terasa sakit. Untungnya Gania masih cukup mengingat arah jalan pulang saat ia akan berangkat sekolah tadi. Gania berkali-kali meringis seraya menumpukan lengannya di dinding luar kelas saat ia mencoba menggerakkan kaki kanannya. Seperti dugaan sebelumnya, kakinya sepertinya terkilir akibat terpeleset dan saat terjatuh tadi. Mengabaikan rasa sakitnya, Gania mencoba kembali berjalan dengan tangan yang masih bertumpu di dinding. Gania terus saja memperhatikan langkahnya hingga ia tak menyadari ada seseorang ikut berjalan di belakangnya. “Ekm …” seseorang itu berdehem membuat Gania tersentak dan langsung melirik terkejut ke belakang tubuhnya. “Sir?” tanya Gania saat menyadari bahwa Rakalah yang berdehem. “Kenapa menangis?” tanya Raka tiba-tiba membuat Gania spontan menundukkan kepala lagi. Gania menggeleng masih dengan kepala tertunduk. Rupanya ia ketahuan telah menangis karena memang sedari tadi ia menundukkan kepalanya guna untuk menutupi tangisannya yang merasa sakit di bagian beberapa tempat di tubuhnya. Raka menghela nafas lalu berjongkok di depan Gania guna memeriksa kondisi kaki Gania. Rupanya kaki Gania benar-benar terkilir sehingga menimbulkan rasa sakit saat dirinya bergerak karena susunan kerangka tulangnya yang bermasalah. Setelah selesai memeriksa Raka kembali berdiri dan berjalan melewati Gania yang ikut memutar tubuhnya menatap tubuh Raka yang akan meninggalkannya sendirian di lorong sekolah. Gania mendesah sedih, seharusnya ia tak banyak berharap bantuan terhadap laki-laki kejam itu. Namun ternyata dugaan Gania salah, di depannya Raka berhenti dan kembali berjongkok membelakanginya seolah menawarkan punggung lebar dan tegap itu sebagai tempat bersandar selama perjalanan pulang. “Cepatlah naik, aku tidak tahu jika nanti aku akan kuat berapa lama lagi menahan beban beratmu jika kamu terus saja berdiam diri.” ucap Raka yang benar-benar tengah menawarkan bantuan kepada Gania. Gania terkesiap, lalu dengan gerakan cepat Gania menerjang punggung Raka karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan agar ia tidak terlalu menahan sakit. Sementara itu, di depan sana Raka mengupat karena ia hampir saja tersungkur ketika Gania menubruk punggungnya dan langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Raka cukup erat membuat Raka tercekik. Raka membetulkan terlebih dahulu alungan tangan Gania yang dirasa begitu mengganggu dan setelahnya ia berdiri mengangkat tubuh Gania dan membawanya pergi dari area sekolah. Raka terus menelusuri jalan dengan Gania yang berada di gendongannya tanpa sedikitpun pembicaraan yang dilakukan oleh mereka berdua selama perjalanan. Raka menghela nafas lelah dan menghentikan langkahnya sejenak guna mengumpulkan tenaganya untuk kembali membawa Gania yang cukup berat. Diliriknya Gania saat Raka merasakan kepala Gania tersandar di bahu kanannya ditambah alungan tangan Gania yang sedikit mengendur. Rupanya Gania tengah tertidur memejamkan mata kelelahan sehabis menangis tadi. Raka pun menggerak-gerakkan bahu kanannya guna membangunkan Gania yang dirasa membahayakan jika ia tertidur dalam gendongannya. “Bangun, aku tidak ingin kembali ikut terjatuh karena dirimu yang tertidur dan tidak berpegangan erat kepadaku.” Suara Raka terdengar datar dan guncangan di bahunya semakin ia perkuat agar Gania mau membuka matanya. Gania akhirnya terbangun dengan mata sayu sekaligus sembabnya dan memandang sekeliling, beranggapan bahwa mereka berdua telah sampai di depan rumah Kakek Danu. Namun hanya jalanan aspal yang berlubang dengan sisi kanan dan kiri yang terdapat semak belukar menandakan mereka masih jauh dari area perumahan karena letak sekolah Elvandora yang berada di tengah bukit. “Aku pikir kita sudah sampai.” gumam Gania sembari meletakkan kembali kepalanya di bahu kanan Raka yang lebar. Raka yang melihat hal itu mendengus dan kembali melanjutkan perjalanan. Namun saat di pertiga jalan, Raka mengabaikan jalan yang mengarah ke rumahnya dan memilih jalan kecil yang menuju ke arah sebuah sungai. Raka kembali berhenti setelah ia sampai di dekat sebuah batu besar yang terletak di pinggir sungai yang lebar yang airnya mengalir dengan tenang. Kemudian Raka berjongkok dan menghempaskan tubuh Gania di dekat batu agar terlepas dari gendongannya sedikit memaksa membuat Gania yang akan tertidur lagi terduduk dan meringis kesakitan. Gania hendak memandang tajam ke arah Raka dan akan memberikan berbagai protesan karena ia sudah bertindak kasar dan seenaknya. Namun sosok Raka menghilang begitu saja membuat Gania kembali mengatupkan bibirnya dan mencari sosok Raka ke sekeliling. Gania akan kembali berteriak, namun sebelum itu manik matanya sudah menemukan Raka yang berjongkok di pinggiran sungai dengan kemeja putih yang berada di dalam genggamannya. Gania membalikkan tubuhnya dan bersandar di dinding batu dengan detak jantung yang berdetak dengan irama tak tentu. Gania meringis kemudian menepuk-nepuk pipinya yang bersemu merah karena melihat Raka yang bertelanjang d**a meskipun dalam posisi yang sedang membelakanginya. Hingga kemudian Gania menyadari ada sebuah bayangan yang menghampirinya. Ia pun mendongak dan mendapati Raka berdiri di hadapannya masih bertelanjang d**a. Kedua tangannya mulai merentangkan kemeja putihnya yang basah dan sudah dibersihkan. “Kenapa kamu ….” ucapan Gania terhenti saat wajahnya terkena cipratan air dari kemeja basah Raka yang sengaja dicipratkan ke arah Gania agar gadis itu berhenti berbicara. “Hei!” seru Gania yang wajahnya kembali basah karena Raka kembali mencipratkannya sebelum ia jemur di atas permukaan batu yang tengah Gania sandari. “Menyebalkan.” gumam Gania melihat keterdiaman serta ketidak pedulian Raka terhadapnya. Dengan kasar Gania mengelap wajah basahnya dengan telapak tangan kanannya. “Kenapa kita malah berdiam disini?” tanya Gania kepada Raka yang masih terdiam membisu, kini lelaki itu telah duduk di samping Gania tengah bersandar dan memejamkan mata dengan kepala terdongak ke atas. “Hei.” seru Gania yang kembali kesal karena diabaikan oleh Raka. “Diamlah, aku tidak ingin pulang dengan kemeja kotor seperti tadi.” Raka menjawab dengan mata yang masih terpejam. “Kenapa begitu? Di rumah kamu bisa mencucinya lebih bersih menggunakan ..” “Dengar, tempat ini bukan seperti kota asalmu yang mempunyai detergen ataupun yang lainnya untuk mencuci, bahkan sebagian penduduk lainnya masih menggunakan air sungai ini untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.” Raka menyela perkataan Gania dengan sarkastik. Gania terdiam dan mengalihkan pandangan dari tatapan menyudutkan Raka yang dilayangkan kepadanya. “Y-ya, aku hanya menyarankah, lagi pula aku tidak tahu kalau disini tidak mempunyai bahan pembersih pakaian seperti itu.” Raka kembali terdiam dan memejamkan matanya menghiraukan Gania yang ikut terdiam setelah berucap. Merasa bosan menunggu, akhirnya Gania mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mulai memainkan permainan yang tidak terhubung dengan internet. Gania tentu masih ingat dengan perkataan ayahnya bahwa ia tidak boleh menghubungkan koneksi internet sedetikpun di DesaWania, bahkan ayahnya mencabut kartu telepon dari ponselnya karena bisa saja para musuh berhasil mengetahui keberadaannya disini dan bisa membuat keadaan yang sedikit tenang kembali memanas. Gania menambah volume ponselnya agar suasanan tidak terlalu terasa senyap dan sepi. Kini Gania mulai terfokus dengan permainannya dan mengabaikan Raka yang perlahan membuka mata untuk melihat ke arah sumber suara yang sangat asing di telinganya. Gania mendengus ketika ia kalah dalam permainan dan sedikit melemparkan ponselnya ke permukaan tasnya yang tersimpan di atas pangkuannya. Kemudian Gania melirik ke sebelah kiri dimana Raka tengah duduk berselonjor dengan mata menatap ponselnya yang masih menampilkan layar permainannya. “Kenapa?” tanya Gania pura-pura tidak mengerti, padahal ia sangat mengetahui bahwa gurunya itu sedang tertarik dengan permainan yang terdapat dalam ponselnya. “Tidak.” jawab Raka sembari mengalihkan pandangannya dari ponsel Gania. “Mau bermain?” tanya Gania memancing Raka yang berkilah untuk memainkan permainannya. Gania mengambil kembali ponselnya dan berniat utnuk bermain lagi. Samar-samar Gania tersenyum saat sudut matanya menangkap pergerakan Raka yang mendekati Gania untuk ikut melihat apa yang sedang Gania lakukan. “Mau bermain, atau hanya melihat saja?” tanya Gania yang mencoba menurunkan ego Raka yang tinggi dengan mengiming-imingin sebuah permainan. “Siapa yang mau bermain? Aku hanya sedang membetulkan posisi dudukku yang dirasa tidak nyaman.” ucap Raka yang kemudian berdiri dan berjalan kea rah pinggiran sungai dan duduk disana. Gania menghela nafas panjang saat dirinya menyadari bahwa ia gagal membujuk Raka yang semakin menyebalkan. Kemudian Gania ikut berdiri dan menghampiri Raka dengan susah payah setelah ia menyimpan tasnya di samping kemeja Raka yang sedang dijemur. Tanpa banyak bicara Gania mendudukkan diri di samping Raka yang tengah memandang ke seberang sungai yang terdapat  tanah kosong yang luas yang dibatasi pagar-pagar kawat yang Gania kira terdapat arus listrik yang kuat disetiap kawat yang membentang panjang itu. “Apakah disana adalah daerah utara?” tanya Gania yang dimaksudnya adalah Negara Porini yang merupakan musuh dari Negara Eriduan. Raka melirik sejenak ke arah Gania lalu menatap kembali ke arah seberang sungai sembari menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Gania. “Aku tidak mengira akan sedekat itu.” Raka mengangguk menanggapi perkataan Gania yang tengah memandang tanah kosong di seberang sungai sana. Gania kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku rok overall-nya dan mulai membidik kameranya ke arah seberang sana. Raka pun menengok ke arah Gania yang sedang memfoto pemandangan, lalu ia menjauh ketika Gania melirik ke arahnya sembari mengarahkan kamera ponselnya dan membidik Raka yang tengah duduk menyamping. Setelah itu Gania melihat hasil dari kamera yang ditangkapnya. Ia tersenyum kecil saat melihat sosok Raka kini sudah tersimpan dalam ponselnya, meskipun hanya menampilkan sebagian wajahnya. Raka yang sedikit geram dan penasaran akhirnya merampas ponsel Gania dan melihat hasil dari potertan Gania. Hal itu membuat Gania meringis sembari menarik-narik lengan Raka agar laki-laki itu mau menyerahkan kembali ponselnya. “Sangat tidak sopan jika mengambil foto seseorang dengan sembarangan.” ucap Raka sembari melemparkan ponsel Gania ke pangkuan gadis itu. Gania mendengus lalu mengambil ponselnya sembari mengusap layarnya yang sedikit berdebu. Gania kembali melihat isi dari galerinya, namun ia terheran saat foto yang berisi sosok Raka masih terdapat di dalam galerinya. Bukannya menghapusnya karena terlihat Raka tidak menyukainya. “Buang foto itu, aku tidak bisa melakukannya.” ucap Raka dengan datar, namun membuat Gania tertawa karena ia benar-benar tidak ingat bahwa laki-laki itu tidak mengetahui bagaimana cara mengoperasikan ponselnya. Gania menggeleng, lalu menyembunyikan ponselnya di balik tubuhnya saat Raka hendak mengambil kembali ponselnya. Sebisa mungkin ia menyelamatkan ponselnya dari tangan Raka karena ia ingin menyimpan kartu as untuk berjaga-jaga jika Raka melakukan sesuatu yang diluar kendalinya. Ia bisa memanfaatkan foto Raka untuk sedikit memberikan ancamannya. “Tidak, foto ini akan terus tersimpan disini.” “Pasti ada cara untuk membuangnya. Berikan benda itu!” titah Raka yang langsung berdiri dan melompat ke belakang tubuh Gania yang menyembunyikan ponselnya. “Tidak bisa.” Gania terus saja memberontak dan kini mereka saling tarik menarik ponsel dengan layar yang masih menyala hingga jari-jari mereka menekan layar tersebut tak beraturan. Hingga saat jari telunjuk Raka menekan tombol koneksi internet secara tidak sengaja, beberapa suara terdengar berasal dari ponsel Gania dan seketika itu juga layar pnselnya menggelap, membuat acara tarik-menarik terhenti seketika dan mulai mencerna apa yang tiba-tiba saja terjadi dengan ponselnya. “Tidak ada yang penting, hanya percakapan antara anak muda yang terdengar sedang kasmaran.” ucap seorang pria dari ponsel Gania yang diiringi beberapa tawa pria lainnya. “s**l, musuh mengetahui keberadaan target, cepat putuskan semua koneksi anak tersebut!”  setelah itu teriakan seseorang mengejutkan Gania dan juga Raka yang tengah mendengarkan, hingga setelah itu tidak ada lagi suara dari dalam ponselnya dan langsung terdengar sebuah sirine yang sangat keras dari seberang sungai yang merupakan wilayah kekuasaan Negara Porini. “Sembunyi, Raka, kita harus bersembunyi.” pekik Gania yang langsung teringat akan perkataan ayahnya yang melarang Gania untuk menyalakan koneksi internet. Dan kini Gania tahu alasan kenapa ayahnya sangat melarang hal itu. Nyawanya sangat dipertaruhkan saat ini, dan yang lebih mengerikan lagi, peperangan yang sedikit mereda akan kembali berkobar akibat kecerobohannya. Gania memekik saat tiba-tiba Raka menggendongnya dan mendudukkan Gania di balik batu besar tadi dan menarik tas beserta kemejanya agar tak terlihat oleh para petugas penjagaan perbatasan Negara Porini yang satu persatu berdatangan dan memeriksa keadaan. Tubuh Gania bergetar hebat dan semakin merapatkan tubuhnya ke arah Raka yang tengah mendekapnya karena takut ia terlihat oleh pasukan penjaga keamanan NegaraPorini yang terkenal sangat kejam meskipun ia tengah berada di tanah yang terjamin keamanannya, tapi sewaktu-waktu ia bisa tertangkap dan diadili karena secara illegal ia masuk ke wilayah yang terlarang bagi warga Negara Eriduan dan Negara Porini. “Dimana benda itu?!” bisik Raka yang menganggap bahwa benda itu masih menyala dan membuat orang-orang di seberang sana masih mengawasi. Gania menyerahkan ponsel di tangannya dengan gemetar lalu tanpa disangka Raka melempar ponsel tersebut tepat ke atas kotoran kerbau yang lumayan jauh berada di depan mereka. “H-hei, kenapa harus melemparnya kesana?!” pekik Gania yang mulutnya langsung dibungkam oleh Raka karena menimbulkan suara yang cukup melengking. “Diamlah, jika tidak dilempar, mereka akan terus berjaga disana.” ucap Raka mengingatkan membuat Gania yang tak mengerti hanya diam dan membisu dalam dekapan Raka yang kian terasa nyaman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD