Pagi harinya Gania terbangun dengan wajah yang masih kusut dan mengantuk sebab semalam ia tidur terlambat Karena Raka yang tak kunjung pulang dari teras rumah kakeknya. Kini Gania tengah berdiri di depan lemari kayu jati tengah memilih pakaian yang pantas dikenakannya saat pergi ke sekolah nanti. Dirinya ingat saat Tuan Roey mengatakan bahwa ia tak perlu memakai seragam ataupun pakaian formal lainnya.
Gania akhirnya memilih untuk mengenakan rok overall-nya yang panjang lengkap dengan kaos bermotif bunga berlengan panjang. Gania mulai memakainya setelah tadi ia melakukan ritual mandi paginya. Nyatanya ia tak mengacuhkan perkataan kakeknya yang melarang untuk mandi terlalu pagi, ia benar benar tak bisa jika pergi sekolah tanpa mandi terlebih dahulu.
Gania menuruni tangga rumah kakeknya dan berjalan menuju dapur yang merangkap dengan ruang makan. Dirinya melihat sang kakek sedang mengelap sepatu kulit di kursi makannya, sementara neneknya sedang berdiri menghadap kompor yang menyala dengan sebuah panci di atasnya.
Gania menghela nafas sedih saat di rumah ini orang tuanya sudah tidak ada, pukul 1 pagi mereka sudah menyalakan mobilnya dan bersiap untuk kembali ke kota. Gania yang baru saja menutup pintu depan selepas Raka pergi, dirinya dikejutkan dengan kedatangan kedua orang tuanya yang sudah bersiap untuk pulang ke kota.
Kini Gania ikut merasakan bagaimana kesepiannya kakek dan neneknya yang hidup berdua disini. Kini Gania bertekad bahwa selama ia tinggal disini ia akan selalu menemani kakek dan neneknya dan membuat rumah ini kembali tidak sepi seperti biasanya.
Gania yang sempat menghentikan langkahnya kembali berjalan dan menghampiri kakeknya yang langsung tersadar dengan kehadiran Gania. Seketika Gania langsung memeluk kakeknya dan dilanjut dengan neneknya yang Gania anggap hal itu sebagai ritual paginya yang baru bersama kakek dan neneknya.
“Pagi.” sapa Gania ceria dan ikut duduk di kursi makan bersama kakeknya.
Kakek Danu tersenyum menatap Gania lalu kembali ke aktifitas mengelap sepatu hitamnya lagi. Gania kemudian melirik neneknya yang sudah mendekati meja makan dengan membawa sebuah mangkuk makanan, kemudian ia juga ikut duduk di kursi makan menghadap piring makan yang masih kosong.
“Boleh Gania sarapan sekarang nek?” tanya Gania sembari menatap menu sarapan pagi ini. Nenek Gania menggelengkan kepala lalu berkata, “Tunggu sebentar lagi, Tuan Roey sebentar lagi pasti kesini bersama putra-putranya.”
Gania melongo dan menatap tak percaya ke arah kakek dan neneknya secara bergantian. “Maksud nenek, Raka dan Arkan? Kenapa bisa?” tanya Gania yang ikut heran karena para lelaki yang merupakan tetangganya sekarang itu selalu ikut sarapan di rumah kakeknya.
“Hush kamu, sopan sedikit. Biasakan panggil laki laki yang lebih tua dari kamu dengan sapaan mas, atau pun yang kamu tahu.” tegur Kakek Danu seraya menyimpan kain lap beserta sepatu di dekat kaki kursi sementara setelahnya ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
Gania melirik neneknya meminta jawaban selagi kakeknya di dalam kamar mandi. “Ya, begitu. Mereka memang sudah terbiasa sarapan bersama kakek dan nenek.”
“Kenapa? Memangnya mereka tidak bisa sarapan di rumahnya sendiri?” tanya Gania dengan nada lesu sebab dirinya akan kembali dihadapkan dengan Raka pagi ini.
“Disana tidak ada perempuan yang menyiapkan sarapan untuk mereka. Lagi pula, ini sudah menjadi tradisi kami untuk sarapan bersama.” jelas Kakek Gania yang sudah keluar dari kamar mandi membuat cucunya itu semakin menekukkan wajahnya. Kemudian Kakek Danu berjalan ke depan rumah karena sebuah ketukan di pintu terdengar.
“Lalu, apa setiap jam makan mereka selalu datang ke rumah ini?” tanya Gania beralih kepada neneknya.
“Tidak juga, kita hanya melakukan sarapan bersama, selebihnya mereka yang mengatur jam makan sendiri. Kadang mereka membeli atau membuatnya sendiri. Kamu tahu, di rumah itu tidak ada perempuan yang mengurus rumah besar itu. Nenek berharap Tuan Roey agar menikah lagi, ataupun kalau bisa Mas Raka dan Mas Arka yang segera menikah agar kehidupan mereka lebih terurus lagi dengan adanya istri di rumah mereka.”
Pipi Gania seketika bersemu merah disaat neneknya mengharapkan Raka agar segera mendapatkan pendamping. Namun setelah kesadarannya kembali, Gania segera menepis perasaan aneh saat dirinya tiba tiba teringat akan lelaki angkuh yang sialnya semalam terus bersamanya.
Jika Gania ingat, sikap Raka kemarin malam sedikitlah melunak. Ia tidak lagi menampilkan wajah sangarnya, untuk nada bicaranya saja Raka tidak lagi menggeram bahkan berteriak. Apalagi setelah dirinya memberi pinjam sejenak ponsel pintarnya kepada Raka.
“Cih, lelaki murahan.” Gerutu Gania mencibir sikap Raka yang terlihat baik jika ia mendapatkan sesuatu.
“Ekhm, aku mendengarnya.” Tiba-tiba saja Raka berdehem di dekat Gania dan berbisik sambil dirinya duduk di kursi samping Gania seperti saat sarapan kemarin.
Gania melirik kaku ke arah Raka yang tengah menampilkan senyum tipis dengan wajah terlihat sangat enggan ke arah Nyonya Diva yang terlihat bersemu melihatnya. Gania bergidik, kenapa neneknya bisa bersikap seperti gadis muda yang akan bersemu malu melihat laki laki yang disukainya.
“Nia?” sapa seseorang dari kursi seberang dimana Arka duduk di samping ayahnya. Gania menoleh dan melayangkan senyuman manis ke hadapan Arkan dan sedikit melambaikan tangannya untuk menyapa.
Gania kembali menoleh ke arah Raka yang terdengar mendengus lalu memiringkan kepalanya dan bertanya melalui tatapan matanya. Namun nyatanya Raka memalingkan wajahnya dan mulai mengambil menu sarapan setelah para orang tua selesai mengambilnya terlebih dahulu.
Gania mengedikkan bahunya tak peduli, ia pun kemudian ikut mengambil menu sarapan yang tersedia dan langsung memakannya dengan keheningan yang tercipta. Setelah menyelesaikan sarapannya, Gania berdiri hendak meninggalkan area dapur, namun segera dicegah dengan perkataan kakeknya, “Nia, kamu bisa pergi ke sekolah bersama Mas Raka.”
Gania terdiam sejenak, lalu mengangguk kaku meng-iya kan. Sebenarnya ia ingin berangkat bersama teman temannya, akan tetapi ia lupa menanyakan rumah keempat temannya itu. Alhasil ia menuruti perintah kakeknya untuk pergi ke sekolah bersama Raka.
******
“Hei, kenapa aku harus membawa barang seberat ini?!” geram Gania yang tengah memeluk dua tumpuk kardus yang berisi lembaran kertas milik Raka yang berjalan di depan untuk menuntun jalan Gania.
“Hei, seorang murid tidak boleh melakukan protes terhadap gurunya.” ungkap Raka tanpa menoleh ke belakang dimana Gania telah meletakkan dua tumpukkan dus tersebut di jalan yang bergelombang tak rapi.
“Belum juga aku resmi menjadi muridmu, aku sudah mendapatkan perlakuan tak mengenakkan dari calon guruku sendiri.”
“Hei, bawa kembali barang bawaan saya!” titah Raka saat melihat Gania berjalan melewati dirinya tanpa membawa dua dus yang berisi tugas tugasnya.
Merasa tak ditanggapi, Raka berjalan cepat mendekati Gania dan mencengkram lengan kiri gadis itu sehingga Gania memekik kesakitan. “Sekali lagi aku katakan, bawa barang bawaan milikku!” gertak Raka kasar sembari menghempaskan lengan Gania yang masih mengaduh kesakitan.
Gania meringis sembari berbalik menghampiri dua kardus yang tersimpan di tengah jalan. Dirinya sangat menyesali perbuatan sebelumnya jika saja prilaku Raka akan sekasar itu kepadanya.
Dengan mata yang mulai berkaca kaca dan tangan yang masih terasa sakit, Gania mulai mengangkat kedua dus berat itu. Dirinya sedikit limbung saat berdiri dengan tegap karena beban dari kardus itu dan ditambah dengan pandangannya yang mengabur karena air mata.
Gania yang merasa ditinggalkan oleh Raka segera melangkahkan kakinya dengan cepat. Berusaha menyamakan langkahnya dengan langkah guru yang terlihat sangat tidak manusiawinya. Berkali- kali Gania mengusap sudut matanya yang berair menggunakan kain pakaian lengan atasnya sebelum Raka benar benar melihat dirinya menangis.
*****
Raka melirikkan matanya sekilas tepat dimana Gania tengah berjalan di sampingnya. Dirinya tahu bahwa gadis itu tengah menahan tangisnya, Raka membiarkan karena egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf apalagi menghibur gadis itu. Namun lirikan sekilas Raka menangkap sesuatu yang mengganjal di sebelah lengan kiri Gania.
Lengan mungil itu memerah akibat dari cengkraman yang tak sengaja Raka perbuat. Merasakan bahwa iba-nya kini lebih tinggi dari pada egonya, Raka akhirnya meminta kepada Gania agar gadis itu mau menyerahkan kardus tersebut ke tangannya.
“Berikan kardus milikku.” Titah Raka tanpa mau menatap Gania yang sedang menunduk memperhatikan bebatuan yang muncul di tengah jalan. Namun suara bariton milik Raka mengejutkan dirinya sehingga ia dengan spontan mengangkat lehernya yang mengakibatkan urat lehernya serasa ingin terputus. Gania meringis lalu dengan segera menyerahkan kedua kardus itu ke tangan Raka agar ia bisa segera mengusap leher belakangnya yang terasa sakit.
“Kenapa?” tanya Raka sedikit tak acuh melihat Gania yang sedang meringis sambil mengusap leher belakangnya. Gania menggelengkan kepala tanpa mau menatap Raka. Gania meregangkan urat lehernya dengan cara melirik ke kanan dan kiri sembari melihat keadaan sekeliling. Kemudian pandangannya tertuju pada sebuah papan besar beserta gerbang yang lebar dan tinggi tak jauh dari tempat mereka berdua berdiri. Lalu dengan gerakan kaku Gania melirik ke arah Raka yang tengah memandang dirinya penasaran.
“Kita, sudah sampai?” tanya Gania tak percaya, mulutnya terbuka menandakan bahwa ia sangat tidak mempercayai bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Sebuah bangunan tua bergaya eropa yang luasnya sekitar satu hektar itu nampak megah namun penuh misteri. melihatnya, Gania jadi teringat akan cerita fantasi tentang dunia sihir yang memiliki sekolah yang kurang lebih mirip dengan bangunan yang ada di depannya saat ini.
Raka mengangguk ragu lalu ikut menatap gerbang di depan sana yang juga tengah ditatap oleh Gania.
Gania mendengus kasar saat dirinya merasa telah dibohongi oleh guru barunya itu. Raka memandang Gania dan berkata, “Kenapa?”
“Kamu mempermainkanku?! Kenapa kamu meminta barang bawaan s****n itu disaat kita telah sampai? Kamu tidak melihat aku sangat kesakitan karena telah membawa barang yang begitu berat dengan tubuh kecilku TUAN GURU YANG MULIA?” Gania meracau panjang lebar sehingga membuat perhatian sebagian siswa yang akan memasuki area sekolah tertuju kepada mereka berdua.
Mata Raka mengedar ke sekeliling, lalu dirinya melayangkan senyuman geram kepada Gania sebelum ia menyeret Gania memasuki area sekolah dengan sebelah tangan yang digunakan untuk membawa kardusnya.
“Hei, lengaku masih sakit.” teriak Gania dengan tangan kanan yang terbuka dan menepuk-nepuk lengan Raka yang tengah mencengkram lengan kirinya yang masih terasa sakit.
Raka menghentikan langkahnya lalu mengangkat lengan kiri Gania yang masih memerah. Raka berdecak lalu menghempaskan lengan kiri Gania dan berganti dengan menyeret lengan kanan Gania sebagai gantinya.
“H-hei …” Gania hendak memprotes kembali, namun sentuhan Raka di lengan kanannya mampu membuat dirinya bungkam seketika. Raka kembali menoleh ke arah Gania yang tiba tiba membisu, lalu tersenyum samar saat melihat bahwa kini Gania tunduk kepadanya dan hanya terlihat menunduk terdiam seraya mengikuti langkahnya meskipun gadis itu berjalan tidak sesuai gerakan karena Raka yang memegang lengan kanan Gania di posisi yang salah.
****
Gania memukul pelan kepalanya berkali-kali saat dirinya sedang duduk di bangku kelas yang telah ditunjukkan Luna kepadanya saat dirinya tengah kebingungan di depan ruang kerja yang Gania ketahui sebagai ruang kerja milik Raka. Lelaki itu masuk ke dalam ruangan dan meninggalkan Gania sendirian di luar hingga berpuluh menit lamanya.
Gania terus saja melakukan hal yang sama dengan mulut yang tak hentinya menggerutu sebal saat pikirannya selalu mengingat kejadian dimana ia berdekatan dengan Raka saat mereka memasuki area sekolah. Bisa-bisanya Gania hanya terdiam dan menurut saja saat Raka menyeretnya membuat dirinya menjadi tontonan bagi para siswa ataupun guru lainnya yang kebetulan hadir saat Raka dan dirinya berjalan menuju ruangan laki laki itu.
“Kamu kenapa?” tanya Luna yang telah kembali dari ruang kesehatan karena tiba tiba saja ada siswa lain yang sakit dan Luna pergi untuk membawanya ke ruang kesehatan sekolah. Kini Luna duduk di bangku sebelah Gania dan melihat teman barunya itu tengah memukul-mukul kepalanya tak jelas.
“Hah? Enggak, aku enggak apa-apa.” jawab Gania tergagap seraya mengipas-ngipas tubuhnya menggunakan buku dari dalam tas-nya.
Luna mengernyit bingung kenapa Gania bertingkah aneh seperti itu, lagi pula suhu di kelasnya sekarang tidaklah panas, bahkan sangat sejuk dikarenakan musim dingin sebentar lagi tiba.
Gania menyumpah serapahi dirinya yang bertingkah aneh saat menyadari tatapan Luna. Dirinya kemudian menaruh buku tersebut kembali ke dalam tasnya karena memang ia nampak bodoh ketika mengipas diri dicuaca dingin seperti ini.
“Salahkan otaknya yang terus saja memikirkan laki laki kejam itu. Benar benar lemah, sedikit perhatian darinya saja kau sudah kalang kabut memikirkannya.” Kata hatinya itu mencemooh akan pikiran Gania yang benar benar sedang dikuasai guru sekaligus tetangganya itu.
“Hei, salahkan juga hatinya karena bisa bisanya dia berdebar tak karuan menerima sikap manisnya tadi.” Kini pikirannya yang mencela kata hati Gania.
“Itu jantung bodoh.”
“Meskipun begitu, setidaknya kamu lebih bisa memberontak dari pada menerima begitu saja perlakuan pemaksa laki laki itu!” Pikiran Gania kembali mengoceh dengan batinnya sendiri membuat Gania spontan menggerakkan kepala guna menghalau pikiran pikiran aneh lainnya.
“Gania? Halo, kamu kenapa lagi?” tanya Luna yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi Gania saat ini. “Apa kamu sedang sakit?” tanya Luna kembali.
“AH, tidak. Aku baik-baik saja. Ehm, dimana Nara dan Wendi? Kenapa mereka lama sekali pergi ke perpustakaan?” tanya Gania mengalihkan pertanyaan Luna. Kini mereka berempat memasuki kelas yang sama, berbeda dengan Tera yang kelasnya satu tingkat lebih rendah dari mereka semua.
“Pasti sebentar lagi mereka kembali.” jawab Luna yang langsung melupakan persoalan tadi. Hal itu membuat Gania perlahan menghembuskan nafas leganya.
“Selamat pagi, mari kita mulai pelajaran di bawah pohon Apel Newton, kita akan membahas materi mengenai gravitasi.” Suara bariton itu menggema di dalam ruangan kelas membuat perhatian seluruh siswa tertarik kepada sosok tegap di depan kelas sana. Dia adalah Raka Ankara, guru yang hari ini akan mengajar kelas Gania mengenai ilmu pengetahuan alam.
Setelah menyelesaikan perkataannya, laki laki itu pergi dari podium kelas yang segera diikuti sebagian siswa di belakangnya menuju tempat yang diperintahkan guru mereka.
Dengan malas Gania pergi mengikuti Luna yang terus saja menyeret lengan kanannya bersama siswa lainnya. Namun di persimpangan jalan, mereka tepat berpapasan dengan Nara dan Wendi yang telah kembali dari perpustakaan dengan membawa beberapa guru di tangan mereka.
“Hei, Tuan Guru Raka memerintah kita untuk pergi ke dekat pohon Appel Newton. Hari ini kita akan belajar disana.” seru Luna dengan semangat karena ia sangat menyukai pelajaran Tuan Guru Raka selalu membuatnya lebih mengeksplor materi pembelajaran yang baru dan tentunya tak membosankan.
“Baiklah, ayo kita ke sana.” ucap Wendi yang langsung dianggukki Nara yang pergi tanpa menyimpan buku pinjamannya dari perpustakaan ke dalam kelas.
*****
Gania memandang Raka yang tengah berdiri dengan punggung bersandari di batang pohon Apple Newton yang sangat besar itu. Di tangan laki laki itu terdapat sebuah buku tebal yang Gania tidak tahu isi dari buku tersebut.
Merasa dirinya tengah diperhatikan oleh seseorang, Raka kemudian mendongakkan kepalanya dan memandang lurus kepada sosok yang berdiri lumayan jauh dari hadapannya.
Alis Raka mengerut melihat Gania yang masih berani menatapnya penasaran membuat Raka mengubah raut wajahnya untuk bertanya. Gania tergagap setelah Raka memberikan tatapan bertanya-nya. Dirinya langsung menghindar dengan mengajak Luna dan teman yang lainnya untuk duduk di bawah pohon lainnya yang terlihat rimbun dan tidak terkena panas matahari.
Diam-diam Gania melirik Raka yang kembali focus dengan bukunya di sudut kiri pohon Appel Newton yang tengah disandarinya. Raka yang kini memakai kacamata dengan bingkai tipis membuat Gania kesulitan untuk menghindarkan matanya untuk tidak menatap bingkai wajah itu. Gara-gara hal tersebut, Gania menjadi tidak focus dan mengabaikan pembicaraan teman-temannya mengenai materi pembelajaran yang sebentar lagi akan dimulai.
“Jika seperti itu dia tidak terlihat kasar dan ketus seperti sebelumnya.” ungkap batin Gania dengan manik mata yang tak lepas dari rupa wajah Raka yang tengah serius membaca.
Gania kemudian terjengkit lalu menggeleng-gelengkan kepala saat menyadari bahwa ia kembali memperhatikan Raka secara diam-diam seperti seorang gadis yang tengah memperhatikan anak laki laki yang disukainya.
“Bodoh, kenapa aku memikirkan lelaki tua itu.” gumam Gania tidak sadar bahwa Raka langsung menatapnya tajam setelah telinganya mendengar u*****n dari gadis yang ia ketahui tengah memandangnya diam diam.